All For Dreams

All For Dreams
Ryou



Ryou hanya dapat menampilkan senyum simpul tatkala menatap Rara dan Olif yang sedari acara berlangsung sampai detik ini selalu menempelinya. Kalau boleh jujur, Ryou rasanya ingin lepas saja dan berlari menghilang dari sekolah ini, tapi...


"Ryou atau William?" Tanya Rara semangat mendekati Ryou yang malah mundur tak ingin di dekati.


"Terserah saja, Ryou boleh William pun juga boleh" Balas Ryou mengambil kotak makan siang di ruang guru.


"Kalau begitu sayang aja deh" Final Rara malah tersenyum puas.


"He?"


"Kamu ngapain si Ra, udah dibilang dia maunya di panggil di antara dua nama itu, kamu malah melenceng. Gak etis banget deh" Ucap Rizka ketus.


"Rizka bener Ra, aku kan cuma bilang Ryou boleh William juga boleh" Ujar Ryou kembali memberikan senyum simpul andalannya.


"Laaahhhhhh~ tapi tadi kan ga apa-apa, panggilan sayang dari aku kan spesial" Cicit Rara sedih.


"Maaf nona, tapi ada hati yang harus saya jaga" Ucap Ryou mencolek pipi Rara dan berlalalu pergi.


"Hati apa katanya?" Tanya Rara langsung menatap punggung Ryou bertanya.


Sementara Rizka yang sudah kesal sedari awal makin di buat kesal dengan sikap Rara yang malah sangat memperhatikan bule kesasar itu.


Ck! Paling juga sesaat


Bisik hati Rizka mencoba positif thinkhing.


.


.


Di Kelas 11 DPIB.


" Hadueh~ capek juga drama" Keluh Feron mengipas dirinya dengan kipas batrei mini Anugrah.


"Gak nyangka ya, bakal berakhir se-gaje ini" Sambung Fiona mengambil duduk di samping Feron.


"Bagi minum dong Fio, lu mah minum sendiri-sendiri" Keluh Feron merengut.


"Dah ni, ambil aja minuman gua. Gua belum sempat minum" Jawab Fiona menyerahkan minumannya pada Feron yang menerima dengan suka cita.


"Makasih istriku" Balas Feron meminum minuman Fiona hingga tandas.


"A-Aaaaa apa-apaan sih lo Ron" Ucap Fiona tersipu malu. Ia masih mengingat adegan romantis yang ia dan Feron perankan barusan hingga saat ini masih membuatnya salah tingkah sendiri.


Flash back


"Mas gak bisa, Fio" Feron langsung menggenggam kedua tangan Fiona erat. Memandang dua bola mata safir yang menatapnya sendu bercampur sedih.


"Fiona tidak dapat mengatakan apapun, baginya permintaan maaf Feron terlalu membuatnya sakit hati. Tapi" Ucap Adam mengarahkan drama dari sudut panggung.


"Aku pengen kita rujuk Fio"


"Ucap Feron semakin mendekatkan diri pada Fiona yang masih membatu mencerna ucapan sang suami" Lanjut Adam.


"Fio~" Ucap Feron dalam hendak memeluk.


BRAK!!!!


Pintu buatan Arman sebagai juru properti malah di banting Nanda dengan semangat hingga pintu yang terbuat dari tripleks itu sontak terbelah menjadi dua bagian, menaburkan serpihan bahan yang singgah sampai ke muka Arman yang sudah kalut di tempat melihat mahkaryanya di hancurkan Nanda dengan satu tendangan.


"CUKUP! FERON. RUPANYA INI KAMU YANG SEBENARNYA, kamu bilang bakal menceraikan Fiona dan memilih aku, tapi apa!? Aku bahkan sudah bercerai dengan Anwar, tapi kamu, KAMU MALAH MAU RUJUK SAMA FIONA!? TRUS KAMU ANGGAP APA AKU SAMA ANAK YANG UDAH AKU KANDUNG INI HA!? TANGGUNG JAWAB GAK LO!? " Teriak Nanda mendalami peran seraya menjambak rambut Feron. Sepertinya Feron benar-benar tersiksa memainkan peran ini.


"Papa, Mamah, pelakor" Ucap Fikri datang begitu saja.


"Apa-apaan semua ini, apa Fikri gak salah dengarkan? RUJUK? TALAK? ANAK? Apa semua ini pa? Jelasin ke Fikri papa sebenarnya kenapa?!" Ucap Fikri datang dan langsung menuntut jawaban dari Feron yang malah bengong lupa dialog, lagi.


Dan seperti yang Fiona masih sangat ingat.


Feron malah langsung berlutut di hadapan Fiona dan mengambil tangannya langsung mencium punggung tangan itu mesra, tanpa mempersilahkan Fiona berpikir, Feron langsung menggendong Fiona ala bridal style dan mengecup kening Fiona mesra.


"Fiona, gua cinta ama lo. Gua harap lo paham dan dapat menjelaskan pada Fikri anak bang*sa*t kita yang timbul entah dari mana ini, untuk cepat mati aj-"


Brakkkkk!!!!


Sukses besar, sepatu pak Ibram mencium kening Feron.


"Filter ucapan kamu nak, nanti episode ini gak lulus review lagi" Kesal Pak Ibram hendak melempar sepatunya lagi pada Feron yang sudah pusing di Podium.


.


.


.


Aduh, Fiona masih tidak dapat menghapus adegan romantis dadakan itu dari kepalanya.


"Nan, kompres kening gua dong. Masih sakit ni habis di timpuk sepatu pak Ibram" Ucap Feron menunjuk keningnya yang sudah bengkak pada Nanda yang langsung mengambil sapu tangan bersih miliknya kemudian membasahinya dan hendak mengompres kening sang sahabat namun malah di tepis Fiona.


"Biar gua aja Nan" Jawab Fiona langsung mengambil sapu tangan basah itu dan mengompres kening Feron.


"Thanks Fio" Balas Feron menutup matanya menyamankan diri dengan usapan lembut Fiona pada keningnya.


"Kenapa sih lo?" Tanya Nanda ketus menatap Fiona yang malah balik menatapnya jengkel.


"Apa!?" Balas Fiona ketus.


"Lu kenapa si Fio, siniin dah sapu tangan gua. Lagian yang dimintai tolong Feron itu gua bukan elu" Ucap Nanda mulai emosi dengan perilaku Fiona yang tiba-tiba menjadi aneh.


"Serah gua lah, lagian Feron nyaman-nyaman aja dengan pelayanan gua, jadi apa salahnya? Gak ngerugiin lo juga kan? Seharusnya lo berterima kasih ama gua karna lo bisa istirahat dan di gantiin ama gua" Jawab Fiona menatap Nanda pongah hingga menyulut emosi gadis silat itu.


"Memang minta di pijak tu muncung sampah!" Bentak Nanda emosi hendak menyerang Fiona yang langsung menutup matanya ketakutan.


Namun, sudah menunggu beberapa detik, serangan Nanda tak di rasakan Fiona hingga ia memberanikan diri untuk membuka perlahan matanya.


"Pak Ryou!" Ucap Nanda terkejut.


"Gak baik main tangan Nan" Ucap Ryou menurunkan tangan Nanda kembali.


"Ada apa ini hmm?" Tanya Ryou berdiri di antara Fiona dan Nanda yang sudah bermuka sangar.


Ryou memperhatikan kedua siswinya bergantian. Satu bermuka sangar, dan yang satunya bermuka sok kuat. Masing-masing di antara mereka tak ingin mengalah dengan ego masing-masing hingga membuat Ryou hampir kehilangan senyum pokernya.


"Hahhhh~" Hela nafas Ryou lelah mencoba mengembalikan rasa tenangnya.


"Feron, kenapa dengan dua selir kamu ini ha?" Tanya Ryou mengalihkan pandangannya pada Feron yang masih anteng tiduran di kursi dengan tangan Fiona yang masih mengompres kening Feron.


Tidak dijawab, membuat Ryou langsung memutar otak dengan mengambil alih sapu tangan yang di pegang Fiona.


Cittttt!!!!


"Aduuuuuhhhhh!!!!!!" Jerit Feron langsung bangkit dari kursi.


"Nah, akhirnya" Gumam Ryou langsung berkacak pinggang di hadapan Feron.


"Apa-apaan si Pak Ryou, sakit tau!!!" Jerit Feron kesal menyentuh pelan benjolan di keningnya yang makin membesar setelah di pencet Ryou.


"Gak sesakit hati bapak yang kamu cuekin" Balas Ryou.


"Apaan si! Gak jelas banget" Gumam Feron judes.


Ryou tidak ambil hati dengan ucapan terlewat sopan sang murid berandalan dan memilih memandang seluruh muridnya yang sudah kelelahan.


Waktu yang pas


Inner hati Ryou berjalan ke depan kelas.


"Ok semua, karna kalian sudah memberikan performa yang baik dengan mengikuti acara HUT dengan semangat, maka bapak dengan sangat bangga ingin memberi kalian hadiah berupa goreng ayam ekstra pedas dari perusahaan kakek senyum, silahkan masuk kang ojol" Ucap Ryou semangat mempersilahkan kang ojol untuk mengantar 50 boxs ayam goreng ekstra komplit ke depan kelas yang sontak membuat Arman dan Johanes yang sudah kelelahan di pojokan langsung terbang ke depan kelas untuk mengambil makanan mahal tersebut.


"Silahkan di ambil hadiah murah dari bapak ini anak-anak bang*s*a*tku" Ucap Ryou mempersilahkan anak-anaknya untuk mengambil makanan traktiran darinya yang di letakkan di atas meja guru.


"Tumben pak Ryou belanjain kita, menang lotre dari mana ni pak, kok baek banget. Saya sampai curiga ni lo hahahahahah" Ujar Feron tertawa ceria mengambil 5 boxs ayam dalam genggaman besarnya.


"Gak ada racunkan pak?" Lanjut Feron membuka boxs itu di mejanya.


"Ngak ada dong, paling Sianida" Jawab Ryou tersenyum lebar.


Semua langsung diam, gerakan mereka terhenti, bahkan lalatpun sontak berhenti mendengar ucapan Ryou.


"Ha!!!" Semua langsung menatap Ryou terkejut.


"Uhuk!!!! Uhuk uhuk!!" Arman seketika terbatuk kuat.


"Buang Man, buang makanannya" Panik Anes memberikan cola pada Arman yang langsung menerima dengan senang hati.


"Aduh! Mana udah habis 3 boxs lagi" Panik Anes memegang perutnya khawatir.


"Hahahahahahahahahhaha damai sekali ya" Ucap Ryou malah melantur menatap seluruh anak muridnya yang sudah bertingkah seperti orang gila.


Namun, diantara semua muridnya yang bersikap lebay, masih ada satu murid yang masih damai di tempatnya, enggan terprofokasi oleh kalimat dusta Ryou.


"Tenang sekali si Fadli, gak ada ngaruh-ngaruhnya" Bisik Ryou menatap Fadli yang malah asyik memakan paha ayam lahap.


"Mudah banget si kalen di bohongi pak Ryou," Ucap Fadli kepada seluruh teman-temannya yang langsung menatapnya.


"Gak mungkin dia sekejam itu sama kita, dasar lu semua to*l*ol bat dah" Lanjut Fadli kembali memakan makanannya lahap.


Semuanya langsung menatap diri sendiri dan Ryou bergantian.


"Mana mungkin bapak tega, kalian si terlalu serius bwahahahahahah" Tawa Ryou kembali.


"Haduh ~ rupanya gua kemakan jokes bapak-bapak" Ujar Adam kembali duduk nyaman di bangkunya dan langsung menyeruput cola kesal.


"Heheheheheehe" Tawa Ryou masih terasa.


Apa benar aku tidak sekejam itu ya?


Lanjut hati Ryou menatap iba seluruh muridnya.


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


...TBC ...