All For Dreams

All For Dreams
Maksud sebenar terungkap



Ryouichi di kelilingi oleh seluruh staff guru dan pekerja terkait, hari ini bukanlah hari yang bisa di katakan menarik bagi pria yang hampir menginjak usia kepala tiga itu.


Pandangan semua orang, termasuk pak Ibram benar-benar menunjukkan kekecewaan yang mendalam pada sosok guru yang di anggapnya luar biasa ini.


Tapi setelah mendapatkan banyak bukti, pak Ibram langsung bergegas ke sekolah untuk membuktikan semua berita ini bohong.


Semua murid sengaja di pulangkan agar tidak ada yang mendengar berita ini selain para orang-orang penting.


"Jadi, apa maksud anda pak Will." Ucap Pak Ibram yang lebih ke arah pernyataan dan bukan pertanyaan itu.


Sementara Ryou hanya diam saja, sekarang tidak perlu menyembunyikan apapun lagi, wajah ramah sudah di buang jauh.


Kini penampilan congkak dan berkuasa langsung di tunjukkan Ryou tanpa merasa bersalah telah mempermainkan banyak orang di sekitarnya.


"Seperti itulah maksudku." Jawab Ryou dingin, ia sengaja melipat kedua tangan di dada.


Memberikan tatapan mengancam bagi siapa saja yang berani padanya, kekuasaannya, dan itu berhasil membuat seorang Ardi gemetar tanpa sadar.


Tiba-tiba kakinya lemas seperti jeli saat menatap Ryou yang langsung bersikap dingin dan mengancam.


"Kalian benar-benar tidak memanfaatkan kedermawanan ku dengan baik."


.......


.......


.......


...All For Dreams...


...Maksud sebenarnya terungkap...


.......


.......


.......


.......


"Tumben banget ya Fer kita pada cepat pulang." Tutur Alfi mengikuti langkah Feron.


"Iya, kagak biasanya, " Balas Feron "Tapi lebih sering lebih baik sih, hehehehe."


"Assalamualaikum, orang ganteng pulang." Feron langsung melesatkan kakinya, hari ini ia sudah berspekulasi bahwa tidak ada orang di rumah, walau ia agak janggal dengan pintu yang tak terkunci.


"Lu yakin Fer, gak ada orang di rumah lu?" Tanya Alfi celingak-celinguk.


"Kagak, semua aman. Hari ini bi Asih cuti pulang ke kampungnya, selain itu gua emang tinggal sendiri dari kemaren." Ucap Feron berjalan ke lantai dua.


"Oooo, wok-" Ucapan Alfi langsung terhenti saat ia memandang Vein yang keluar dari kamarnya dengan terburu.


Saat pandangan mereka bertemu, Alfi langsung syok dan mencoba untuk bersikap alami "A-hei om." Kaku dan penuh maksud.


Namun pada akhirnya Vein bersikap acuh dan kembali berjalan terburu, menyisakan Alfi yang langsung menghembuskan nafas panjang.


"Tas kantoran konglomerat memang pada aneh-aneh ya, sampai ada replika pistolnya pula." Gumam Alfi berjalan ke lantai dua.


.


.


.


"Kenapa?" Tanya Vein dingin.


"Aku tidak yakin." Balas Daffa murung.


"Kenapa nak? Cerita saja tak masalah." Balas Vein lagi bersedekap dada.


Daffa yang berada tepat di seberang tempat duduk Vein hanya bisa menghela nafas gusar.


"Gundur pergi dengan uang proyek." Helaan nafas begitu dalam langsung di lontarkan Daffa dengan penuh penyesalan.


Rasanya ia tak sanggup lagi untuk sekedar bertukar pandang dengan Vein, namun mau bagaimanapun ia harus tetap bertebal muka.


Walaupun Gundur adalah ayahnya, namun perilaku Gundur tak bisa lagi menjadi sesosok orang tua bagi seorang Daffa yang kembali di kecewakan.


"Terserah paman Vein saja, mau melakukan apapun padanya, dibunuh juga tidak masalah." Lanjut Daffa menumpukan muka di kedua tangannya yang terbuka.


Daffa akui dia adalah seorang yang sedikit temperamental dan psikopat, namun untuk melakukan segala hobinya pada sang ayah masihlah sangat janggal.


Namun, untuk pertama kalinya, Daffa ingin seorang Vein yang memulai lebih dulu.


Ia mencoba menatap Vein yang kini sudah mengenakan sarung tangan latex hitam. Memberikan sedikit persiapan pada dirinya sendiri dalam nuansa kaku, terlihat dari wajah tegasnya, Vein tidak ragu-ragu.


"Jangan salahkan aku jika besok kau yatim." Kalimat terakhir Vein sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan kediaman mewah itu dalam nuansa kalut.


"Aku akan dengan senang hati menerimanya, " Gumam Daffa tersenyum.


"Sehingga penderitaanku tidak terus berlarut."


...****************...


.......


.......


.......


.......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...