
"Bagaimana keadaan ibu saya dok?" Tanya Feron menatap sang dokter penuh harap. Dari tatapannya dapat terlihat jelas jika ia berharap sang ibu tidak kenapa-napa namun sepertinya Feron harus lebih banyak bersabar.
Sang dokter menatap Feron sejenak kemudian mengalihkan atensinya bertanya kelain arah, tepatnya pada pak RT yang tadi membantu Feron membawa sang ibu ke rumah sakit.
"Apakah pasien memiliki wali?" Tanya dokter.
"Saya dok" Jawab pak RT mantap.
***
30 menit dihabiskan keduanya untuk berbincang seputar kesehatan ibu Feron yang kian hari kian memburuk.
"Terkena kanker hati dok?" Pak RT begitu terkejut dengan kabar ini, pasalnya setiap ia melihat ibu Feron selalu sehat-sehat saja tapi...
CKLEK
Kasian sekali mereka
Inner pak RT menatap kedua tangannya.
TAP!
"!"
"Maaf mengganggu perbincangan kalian, tapi mulai dari sini biarkan saya yang mengurus sisanya" Ucapnya tiba-tiba, membuat pak RT dan sang dokter terkejut.
"Kamu!" Balas pak RT begitu kaget.
"......."
"......."
******
"Engh....?!" Siluet ruangan putih langsung terlihat dimata Sang ibu yang masih belum fokus, namun ia berusaha dengan perlahan untuk dapat membiasakan sinar matahari yang menyapa retina mata dan langsung merasakan sebuah genggaman erat di tangan kanannya yang membuat atensi sang ibu langsung teralihkan kearah samping.
"I-ibuuuuu...." Ucap Feron tersenggal, tetesan air mata tak dapat dibendungnya lagi.
"Fe.... Ron" Balas sang ibu lemah seraya tersenyum.
Cklek..
"Ah, rupanya benar disini" Ucap suara itu mengintrupsi.
"Vein!!!?" Ucap sang ibu terkejut menatap ke ambang pintu bangsal.
Mendengar nama itu disebut seketika membuat Feron langsung berbalik menatap nanar kearah sang pelaku pembuka pintu.
"Sintia, sudah lama tidak bertemu" Ucap Vein formal seraya melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke kasur sang mantan istri.
Tap!
"Dilarang merokok disini!!" Feron langsung memblokade jalan Vein, membuat sang empunya langsung menunduk menatap Feron dengan muka kesalnya.
"Apa!?" Ucap Feron lagi mencoba mengeraskan mukanya saat bersitatap dengan Vein yang menampilkan muka kurang bersahabatnya.
"Haaahhh~ minggirlah bocah, aku hanya ingin berbincang sebentar dengan ibumu" Balas Vein sang ayah mengusir Feron dengan kaki panjangnya hingga membuat sang anak langsung terpental kesudut ruangan, bisa dikatakan bahwa Vein menendang Feron kuat, menganggap sang putra seperti bola kaki.
"Kurang ajar!!!" Marah Feron seraya bangkit dari tengkurapnya dan mencoba untuk kembali ke sisi sang ibu. Namun, Vein kembali menatapnya dengan tatapan benci namun Feron acuh dan mendorong Vein hingga sang empunya langsung mundur beberapa langkah.
Feron memilih duduk dan menggenggam tangan sang ibu kuat tak ingin melepaskan dan itu dapat dilihat jelas oleh Vein.
"Jadi kau sudah kelas 2 SMP?" Tanya Vein mencoba mencairkan suasana seraya mematikan rokoknya.
"Kau ayahku, seharusnya kau tau Perkembanganku" Balas Feron pedas.
"Cih! Mana ku tau, memangnya aku dukun!" Balas Vein emosi menatap Feron.
"Dan kau pikir aku peduli" Balas Feron ikut menatap Vein, mereka berdua saling adu tatap hingga membuat percikan listrik imajiner hadir diantara mereka, Vein dan Feron, ayah dan anak, sama-sama tidak ingin mengalah hingga membuat sang ibu, Sintia hanya dapat menghela nafas maklum dengan kejadian ini.
CKLEK
Sintia langsung mengarahkan pandangannya kearah pintu dan disana ia dapat melihat Adiniata dalam setelan pakaian SMKnya tengah menatap sang ibu sedih.
"Adiniata.." Ucap sang ibu penuh rindu.
Adiniata langsung melangkahkan kakinya cepat dan memeluk sang ibu erat.
"Sudah lama tidak bertemu ya, apakah karna mendengar ibu sakit saja kamu mau berkunjung?" Lanjut sang ibu membalas pelukan Adi.
"Tidak juga, aku hanya mengalami sedikit hambatan" Balas Adi melirik Vein singkat.
***
Setelah melepaskan rindu cukup lama, akhirnya Sintia melirik kearah Vein sang mantan suami yang selalu menampilkan muka masam padanya sejak 5 menit lalu. Bahkan ia sudah menghabiskan 8 batang rokok nonstop sanking kesalnya, dan Sintia tau itu.
Petuah Feron tentang dilarang merokok mana mempan pada Vein, dia adalah bapak-bapak dengan sikap anak-anak yang kalau diberi tau pasti masuk telinga kanan keluar telinga kiri
Ucap hati Sintia mencoba maklum dengan Vein yang makin menambah perilaku.
Tak!!! Tak!!! Tak!!!!
Bunyi suara hentakan kaki Vein yang terdengar begitu kesal.
"Haaahhh~ Adi, Feron " Panggil Sintia akhirnya mengalah.
"Iya ibu?" Ucap keduanya kompak.
"Bisakah kalian berdua membelikan ibu tissue, sepertinya stok tissue ibu sudah habis" Ucap sang ibu melirik kearah nakas, tepatnya pada kotak tissue yg isinya sudah menipis.
"Ok" Ucap mereka ikut melirik kearah nakas.
Setelah kedua putranya pergi, Vein berjalan lebih dekat kearah Sintia.
"Langsung saja, sebenarnya kau ingin memberikan kabar apa?" Tanya Vein duduk dikursi.
"Aku...." Sintia menjeda ucapannya dan menatap ke-sekeliling, semua pasien cukup sibuk hanya untuk mendengarkan obrolan mereka.
"Cepatlah, bagiku waktu adalah uang. Bahkan untuk berbicara beberapa kata saja denganmu seperti membuang beribu uang bagiku" Ucap Vein ketus.
Sintia ditempatnya hanya bisa mengelus dada, kelakuan Vein benar-benar minus akhlak.
Aku berharap Feron tidak mewarisi sifat buruk Vein yang satu ini
"Aku ingin menyerahkan hak asuh Feron padamu" Lanjut Sintia.
Vein yang sibuk menyalakan rokok seketika langsung berhenti.
Apa tadi?
Tanya hati Vein tiba-tiba.
"Kau gila ya!? Bukannya kau yang selama ini menginginkannya dan bahkan juga Adi? Kenapa sekarang kau malah menyerahkan Feron dengan sukarela? Kau mau menikah lagi ya? Dan menyerahkan semua tanggung jawab mengurus anak padaku!?" Tanya Vein bertubi melupakan rokok yang terjatuh dari sela bibirnya yang selalu mengeluarkan kata.
" Bukan begitu Veiner Abdi Adidjaya! Dengarkan dulu aku sampai selesai baru kau komentar dasar to*lol! " Balas Sintia mulai emosi.
" Hahahahahahahahaha" Vein malah tertawa, membuat ekspresi Sintia langsung menggelap.
Duak!!
Duak!!
"Jadi begini, aku ingin Feron bahagia bersamamu. Karna aku menyadari satu hal..."
Vein langsung tertegun dan mengarahkan atensinya cepat kearah Sintia yang masih berbicara.
"Aku tidak dapat membahagiakannya, bahkan aku tidak bisa memberikan barang-barang yang ia inginkan. Jika ia terus bersama denganku, maka ia hanya akan mendapatkan kesengsaraan, tapi jika dia bersamamu aku yakin, yakin sekali ia dapat bahagia" Ucap Sintia mengelus tangannya dan menatap Vein dengan sendu.
"Lalu kau tidak memikirkan perasaannya?" Tanya Vein mengambil puntung rokok disela bibirnya supaya tidak terjatuh lagi seperti di scan sebelumnya.
Karna aku hanya dapat memberikan cinta dan kasih sayang padanya Vein, bukan harta. Aku tidak bisa
Lanjut Sintia dalam hati kecilnya.
"Aku memikirkannya, maka dari itu aku memutuskan untuk mengalihkan hak asuh Feron padamu" Jawab Sintia menaikkan nada suara.
"Itu bukan memikirkan Sintia itu namanya egois! Kau seharusnya bersyukur Feron masih mau menerima kehidupan melarat bersamamu, namun aku hargai itu. Tapi tetap saja memberikannya padaku karna memikirkan kebahagiaan? BULS*HIT!!! BILANG SAJA KALAU HIDUPMU TIDAK AKAN LAMA BODOH!!!!" Teriak Vein akhirnya, ia langsung menarik kerah baju Sintia hingga membuat wanita itu langsung terduduk. Satu bangsal langsung memperhatikan mereka berdua.
Vein dan Sintia melirik sekitar dan langsung meminta maaf atas keributan yang mereka ciptakan.
Tuk
"!"
Sintia memegang tangan Vein lembut hingga membuat sang pemilik tangan langsung menatap sang lawan bicara.
"Vein, kumohon.. Tolong kabulkan permintaanku sekali ini saja"Ucap sintia menyatukan kedua tangannya memohon.
Vein diam, tidak mengatakan apa-apa.
" Berhentilah membuat drama dan jalankan tugas kita masing-masing sebagai orang tua, aku berjanji akan menambahkan uang saku kalian tapi aku mohon berhentilah berkata hal seperti itu" Ucap Vein akhirnya.
Sintia tertegun, namun ia mencoba kembali rileks dan melanjutkan ucapannya tidak perduli dengan perkataan Vein barusan.
" Dan kumohon jagalah Feron, jangan sampai ia sedih. Buatlah ia bahagia bersama dengan Adiniata. Jaga mereka berdua untukku. Kumohon, meskipun seorang ayah sangat sulit untuk menjadi sosok ibu, namun aku yakin kau bisa Vein. Aku percaya padamu untuk kedua putra kita. Kau pasti bisa, bukan hanya memberikan materi tapi juga cinta untuk mereka seperti kau..... " Ucap Sintia.
Vein seketika terbebalak kaget.
" Untuk dirinya"Lanjut Sintia menitikkan air mata.
.
.
.
Keesokan harinya...
"Ayah seharusnya tidak perlu repot-repot mengantarku sampai depan gerbang" Ucap Feron datar.
"Ngak usah bacot, turun cepat" Titah sang ayah mengusir.
"Huft... Dasar ayah kejam" Balas Feron turun dari mobil dan sengaja membanting pintu.
"Oi anak dajjal, ni mobil mahal jangan lo anggap Tmp" Cerca sang ayah membuka kaca mobil.
"Mana gua perduli raja dajjal" Balas Feron memberikan jari tengahnya seraya berlalu.
"Dasar bocah prik!" Ucap Vein marah.
"Tua Bangka tak sadar usia!!!" Teriak Feron kencang.
Dan perdebatan tak berfaedah tersebut malah disaksikan oleh satpam yang sedang ingin ngopi pagi.
"Pagi yang unik" Ucapnya bangga.
.
.
.
Jam pelajaran dimulai dengan pelajaran IPA tema reproduksi. Pak Irzon selaku guru IPA kini tengah berinteraksi dengan para siswa dan para siswi yang malu-malu mendengarkan. Sementara Feron memilih mencatat pelajaran dengan tekun seraya mencuri pandang pada Afni yang sedang merona malu digoda oleh pak Irzon.
Begitulah keadaan kelas setiap harinya, jika bukan ulfa maka Afni yang akan menjadi sasaran kejailan para guru. Sementara dikubu siswa, Ardilah yang menjadi primadona.
"Sangat berbanding terbalik dengan kita ya Fer" Bisik Dino yang berada disebelah meja Feron.
"Iya Din, kita apalah. Hanya seorang pemuda culun" Jawab Feron lemas dan kembali melanjutkan kegiatannya.
****
*Jam istirahat*
"Feron tu si Afni pen ngomong katanya" Lea berucap ringan disela Feron dan Dino yang tengah makan dikantin dengan suasana juga cukup ramai saat ini malah diberi kabar aneh.
"Uhuk!!!" Feron langsung tersedak setelah mendengar nama Afni dan ia yang ingin bertemu Feron?
"Minum ron cepat Ron, entar lo mati gua gak sanggup bawa beras anak da*ro buat jenguk pemakamanlu" Kata Dino menyerahkan gelas pada Feron yang langsung diterima tanpa penolakan.
"Katanya ada yang pengen diomongin" Sambung Lea berucap.
"Fruuuuusssssshhhhhhhhhh!!!!!!" Dengan tidak tau malunya Feron malah langsung menyemprotkan air dari mulutnya kearah Dino.
"APA!!!!?" Teriak Feron hingga membuat Dino yang tepat disampingnya jadi tuli mendadak.
****
" Apa yang harus gua sebut din?" Tanya Feron yang sudah 20 menit berdiam dibelakang kelas seraya berfikir keras.
"Hadeehh ampun gua, tinggal bilang aja apa yang lo pengen bilang kok susah amat" Jawab Dino bersidekap dada.
"Tapi kannnnn....."
Saat sedang asyiknya berfikir, Feron malah dicolek tanpa henti dari belakang.
"Apaan si No, diam dulu dah. Gua lagi berpikir ni" Marah Feron menyentak jari itu, namun bukannya berhenti, jari itu malah makin gencar mencolek pundak Feron yang langsung berbalik ingin memaki Dino.
Namun...
Urung ia lakukan karna yang melakukannya adalah
"AFNIIIII!!!!!!" Teriak Feron langsung mundur menghindari Afni yang tengah tersenyum manis kearahnya.
"Dari tadi aku panggil kok gak dateng-dateng?" Tanya Afni langsung menggenggam tangan Feron dan mengajaknya keluar.
"Aaaaaaaaa" Feron tidak dapat mengeluarkan satu katapun karna tangan Afni yang menggenggam tangannya erat.
Situasi ini benar-benar awkward.....
Tapi kenapa Afni bawa gua kesini?
Tanya hati Feron menatap sekitar.
"Yo... Anak culun" Ucap sebuah suara.
"Ha!!!" Feron langsung menatap kearah sumber suara, dan disitu untuk pertama kalinya Feron tau siapa Afni.
...TBC...