
Yuna mengusap perutnya sejenak dan kembali menatap Nanda lamat "Jadi, sebelum keinginan Daffa tercapai lo harus udah keluar dari sel ini mengerti. Nanti malam, pukul 22.00 WIB gua bakal kemari lagi buat kasih lo kunci sel ini, tapi lo harus ingat satu hal. Lo harus keluar saat jam 10.00 WIB keesokan harinya, jangan gegabah, karna Daffa dan gua bakal sekolah di jam segitu, jadi gua rasa lo bakal aman nantinya" Pesan Yuna mengambil dan langsung meremat tangan Nanda hangat.
"Ok, gu-"
"Tunggu sebentar, gua masih belum paham dengan semua ini. Lo, Daffa, kalian berdua sebenarnya ada apa?" Tanya Nanda memotong ucapan Yuna.
"Sebenarnya........"
.......
.......
.......
.......
.......
...All For Dreams...
...Strategi...
.......
.......
.......
.......
"Sebenarnya sedari awal ini semua hanyalah akal-akalan Daffa semata," Yuna mulai merincikan kejadian yang sebenarnya "Awalnya memang gua cerita perihal kejadian kita beberapa minggu lalu ke Daffa, namun sepertinya gua terlalu terbuai dengan ucapan dia hingga gua mau-mau aja di tipu" Ucap Yuna mengepalkan tangannya marah.
"Jadi, maksud semua ini adalah?" Ucap Nanda menjurus ke arah bertanya.
"Daffa sengaja jadiin lo umpan buat narik sesuatu yang lebih besar datang" Jawab Yuna.
.
.
.
"Aku sudah membuat semua surat, seharusnya proyek ini sudah berjalan" Ucap Gundur.
William hanya tertawa pelan "Kau benar, ini memang sudah berjalan. Bahkan aku sampai tak tega melihat ekspresi Ibram saat melihat sekolah tempat ia mengabdi bertahun-tahun lamanya menjadi datar dengan tanah satu demi satu"
"Hahahahahahha.... Tuan William akan semakin senang di saat proyek pembangunan pertambangan sudah berjalan, saya yakinkan hal itu pada anda Tuan. Terlebih lagi, proyek ini juga sudah kita goal kan menjadi salah satu perusahan yang tidak akan di usik oleh pemerintah. Bagi saya itu adalah suatu apresiasi mendalam bagi kita Tuan" Tutur Gundur tertawa senang dengan hasil kerja kerasnya memanipulasi semua urusan yang ada.
"Kau memang bisa ku andalkan, tak percuma aku menjadikanmu Gubernur. Kau benar-benar sangat cekatan Gundur, aku bangga padamu" Balas William tak kalah senang.
Namun bagi Vein sendiri yang sudah mengikuti alur pembicaraan ini sedari awal, merasa sangat kehilangan dan bersalah. Tapi apa?
Kreeettt...
(Gundur dan William menatap Vein)
"Maaf tuan-tuan, aku permisi sebentar. Sepertinya proyek lain membutuhkan aku" Ucap Vein membersihkan barangnya kemudian berlalu begitu saja tanpa menunggu kalimat yang akan di ucapkan oleh kedua rekannya lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tengah langkah lebarnya, Vein selalu merasakan ada yang salah dengan pekerjaannya bersama Gundur dan William, tapi apa? Vein bahkan tidak tau letak kesalahannya dimana, tapi hatinya selalu gundah setiap kali pekerjaan ini berjalan.
Vein menghentikan langkahnya tepat di depan kolam air mancur, ia sedikit memperhatikan kolam dengan gaya Retro itu dalam fikiran kalut.
"Paman"
Vein masih enggan berbalik meski ia tau siapa pemuda yang telah menyapanya itu.
"Paman kenapa?" Tanyanya mendekati Vein yang masih enggan berbalik.
Tap! Tap! Tap!
"Bagaimana dengan rencana itu?" Tanya Vein.
Daffa tersenyum "Kenapa harus bertanya lagi kalau paman sudah tau jawabannya" Balas Daffa berhenti tepat di samping Vein.
"Huhh~ (melirik Daffa) jangan terlalu berlebihan, karna kau tau, gadis itu masih manusia" Ucap Vein kembali berjalan ke arah mobilnya.
Daffa tersenyum miring, telapak tangan ia arahkan untuk menyentuh smartphone.
Vein melirik kecil "Mereka sedang merencanakan sesuatu" Kata Vein tajam.
"Hahahahahahahahahahaha biarkan saja paman, toh seberapapun perjuangan yang mereka lakukan tidak akan berhasil juga" Balas Daffa.
Vein akhirnya tersenyum walau tipis "Aku serahkan dia padamu, jangan sampai gagal atau papamu akan menanggung akibatnya"
"Jangan khawatirkan soal itu, masalah seperti ini memang selalu Daffa pemenangnya" Ucap Daffa berbangga diri.
...****************...
Di tempat Yuna dan Nanda.
"Apa lo yakin rencana ini akan sukses?" Tanya Nanda mendekati jeruji besi, berusaha mendekati Yuna yang berada di balik kebebasan besi hitam yang mengurung Nanda.
"Gua yakin banget, karna gua tau rumah ini gak punya CCTV. Jadi lo bisa bebas buat kabur di jam malam setelah Daffa terlelap" Jawab Yuna serius.
Nanda menatap aneh Yuna "Ngomong-ngomong gua jadi curiga sama lo, kok lo malah bantuin gua sih?" Tanya Nanda lagi, membuat Yuna seketika terperanjat mendengar pertanyaan yang di sampaikan oleh Nanda itu.
"I-itu... Itu karna gua cuma kasihan sama lo" Lirih Yuna.
"A-"
Yuna langsung berdiri, membuat ucapan Nanda seketika menggantung di udara "Gua pergi dulu, sepertinya Daffa bakal kembali beberapa menit lagi" Ujar Yuna berjalan pergi, menyisakan Nanda yang masih haus akan jawaban Yuna.
"Cewek yang aneh" Komentar Nanda.
.
.
.
Taman bunga rumah utama Adidjaya.
Feron duduk termenung seraya memperhatikan layar smartphonenya, sudah 7 kali ia bermain game MOBA bersama Andin namun bukannya mengembalikan mood yang hancur, bermain rank malah membuat perasaan Feron menjadi semakin hancur.
Maklum, banyak orang toxic yang membuat Feron selalu naik darah dibuatnya.
"Gua harus ngapain ya? Nungguin si Theo udah berlumut banget, apa gua langsung dobrak aja tu pintu rumahnya?" Gumam Feron berpikir.
Grrkk... Grrrkk...
Feron melirik kecil ke arah kandang Amo sang panda peliharaan "Apa!?" Tanya Feron judes.
Amo langsung berhenti menggoyang kandangnya, tatapannya di buat seimut mungkin agar Feron sadar bertapa laparnya Amo saat ini, namun namanya juga Feron, pasti bawaannya emosi dan ngomong seenak jidat.
"Mo, lu pikir gua babu lu apa?" Berjalan ke arah Amo seraya menunjuk Amo menghakimi "Sorry-sorry anyway busway nih ya Mo, gua gak bisa lo perintah seperti kebanyakan hewan di sosmed yang jadiin tuannya sebagai sarana buat beli jajanan ama makan lo, SORRYY!!!!" Ucap Feron memaki Amo yang hanya dapat duduk nyaman mendengarkan bacotan unfaedah dari seorang Feron sang bab-tuan sementara.
Lain hal dengan Feron, Vein yang baru saja kembali hanya dapat memperhatikan kegilaan sang anak dari balik kaca jendela.
"Anakku gila" Gumam Vein menatap pasrah kelakuan Feron yang tengah mengguncang kandang Amo.
Lain Vein, lain pula Aditia yang baru saja memasuki rumah seraya memegang smartphone yang sedang menampilkan Video call.
"Kenapa pengisi rumah ini semuanya tidak ada yang jelas kelakuannya" Bisik Aditia memandang ke arah Vein dalam tatapan bosan.
Memperhatikan Vein dalam balutan kemeja lengkap tapi "Ayah, celana ayah kemana?" Tanya Adi menyadarkan Vein dari keterpakuannya terhadap Feron.
Vein berbalik "Ap-" Vein langsung mengarahkan pandangannya ke bawah, rasa dingin benar-benar menyadarkan Vein hingga pandangannya teralih pada bagian penyatu masa depan sekaligus penerus keturunannya yang hanya di lapisi boxer berwarna merah hati.
"Innalillahi! Untung kau datang Di, kalau sampai bi Asih yang lihat ayah bisa gali kuburan lebih cepat kalau begini keadaannya" Teriak Vein berlari ke arah kamarnya.
"Hehh... Untung semua yang ada di rumah ini punya belalai minus bi Asih, kalau sampai ada yang punya melon kembarkan bisa hancur poker face yang sengaja di bentuk seganteng mungkin jadi ngabrut. Gak mungkinkan beritanya jadi, satu keluarga Adidjaya rupanya memiliki kebiasaan lupa memakai celana sehabis buang hajat. Bisa-bisa Vein malah jadi pengangguran dadakan karna menahan malu" Gumam Adi tanpa sadar malah membeberkan rahasia antik keluarganya pada seseorang di seberang sana yang sudah tertawa terpingkal-pingkal mendengar keceplosan seorang Adi.
.......
.......
.... ...
.... ...
.... ...
...TBC ...