All For Dreams

All For Dreams
Walas!



...Cerita ini hanya hayalan semata, jika ada kesamaan tokoh, tempat, ataupun kejadian. Itu semua hanya kebetulan fikiran yang tak disengaja....


.........................


Di Jl. Jendral Sudirman, Starbucek.


Pak Ibram tak berhenti tersenyum sumringah sepanjang perjalanan. Pasalnya, baru bangun dari pulau kapuk, Pak Ibram sudah di jemput oleh mobil Bugatti mengkilap yang terparkir tepat di depan rumahnya.


Dan untuk pertama kalinya, pak Ibram menyadari jika mobilnya sudah menjadi ronsokan, kasihan.


Setidaknya itulah yang masih mengisi pikiran pak Ibram hingga pesanan mereka diletakkan Ryou di depan pak Ibram yang sedang memandangi plafon Cafe khidmat. Ryouichi bahkan sampai ikut serta memandang plafond, siapa tau pak Ibram dapat kode voucher makan rahasia sepuasnya dari starbucek? Siapa tau kan.


Prok! Prok! Prok! Prok!


"Pak! Pak! Pak! Hello~ spada!!! Kata mbak kasirnya kalau melamun uang nongkinya di tambah pak" Ucap Ryou datar dan kembali menyamankan duduk, Ryou juga tak luput meminum pesanannya dengan santai.


"APA!!!" Teriak pak Ibram setelah beberapa saat, keleletan menjawab pak Ibram terjadi setelah sampai di Pekanbaru, atau tidak? Hmmmm.....


"Ogah nanggapin aaaahhh~" Seru Ryou memandang keluar jendela yang menampilkan pemandangan kota Pekanbaru.


Ting!


Ryou langsung merogoh saku celananya, mengeluarkan smartphone yang baru saja memberikan notif pesan masuk.


From: Tyfanny Geotan


[Assalamualaikum.


Langsung saja, aku minta maaf. Bahkan Alfi tak menjawab pesanku. Sepertinya anak-anak itu sedang dalam fase memberontak. Beberapa walas lainnya juga sudah ku hubungi, dan hanya satu yang bisa. Theo dari jurusan TKJ. Smartphonenya di lacak oleh pak Hendrik. Lokasi.....]


Ryouichi dengan gesit langsung men-scrool layar smartphonenya hingga sebuah peta berhasil membuat Ryou memandang ke arah luar cafe kembali.


"Ck! Kupikir begitu jauh rupanya mereka dekat denganku" Gumam Ryou menatap tajam Mall itu.


"Apa?" Tanya pak Ibram menatap Ryou heran dan ikut memandang Mall.


"Oh, bukan apa-apa pak aku..." Ryou kembali menatap layar smartphone, dan sedikit tersenyum menatap isi pesan terakhir.


[Beri tau dimana lokasimu, aku juga ingin ikut mencari murid bebalku dan memberikan dia satu toyoran kepala. Berani sekali dia membuat acara liburanku jadi runtuh! Sebagai walas perhatian aku akan menjemput anak itu! Oh iya, Para walas lainnya juga menitipkan anak-anaknya pada kita. Kuharap kau segera mengirimkan lokasi karna di Pekanbaru ini begitu panas, kulitku bisa terbakar kau tau itu kaaannnnn......]


Ryouichi tak dapat menyembunyikan senyumnya, pria ini selalu dapat membuat Ryou jadi ingin selalu mengerjainya. Sebagai sesama walas stres, mereka rupanya cocok untuk berbagi suka duka menghadapi dua sahabat beda jurusan itu, tak disangka. Kenakalan Feron rupanya membawa berkah bagi pertemanan Ryou di SMK 1. Karnanya, Ryou berhasil mengenal banyak guru dan berbagi gosip bersama, wahahahahahahhahaha.


"Baiklah, mari kita share lock..." Gumam Ryou mengetik beberapa kata dan melakukan share lock di smartphonenya.


Ting!


Satu pesan lainnya masuk, namun kali ini senyum yang sudah terpatri di wajah Ryou seketika lenyap.


Tring! (suara pintu cafe di buka)


Ryou langsung berdiri, dan menatap pria yang kini berjalan ke arah meja mereka. Terlihat jelas bahwa wajah itu kini sudah menampilkan kegarangan dan rasa kecewa bersamaan menatap Ryou yang hanya dapat tertunduk diam di tempat.


Pak Ibram juga tak luput membalikkan badan dan sontak terkejut dengan kehadiran pria itu, pak Ibram bahkan sampai terlonjak kaget dan langsung berdiri.


"Pak Sabran!" Kejut Pak Ibram langsung mempersilahkan pak Sabran untuk duduk.


Namun pandangan tajam pak Sabran masih tak beralih dari Ryou yang semakin menyesali diri.


.


.


.


Di tengah acara nobar mereka.


"Aaaaaa..... Aaaaaaa... AMAMAMAKAKAKAKAKAKKKKK!!!!" Teriak Alfi memeluk tangan Feron kencang bahkan ia sudah berulang kali menutup dan membuka mata sanking takutnya dengan adegan ******* pembantaian di dalam film.


Sementara Feron yang menjadi tempat tumpuan Alfi hanya bisa menghela nafas panjang. Sudah cukup dengan adegan Film, tapi kenapa adegan nyata di depan mata Alfi malah yang paling semangat untuk membuat adegan penuh darah? Jangan pikir Feron melupakan satu hal kecil itu ya.


Ia melirik Alfi yang kini tengah menyembunyikan wajahnya di antara lengan kiri Feron dan telapak tangannya yang sesekali ia turun dan naikkan untuk melihat adegan film.


Feron mendekatkan wajahnya.


"Fi, ketek gua burket. Jangan di sentuh terus entar burketnya nular" Bisik Feron tepat di telinga Alfi yang tidak menanggapi lebih.


"Bodoh amat deh Ron, gua juga burketan. Kita cocok!" Sembur Alfi hingga membuat beberapa orang di sekitar Feron langsung menatap ganjil.


"Jangan dihiraukan, jangan dihiraukan" Seru suara Feron cepat.


"Uuuuuuuhh!"


Ctak!


"Jangan ngomong kek gitu bagudung, mereka semua jadi salah paham!" Komen Feron kesal menjitak kepala Alfi kencang hingga sang empunya mengaduh kesakitan.


Setelah berhasil menjitak kepala sahabat, Feron beralih melirik teman-teman lainnya. Regas dengan keahlian modusnya kini tengah melancarkan aksi pada gadis yang duduk di kanannya, bahkan ia rela-rela saja di jadikan tempat bersandar ketakutan gadis itu, sampai Regas bersikap lebih pun gadis itu malah semakin nyaman.


Masak ia Ragas harus kembali menjadi obat nyamuk sang kakak, dan pasti batunya juga Ragas yang kena. Maka dari itu, Ragas akan antisipasi dini. Melarang mata keranjang itu untuk melancarkan aksi modus buayanya.


"Hehehehe" Bisik Feron tertawa menanggapi kelakuan dua kembar identik itu.


Lanjut pada Theo dan Lulba.


Theo yang asyik tidur kini sedang di ganggu Lulba yang malah semangat menyucuk dua buah popcorn di kedua lubang pernafasan sang sahabat. Tak tanggung-tanggung, bahkan Lulba sampai meletakkan pembungkus popcorn diatas kepala Theo hingga sang sahabat mirip Poci Popcorn.


"Phft!!! Mebwwbwbwbwbwbwhehehehe" Tawa Lulba tertahan oleh kedua tangannya.


Sementara Stevan, dia malah asyik mengatur tempat duduk, sedari tadi.


"Kenapa Stev?" Tanya Feron menatap Stevan yang menampilkan wajah kesalnya.


"Ini ni Ron, gua lagi ngatur tempat duduk gua yang selalu di dorong sama warga belakang" Kesal Stevan langsung berbalik dan menatap seseorang yang berhasil membuat sumbu kemarahan Stevan menyala.


"WOY ANJ*ING! BISA TENANG GAK SIH!!!" Teriak Stevan sudah habis kesabaran.


Pemuda itu melirik Stevan dan kembali menatap layar film.


"ANJ*ING!!! APA TELINGA LU UDAH LU GADAIN KE KASIR HA! DASAR PEKAK!!!!" Teriak Stevan langsung menendang kursi bioskop hingga rusak kebelakang.


"Bisa diam gak siii..?" Ucap pemuda itu mulai berdiri dari duduknya.


"Diam!? Gua udah diamya Bgo! Lu-nya aja yang kurang kerjaan dorong-dorong kursi gua, lu tau gak kalau gua juga udah bayar dan pengen nonton dan duduk nyaman!" Marah Stevan mengungkapkan kekesalannya.


"Apa gua perduli" Jawab pemuda itu acuh.


Sementara temannya, dari tadi sudah melirik kiri kanan, merasa kurang nyaman di perhatikan para penonton lainnya.


"WOY TUKANG RIBUT!!! JANGAN RIBUT-RIBUTLAH ANJ*ING! DIAMLAH KALEN!!! AKU UDAH BAYAR MAHAL UNTUK NONTON INI DAN KALEN MALAH GANGGU DASAR KIM*AK!" Teriak salah satu penonton memaki.


Gemelatuk gigi terdengar.


Pemuda itu langsung melirik penonton itu tajam. Dengan gerakan lamban, ia membuka sepatu dan langsung berdiri.


"Lo gak senang Ha!!! " Ucap pemuda itu menaikkan suaranya di akhir kalimat dengan tajam. Pandangannya langsung nanar.


"BA*BI!!!" Jawab penonton itu memancing kemarahan sang pemuda.


Zwiiiinnggggg!!!


Tak!


Bruk!!!


"Berani-beraninya lo bilang seorang Daffa Babi!!!" Marah Daffa membelalakkan matanya emosi. Sementara penonton itu sudah pingsan terkena lemparan sepatu panthofel Daffa.


"Dan lo!" Daffa langsung menunjuk Stevan yang menatapnya penuh emosi.


"APA! MAU ADU JOTOS!? AYO! GUA JABANIN!!!" Teriak Stevan langsung naik ke kursinya agar semakin dekat dengan muka Daffa yang semakin terpancing.


"AYO! SIAPA TAKUT ANJ*ING!!! KELUAR KITA SEKARANG!" Teriak Daffa ikut emosi berjalan keluar bioskop dalam hentakan kaki kesal.


"Ok!" Teriak Stevan menyetujui.


"Stev," Namun Lengan Feron berhasil menahan pergerakan Stevan.


"Jangan Stev" Peringat Feron menatap Stevan tajam.


Tuk!


Stevan langsung menatap ke arah kiri. Dimana Ragas kini tengah menyentuh pundaknya.


"Dia kelihatan berbahaya Stev" Ucap Ragas pelan, tatapannya tak luput menatap seseorang yang sedari tadi duduk di samping Daffa yang juga menatap Ragas kalut.


"Apa gua benar?" Tanya Ragas menatap pemuda itu yang langsung mengangguk dan mendekati mereka.


"Jangan......., Jangan pernah berani adu jotos sama Daffa, dia orangnya kalau kelahi hanya selalu menetapkan dua pilihan....


Hidup......


atau


mati....." Ucap pemuda itu, Vion kalut.


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


...TBC ...