All For Dreams

All For Dreams
Alfi dan asmaranya



Mari beralih ke Bengkel MM.


"Scan yang di gunakan saat pengambilan foto ini menggunakan penerapan tekhnik mata manusia, dimana objek tegak lurus dan lightning foto tepat berada dibelakang objek, sehingga dapat memberikan kesan agung dan tinggi dari gambar yang saya ambil ini" Presentasi Alfi didepan kelas.


Alfi sudah menjelaskan 5 potret gambar yang ia ambil dan itu semua berisi potret seorang gadis berjilbab syar'i.


Disetiap penjelasan, tak lupa Alfi mengungkapkan bertapa sulitnya ia untuk mendapatkan foto ini karna 'foto sesungguhnya adalah foto yang diambil tanpa disadari sang objek'


Terang Alfi juga kembali menatap buk Fera yang khidmat mendengarkan Alfi sang bintang kelas kebanggaannya itu.


"Buk Fera, saya sudah selesai" Ucap Alfi tersenyum seraya berkode untuk izin duduk karna jujur Alfi merasa sangat kebas, mulai dari mengomentari teman hingga ia yang terpaksa harus presentasi di akhir pembelajaran membuat Alfi tidak dapat tidur dipojokan alih-alih duduk saja Alfi belum bisa, ia dipaksa untuk berdiri disebelah Buk Fera dan diminta tolong untuk memperhatikan setiap presentasi teman-temannya.


Mungkin bagi kaum hawa, Alfi adalah malaikat. Namun bagi kaum adam, Alfi adalah bencana alam semesta yang patut untuk digaris bawahi.


"Oh benar juga, silahkan duduk Alfi. Presentasi kamu sangat bagus, Ibuk suka. Oh iya, sekalian matiin infocusnya dan bersiap untuk pulang" Titah buk Fera mulai mematikan laptopnya dan Alfi yang mematikan serta merapikan alat presentasi.


.


.


.


Di rumah.


Alfi yang rajin kini terpaksa menjadi babu dadakan sang kakak yang hobi keluyuran kesana-kesini dengan tangan yang selalu menarik lengan lemas sang adik yang sudah jengah dengan tabiat sang kakak yang sengaja membawanya supaya diizinkan keluar oleh sang ayah. Tetapi, Kenapa harus Alfi yang baru saja sampai rumah? Bahkan pakaian yang ia kenakan masihlah seragam unggul sekolah.


"Alfi, kira-kira baju ini bagus ngak?" Tanya sang kakak seraya memperlihatkan dua jenis pakaian dalam wanita pada Alfi yang langsung bermuka datar.


"Bisa ngak sih lo bawa Aulia aja kalau pengen belanja? Masak ia gua disuruh komen pakaian dalam lu si? Gua lanang lo mbak! Iki pie toh??!!!" Kesal Alfi mengambil pakaian dalam itu dan melihatnya dengan kutipan 'terpaksa'


"Kalau gua ajak Aulia entar ayah gak kasih izin. Kalau ngajak lu kan enak. Baru nyebutin nama aja lampu ijo udah kedip di atas kepala ayah" Terang Tirta, kakak Alfi tersenyum puas dengan pilihan sang adik.


"Makanya jangan sering kibulin ayah, kan lu juga yang susah jadinya" Balas Alfi merengut memandang sang kakak yang malah mencoba mempaskan B*H pada dadanya.


"Tolong Fi, satuin kawatnya" Perintah Tirta membalikkan badannya.


Alfi dengan rasa malu memasang kawat penghubung pakaian dalam itu dengan tatapan antara jijik dan malu serta melirik kiri kanan merasa malu diperhatikan oleh ibuk-ibuk yang juga berbelanja barang sejenis dengan sang kakak.


"Woke, kayaknya pakaian ini imut" Komen Tirta memandangi cermin Didepannya.


"Bisa cepat gak sih lo!? Gua malu ni" Bentak Alfi menutupi mukanya sendiri dengan tangan.


"Sabar napa sih lo, milih barang kek gini tu perlu pertimbangan yang matang, jadi lo diam aja dan ikutin gua" Balas Tirta ikut menaikkan nada suaranya seraya berjalan pergi ke arah kasir.


"Awalnya gua pikir pakaian yang disebut Tirta pakaian kasual pada umumnya, rupanya gua salah besar" Terang Alfi bermuka datar memandang bertapa antusiasnya sang kakak dalam berbelanja dan bukannya langsung membayar itu.


"Dasar kasir laknat, bukannya langsung di scan tu barang terkutuk malah di tawarin barang lainnya lagi. Tu Nenek sihir kan jadi nambah waktu milih barang gak guna" Rutuk Alfi menyilangkan kedua tangannya geram.


*****


"Pokoknya gua gak mau tau, lo harus ganti duit gua" Sungut Alfi berkendara.


"Iye iye.. Lagian juga dipinjam bang Rais sebentar aja dah ngamok" Jawab Tirta judes di jok belakang motor dan Alfi yang melirik dari spion motor hanya dapat berdecak kesal dengan ekspresi Tirta yang selalu seenaknya sendiri itu.


"Sebentar lo bilang?! Hutang kemaren juga belum dibayar oi! Memang pantas ayah ngelarang lo pergi kemanapun, bahkan untuk membedakan orang yang modus ama kardus aja lo masih amatir" Komen Alfi pedas pada Tirta yang langsung syok mendengar penuturan sang adik yang beda 4 tahun darinya itu.


Ckit!!


Alfi memarkirkan motornya tepat didepan rumah mereka.


"Turun lo cepat, motor gua udah alergi sama pantat lo yang bau" Perintah Alfi mengusir Tirta dan langsung menyiram motornya dengan air.


"Idih! Lu pikir gua kuman apa pake ucapan alergi lagi, lagian tu motor barang mati, bukan hidup yang bisa alergi, mbweeekkkk....!!!!!" Balas Tirta melepeh didepan Alfi yang langsung mengarahkan selang air pada muka Tirta.


"Aaaaaaaa...!!! YAH!!! ALFI JAHAT, DIA SIRAM KAKAK AYAH!!!!" Teriak Tirta meminta pembelaan dari sang Ayah.


"Biarin aja, hitung-hitung air mandi" Jawab sang Ayah dari dalam rumah.


"Hahahahahahahhaha...... Lumayankan, gua bantu lo mandi Hahahahahahahhaha selebihnya basuh sendiri" Sindir Alfi mentertawai sang kakak yang malah tidak dapat pembelaan itu.


" Hahahahahahha..... " Tawa Alfi masih cukup keras.


Drrtt...


"? " Alfi langsung merogoh saku celanannya dan membaca sebuah pesan singkat dari Feron sang sahabat.


From: Feron


Lu gak jadi kemari? Ni Andin udah nunggu dari tadi masa lo anggurin, langkah banget lo si Andin mau diajak keluar, biasanya dia ngeram melulu di asrama. Kesempatan bagus juga buat ngedate, atau lu rela gua ama Andin aja berdua disini? Entar dikira kita sepasang kekasih lagi


Ting!!!


Alfi langsung menscrool kebawah dan apa yang ia lihat sontak membuat acara cuci motornya terpaksa terjeda dan buru-buru ke tempat Feron dan Andin.


"Mak, Ayah. Alfi keluar bentar ada urusan" Ucap Alfi meninggikan suaranya sedikit agar dapat didengar oleh kedua orang tuanya yang berada didalam rumah.


Seketika kepala Tirta muncul sedikit mengintip Alfi yang buru-buru mematikan selang air dan bergegas ingin pergi.


"Timbang si Alfi aja, cepat di ijinin. Kalau gua kagak" Rutuk Tirta memandang kepergian Alfi.


"Dia itu laki-laki Tirta, jadi wajar kalau Ayah dan Emak memperbolehkan ia pergi, kalau kamu mah cewek. Akan banyak gunjingan melihat kamu keluyuran tidak jelas terus sama pemuda yang bernama Rais itu" Ujar sang Ayah seraya menjewer telinga sang putri sulung.


"Auch, adududududuh..... Ayah jangan dijewer atuh au au au lagian apa bedanya si sama Alfi, dia kan juga sama keluyuran gak jelas sama orang yang namanya Feron itu, Ayahhhhh~ sakit ih!" Rengek Tirta mencoba melepaskan jeweran sang Ayah.


"Kalau sampai kamu ngasih uang lagi sama cowok itu awas aja, uang jajan kamu yang bakal Ayah potong nantinya" Ucap sang Ayah malah beralih topik seraya mengakhiri jewerannya.


"Ha? Ayah itu semua hoaks yah" Terang Tirta yang malah tidak diperdulikan sang ayah.


"Grrrrr..... Ini pasti karna Alfi cepu, karna duitnya udah dipinjam banyak sama bang Rais ni. Awas aja lu Alfi, bakal gua balas lu" Geram Tirta memandang jalanan.


*****


"Untung gua nyampainya cepet" Ucap Alfi mulai mengambil nafas panjang di depan meja kasir. Setelah dirasa cukup, kini Alfi mengedarkan pandangannya mencari Feron dan Andin, dan apa yang ia lihat sontak membuat amarahnya langsung naik dan berjalan cepat kearah dua objek tujuannya.


"Lo minum di pipet ini, gua di sini, Ok. Kita panas-panasin Alfi lagi" Ujar Feron memberikan satu pipet yang membentuk love dengan pipetnya.


"Senyum dikit dong Andin, ini buat panasin si Alfi lo" Terang Feron sedikit bergeser kearah Andin yang hanya tersenyum manis itu.


Ckrek!!!


"Hore" Kompak Feron dan Andin tersenyum puas.


"Mari kita cek fotonya" Feron langsung melihat hasil jepretannya diiringi Andin yang makin mendekati Feron, berniat untuk ikut melirik hasil foto mereka berdua.


"Bagus banget, tapi tunggu!?"


Feron langsung mengalihkan atensinya kebelakang, menatap Alfi yang sudah bermuka masam siap menghempasnya untuk menyingkir dari Andin.


"Mantap ya Ron, karna gua gak ada lu berdua berani ambil tikungan. Cabut lu, ini udah ranah gua ama Andin" Geram Alfi mengusir Feron dengan kedua tangannya, membuat Feron langsung tersungkur dari kursi yang ia duduki.


"Untung temen, untung temen" Mantra Feron bangkit dari posisi tidak elitnya.


"Awas ae lo Fi, mana ucapan makasihnya?!" Perintah Feron duduk didepan Andin dan Alfi yang langsung menatap Feron bosan.


"Makasih, dah. Cabut lu cepat" Balas Alfi tidak ikhlas mengucapkan terima kasih dan malah mengisyaratkan tangannya untuk menyuruh Feron pergi dari tempat ini.


Awas ae lo, ini cuma karna Andin ada di mari, kalau gak udah tepar lu gua bacok.


Geram hati Feron beranjak pergi dari tempat itu dengan hentakan kaki kesalnya mengiringi.


"F-Feron?" Panggil Andin tidak enak.


"Biarin aja Ndin, tu kecebong kalau dah di suruh pergi banyak simpenan yang bisa nemenin dia kok, jadi jangan khawatir. Sekarang fokus ke gua aja" Balas Alfi menatap Andin lekat.


Dasar kardus


...TBC ...