
Setelah melihat kepergian Nanda, tiba-tiba bang Sukma menjulurkan kepalanya.
"Kasian sekali, yang sabar ya Bujang" Ucap bang Sukma.
Sementara Feron yang masih menatap jalanan langsung mengerutkan keningnya kesal.
"Gak usah jadi Mario tega bang!" Bentak Feron melempar kotak bekal makan siangnya ke arah Bang Sukma.
Dengan hati yang sesak Feron langsung memakai helm dan menyalakan motor maticnya.
Dia berubah...
.......
.......
.......
...112...
...Malu...
.......
.......
.......
.......
Feron kembali dengan suasana hati yang kelam. Sebenarnya ia tidak ingin kembali terlalu cepat, toh dirumah hanya ada Bi Asih.
Tapi, demi badan yang bersih sepertinya Feron harus kembali.
Cklek!
"Selamat datang den" Ucap Bi Asih di ambang pintu.
"Hmmm..." Balas Feron berjalan masuk ke kamarnya.
Saat menginjakkan kaki di tangga, tiba-tiba suara sang kakak mengintrupsi "Feron sudah pulang, kemari sebentar, ada yang ingin kakak bicarakan"
Feron memandang Adi yang asyik melihat Ipadnya seraya memberikan perintah pada bi Asih yang langsung menurutinya.
Tumben dia pulang gak ngabarin gua, angin apanih?
Inner Feron berjalan menuju Adi yang tengah duduk di sofa ruang keluarga.
"Terima kasih ya bi Asih" Ucap Adi seraya tersenyum.
"Sama-sama Raden" Balas bi Asih.
"Duduklah Feron" Ucap Adi kemudian, tanpa memandang Feron sedikitpun.
Feron menurut, ia mengambil duduk tepat di depan Adi yang masih enggan menatapnya.
"Kemaren kamu ngajak siapa ke pesta Bunda?" Tanya Adi masih asyik ngescroll layar tabletnya.
"Temen" Balas Feron cuek.
Adi melirik Feron, ia sedikit meminum kopinya sebelum bicara "Temen apa temen?" Ejek Adi ber-Smirk.
Ia sedikit memberikan senyum mengejeknya pada sang adik yang langsung menampilkan kerutan di dahi. Persis sekali, kebiasaan ini tidak pernah hilang dari Feron.
"Tentu saja, lagian dia juga sudah punya pacar" Jawab Feron mengambil teh miliknya.
"Lalu?" Tanya Feron tak paham.
Adi memandang "Nenek ingin kau...... (berhenti dan berfikir sejenak) dan juga ayah ingin kau berhenti berteman dengannya"
"HAA!? KENAPA?"
"Kau tau sendiri bukan, jika gadis itu aduh siapa namanya yaa? Hmmm.... Maimunah? Ngak-ngak Juminten yaaaa hmmm? Atau ah sudahl-"
Feron langsung memotong "Nanda"
"Yapsss, hahahahaha si Nanda. Gadis itu sedikit kampungan ya, Hehhhh~"
Gelas teh Feron seketika hancur "Maaf" Ujar Feron bangkit dari duduknya.
"Biar bi Asih saja Den" Tutur bi Asih sigap mengelap.
"Aku permisi, kepalaku pusing" Ucap Feron terus berlalu pergi tanpa menggubris ucapan Adiniata berikutnya.
"Feron, kau tau sendiri bukan. Jika kau dilarang untuk terlalu dekat dengan kaum hawa, nenek sudah memperingati sedari dulu loo~ jangan sampai kau celaka my little brother!!! " Pekik Adi agar terdengar sampai ke lantai dua.
Namun Feron masih tak menggubris, alih-alih mendengarkan Adi, Feron malah membuka berita tribun Pekanbaru hari ini dengan muka kesal.
" Dammit! Sialan banget keluarga Adidjaya"Geram Feron langsung melempar smartphonenya ke kasur" Gua harus cepat-cepat kabari Nanda supaya dia kagak drop kayak nenek gua entar".
.
.
.
Cklek!
"HUAAAWWWW!!!" Teriak papa Nanda terkejut didepan rumahnya sudah berdiri banyak wartawan, beserta tribun sedang mengerumuni rumah hak pakainya.
"A-ada apa ini?" Tanya papa Nanda agak terbatas.
.
.
Keesokan harinya.
"Daffa!" Pekik Vion.
Daffa melirik "Paan?" Tanya Daffa dingin.
"Lu bercandakan"
"Soal apa?"
"Soal itu, soaalll-" Vion langsung menutup mulutnya tak percaya.
"Maksud lo ini, Heh!" Daffa menunjukkan layar smartphonenya.
"Daffa gak pernah bercanda loo~"
.......
.......
.......