
"T-tunggu sebentar Vein tunggu a-aku bisa jelaskan." Ucap suara itu ketakutan.
Namun pria didepannya hanya memandang bosan, tidak minat. Ia lebih memilih untuk memandang asap rokoknya yang terbang mengikuti kemana arah angin akan berhembus.
Vein sudah bosan, setidaknya ia ingin dengar kalimat update dari sang gubernur, tapi sepertinya Vein terlalu berharap tinggi sebesar harapannya pada Feron.
"Ah sudahlah." Celetuk suara Vein.
Dan...
Dorrrr!!!!!
.
.
.
.
.
.
"Fyuuuuuiitttt...." Vein langsung menatap hamparan pemandangan kota indah dari balkon gedung 20 lantai dalam Smirk bangga.
Disana, Adiniata menunggunya dengan tenang. Menyandarkan diri pada tiang lampu hias, memandang jalanan dalam kebosanan.
Sungguh tipikal dari seorang Adiniata yang tak dapat dihilangkan, seakan melekat kuat hingga saat ini.
Dalam persekian detik berikutnya, Adiniata langsung mendongakkan kepalanya, menatap tajam ke arah Vein yang tersenyum bangga melihat anak sulungnya begitu mewarisi dirinya.
.......
.......
.......
.......
...All For Dreams...
...Spekulasi...
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
"A-apa! NANDA BILANG DIA SUKA AMA LU! ELU!!?" Teriak Alfi menekankan suaranya kuat di akhir.
Sementara Feron hanya menatapnya bosan dari ekor mata tajam. Jujur di akui Feron sebenarnya memberi tau Alfi perihal semua ini merupakan suatu hal yang merugikan saja, tidak ada untungnya.
Namun sedikit di akui Feron, jika ia bercerita tentang hal ini pada Alfi rasanya beban anehnya sedikit terangkat, entah apa. Seperti rasa di tembak seseorang mungkin.
Feron menyentuh dadanya, terasa ada yang bergetar. Begitu kuat hingga ia terganggu. Bahkan Alfi yang berada di sampingnya pun juga ikut memandangnya aneh.
"Apa lo merasakan getaran asmara Fer? Eh, iya kan. Ehe! Apa jangan-jangan lo udah merasakan hal yang sama juga?" Ucap Alfi sedikit menggoda.
Bahkan tangan berlapis parut di sana sini itu juga tak luput menyentuh punggung tangan Feron yang masih berada di sana. Mencoba merasakan getaran dari dada Feron.
"Wanjai Ron, getaran dada lo boleh juga. Kayak getaran hp ya, hahahahaha..." Canda Alfi tertawa puas.
"Ini memang smartphone gua dodol!" Feron langsung menghalau tangan itu dan mengangkat telfon.
"Lo....."
.
.
.
.
Bulan dan minggu pun berlalu.
Kini Ryou sudah jarang terlihat, entah kenapa dan Feron jujur cukup kecewa. Disaat ia sudah mulai bisa mengakrabkan diri dengan sosok guru tersebut, malah ia sekarang menghilang.
Bahkan ke walikelasan pun malah di gantikan oleh Ardi, sang guru matematika yang paling ingin dihindari oleh Feron. Ck, mengingat bagaimana guru belok itu menyentuh tubuh siswa-siswa kekurangan nilai membuat Feron ingin muntah saja.
Apalagi sekarang, semenjak guru blonde itu jarang masuk, guru barupun seketika hadir dan mengacaukan semangat belajar Feron. Bagaimana tidak, bahkan maket perdana Feron pun hanya di nilai sebelah mata oleh guru aneh itu.
Fiks, sepertinya semenjak Ryou pergi, DPIB menjadi hancur. Hancur dalam bidang ilmu dan juga dalam bidang kewarasan.
"Bapak tidak bisa begini terhadap maket kelompok saya, masak ia nilai kami hanya 80 sementara kelompok Anwar bapak berikan nilai 96 padahal maketnya belum selesai di kerjakan. Bagaimana bisa begitu, saya tidak terima. Pokoknya bapak harus mengubah nilai kelompok kami!" Terang Feron menunjuk buku nilai yang berada tepat di hadapannya dan sang guru baru.
Di belakang Feron, Nanda hanya dapat memberikan muka khawatir. Khawatir akan Feron yang membentak sang guru baru, dan juga khawatir akan nasib kelompok maket mereka.
Jujur di satu sisi Nanda juga kecewa dengan penilaian sepihak ini, mengingat Feron begitu bekerja keras untuk menyelesaikan maket hingga begadang membuat Nanda sampai ingin memukul kepala kosong sang guru baru.
Bertapa tidak, dengan jelas Nanda dapat melihat garis kehitaman di bawah mata Feron yang sudah sayu kurang istirahat, namun guru baru itu malah berulah dan membuat wajah seram Feron menjadi semakin seram.
Sementara Ardi yang duduk di kursi buk Ariani hanya memandang dengan tawa, sepertinya guru ini menikmati suasana panas ini.
"Kenapa saya buat nilai kelompok kamu segini, itu karna kelompok kamu itu tidak menunjukkan bukti pengerjaan maket pada saya. Lebih-lebih hasil akhir, proses saja tidak. Minimal kalau buat di rumah ya video-in gitu lah." Jawab guru baru sewot.
Feron langsung menggelatukkan kedua giginya, matanya seketika menyipit tak suka."Ck! Seingat saya bapak tidak pernah memberikan instruksi demikian, ntah saya yang salah dengar, entah otak udang bapak yang membuat semua menjadi runyam."
Ardi di tempatnya langsung berhenti tertawa, ia seketika tertegun dengan air muka Feron yang sudah panas di tempat. Bahkan sang guru baru langsung cepat-cepat mengambil pena dan mencoret nilai awal.
"J-jadi kamu mau nilai berapa?" Tanya guru baru agak sedikit gemetar.
"Ck! Nilai berapa yang sesuai dengan maket sebesar tampah. Saya sudah muak dengan semua bahan dan peralatannya." Balas Feron.
"98?" Tanya guru itu sedikit tersenyum namun malah di balas Feron dengan wajah datar.
BRAK!
"Bapak ngajak adu jotos ya?!" Teriak Feron.
.
.
.
.
"Kenapa?"
Feron langsung memandang Miya yang juga memandangnya bertanya.
"Kenapa makanannya cuma di aduk? Tidak baik." Ucap Miya dan kembali melanjutkan makan.
Sementara Feron yang masih kesal hanya memandang makanannya dalam aura kesal.
"Gua pastiin muka Ardi di tapak sepatu gua besok." Monolog Feron pelan.
.......
.......
.......
.......
...TBC...