All For Dreams

All For Dreams
Kasih jalan



"Jual murid, jual murid, jual muriiiddd~" Ucap Ryou kesal menjajahkan para murid terkutuknya.


Kenapa bisa begitu?


..


.


.


.


.


Pagi hari nan cerah, Feron dan Nanda berjalan tertatih di koridor dengan keadaan yang mengenaskan.


Nanda dengan muka kusut dan sedikit ruam merah, sementara Feron dengan cap tangan yang kelihatan masih segar di pipi kirinya.


"Wih, ada apa ni?" Tanpa diundang tiba-tiba Theo datang dengan senyum yang membuat Feron ingin menggilingnya diadonan kesengsaraan.


"Gak usah nanya, cepat carrin gua es batu sama kain basah" Perintah Feron mengambil duduk di lantai koridor.


"Duduk Nan, biar babu gua yang nyiapin semuanya" Ucap Feron mengelus bekas tamparan di pipinya.


Berterima kasihlah pada tetangga Nanda yang tiba-tiba saja berakting adegan pelakor. Membuat Feron menjadi sasaran empuk kala berjalan ke arah motornya hendak menstater malah dikira suami yang kabur oleh tetangga Nanda dan berujung di hajar oleh massa karna teriakan membahana.


"Terima kasih sekali" Ucap Feron lesuh dan dendam disela Theo mengompres bekas luka itu perlahan.


Apa gua nyakitin dia ya?


Inner hati Theo sedikit melirik Feron yang senantiasa menggerutu.


"Cintai Ususmu minum dahak tia-"


Plak!


"Diam gak lu Regas! " Sinis Feron berdesis nyeri dengan tamparan yang tepat menampar muka berseri Regas.


Setelah menampar muka itu, ruam merah sontak terbit diwajah Regas yang kini langsung suram. Tidak ada keinginan untuk melanjutkan nyanyian kebahagiaannya, suasana hatinya malah teralihkan menatap Alfi yang sudah pundung di tembok depan perpustakaan.


Alfi bergumam layaknya orang gila baru seraya memetik ukulele yang ia dapat dari ruang musik.


"Hiks... Slurrrrpppp (menghisap ingus) hahahahaha......"


Lirih Alfi seraya memetik ukulele dengan musik yang aneh dipendengaran Regas yang langsung merebut ukulele itu, takut-takut akan dirusak serusak otaknya Feron yang kini malah sensi disebelah Nanda.


"Hari yang aneh" Kesal Regas menarik kerah baju Alfi dan menyeretnya untuk duduk disebelah Feron dan Nanda.


"Lu bertiga kenapa si?" Marah Regas jongkok didepan mereka bertiga.


"Lu cewek rasa cowok, kenapa muka lu lepek bat macam cucian basah ha?" Tanya Regas menunjuk Nanda yang semakin menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya.


"Semua salah Ketua kalen ini" Gumam Nanda lebih kearah berbisik.


"Hooo~ trus lo Fi, lo kenapa ha?!" Tanya Regas mengalihkan pandangannya pada Alfi yang sudah bermuka kecut dibelakang Nanda?


"Bukan urusan lo Regas" Jawab Alfi bodoh amat pada Regas yang langsung emosi.


"HA! FERON, LU KENAPA? JANGAN SAMPAI JAWABAN LO SEBELAS DUA BELAS AMA NI CECUNGUK LU!" Emosi Regas menarik rambut jabrik sang ketua.


Feron hanya diam.


"Woy! Sadar woy!! Lu kenapa?" Tanya Regas lagi mulai menarik-narik rambut panjang itu.


"SAKIT BEGO!" Marah Feron langsung mengambil tangan Regas dan membanting pemuda itu kuat ke arah paving block hingga terdengar bunyi tulang yang bergeser.


"Uuuuu~" Ucap mereka semua minus Feron.


"Gua cuma lagi nahan emosi di hajar tetangga Nanda yang sifatnya sebelas dua belas sama ni anak" Ucap Feron berlalu pergi begitu saja.


****


Dikelas


Sesi pembelajaran Gambar Bangunan.


"Baiklah, sebelum kita melanjutkan pembelajaran sebelumnya, bapak akan memperkenalkan satu murid baru sebagai teman kalian, dan bapak harap sifatnya lebih mulia dari pada kalian" Ujar Pak Ryou mengakhiri kalimatnya dengan rutukan.


Tap!


Tap!!


"Haaaa!!!???" Ucap Semua siswa.


Brak!!!


"Pak Ryou! Kenapa murid Ini yang masuk Ha!!!?" Teriak Feron menunjuk murid yang baru saja sampai di ambang pintu.


"Hmph! Terkejut ya, Alferon Adidjaya " Ucap suara itu penuh kesombongan.


" Reyona Laurien" Geram Feron menyebut nama itu.


"Hadir" Jawab Reyo angkuh seraya melanjutkan jalannya ke depan kelas.


.


.


.


"Tunggu sebentar Pak, bukannya hari ini kita ada acara gubahan massa?" Tanya Feron menatap Ryou sensi.


"Hahahahaha.... Astaga, apa saya pernah bilang begitu?" Tanya Ryou tertawa seraya menggaruk tengkuknya yang gatal.


"Jangan bilang lu salah hari" Tebak Feron dengan suara berat penuh emosinya.


"Hehehehehehehe.." Tawa Ryou.


Bruk!


Prak!


Bugh!


Puk!


"Semoga arwah bapak diterima disisinya-" Do'a Adam menadahkan tangan.


"Saya belum mati Adam" Balas Ryou mencoba berdiri.


"Eh, masih hidup toh?" Sesal Adam kembali duduk di kursinya.


"Dasar siswa kurang skala otak" Geram Ryou bangkit.


Sementara Reyo hanya memperhatikan kejadian itu dengan smirknya.


"Kelas yang cukup aneh" Gumamnya menyilangkan kedua tangan di dada.


Dan sepertinya rencana untuk menghancurkan semuanya dari dalam juga cukup menarik


****


Kantin, Feron and Gank.


"Kesal banget dah gua, udah jemput Nanda pagi buta, diceramahin bapaknya, digebukin tetatangganya, di kejar doggienya, ampe sekolah kena tampar, sekarang malah di prank Ryouichi bodoh!" Gerutu Feron mengaduk-aduk makanannya dan terkadang juga menusuk makanan tak berdosa itu dengan kejam.


" Santai Ron" Ucap Alfi menasehati, namun masih dengan tampang paginya yang suram.


"Ucapin kalimat itu buat lo sendiri aja, muka lu kayak ****** Regas yang belum dicuci seminggu" Balas Feron melirik sinis Regas yang langsung tersedak kuah baksonya.


"Gua gak ngomong apa-apa malah dibawa" Cerca Regas tidak terima dibawa-bawa dalam pembicaraan awkward Feron.


"Diam aja lu, gua lagi gak pengen mukul bawahan" Ancam Feron kembali menusuk makanannya, namun kini malah mangkok makanan itu ikut terbelah dua.


"Ck! Gua ganti mangkok dulu" Pamit Feron berjalan ke arah mbak Rena sang pedagang makanan yang Feron pesan.


"Oh iya, Fi. Mana temen cewek lo?" Tanya Theo dengan mulut yang asyik mencomot tempe goreng Feron.


"Oh Nanda, entahlah. Mungkin lagi dipanggil buk Ariani, soalnya tadi Feron bilang gitu"Jawab Alfi memakan mie gorengnya.


" Hmph? " Gumam Theo agak curiga.


...TBC...