
Setelah hari itu, sikap Feron berubah~
Senin, Feron datang tepat waktu memakai atribut lengkap dan tidak bar-bar seperti biasanya. Sikapnya tenang. Topi samping ala pelaut khas SMK 1 senantiasa selalu ia pakai di kepala, kini ia hanya meletakkan jaket di atas punggung dan melilit tangannya di leher.
Sikap tenang, gaya berpakaian rapi, datang tepat waktu? Apa Feron sudah sinting. Setidaknya kini Nanda berfikir dengan serius. Upacara kali ini Nanda hanya berdiri seperti layaknya siswa/i biasa, tidak seperti hari-hari sebelumnya yang berpatroli untuk menertibkan siswa nakal.
"Nan...."
Tapi kenapa Feron bisa begitu calm, apa karna pak kepsek motong rambutnya hingga botak?
Inner Nanda berpikir serius.
"Nanda!" Suara Feron cukup keras, berhasil menyadarkan Nanda dari lamunannya.
"Ayo kembali kekelas, sebentar lagi pelajaran pak Ryou dimulai" Lanjut Feron berjalan lebih dulu.
Nanda menggaruk sebentar tengkuknya yang tak gatal, kemudian mengikuti Feron.
"Hay gaes" Sapa Alfi.
"Oh! Hay Alfi!" Sapa Nanda menepuk keras punggung Alfi berharap sang empunya akan berkomentar bertapa pedihnya pukulan Nanda seraya berniat ingin membalas pelan, namun nihil. Alfi hanya membalas dengan senyuman seraya tangannya yang menggosok bekas pukulan Nanda.
"Ada apa Fi ?" Tanya Feron.
"Gak ada, cuma pen nyapa lu berdua. Entar abis pelajaran pertama gua gak bisa kumpul kayak biasanya, sorry banget ya gaes. Entar istirahat kedua baru gua datang" Ucap Alfi kemudian berlalu pergi.
"Ok" Balas Feron seadanya kemudian kembali melanjutkan langkah yang sempat terhenti.
Sementara disisi Nanda, ia malah terdiam tidak bisa mencerna kejadian ganjil ini. Kenapa dua sahabatnya bertingkat calm?
***
Jam istirahat telah usai, Nanda menutup bekalnya dalam diam. Tidak ada kehebohan seperti biasanya, tidak ada gerutuan dan tawa sumbang dari Feron dan kejailannya yang tidak termaafkan. Bahkan pak Ryou sampai garuk kening melihat tingkah feron yang out of character. Kenapa dengannya?
"Napa Nan?" Suara Feron, dapat Nanda rasakan sentuhan hangat dari jarinya yang menyentuh keningnya.
"Gak apa-apa, gua cuma lagi mikirin sesuatu" Jawab Nanda menepis tangan Feron kemudian buang muka.
"Ok~" Balas Feron beranjak dari kursinya seraya membawa kotak bekal, ia membuang tulang ayam dilantai teras menunggu kucing yang bersembunyi dibalik tong sampah menghampirinya. Feron sedikit berjarak.
Dan Nanda melihatnya, walaupun awalnya membuang muka namun akhirnya Nanda tidak bisa untuk tidak melihat keganjilan temannya itu.
Oh iya, Nanda sangat hapal mengenai hal ini. Feron tidak menyukai kucing. Ia sangat membenci bersentuhan langsung dengan kucing jalanan yang penuh kotoran.
Pemuda itu cukup clean freak untuk bersentuhan dengan sesuatu yang kurang ia kehendaki bahkan pernah ada suatu kejadian dimana Nanda datang dalam keadaan dekil dan tanpa sengaja menyentuh lengan Feron, refleks pemuda itu langsung mengeluarkan tissue dari saku jaketnya dan mengusap bekas tangan Nanda berulang kali bahkan sampai menyemprotkan hand sanitizer.
Awalnya Nanda emosi dengan sikap Feron yang seperti menganggapnya kuman, namun seiring berjalannya waktu dan mendengar penjelasan dari Alfi, Nanda menyesal pernah berfikir demikian.
Rupanya ada kisah dibalik kejadian....
"Hahhhhh~"
Nanda terus memperhatikan Feron yang semakin berjarak dengan kucing yang ikut mendekatinya, dan alhasil ia memilih kembali masuk kedalam kelas dan duduk.
Sementara Nanda senantiasa memperhatikan Feron.
Tap...
Tap...
"Assalamualaikum, hari ini kelas akan kita mulai dengan menghitung bangunan atas" Ucap buk Sinta berjalan kekursi guru. Diikuti oleh beberapa siswi dari kelas 10 yang membawakan buku tugas kelas Feron.
Ada Imel yang sengaja ikut, rencana ingin melihat sang kakel kesayangan. Ia awalnya berjalan cepat, namun saat ingin melewati meja Feron ia memperlambat jalan dan sedikit melirik kearah Feron yang menyunggingkan senyum kearahnya.
Sontak Imel langsung meluruskan pandangan, semburat merah muda menghiasi seluruh wajahnya yang malu telah ketahuan melirik sang kakel.
Setelah meletakkan buku tugas itu, imel pamit. Ia berjalan dengan cepat hingga tak memperhatikan langkahnya yang sontak membuatnya hampir terjatuh kalau saja tidak ada sepasang lengan yang menghentikan gravitasi bobot badannya.
"Perhatiin jalan, bukan gua" Bisik Feron di telinga Imel yang sontak langsung berdiri.
"Eeeeeeeee~" Imel menatap terkejut Feron yang ikut menatapnya terkejut.
"Kenapa lo?" Tanya Nanda dari bangkunya.
"B-BU-BUKAN APA-APA!!!!!!" Teriak Imel langsung berlari pergi.
Menyisakan satu kelas yang menatap Feron penuh tanya, sementara Feron kembali menatap kelasnya juga penuh tanya.
"Kenapa dia?" Tanya Feron menaikkan pundak.
Semua teman Feron menggeleng.
****
Imel benar-benar kacau, fikirannya campur aduk.
"Bagaimana ini~" Ucap Imel berlari kearah kelas, sepertinya berdiskusi dengan Denada untuk masalah ini lebih baik, fikir Imel begitu.
"Kenapa?" Tanya Imel yang langsung menutup layar smartphonenya.
"Denada! Tadi gua dilirik kak Feronnnnnnn!!!! Asw deg-degan banget gua!!!! Kyaaaaaaaa!!!!!! Anjay gua sampai di khawatirin sama kak Fer, aduh gua ngefly an*ying!" Teriak Imel seraya memeluk Denada semakin keras.
"Ok ok, tenang Imel tenang. Gua hampir pingsan sama pelukan lo yang terlalu bertenaga ini" Ucap Denada hampir tak bernafas.
"Maaf" Jawab Imel langsung melepaskan pelukannya.
Tapi sebelum itu gua pen keluar dulu, ada urusan " Ucap Denada berjalan keluar.
Di depan kelasnya kini berdiri Anwar.
" Kak an-"
Dan Nanda?
" Hoy adik kelas" Sapa Nanda.
Muka Denada yang cerah langsung berubah gelap, bisa-bisanya ada Nanda ditengah pembicaraan penting mereka berdua. Tanpa sadar Denada menggeram tidak suka.
" Engggghhh... Sepertinya gua langsung balek kekelas aja deh War, mmm... Silahkan dilanjut" Nanda langsung terbirit kabur meninggalkan Anwar dan Denada berdua.
"Hah~~" Deru nafas Denada bersyukur Nanda pergi.
"Oh iya kak, tadi mau ngomong apa ya?" Tanya Denada tersenyum
"Dek...."
"Iya kak?"
"Kita putus"
Jdaaaaarrrrrrr!!!!!!!
"Kakak berpikir kalau hubungan kita gak bisa dilanjut" Lanjut Anwar mengalihkan atensinya.
"Karna kakak sudah mencintai orang lain"
***
"Begitu katanya Mel, huaaaaaaaa~ haaaaaaaaa huuuaaaaaaa~" Tangis Denada memecah keheningan kantin bude Jena.
"Sabar ya Den sabar, terkadang takdir emang kejam"
"Kejam dari mananya hiks! Itu mah jahat! Tega banget dia mutusin gua tanpa ngelakuin hal romantis duluan hiks! Anwar ban*gke asw KIM*AK" Racau Denada frustasi.
Imel hanya dapat mengelus punggung Denada pelan, tidak dapat berkata apa-apa karna ucapan apapun yang ia lontarkan pasti akan ditolak oleh Denada.
Tanpa sadar tatapannya menatap siluet Anwar. Elusan langsung berubah menjadi pukulan.
"Den den, kak Anwar den. Lari kemana dia? Yok ikutin" Ucap imel menarik Denada yang masih belum siap untuk diajak menguntit.
"Mau lo bawa kemana guaaaaaahaaaaaaaaa~" Omel Denada.
"Diam den, entar ketahuan" Peringat Imel membekap mulut Denada kencang, mereka memilih bersembunyi di semak terdekat supaya dapat mendengar lebih jelas dan menatap kearah Anwar dan Nanda yang berdiri ditengah lapangan basket.
"Sorry gua telat" Ucap Anwar.
"Iye gapapa" Jawab Nanda bersilang tangan didada, ekspresi mukanya masam menandakan kesal.
"Gapapa kok mukanya cemberut gitu"Ucap Anwar berusaha merayu, tangannya ingin Menyentuh pipi Nanda.
Tuk
" Mau ngapain lo? " Tiba-tiba Feron muncul, mencengkram tangan Anwar hingga sang empunya langsung menatap Feron tidak suka.
" Serah gua lah, Nanda kan pacar gua"
Denada langsung syok dan hampir terjatuh pingsan kalau saja tidak ditolong oleh Imel.
"Apa lo bilang!?" Imel langsung mengalihkan atensinya kembali.
"Pacar! HEH.. dugong sayur. Kemarin kita baru anniv di cafe PKU jadi lo jangan ngaku-ngaku" Tunjuk Feron pada dada Anwar hingga membuat ia terdorong kebelakang.
"Apa!" Imel langsung syok dan pingsan. Komplit sudah, kedua bocah ini pingsan tidak terima dengan kenyataan.
Yang mereka tidak sadari adalah kamera yang dipegang oleh Alfi.
"Ok cut!" Teriak Adam.
"Mantap, dengan ini trailer cerita kita selesai" Teriak Alfi bahagia.
Mereka benar-benar naif untuk ukuran bocah kelas 10 SMK.
...TBC...