
Ryou berlari mengitari lorong sekolah, semuanya berantakan dan porak poranda.
"Pak!" Teriak satu suara panik memanggil Ryou.
Ryou langsung berhenti dan melihat kearah sumber suara, disana Adam tengah melambai dan berlari kearahnya.
"Kenapa bisa kacau begini Dam? Dimana teman-teman yang lain?" Ryou memegang erat kedua pundak Adam, hingga Adam sedikit berjengit sakit.
"Auch! Kami juga tidak tau pak. Tiba-tiba mereka semua datang dan langsung memporak-porandakan sekolah kita. Oh iya, saya mendengar dari salah satu gank mereka berkata untuk membakar sekolah pak, dan untuk masalah para siswi dan guru DPIB semuanya sudah saya amankan di workshop. Teman-teman yang lain juga sudah disana" Ujar Adam panjang lebar.
Membakar sekolah?
Inner Ryou menyelidik.
“Oh tidak!” Ryou langsung berlari kembali.
“Eh? Pak Wil mau kemana pak?” Tanya Adam spontan.
“Menyelesaikan hal yang harus diselesaikan” Teriak Ryou panik.
...*Disisi feron*...
"Coba kita lihat... " Reo yang sudah turun dari atap dengan penuh gaya kini sedang mengintip sedikit kedalam amplop coklat.
"Aman" Lanjutnya dan kembali menutup amplop tersebut.
"Lu ngapain sih bertamu disaat gua gak sekolah ngab? Udah datang lo gaje gak ngerti lagi tujuannya!" Sanggah Feron.
"Blebleblebleblebleble.... bacot lu Ron. Justru gua kesini punya tujuan yang paling jelas ketimbang lo yang langsung nyerang SMA 2 tanpa tau penyebab!" Ejek Reo tak mau kalah.
"Bleblebleble… Ba*gke lo, cepat jelasin sebelum tiang impus melayang" Balas Feron yang sudah bersiap melempar tiang imfus layaknya tombak.
"Punten slurr, gua cuma ada sedikit urusan dimari" Ujar Reo seadanya.
Muka Feron langsung bingung.
"Buat apaan lagi tu? Lo mau lamaran jadi Office Boy SMK 1 ya?" Tanya Feron menunjuk amplop coklat yang berada di genggaman Reo.
“DASAR GAK SOPAN!” Teriak Reo marah, ia langsung melempar genteng lainnya pada Feron.
"Ini rahasia negara, makhluk jelata macam lo sebaiknya main karet aja" Lanjut Reo mengejek.
TRINNNNGGG..
Triiiinggg...
"Pa-"
Ziiinngg...
Sudut pipi Reo langsung tergores panjang, dia sedikit syok memandang tiang infus yang tertancap sempurna di tiang.
"Lu pikir ini cerita dimana lo bisa telfonan sambil bicara dan omongin solusi ditengah pertarungan!" Ucap Feron dingin.
Reo langsung melihat kearah Feron yang sudah memegang amplop coklat dan beralih menatap tangannya yang sudah tidak memegang amplop lagi.
Cepat sekali
Inner Reo kaget.
Slap
Reo menahan pukulan Feron dengan kedua tangannya.
Trak!
Smartphone Reo terlempar jauh, dia sedikit melirik smartphonnya yang masih menyala walau layarnya sudah retak jaring laba-laba.
"Tidak akan mudah" Ucap Feron tenang membunuh.
"Hah?!" Gumam Reo langsung mencoba memukul balik namun serangannya kalah cepat.
Pranggg!!!
Bruukkk!!
Brukkkk!!
Bukk!
Slamm
Srakk
Prankkkkkk!!!
"Akhh!!" Gumam Reo.
Dengan serangan yang cepat, Feron memukul perut dan organ fital Reo bertubi-tubi, membuat Reo tidak sempat membalas dan malah langsung ambruk.
"Lemah.." Tatap Feron remeh pada Reo yang sudah tertelungkup menahan sakit ditubuhnya yang memar dan berdarah.
Feron beralih melihat isi Amplop coklat, sebuah dokumen penuh tulisan penting terpampang dihadapannya.
...SURAT PERNYATAAN ANTAR SEKOLAH...
DENGAN HORMAT SAYA YANG BERTANDA TANGAN DIBAWAH INI, KEPALA SEKOLAH SMA 2 DENGAN INI MENYATAKAN BAHWA
K...
Feron mengembalikan surat itu kedalam amplop, tidak ingin melanjutkan acara membacanya.
"Jadi ini cuma surat perjanjian antar kepala sekolah, tidak penting untuk gua ketahui" Gumam Feron bosan.
.......
.......
.......
"Jadi ini ruangannya, sangat nyaman" Luna menatap sekitarnya, ruangannya begitu nyaman dan juga sunyi. Sampai Luna melirik ke tengah ruangan, menampilkan seorang remaja tampan yang terbaring lemah.
"Ragas Brahma," Ucap Luna mendekati ranjang Ragas yang terlelap damai. Ia mengusap pelan surai hitam kembaran Regas itu.
"Koma" Lanjut Luna serius.
Cklek…. (suara pintu dibuka)
“Siapa kau?” Ucap salah satu orang yang berhasil membuat atensi Luna teralihkan.
.......
.......
.......
Prok.... Prok....Prok ...
"Menarik sekali, Regas Brahma " ucap pemimpin bertepuk tangan atas kesuksesan Regas menghajar seluruh pasukan yang ia kerahkan untuk membakar sekolah.
Regas tidak menunjukkan ekspresi berarti, ia hanya menatap datar pria itu.
Seluruh tubuh Regas dihiasi noda darah, dia telah menghabisi seluruh pasukan ‘orang itu’.
Tap
"Kenapa kau tidak bunuh saja sekalian" Pria itu memberikan pisau lipat pada Regas yang langsung diterimanya tanpa penolakan.
"Saaaa~, mari kita coba" Pria itu mengenggam tangan regas yang memegang pisau lipat, matanya menatap tajam pemimpin musuh.
" Lu mau apa lagi disini?” Tanya Regas garang.
.........
"Alfi!!! Bertahan Alfi" Nanda kalang kabut berlari seraya menggendong Alfi dipunggungnya. Tangan kirinya yang sudah patah tidak menjadi hambatan Nanda untuk menggendong Alfi dipunggungnya.
Nafas Alfi mulai melemah, sontak hal itu membuat Nanda menjadi semakin panik. Nanda sempat pergi ke Uks, namun tak menemukan satu orangpun disana, alhasil ia hanya bisa memberikan pertolongan seadanya untuk dirinya dan juga Alfi.
"Gua butuh orang yang ahli" Monolog Nanda panik.
"Nanda?!"
Nanda langsung mengalihkan pandangannya,
"Anwar!" Gumam Nanda senang.
"Nan lo kenapa? Ha! Dia juga kenapa sampai seperti ini?" Ucap Anwar lagsung mendekati Alfi.
"Mata lo picak, udah tau sekarat masih ditanya!!!!" Bentak Nanda langsung naik pitam mendengar pertanyaan Anwar yang ampas menurutnya.
"Ya maaf, ya udah kita bawa aja dulu ke workshop Nan, kalau kita tetap disini gak aman (menatap sekitar) Biar gua yang bopong temen lu" Ucap Anwar meraih tubuh Alfi.
.......
.......
.......
Sesampainya di workshop, tanpa aba-aba Nanda langsung berteriak menyuruh ini dan itu.
Adam dan buk Ariani yang baru saja saja dari ruang sebelah langsung terkejut melihat kondisi Alfi yang sekarat.
"Apa yang terjadi Nan?" Tanya buk Ariani yang langsung mengambil duduk disebelah Nanda dan mulai memeriksa Alfi.
"Denyut nadi melemah" Gumam buk Ariani, dia langsung membuka perban di dada Alfi.
Para siswi yang melihat luka Alfi seketika menutup mata ketakutan.
"Ini bahaya" Pekik Buk Ariani panik.
"Apakah kita masih punya alkohol, antiseptik dan peralatan medis lainnya? Anak ini dalam masalah!!!! Hubungi juga medis hubungi rumah sakit!" Teriak buk Ariani panik.
"Feron asw~!!!" Gumam Nanda malah mengatai nama Feron penuh dendam, sementara Anwar disebelahnya malah terkejut untuk suatu hal.
.......
.......
.......
"Hatcwiu... Ehmm.... Sepertinya ada yang ngatain gua," Monolog Feron mengusap hidungnya dan kembali melanjutkan aktifitas yang sempat tertunda.
"Ini sepertinya penting, gua sim-" Lanjutnya terputus.
Slap...
Telapak tangan Feron berdarah menahan belati Reo yang siap menikam hatinya.
"Gua pikir lo udah kalah, rupanya tindakan curang masih mendarah daging pada lo Reo" Feron tersenyum culas membuat Reo mendengus melihat kecepatannya.
"Well... well... well...." Reo menarik cepat belatinya, membuat darah Feron semakin banyak mengalir, Feron mundur beberapa langkah membuat jarak.
"Hari ini belati emas gua akan makan-makanan besar," Ujar Reo tersenyum psikopat.
"Belati indah ini bakal menikmati setiap inchi kulit mulus lo Feron , huhuhu..." Lanjut Reo tertawa puas.
Setelah mengucapkan kalimat itu Reo kembali menyerang membabi buta. Sementara Feron tidak ambil pusing dengan ucapan Reo barusan, baginya fokus dalam perkelahian itu lebih baik.
"Gua fikir lo udah menyerah, rupanya cuma merenungi detik-detik kekalahan doang" intimidasi Reo masih dengan senyum psikopat.
"Tidak juga, lo tau sendirikan dalam perkelahian seseorang juga perlu menjalankan otaknya untuk bertindak" Komentar Feron.
Feron berhasil menghindari semua serangan Reo dengan mudah hingga membuat Reo marah.
Krak!
Buug!
Zlap!!
“?” Tanya hati Feron.
“Yo… Feron” Ucap suara lain mengintrupsi.
Feron langsung berhenti dan mundur dengan cepat.
“Cukup lama juga ya…..” Sambung Bruno seraya berdiri membelakangi Reo yang terduduk di paving block.
“Pengganggu lainnya datang” Lirih Feron dendam.
“Haaaaaa??? Pengganggu? Ah tidak, sepertinya gua salah dengar, hmmm… sekolah ini menarik juga ya. Sanking menariknya, tangan ini sampai gatal ingin menghancukannya seperti lo yang juga menghancurkan sekolah gua” Smirk Bruno.
“Lo cukup lama juga” Sindir Reo berdiri, berusaha menetralkan nafasnya untuk kembali bertarung.
“Sebaiknya lo asah dulu belati berkarat itu, Reo” Cemooh Bruno.
“Haaaaaa!!!!!? Cari mati lo ya?” Kesal Reo mulai emosi.
“Hayyy….. kalau ingin adu jotos silahkan keluar dari sekolah ini, mari gua tuntun ke gerbangnya tuan-tuan sekalian” Kalimat Feron berjalan mengusir Reo dan Bruno.
“KAMI DATANG INGIN MENGHAJAR LO BE*GO!!!!” Teriak Reo dan Bruno kompak.
...*Disisi berbeda*...
“Ini pasti ada orang dalam” Gumam Ryou memperhatikan ruang berkas yang sudah terbakar. Dokumen-dokumen penting semuanya hilang dan hanya menyisakan tumpukan berkas yang mulai gosong terbakar.
“KAMI DATANG INGIN MENGHAJAR LO BE*GO!!!!” Teriak dua suara kompak.
Suara ini?
Inner Ryou berjalan kearah loby, ia memilih bersembunyi dibalik tembok untuk melihat keadaan.
Feron rupanya masih berkelahi dengan Reo dan…
Bruno?
Anak itu sudah pulih? Cepat sekali.
...*Kembali pada feron*...
“Jadi lo kesini buat balas dendam gitu?” Tanya Feron bersidekap dada.
“Bisa di simpulkan begitu” Jawab Reo malas memandang Bruno.
Sial banget gua, seharusnya tadi gua di Kasur aja
Batin Feron merana.
Feron kembali memandang ke arah Bruno dan Reo yang sudah bersiap menyerang. Dia benar-benar menyesali kehadirannya disini.
“?”
Feron merotasikan matanya malas, namun sepertinya untuk kalian ini ia sangat bangga dengan dirinya sendiri saat melihat.
Regas?
Inner Feron tersenyum.
"Sekarang imbang” Gumam Feron bersmirk.
“Apa? Maks-“ Tanya Reo tercekat saat sebuah benda tajam akan mencapai dirinya.
TRANK!!!
Bunyi dua benda tajam beradu, Bruno terkejut akan kedatangan Regas.
Bukankah?
Bruno meliarkan pandangan hingga ia menatap satu orang yang berdiri di sudut tergelap. Pemimpin memberikan gekstur semangat dan berlalu pergi begitu saja.
“Ck!” Rutuk Bruno benar-benar tidak habis fikir dengan pikiran ‘pemimpin’ itu.
Sementara Reo kini tengah bersusah payah menahan serangan Regas, dua pisau beradu. Bruno kini lebih fokus memperhatikan Feron yang tengah merenggangkan otot-ototnya.
“Lo hadapi Regas, biar Feron bagian gua” Perintah Bruno pergi.
“A-aapa?!” Belum sempat Reo mengajukan protesannya, Bruno sudah pergi lebih dulu hingga membuat urat kesal tercetak dikening bersih Reo yang kesal.
“Seenaknya saja!” Marah Reo membanting Regas hingga sang empunya mundur beberapa langkah.
.......
.......
.......
“Alfi bertahan, bantuan bentar lagi datang. Gua mohon Fi bertahan” Mohon Nanda memegang erat tangan Alfi yang mulai mendingin.
Tangan kiri Nanda sudah diperban dan diberi penyanggah, buk Ariani menyuruh Nanda untuk beristirahat namun gadis itu menolak dengan alasan tidak ingin menjauh dari Alfi sang sahabat.
“Berapa lama lagi buk? Kapan ambulansnya datang hiks… Alfi sudah sangat kesakitan buuukkkk….. hwaaaaaahaaaaaa hwaaaaaaa……” Tangis Nanda.
Anwar yang berdiri dibelakang Nanda tidak kuasa menahan kekesalannya karna tak dapat berbuat apa-apa. Ia memandang kembali Alfi dengan pisau lipat yang masih menancap di dadanya. Nafasnya juga semakin memberat.
Apa gua akan mengambil resiko?
Tanya hati Anwar memandang keluar, tepatnya pada motor KLX miliknya yang berhasil selamat bersama beberapa motor teman-teman lainnya.
"Hiks… ALFI!!! BERTAHAN!!” Teriak Nanda hingga membuat Anwar sontak terkejut mendengar teriakan itu, ia memandang kedua tangannya yang mengepal erat. Menguatkan hatinya, Anwar berjalan mantap.
“Ayo Nan , kita antar Alfi kerumah sakit. Jika nunggu terus bisa-bisa Alfi keduluan mati ntar” Ujar Anwar menepuk Pundak Nanda pelan.
“Dam lo sama Darby juga ikut kita kerumah sakit, kita antar Nanda sama Alfi kesana” Usul Anwar.
Adam dan Darby langsung mengangguk setuju dengan usulan Anwar, mereka langsung memapah Alfi dan Nanda ke motor.
Nanda Bersama Adam, sementara Alfi bersama Anwar dan Darby yang sigap memegang Alfi agar tidak jatuh.
“Berhati-hatilah anak-anak ibuk” Petuah buk Ariani mengantar kepergian muridnya.
“Pasti mami” Jawab Adam mewakili.
.......
.......
.......
Feron melihat Bruno dengan tatapan tajam, remaja itu langsung pingsan setelah Feron memukul tengkuknya kencang. Sementara Regas masih adu pisau dengan Reo.
Brmmmmm!!!!
Brrrrmmmm!!!!
Zriingggg!!!
Pandangan Feron dan Nanda bertemu, Nanda terkejut melihat kehadiran Feron yang sudah acak-acakan dan Bruno?
Brrrrmmmmm!!!!
Setelah memandang Nanda, kini berganti Feron yang terkejut menatap Alfi yang sudah terkulai lemah di jok motor Adam.
“ALFI!!!!” Teriak Feron nyaring.
Regas dan Reo berhenti menyerang, mereka mengarahkan atensinya pada Feron yang berteriak mengejar motor Adam.
“GAK ADA WAKTU BUAT BERENTI RON, ALFI SEKARAT!” Teriak Adam semakin mengencangkan kuda besinya.
Sementara Reo kini tersenyum puas.
“Hahahahahahahahahaha…..!!! Satu tamat, berikutnya kalian” Reo benar-benar bangga dengan hasil kerja kerasnya, sementara Feron kini berusaha menahan emosinya.
BOOOMMM!!!
“?” Mereka bertiga sontak mengalihkan pandangan pada gedung utama yang meledak.
“Ooooo… tidak tidak…” Monolog Feron langsung kalut memandang Gedung utama terbakar dan menyemburkan api yang besar.
Dari kejauhan, terdengar suara mobil polisi yang kian mendekat, Reo mulai panik.
“Saatnya pergi” Kata Reo bersiap kabur.
Grap!!!
“Tidak semudah itu!” Tiba-tiba Feron langsung mengunci pergerakan Reo hingga pisau yang digenggamnya terjatuh ke paving block.
“Segera kabur Regas biar Reo dan Bruno jadi urursan gua” Titah Feron tegas.
“Tapi Fer, lo bisa ditangkap polisi” Ucap Regas tak ingin pergi.
“Bodoh amat, CEPAT LO KABUR BANG*SAT” Teriak Feron, tanpa membantah lagi Regas segera meninggalkan tempat tersebut.
“K-kau!” Sinis Reo tidak bisa berkata lagi, Feron benar-benar.
“Jangan bergerak!” Peringat polisi menodongkan senjata api.
Feron dan Reo kompak memandang kearah polisi yang kini tengah menodongkan senjata api pada mereka berdua.
.......
.......
.......
Hidup benar-benar rumit....
"Dari mana dendam Regas bermula ya? Hmmm... mungkinkah karna tanggal 1 januari itu?" Ucap seseorang.
*Flashback, 1 Januari*
"Gas, lo yakin gak pergi ama Regas aja?" Tanya Feron yang duduk di jok belakang motor Ragas.
"Ngak, gua lagi gak pengen ganggu tu anak pacaran, lagian kita juga udah telat pergi berenangnya, entar pak Puad pidato lagi kayak yang lalu-lalu" Jawab Ragas yang fokus berkendara.
"Hmm.." Gumam Feron.
"Kenapa?" Tanya Ragas menatap Feron dari spion motornya.
"Kata nenek gua, kalau telinga kiri berdenging itu tandanya lagi ada yang omongin kejelekan kita, tapi kalau yang berdenging itu telinga kanan maka sebaliknya. Dan sekarang yang berdenging itu kiri" Kata Feron memandang gumpalan awan.
"Pfffttt.. baru tau gua kalau lo punya nenek" Sindir Ragas menahan tawa.
"An*jing sekali anda" Sarkas Feron tak terima.
Ragas langsung diam, niat hati ingin mencairkan suasana malah berimbas dia yang di maki Feron.
"Ah-"
Ciiiiiiittt..
Puk
Dahi Feron langsung mencium hangat helm Ragas hingga menciptakan lebam merah yang akan hilang beberapa jam.
"Kenapa lo tiba-tiba berenti?" Tanya Feron geram dan tidak memperdulikan dahinya yang sudah membengkak.
"Anak SMA 2 pulang ampe menuhin jalan n*jir, bikin kesel aja mana dah telat lagi kita" Komentar Ragas menunjuk kerumunan SMA 2.
Tiiiiittttt!!!!
Tiiiiiittttt!!!
Tiiiiitttt......!!!!
Ragas mengklekson motornya terus menerus berharap mereka memberikan jalan, namun malah membuat salah satu murid SMA 2 didepannya terganggu.
"Ciih! Lo bisa diam gak anj*ing!" Ucap Siswa tambun itu melirik ke belakang tepatnya kearah Ragas dan Feron.
"Kagak! Lu lagi SMA 2, lu pikir ni jalan punya nenek moyang lu? Pake menuhin jalan umum lagi! Coba luliat sekeliling lo bang*sat, pengguna jalan yang lain keganggu gak bisa lewat gara-gara lu semua pulang kayak arak-arakan pawai!!!!!" Emosi Ragas menunjuk siswa tambun itu.
Ragas langsung berdiri dari motornya dan berteriak, membuat semua anak sma 2 termasuk Bruno yang baru keluar gerbang langsung meliriknya.
"Ha! Mau apa lo, ngajak kelahi lo ya!! " Siswa tambun itu langsung turun dari motornya dan ingin memberikan pukulan telak namun Ragas dapat menghindarinya dengan mudah.
Buuughh!!!
Ragas dengan cepat memukul Perut siswa tambun itu hingga membuatnya langsung mundur beberapa langkah.
" Uhuk.... Uhuk!!!" Siswa tambun tersebut langsung mengeluarkan batuk darah.
"Ohohoho, ada yang mau cari mati ni" Gumam Semua melihat kearah Ragas dan siswa tambun itu.
Para Siswa-siswa SMA 2 yang melihat teman mereka berhasil dikalahkan dengan mudah satu persatu mulai turun dari motor mereka dan berjalan kearah Ragas dan Feron yang masih tenang.
"Kebetulan sekali, gua benci ama SMK 1, kenapa gak kita habisi saja salah satunya, bermumpung mereka semua badut, cuma bisa tereak dan ngomong besar. SMK BANCI, GURUNYA PADA BLO'ON SEMUA, SEKOLAH TERISOLIR PUBLIK!!! PENJARA PARA ORANG JELEK, SEKUMPULAN ORANG-ORANG MISKIN YANG NGAK PUNYA STYLE, APA-APAAN ITU SMK BISA, BISA BUAT ONAR SIH IYA! HAHAHAHAHA-"
Buuuggg!
Prak!
Prak!
Salah satu siswa itu langsung melayang dan tersangkut di atas pohon palm.
“Siapa lagi?” Ucap Ragas mulai emosi.
“Gas, sebaiknya jangan kepancing” Bisik Feron yang sudah berdiri disampingnya.
“Gak bisa Ron, mereka udah hina sekolah kita. Masak lo diam seakan terima-terima aja? Gak bisa gitu dong. Mereka harus di didik lagi pake ekstra bogem dari gua” Ucap Ragas emosi.
Gua ngerasain perasaan yang makin gak enak
Bisik hati Feron.
Sementara Ragas malah makin semangat untuk memukul anak SMA 2 hingga jalan itu menjadi sangat macet hingga pak Ibram datang.
.......
.......
.......
Di area kolam renang.
“Anjir, gua gak bisa renang!” Ucap Nanda kalut.
Tiba-tiba seseorang menyentuh pundak Nanda “Gak usah khawatir Nan, kita juga kok hehehehehehe” Kata Ira tersenyum.
“Kalau gitu….”
“Kita pake gaya batu aja hahahahahahha haha…..” Kompak siswi kelas 2 DPIB melakukan gaya batu.
[Gaya batu: diam dan menunggu tenggelam tanpa melakukan apa-apa didalam air]
Sementara pak Puad yang sedang menghitung anak bebeknya sudah mulai menyadari kalau 2 anak bebek pekingnya belum hadir ke lokasi.
“Kebiasaan emang, nyesal diriku ini membuat jadwal DPIB dan T.Pemesinan menjadi satu jadwal” Sesal pak Puad memijit pangkal hidungnya frustasi.
Kini pak Puad hanya bisa menyesali diri dipojokan kolam renang seraya merenungi kebodohannya.
.......
.......
.......
.......
...TBC...