All For Dreams

All For Dreams
Eits, drama



1 hari setelahnya.


Dikelas 11 DPIB.


"Baiklah setelah memikirkan secara masak-masak, akhirnya gua selaku ketua kelas 11 DPIB yang budiman akan menunjuk beberapa sukarelawan sebagai pelakon dalam drama kita yang berjudul 'ANAK DURHAKA KESELEO BATANG PISANG KARNA DURHAKA DENGAN EMAK BAPAK', pemeran utama adalah Fikri sebagai anak durhaka" Tunjuk Adam pada Fikri yang asyik ngemilin es krim.


"Gua sebagai narator dan selebihnya ada yang ingin berpartisipasi? " Lanjut Adam bertanya dan memandangi seluruh anggota DPIB yang balik menatapnya.


"Huft... Memang kalau gak di tunjuk lu pada gak mau berinisiatif sendiri " Gumam Adam merasa kesal.


"Ok, kalau gitu lu aja Man, kan lu banyak drama kehidupannya, gua rasa lo cocok buat jadi pemeran orang gila dalam drama ini sesuai saran pak Ryou" Ujar Adam menunjuk Arman yang langsung bergetar di tempat duduknya.


Jujur sebenarnya Arman adalah orang yang demam panggung, apalagi acara ini akan dilihat semua penduduk SMK 1. Hello! Arman gak bisa, Arman gak berani.


"Sorry Dam, bukannya bermaksud menolak. Tapi gua rasa teman-teman yang lain lebih pantas ketimbang gua. Jadi gua rasa mereka aja lebih cocok, gua sebagai koordinator sorak sorai aja sama anes lebih baik, ia kan Nes!?" Tanya Arman tersenyum lebar pada Anes yang langsung menatapnya aneh.


"Kok lo ngajak gua? Gua cuma pen jadi penonton aja, malas berpartisipasi" Jawab Anes menolak mentah-mentah maksud hati Arman.


"B-bukannya kita udah ngomongin ini Nes?" Tanya Arman kembali dengan keringat dingin yang sudah mengalir sebesar biji jagung di keningnya, ia juga sedikit melirik ke arah Adam yang sudah berkacak pinggang menatapnya curiga.


Please lah Nes, kerja sama ama gua sekali ini aja.


Isi hati Arman menatap Anes penuh arti.


Anes atau Johanes balik menatap Arman dalam, sedikit mengerutkan kening berusaha membaca isi hati sang sahabat seper-goblokannya dalam diam. Arman, ia semakin berkeringat dingin dan semakin melebarkan senyumnya berusaha membohongi Adam yang sudah semakin curiga akan maksud Arman yang ingin menolak ajakannya untuk berpartisipasi.


"A-" Ucapan Anes terjeda.


Dari belakangnya, Anes dapat merasakan sentuhan dingin di kedua pundaknya yang bebas.


"Maksud Arman baik kok Nes, dia pengen nyemangatin teman yang lain. Kan kalian hobinya jadi orang hutan kalau di kelas, Arman baik lo kasih saran buat bakat terpendam kamu itu" Suara dingin terkesan horor sontak langsung mengintrupsi ucapan Johanes yang seketika terkejut tak dapat mengeluarkan suaranya.


Dengan gerakan slow motion, Johanes membalikkan diri hendak melirik siapa gerangan orang dengan aura dingin ini.


"BWAAAAAAAAAA!!!!!!" Teriaknya mengejutkan semua penghuni kelas.


BRAK!!!!!


Suara debaman badan Johanes yang langsung pingsan di lantai kelas.


Sementara Arman, matanya sudah putih tak menampilkan pupil hitam yang biasa bergerak lincah menatap semua orang.


"Hahahahahahahahahhahaha, astaga hahahahaha" Tawa Ryou tak dapat terbendung melihat ekspresi semua anak muridnya yang baginya unik tersebut, ia bahkan meng-absen semua muridnya dengan telunjuk tangan yang bergerak lincah mengejek.


Sambil tertawa, Ryou juga tak luput meng-abadikan momen langkah ekspresi para muridnya. Termasuk Feron yang menatapnya datar...


"Ha!? Apa? Feron, kamu kok gak kaget?" Tanya Ryou langsung menghentikan tawa kesetanannya.


"Hmmm.. Gua bahkan udah pernah di kejutkan dengan sesuatu yang lebih mengerikan dari pada bapak" Jawab Feron memperbaiki posisi Nanda untuk bersandar padanya.


"Makanya Nan, kalau pas lagi tugas jaga gawang (jaga pagar utama sekolah) jangan pake atraksi kejar kami lagi ya, kan gini jadinya. Udahlah badan berat, leher pake keseleo lagi. Kaki pun ikut keseleo, hmmm! Komplit sudah, untung tadi gua tangkep, kalau ngak udah jadi drama India lo yang jatuh dari jalan menurun ampe ke Universitas tetangga. Kan malu sama mahasiswa sebelah kalau liat anggota Passus SMK 1 jatuh didepan mereka yang lagi asyik sarapan sate" Ceramah Feron seraya memperbaiki posisi Nanda yang bersandar layaknya drama korea romantis.


"Gak usah bacot lu remahan kue kering, pijat aja gua yang benar. Sini pijat lebih keras, lu lakik apa banci si!" Sarkas Nanda kesal, ia membenarkan posisinya yang sedang nyaman bersandar pada Feron seraya menerima pijatan gratis dari sang sahabat kurang kerjaan pengantar musibah pada dirinya pagi ini.


"Iya iya kanjeng Ratu" Ucap Feron menurut dengan tangan yang semakin gencar memijat kening Nanda.


"Bagus hmm.... Mantap, gitu dong dari tadi" Ucap Nanda sewot.


"Diam ah lu ceramah mulu" Balas Feron langsung menutup mulut Nanda yang dengan sigap memukul kepala Feron hingga kepala itu menunduk turun.


Sementara Ryou.


"Ck! Baiklah baiklah. Jadi kita kembali pada pokok pembahasan utama saja" Ujar Ryou sudah bosan menatap interaksi kedua muridnya itu dan memilih berjalan ke depan kelas dengan tangan yang memegang dua kertas HVS.


"Kalian ikut berpartisipasi HUT kan?" Tanya Ryou menatap seluruh murid terkasih/menyebalkannya.


Semua langsung memandang satu dan yang lainnya, berbisik dan bahkan berteriak ingin membenarkan diri sendiri yang ber-alasan telah ikut kegiatan lain selama HUT digelar.


Padahal mah malas ikut kegiatan


Inner Ryou memandang datar seluruh muridnya. Bagi seorang guru seperti Ryou, membaca pikiran semua murid itu mudah. Dan jika mereka berbohong pun, dengan mudah Ryou akan mengetahuinya.


Hi, kalian pasti sudah tau bukan kalau setiap guru itu belajar psikologis sebelum turun ke lapangan. Jadi jangan pernah bertindak aneh ya! Seperti para murid terkasih Ryou ini yang bilang sudah ikut semua perlombaan padahal cuma nongkrong di kantin nyuri gorengan yang ambil tiga bilang dua.


Coba kita baca pikiran Fadli


Inner Ryou melirik Fadli yang nyengir seraya menatap smartphonenya.


Tadi malam nonton adegan 18+ ampe jam 4 subuh, trus lanjut tidur takut ketahuan mama ampe ke bablasan jam 8 pagi, ke sekolah bahkan gak mandi dan gosok gigi. Ya ampun, menjijikkan sekali.


Isi hati Ryou membaca air muka dan postur tubuh Fadli.


Ya ampun anakku nan tampan, kenapa kamu cepat sekali dewasanya.


Kembali hati Ryou berucap lirih seraya menangisi kedewasaan sang anak didik yang terlampau cepat baginya.


Ryou beralih menatap Atika yang juga menatapnya,


Atika, gadis yang rada judes namun sebenarnya dia peduli dan sayang pada teman-teman. Pekerja keras namun kurang menyukai jurusan ini. Persahabatan dengan Iis dan Anugrah sampai membuat mereka duduk bertiga.


Inner Ryou langsung menepuk jidat.


"Itu, Atika, Anugrah, dan Iis. Kenapa kalian duduk bertiga lagi? Bukannya bapak sudah menyuruh salah satu dari kalian untuk duduk di sebelah Fiona?" Ucap Ryou menunjuk kursi kosong di sebelah Fiona dan mereka bertiga bergantian.


"Ngak ah pak! Kami udah nyaman bertiga, bapak gak usah ngurus deh" Judes Atika pada Ryou yang langsung membarut dada, tersenyum pasrah dengan nasibnya yang menjadi walas tanpa wibawa.


"Sebenarnya masalah kalian apa sih?" Tanya Ryou memandang Fiona.


"Bapak gak usah ikut campur, ini urusan para gadis. Bapak-bapak tua seperti pak Ryou sebaiknya tidak usah ikut mencampuri urusan para wanita muda" Jawab Fiona tak kalah judes malah melirik Atika sinis, namun ucapan pedasnya di arahkan pada Ryou. Bagaimana menjelaskannya ya? Yang jelas kini Ryou malah mojok dengan aura gelap melingkupinya seraya memukul pelan dinding menangis tersedu.


"Tolong tuhan, aku masih 24 tahun huaaaaaa~ 24 tahun please deh ah~" Tangis Ryou meratapi mukanya yang sudah di katakan tua, apa jangan-jangan ini semua karna skin care yang ia kenakan tadi malam?


"Aaaaa...? Maaf menggangu acara menangisi dirinya pak, tapi kita harus segera memilih peserta untuk mengikuti acara drama yang akan di pentaskan 2 hari lagi" Ucap Adam menepuk pelan punggung Ryou yang sedang menangisi wajahnya yang sebenarnya tidaklah tua itu, namun karna emosi Fiona malah ngelantur.


"Hiks! Kamu benar nak Adam. Baiklah hiks" Ucap Ryou kembali berjalan ke depan kelas.


"Nak Adam?" Gumam Adam berpikir.


"Ok! Karna kalian semua tidak ingin ber-inisiatif mencalonkan diri, maka bapak secara sukarela akan memilih kalian. Dan pilihan bapak ini mutlak untuk seluruh perlombaan yang tersisa. Semoga kalian tidak senang"


Adam melirik seluruh teman-temannya yang langsung serius memperhatikan Ryou. Adam sedikit bangga, kini ia tidak perlu banyak mengeluarkan air liur untuk menertipkan orang utan berlogo manusia ini, Terimakasih tuhan.


"Pertama" Ryou langsung menatap kertas HVS yang ia genggam sedari tadi.


"Ibu akan di perankan oleh...." Ryou sengaja menjeda kalimatnya dan menatap seluruh murid.


"Hmph! Akan di perankan oleeeeeeeehhhhhhhh!!!!!!???" Semua siswi berdo'a agar tidak terpilih, termasuk Nanda juga ikut berdo'a.


"Oleh Fiona! Selamat anakku!" Ucap Ryou semangat dengan jari tangan kanan menunjuk Fiona semangat.


Prok!!


Prok!!!


Prok!!!!


Riuh tepuk tangan para teman-teman mengiringi kecemberutan Fiona yang kian menjadi.


"Hehehehehe, karna pemeran Anak durhaka sudah di ketahui selanjutnya kita akan memberi tau siapa pemeran ayah dan pelakor dalam kisah ini yang telah bapak ramal secara jelangkung"


Ryou melipat kertasnya menjadi dua bagian, kacamata yang sedikit melorot ia perbaiki untuk menambah kesan fokus dalam membaca nama siswanya.


"Bapak akan baca secara cepat, jadi kalian pasang telinganya ya, yang tungkik tolong kasih pelumas dikit supaya gak nanya lagi nanti. Baiklah, Pemeran Ayah jatuh pada Feron"


Dengan gerakan cepat Nanda langsung menatap Feron yang malah bengong di tempatnya.


"peran Pelakor jatuh pada Nanda"


Kini Feron yang malah menatap Nanda yang tercengang.


"Suami pelakor Anwar"


Anwar langsung tertawa hambar.


"Pemeran adik jatuh pada Atika, tetangga tukang gosip jatuh pada Iis dan Anugrah, untuk polisi jatuh pada Arman dan Anes, Narator Adam, dan yang lain berperan menjadi sorak sorai, tidak ada yang boleh meninggalkan kelas ini sebelum benar-benar matang dengan persiapan drama 2 hari lagi. Sekian dan semua boleh mengambil naskah di meja bapak "Akhir ucapan Ryou menatap seluruh muridnya dengan smirk mengejek.


"APA!!!!!!!! " Teriak semua murid tak terima setelah bengong cukup lama.


"Pak, kami harus latihan bola nanti sore untuk lomba setelah acara drama itu pak! " Sahut suara para murid lelaki.


"Kalian masih bisa latihan bola setelah latihan drama"Balas Ryou tenang enggan menerima keluhan.


"Tapi paaakkkk!!!" Lanjut para murid lelaki memohon.


"Selesai, assalamualaikum. Dan TBC" Ucap Ryou langsung menutup pintu kelas dan berlalu pergi.


.......


.......


.......


.......


.......


...TBC...