All For Dreams

All For Dreams
93



...Spesial up, untuk sahabat author yang sedang bersedih, semoga kamu kuat ya...


.......


.......


.......


Hari ini, tidak disangka.


.


.


.


"Nyebelin banget si Nanda bebanin tugas dia ke gua, babi memang" Omel Feron seraya memilah buku yang sekiranya berguna untuk praktek tugas mereka.


Namun, bukannya terkesan memilih dengan benar. Pemuda itu malah memilih asal buku yang ia temukan, yang ia rasa bagus akan dia ambil, dan jika jelek akan Feron kembalikan ke rak lainnya.


"Biar yang ngurus perpus ada kerjaan, sebagai makhluk tuhan yang paling baik budi luhurnya gua bakal acak-acakin ni buku" Gumam Feron tersenyum jail.


"Kyaaaaa!!" Bukan teriakan Feron suer.


"Aduuhhh" Gumam suara itu mengusap pergelangan kakinya yang baru saja di pijak Feron tanpa rasa bersalah sedikitpun, ia malah acuh saja dan beralih ke meja resepsionis untuk melakukan peminjaman buku.


"Hi! DASAR! Semua cowok sama aja! Balek lo gak!" Teriak wanita itu menunjuk-nunjuk punggung Feron kesal.


"Makasih buk" Ujar Feron berterima kasih dan lanjut berjalan pergi.


Berarti gua mirip Reonaldo Dafinchi dong, aseekkk!


Inner Feron tersenyum. Ia sengaja tidak mendengarkan gadis itu.


Grap!


"ASW! Urusan kita belum selesai!" Geram gadis itu menahan pundak Feron.


"Siapa ya?" Tanya Feron polos.


"Kalau mau nyeles buku ama saya anda salah orang mbak, saya gak hobi baca buku, ini aja saya cuma karna ditipu aja mau datang ke perpus, biasanya saya anti radikal perpus mbak, jadi permisi" Celoteh Feron langsung kabur meninggalkan gadis itu yang tidak paham maksud ucapan Feron.


"Eh!? Bener juga, woy tanggung jawab Woy!!!" Teriak gadis itu mengejar Feron yang sudah hilang pergi jauh entah kemana.


.


.


.


"Ni, makan dulu pesanan lo" Ucap sahabat Afni.


"Makasih" Ucap Afni lesuh.


"Lu kenapa?"


"Gak ada" Jawab Afni seadanya.


Cuma pengen jumpa Feron aja si.


Lanjut hati Afni lesuh.


.


.


.


.


Dalam jam yang sama, situasi berbeda.


"Ngapain sih gua ngintilin kelas 11 DPIB mulu tanpa ada kegiatan yang berarti?" Gumam Stevan mencuri pandang pada kelas Feron, sesekali ia akan memandang kelas itu beserta targetnya.


Menggerutu, jelas. Namanya juga Stevan. Namun apa yang ia lakukan disini masihlah misteri.


" Gua jadi heran, kenapa tuan bisa punya anak sebobrok dan se-idiot Feron si?!" Gumam Stevan memotret kebersamaan Feron bersama Alfi dan Nanda.


"Setiap hari gua begini, apa gak bisa kasih pekerjaan yang lebih good looking gitu? Ini malah di suruh intilin anak bos yang hobbynya aja gak jelas" Gerutu Stevan di sepanjang ketikan pada sebuah massage di layar smartphonenya.


Kriiingggg!!!


"Apaan sih ni orang pake di telpon segala? (kesal Stevan mengangkat panggilan itu) HALLO!" Bentak Stevan.


"Iya, biasalah. Ni lagi di depan kelasnya dia, apa?!"


"Jangan terlalu keras, nanti targetmu bisa tau. Meskipun dia itu tidak terlalu perduli, namun berhati-hatilah sedikit" Bisik suara di belakang Stevan dingin.


Stevan berhenti, lidahnya kelu dan seketika...


"BAAAAAAAAAA!!!!!"


"Innalillahi wainnalillahi rojiun, masyallah, allahuakbar!" Ucap Stevan melempar smartphonenya ke arah pelaku.


.


.


.


"Hahahahahahha hahahaha, gak bisa pak. Rasa keramnya masih gak ngotak di kerongkongan saya hahahahahahahaha" Tawa jahanam Feron memenuhi ruang UKS.


"Lagian si bapak pake acara ngantuin saya lagi, kan jadi refleks" Bela Stevan pada dirinya sendiri, begini-begini Stevan juga sedikit punya rasa takut.


Takut di marahi Ryou dan juga takut ketahuan Feron tentunya.


Stevan memandang kedua guru murid itu yang sedang bercengkrama.


"Untung gak nyungsep ke dalam tu hidung kebanggaan bapak, kalau sempat nyungsep kan gantengnya jadi hilang" Ucap Feron membantu merekatkan andiplas pada luka Ryou.


"Makasih" Suara Ryou berterima kasih.


"Oh iya, btw" Stevan langsung kejang di tatap Feron dengan aura mengintimidasi andalannya.


"Lu ngapain ngintilin gua dari pagi? " Suara berat Feron menatap Stevan yang langsung menelan saliva dengan kasar.


Tidak dapat di tafsir, sebenarnya Stevan lebih takut jika pemuda di depannya ini mengamuk. Dan juga, Stevan tak menyangka jika Feron sudah menyadarinya sedari pagi.


Stevan melirik ke arah Ryou, guru Barat itu memberikan gekstur tutup mulut padanya. Membuat Stevan harus putar otak untuk mencari kata yang sekiranya dapat membuat pemuda ini berhenti menatapnya seperti ingin menguliti manusia hidup itu.


"Oh iya Feron, (Feron langsung beralih menatap ke arah Ryou) untuk masalah tempat magang kamu bersama Nanda, hahhh... Mereka sebenarnya hanya ingin 2 pemuda sebagai anak magang mereka, " Ujar Ryou penuh penyesalan seraya menggeleng lemah.


Stevan di depannya langsung berwajah cerah, Ryou menyelamatkannya.


"Tapi...." Lanjut Ryou menggantungkan ucapannya.


Flashback


Krakkk!!


"Woy asw! Jika sampai lo gak nerima anak gua ama temennya, gua pastiin tempat ini rata" Ancam Vein mengangkat kakinya ke atas kursi tamu, tatapan mata yang tajam Vein arahkan kepada wanita berumur di depannya yang sudah ketakutan setengah mati di tatap Vein.


End Flashback


Dan tatapan itu kembali Ryou lihat pada Feron. Tidak ayal, pemuda ini hampir 90% menyerupai Vein. Baik dari gekstur, wajah, hingga cara berbicara, minus asmara.


Kembali ke topik.


"Tapi dengan keahlian bapak, (berbangga hati) bapak berhasil meyakinkan mereka semua agar dapat menerima kamu beserta Nanda magang di tempat mereka"


"Hohoho, bagus dong kalau gitu" Balas Feron menanggapi ucapan Ryou.


"Oh iya, jangan lupa juga untuk menyelesaikan tugas RAB yang telah bapak berikan, siang ini kita akan membahasnya" Tegas Ryou menatap Feron yang langsung hilang dalam satu kedipan mata.


"Hmmm... Anak itu kalau sudah menyangkut pr pasti hilang bagaikan angin" Gumam Ryou kini kembali menatap Stevan.


"Jadi...."


Biarlah isi pembicaraan mereka menjadi rahasia.


.


.


.


Pulang sekolah.


"Nand, jangan tinggalkan daku~ aku ngak bisa hidup tanpa kamu Nand, please jangan pergi ama ni tong asoy" Lirih Feron kemudian menatap Agus tajam.


"Ya elah Ron, gua kan perginya cuma satu malam. Lagian buat apa lo tahan gua? Orang juga besok gua masuk lagi" Balas Nanda menyingkirkan tangan Feron dari lengannya.


"Pokoknya jangan Nan, jangan! Sekolah ini kalau udah malam angker pisan, kalau lu kenapa-napa gimana coba? Walaupun lu sold Out di dunia nyata, tapi di dunia per ghoiban gua yakin lu masih ada harganya walau cuma Rp 5.000" Celoteh Feron.


"Jadi maksudlo gua jelek! GITU!?" Nanda mulai emosi, kepalan tangan sudah di udara. Siap untuk memukul kepala dengan otak yang sedang liburan itu.


"Kita bertiga emang jelek Nand, namun kita harus bangga, jadi jangan pergi ya.... Jangan jadi pembina passus anak-anak bawang itu. Gua takut lo di apa-apain ama yang ghoib" Racau Feron membuat Agus sampai harus memijit pangkal hidungnya berkali-kali, bahkan Gazebo ini terasa pengab bagi Agus yang sudah jengah dengan ucapan Feron.


"Woy hantu Arab! Si Nanda gak bakal kenapa-napa kali! Lagian kita cuma ngadain acara di sekolah, lu aja kebanyakan gaya lebay-in keselamatan Nanda, asal lu tau ya, Nanda itu adalah salah satu anggota passus yang di percaya serta kuat mental dan batinnya, jadi lo gak usah sok-sokan khawatir deh, udah-udah gak usah sinetron alay depan gua. Cus Nand, kita persiapan buat acara entar malam" Ucap Agus langsung melepas cengkraman tangan Feron pada lengan Nanda, membuat wajah memohon Feron seketika mengeras dan langsung menahan kerah baju Agus yang hendak pergi bersama Nanda.


Feron menatap punggung Agus kesal, bisa-bisanya sampah ini menyentuh tangan bersihnya. FU*CK!


"Jangan sok keras lu depan gua, baru dilantik jadi ketua passus aja lo besar kepala" Tegas Feron, membuat langkah mantap Agus seketika terhenti.


Agus berbalik, menampilkan senyum miring dan melepaskan genggamannya pada Nanda dan menatap Feron remeh.


"Trus lo mau apa ha? Lagian semua ini gak ada sangkut pautnya juga ama lo? Dasar berandalan sekolah, kita gak selevel ya! Lu ama gua dan Nanda itu gak sama, (menunjuk-nunjuk Feron seraya telunjuknya menyentuh dada Feron, membuat Feron sedikit terdorong kebelakang) kita di tempat yang berbeda. Hmm, Bisa-bisanya orang kayak gini lu temanin Nand. " Ucap Agus bersmirk remeh pada Feron. Ia hendak melangkah kembali, namun..


" Untuk kali ini gua bakal jadi orang yang legowo, tapi kalau sampai Nanda kenapa-napa. AGUS! " Teriak Feron.


Agus melirik Feron dari ekor matanya.


" Lu orang pertama yang bakal gua kasih pelajaran" Peringat Feron menunjuk wajah Agus.


"Heh! Macam pacar aja lu" Balas Agus berjalan pergi.


"OTW!" Balas Feron, seketika membuat Nanda *blushing.


Ngomong apaan si tu jigong, bikin gua baper anj*ink*.


Inner Nanda mencoba menetralkan degup jantungnya di samping Agus yang terus melirik Nanda.


Ni orang tumben salting, biasanya selalu bilang biasa aja dan gak perduli. Heh! Apa rumor di passus itu benar kalau si Nanda suka ama sahabatnya sendiri, Alferon adidjaya?