
Yuna tersenyum miring "Bagaimana mengatakannya yaaa?" Ucapnya mengusap dagu.
"Mungkin untuk menguliti lo!" Lanjut Yuna menampilkan deretan gigi putihnya seraya memperlihatkan silet tajam pada Nanda yang langsung membelalakkan mata terkejut.
"Oh! Jadi lo datang cuma buat ngulitin tawanan gua!?"
.......
.......
.......
...All For Dreams...
...Harap...
.......
.......
.......
"Daaaaaaa-Daffa!" Ucap Yuna terkejut, tanpa ia sadari bahkan silet yang ia genggampun ikut terlepas.
"Iya Yuna 'sayang', ngapain Yuna sayang disini sementara gua cuma nyuruh Yuna 'sayang' buat tunggu di luar" Tanya Daffa seraya menekankan kata 'sayang' terus menerus.
Yuna langsung gemetar, tungkai kakinya seketika lemah seperti jelly menatap Daffa yang kian mendekat.
.
.
.
Di lain tempat.
Vein yang tengah sibuk menyalin beberapa berkas harus terhenti karna kini 'temannya' malah berkunjung di jam kerja.
"Ck! Apa di tempat kerjamu tidak menerapkan waktu kerja?! Percayalah jika bukan mengandalkan kalimat 'teman lama' kau sudah ku tendang sekarang Hermantino" Desis Vein kasar, ia sebenarnya cukup terganggu dengan kehadiran tamu di saat ia sedang sibuk-sibuknya.
Sementara Hermantino hanya dapat tersenyum canggung "Maafkan aku Abdi, tapi ini benar-benar mendesak dan aku rasa hanya kau yang bisa menolongku" Ucap Hermantino seraya menyatukan kedua tangannya memohon.
Vein langsung menaikkan satu alis matanya curiga "Apa?" Tanya Vein sedikit tertarik.
.
.
Regas yang dipaksa datang oleh sang ibu sambung ke pabrik terpaksa menjadi babu dadakan berkat rantang yang sedang ia genggam.
Sebenarnya Regas tidak ingin pulang minggu ini, mengingat banyaknya kakak-kakak cantik disana memaksa Regas untuk menentukan pilihan secara cepat.
Apakah badan bohay atau bapak tua keriput gendut penuh kumisan tapi berdompet tebal? Aduh Regas pusing. Namun demi mengisi sumber daya kemajuan hidup akhirnya Regas terpaksa pulang walau terpaksa meninggalkan kakak-kakak cantik yang sangat kehilangan Regas.
Membicarakan Regas tentu akan berakhir membicarakan sang kembaran, namun seperti yang diketahui, Ragas setidaknya lebih memiliki amper kewarasan yang cukup untuk tidak meminta uang jajan lagi setelah dikirim 3 hari lalu dengan nominal yang bisa di katakan tidaklah sedikit, tapi yang namanya Regas pastilah otaknya selalu 'kurang ke atas penuh kebawah bolong di tengah'
"Pak Ben!!! Yuhuuu... Spadaa....." Panggil Regas lirik kiri kanan mencari satpam tersebut.
Niat hati hanya ingin menitipkan racun mama sambung ke pak Beni, salah satu tempat curhat Regas jikalau berkunjung ke pabrik sang Papa.
Tapi sepertinya Regas harus memberikan rantang batu ini seorang diri ke kantor Hermantino. Regas menatap rantang "Ehhhmmm..... Baiklah, mungkin ini adalah jalan tuhan untuk gua jalan-jalan kesana" Gumam Regas akhirnya memutuskan untuk pergi.
.
.
Sesampainya di depan ruang kerja sang Papa, seperti biasa Regas akan memastikan keadaan terlebih dahulu sebelum masuk, tapi sepertinya rencana yang ia susun secara matang harus di akhiri karna sekretaris pabrik mengatakan bahwa Hermantino sedang keluar menemui rekan bisnis.
"Siapa?" Gumam hati Regas bertanya.
.
.
.
"Ku mohon Abdi, bantu aku sekaliii ini saja. Kumohon" Ucap Hermantino penuh permohonan kepada Vein yang hanya menatap angkuh dari kursi kebangsawanannya.
"1 Milyar itu bukan sekedar angka Hermantino, Ck! Apa yang kau buat hingga hutang mu bisa menjadi sebanyak itu!?" Tanya Vein tak habis fikir.
"Hehehehe..." Tawa Hermantino "Kau seperti tak mengenali sahabatmu ini saja Abdi (berucap malu-malu) bukankah dulu kita adalah playboynya SMP, masak kau tak ingat sih.."
"Lalu? Apa hubungannya?" Tanya Vein tak faham.
"Tentu saj-" Ucapan Hermantino langsung terhenti.
"Tat.... Tat... Tat.. Tat... (tunjuk Vein tepat ke muka Hermantino) jangan katakan jika kau masih bermain di klub malam?" Tanya Vein memastikan.
"Yaaa... Begitulah...." Jawab Hermantino.
"Astaga, aku benar-benar tak habis fikir (menepuk jidat) Haaahhhhhh~ jadi, apa yang bisa kau jaminkan padaku?" Tanya Vein pasrah.
Hermantino langsung mengeluarkan beberapa surat dari dalam tas kerjanya "Ini surat rumah, dan pabrik ku" Ucap Hermantino mengeluarkan seluruh surat.
Vein langsung menatap aneh "Hah? Jika kau punya semua ini, untuk apa kau datang padaku? Bukannya kau bisa menggadaikan semua ini ke bank?"
"Ck! Itu semua memang benar, tapi hutangku sudah lebih dulu menumpuk disana, terlebih lagi pabrik Johanna sudah lebih dulu diincar rentenir sebagai penutup hutang di bank A" Curhat Hermantino.
"Aku tidak tertarik dengan rumah buluk dan pabrik bermasalahmu" Desis Vein acuh, dia menolak secara gamblang surat-surat yang di tawarkan Hermantino padanya.
Hermantino seketika tercengang "Aaaa-Abdi Kumohon tolong aku Abdi... Jika kau tak meminjamkan aku uang aku akan tamat Abdi.... Kumohon tolong aku" Racau Hermantino memohon.
Sementara Vein malah menikmati kesengsaraan Hermantino seraya berpikir sesuatu hal yang makin menarik.
"Apa kau punya pekerja bernama Beni?" Tanya Vein mengusap dagunya.
Hermantino langsung menaikkan kepalanya sejajar dengan Vein "Maksudmu Beni Caksa?" Tanya Hermantino memastikan.
"Hmmm... Mungkin saja, apa nama putrinya Nanda Triasla?" Tanya Vein memastikan.
Hermantino langsung mengangguk cepat "Nama putri keduanya memang Nanda Triasla dan putri ke tiganya berna-"
"Shuttt shuutt shuuttt... Cukup sampai disitu, aku hanya memastikan" Tutur Vein menyuruh Hermantino berhenti mengoceh.
"Apa?" Tanya Hermantino cepat.
"Aku akan memberikanmu 1M dan kau hanya perlu mengembalikan setengah sisanya,"
"Maksudmu? " Tanya Hermantino menyela.
"Maksudku, kau tidak perlu membayar kembali setengah hutangmu beserta bunganya asal kau mau memberhentikan Beni Caksa itu dari pabrik dan buat dia tidak dapat bekerja di manapun sudah cukup untuk membayar setengah Milyar dari hutangmu padaku, bagaimana? Tertarik?" Lanjut Vein.
Hermantino langsung terkejut "Vein....?" Diam cukup lama.
"Tidak maukah? Waahhh sayang sek-"
"Baiklah! Tapi kau harus meminjamkan uangnya siang ini dan aku akan memecat dia sore ini" Potong Hermantino mantap.
Vein langsung mengembangkan senyumnya.
Akhirnya putraku tidak akan bergaul dengannya
.
.
.
"Hmmm...." Gumam Daffa tersenyum aneh menatap Nanda yang selalu menampilkan wajah kesal setiap kali menatap pemuda itu yang hanya tersenyum dan di akhiri anggukan.
Ada apa dengannya?
Tanya Nanda memastikan hatinya yang sudah mulai bergetar saat pemuda itu mengambil palu dari sudut ruangan yang penuh akan alat operasi.
"Lo... Kenal Reyo?" Tanya Daffa pelan seraya menyentuh kulit pipi Nanda.
Sementara Nanda sontak menjauh, namun Daffa yang benci menunda malah langsung mencengkeram kepala itu hingga jilbab yang sudah compang camping menjadi terlepas.
"Barang itu mengganggu," Bisik Daffa melempar jilbab Nanda jauh.
"Sekarang mari kita lihat... Sepertinya pisau dulu" Lanjut Daffa bergumam seraya kembali berjalan ke meja penuh alat operasi.
"Reyo... Dia adalah teman sekelas gua yang penakut.. Sok baik dan begitu terjebak akan kenangan masa lalu... (menatap Nanda seraya mengarahkan pisau) jadi gua bunuh aja" Ucapnya tersenyum lebar.
Nanda tertegun, otaknya kembali memutar ingatan beberapa bulan lalu.
Reyo... Reyo...?! Jangan bilang jika Reyo yan-
"Setelah dia kembali dari sesi pertukaran pelajar, gua rasa itu hanya tabiat dia supaya bisa lari dari gua. Tapi gak bakal bisa karna lo tau kenapa..."
Dengan perlahan pisau itu menggores leher mulus Nanda secara memanjang. Nafas Nanda langsung sesak dan kepalanya menggeleng cepat saat merasakan rasa sakit pada lehernya semakin dalam.
"Karna gua gak suka seseorang yang penuh tabiat ingin keluar dari masa lalunya, dan sontak hal itu membangkitkan jiwa dan hati nurani gua untuk menindas, gua suka bermain hingga orang-orang lemah di sekitar gua jadi kuaattt... Namun sepertinya Reyo berbeda. Setiap kali dia pingsan setelah gua hajar... Dia bakal selalu bilang 'maaf' (menjauh dari Nanda) Dan gua benci kata maaf!!!!!!" Desis Daffa.
Prank!!!!
Pisau terlempar jauh, Daffa marah dan entah kenapa.
Dia seperti orang gila berbicara sendiri dan marah gak jelas.
Inner Nanda di sela ketakutannya.
"Dan setelah membunuh dia rasanya.... (menyentuh dada) rasanya sangat nyamaannnnn" Daffa langsung memandang Nanda aneh "Tapi buat lo gua kasih diskon, spesial banget. Karna lo tau apa? Karna lo udah berani ganggu milik gua hingga dia meneteskan air mata yang juga gua benci itu hahahahahahahha dan lo tau, gua bakal mulai dari tangan-tangan kurang ajar ini" Lanjut Daffa merentangkan kedua tangan Nanda.
"HAH!?" Nanda menatap benda yang sedang di pegang Daffa nanar.
"Benda ini akan memberikan kenikmatan kok, tenang aja" Bisik Daffa tepat di telinga Nanda yang langsung tegang, tangannya diikat kuat di atas meja berkarat.
Daffa ditempatnya kini tengah menikmati lekukan tangan yang sebentar lagi akan mengisi waktu-waktu berharganya.
Kenapa? Kenapa gua gak bisa melawan?
Tanya Nanda mencoba menggerakkan kaki dan tangannya.
"Percuma," Tiba-tiba Daffa kembali bersuara.
Nanda masih menatapnya, namun setelah mengucapkan satu kata Daffa kembali terdiam dan hanya fokus dengan kegiatan anehnya.
Nanda takut, Nanda gemetar, dan Nanda hanya dapat menyimpulkan dia sudah di suntik obat pelumpuh oleh Daffa yang kini tengah menatap ke lain sisi seperti orang sakit jiwa.
Dan untuk pertama kalinya Nanda menyesal telah mengusir dan mengatai Alfi. Dia tidak tau apa yang akan terjadi setelah ini. Namun, bolehkah Nanda meminta maaf pada Alfi? Dan bolehkah Nanda mengharapkan pertolongan darinya?
Dari Feron?
.
.
.
Deg!!
Prank!!!!!!
"Ada apa Den?" Tanya bi Asih menghampiri Feron yang tak fokus.
"Gak apa bi, tolong di bersihin ya. Saya mau ke kamar sebentar" Ucap Feron pergi.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...TBC...