
Gak perlu seribu kata buat ungkapan makna kalau Feron benar-benar payah dalam hal baris berbaris. Buktinya bahkan sudah teracung jelas,
"Itu yang di ujung belakang, sepertinya kaku sekali ya. Seperti robot" Terang suami buk Ariani lebih ke arah mengejek bagi Feron yang sudah tertidur di paving block hampir tak sanggup berdiri.
Siapa suruh pilih gua pak, siapaaaaa!!!????
Geram hati Feron langsung menyembunyikan matanya dengan punggung tangan.
"Ron, lu mau pastel?" Tanya Nanda menyodorkan satu pastel pada hidung Feron.
"Suapin dong Nan, lagi bete ni" Terang Feron melirik Nanda.
"Dasar bocil, lu kan punya tangan. Ngapain pakai sok di suapi segala si, emang gua emak lu? Pigi minta suap ke emak gih!" Ucap Nanda tanpa sadar.
"Eh? Fer...." Nanda langsung melirik Feron patah-patah.
"Sorry kalau gua gak punya emak" Balas Feron tersenyum simpul.
Anja*y gua salah ngomong. DASAR BE*GO DIRIKU INI!!!
Bisik hati Nanda mengutuk diri. Dan pada akhirnya Nanda menyuapi Feron walau sang empunya menampilkan ekspresi sok jual mahal.
Heh! Setelah lulus SMP, sifat Feron lebih terbuka disini ya, jadi senang
Gumam Reyo melirik.
Namun tatapan bahagianya untuk Feron sontak terganti tatkala mengingat apa sebenarnya maksud kedatangannya kemari.
Haish! Andai aja gua gak terikat dengan dia pasti kehidupan sekolah gua tenang
Lanjut hati Reyo beranjak pergi entah kemana.
"Nan, gua pen mundur ae rasanya, kayaknya kiblat gua bukan untuk grup ini" Ucap Feron yang menerima suapan goreng tahu Nanda.
"Eleh, ntar lo juga bakal terbiasa. Kalau lo keluar emang siapa lagi yang mau gantiin elu ha?" Tanya Nanda menyodorkan atau bisa dibilang lebih ke arah memaksa Feron untuk menelan bulat-bulat risoles.
"Hmmmmpppphh!!!!!"
"Ini balasan karna lu kemaren nyekik gua, makan ni!" Geram Nanda semakin memaksa Feron untuk menelan gorengan itu, sementara Feron yang sudah melawan ala banci hanya dapat pasrah di siksa Nanda hingga nafasnya tersenggal.
.
.
.
Malam hari di aula.
"Ini sepertinya udah cukup, saatnya pergi" Gumam seseorang membopong Alfi yang sudah tak sadarkan diri.
...***...
Acara HUT SMK 1 dimulai.
Tidak ada arak-arakan ke Kota seperti dulu, semua siswa di arahkan ke kantor wali kota di atas bukit lebih tinggi dari SMK 1.
Semua siswa/ i kelas satu sontak kecewa berat, mempertanyakan mengapa mereka tidak arak-arakan ke kota saja. Namun kepala sekolah hanya menjawab 'untuk menghindari aksi anarkis' Jawab pak Beno membubarkan massa yang hampir melemparnya ke baliho 'SMK BISA SMK HEBAT'. Namun semua dapat teratasi dengan jurus uang melayang ala Pak Ibram.
Dan untuk menghindari aksi gila lainnya, pak Beno sampai rela menyeret Feron yang tidak tau apa-apa ke ruangannya untuk diintrogasi.
"Dimana Alfi? Biasanya kalian selalu lengket seperti prangko" Tanya Pak Beno memulai introgasi.
"Itulah pak, saya juga sedang mencari keberadaan curut itu. Sudah 3 hari belakangan ini saya tidak melihat dirinya" Balas Feron dengan gurat khawatiran.
"Bahkan keluarga Alfi juga sudah menghubungi sekolah mengenai kehilangan anaknya"Terang pak Ibram yang berdiri di sebelah pak Beno.
"Benarkah? Apa jangan-jangan Alfi putus cinta dan memilih untuk tenggelam di sungai Kampar? " Tanya Feron berpikir.
"Bisakah kita serius, tidak mungkin dia terjun sebelum sungkem sama saya. Pasti ada hal lainnya" Balas Pak Beno menatap tajam Feron.
"Hehehehe, benar juga. Jadi kapan keluarga Alfi melapor? "Tanya Feron.
" Baru saja, mereka mengungkapkan bahwa putra mereka tidak kunjung kembali. Awalnya kedua orang tua Alfi berpikir jika anak mereka sedang kerja kelompok. Namun setelah menghubungi buk Fera selaku kajur MM, hmmm.. Hasilnya nihil. Beliau mengatakan jika mereka terakhir kali melihat Alfi pulang telat sekitar pukul 21.00 WIB sendirian" Ucap pak Ibram panjang lebar.
"Alfi.... Pak Beno, pak Ibram, saya ijin undur diri. Saya akan mencari Alfi" Feron langsung berdiri panik dan pergi dari ruangan pak Beno.
"Semoga tidak ada korban jiwa lagi" Gumam pak Beno khawatir.
.
.
.
"Alfi.... Lo dimana kawan?" Tanya Feron mengutak atik smartphonenya mencoba menghubungi semua anggota gank.
Setelah beberapa menit, semua anggota inti datang kecuali...
"Dimana Stevan?" Tanya Feron menyelidik.
"Ck... Gak usah di peduliin, tu orang memang hobi ilang timbul sendiri" Decak Regas.
"Ok, gak masalah. Sekarang yang lebih penting adalah Alfi..... (mengusap tengkuk untuk menguatkan diri mengatakannya)
Alfi hilang" Ucap Feron.
"Alfi hilang? Sejak kapan Ron?" Tanya Ragas khawatir.
"Kata pak Beno sudah 3 hari" Terang Feron duduk di lantai terdekat di depan ruang serbaguna.
"Gimana The?" Tanya Lulba menatap Theo yang berusaha melacak smartphone Alfi.
"Dapat. Tapi ini jauh sekali" Ucap Theo menatap maps.
"Dimana?" Tanya Regas merebut laptop Theo cepat.
"!"
"SP 1?"
"Jauh sekali, itu di dekat hutan lindung. Bahkan lebih jauh dari rumah Nanda" Ujar Feron kesal.
"FERON!!!" Semua menatap ke arah sumber suara.
"Gua dengar kalau Alfi hilang? Jadi dia gimana? keadaannya?" Tanya Nanda yang berusaha mendekati Feron dengan outfit passusnya bersama Tesla yang mengikuti dari belakang.
"Kami udah tau dia dimana Nan. Sekarang tinggal pergi ke TKP" Terang Feron.
"Kalau gitu gua ikut" Balas Nanda serius.
"GAK BOLEH! Lu lebih baik di sini aja. Gak aman" Terang Feron mendekati Nanda yang langsung kecewa.
"Apa-apaan sih lo, pokoknya gua ikut. Alfi juga sahabat gua, gua gak bisa tinggal diam liat sahabat gua di culik begini. Gimana kalau dia kenapa-napa? Gua juga khawatir b*go!" Amuk Nanda menggetarkan perasaan Feron.
"Bu-"
TRIIIINNGGGG....
"Orang tua Alfi" Gumam Feron langsung mengangkat telpon.
"Ya pak, waalaikumsalam"
"......."
"Saya juga tidak tau pak, terakhir kali kami tidak pulang bersama. Dan saat itu Alfi juga sedang ada kegiatan jurusannya pak"
"......."
"Iya pak, saya paham sekali jika ibu Alfi khawatir. Saya juga akan berusaha mencari sahabat saya tersebut pak" Di tengah telpon, Feron menatap Nanda yang menatapnya jengkel.
Refleks Feron langsung memeluk Nanda, mendekatkan wajah itu untuk bersentuhan dengan dadanya. Mencoba membuat Nanda tenang.
"Nangis aja kalau mau nangis" Bisik Feron pada Nanda.
Nanda seketika langsung memberontak.
"Apa-apaan si lo, gua mana mungkin nangis p*aok!" Kesal Nanda yang masih di peluk tangan kanan Feron erat.
"Ekspresi wajah yang lu buat setegar mungkin gak bisa menipu gua. Nangis aja, lu gak malu di liat Regas nangis depan dia. Baik lo nangis di pelukan gua, tapi jangan sesegukan" Bisik Feron lagi.
"Ah! Iya pak, maaf"
"......"
"Iya, jika sudah mendapatkan kabar, saya akan menghubungi bapak dan ibu"
"........"
"Iya pak, maaf tidak dapat menjaga Alfi. Saya sangat menyesal. Assalamualaikum " Ucap Feron mengakhiri telpon.
Tuk..
"Feron.." Gumam Nanda yang makin di peluk erat.
"Jangan pergi kemanapun, keadaan sepertinya sedang tidak aman. Ikuti saja pawai tanpa berpikir terlalu keras, gua dan yang lain bakal cari Alfi ampe ketemu. Lo cukup do'a in Alfi selamat aja. OK?"
"O-ok" Balas Nanda di pelukan Feron.
"Makasih" Jawab Feron melepaskan pelukan.
"Kalau orang tua Alfi datang, gua pengen lo bisa membuat mereka tenang. Dalam kurun waktu 24 jam, Alfi bakal kembali" Ucap Feron meyakinkan.
Nanda menatap Feron dan semuanya.
"Tenang aja Nan, entar setelah nyelamatin Alfi kita kencan ke pasar malam hehehehhehe" Ucap Regas tertawa.
"Murahan banget si lo, mall kek, Starbu*ck, MC Do*nald, ayam terbang!" Balas Nanda ketus.
"Hehehehe, boleh juga. Lu tau aja cara buat uang jajan gua menipis" Jawab Regas mengacungkan jempol.
"Hmmm..." Balas Nanda tersenyum.
"Tapi lo harus ingat kalau kita besok ada perlombaan baris - berbaris" Ucap Nanda tersenyum kejam.
Semua diam.
"Palingan besok gua ilang"
...****...
"Nghhh...." Alfi berusaha membuka kedua matanya yang begitu berat.
Aroma ini, pabrik aspal
...TBC...