
"Dimana Feron?" Tanya Theo yang bersidekap dada dihadapan Regas.
“Dia nyuruh gua buat lari” Ujar Regas seadanya.
Tap!
“Jangan bilang kalau Feron ketangkep” Theo langsung mencengkram kedua pundak Regas, matanya tajam meminta jawaban.
“Iya” Jawab Regas singkat.
...×××××××...
.... ...
.... ...
.... ...
...All For Dreams ...
...Stimulasi...
.... ...
.... ...
.... ...
“AAAAAAA………!!!!” Theo frustasi, disatu sisi dia senang tawuran ini berakhir namun disisi lainnya ia merasa khawatir, karna orang yang menjadikan tawuran ini bubar malah ditangkap polisi.
Dikelompok Feron, hanya Theo dan Regas saja yang mengetahui bahwa Feron datang untuk menolong mereka. Terbukti dari pesan singkat yang ditulis sang ketua sebelum smartphonennya benar-benar tidak bisa dihubungi oleh Theo.
“Sekarang kita harus gimana gas? Alfi sekarat, Feron ditangkap” Ucap Theo panik.
****
Sesampainya di rumah sakit, Alfi dan Nanda langsung diberikan penanganan cepat.
Theo, Lulba, Regas dan yang lainnya juga sudah sampai di rumah sakit beberapa menit yang lalu setelah melalui perdebatan panjang.
"Astaga... Hah... Hah.... bagaimana keadaan Alfi? Gua baru aja tau kejadian ini dari Theo, gulp.." Ucap Lulba tersenggal-senggal.
Nanda yang sudah kembali dari ruang rawat sengaja duduk dikursi tunggu bersama pak Ryou, Geotan, dan buk Ariani yang menanti perkembangan keadaan Alfi, Lulba yang melihatnya seketika berjalan cepat mengahampiri Nanda meminta penjelasan.
"Oi! gad-"
Cklek..
Atensi Lulba seketika teralih.
"Bagaimana keadaan pasien dok? " Tanya ibu Alfi panik.
Dokter yang menangani Alfi tersenyum "Alhamdulillah, pasien selamat. Untung saja pasien cepat dibawa kesini, sehingga pendarahan pada luka tidak melebar dan mengalami infeksi"
"S-syukurlah" Ibu Alfi seketika merosot duduk dilantai, ia sangat bersyukur anak laki-lakinya selamat.
"Syukurlah" Ucap Nanda langsung tenang.
"Oi gad-"
TAP!!!
TAP!!!
TAP!!!
SLAP!!!
BRUK!
“Dimana adek gua!?” Tanya Adiniata penuh amarah menekan Ryou kuat ke dinding.
"Aaaaa i-itu…” Ucap Ryou berusaha mencari jawaban yang pas.
GRKKK!!!
Tanpa pikir panjang Adiniata langsung mencengkram kerah baju Ryou dan menghantamkan tubuh Ryou pada dinding rumah sakit.
Tanpa disadari Adi ia malah semakin mempererat cengkramannya, membuat tubuh Ryou seketika refleks terangkat.
“Cepat jawab sebelum ruang UGD kembali kebuka buat jemput jenazah lo” Ancam Adiniata menatap tajam Ryou.
"Mas Adi t-tenang lah” Luna mencoba membujuk Adiniata supaya tenang.
“Jangan ganggu gua Lun, gua lagi kesal” Peringat Adiniata sinis, sementara Luna yang berdiri dibelakang Adiniata langsung menjauh teratur.
“Gua peringatin sama lo orang luar, jangan MENGGANGU LAGI, KARNA GUA TAU LO PASTI PENYEBAB ADEK GUA PERGI” Sinis Adiniata langsung melepaskan cengkramannya membuat Ryou yang tidak siap langsung terperosot jatuh kelantai.
Setelah mengucapkan kalimat tersebut Adiniata langsung menghadap pada Theo, Lulba, dan Regas.
"Siapa diantara kalian yang bisa jawab pertanyaan gua?” Tanya Adiniata penuh tekanan.
“Gulp”
Theo, dan Regas langsung menunjuk kesegala arah minus Lulba yang mungkin otaknya sedang korslet.
"Dia bang" Tunjuk Theo dan Regas pada Lulba.
“Gua ba- Eeeehhhh~!? " Lulba langsung syok mengetahui kedua temannya ini malah mengorbankan dirinya nan polos pada singa kelaparan, sungguh teman-teman kurang azab.
TAP!
Lulba langsung berkeringat jagung, menatap takut pada Adiniata yang semakin mendekat.
“S-saya bang Adi! Feron ketangkap polisi-iiiii!!!” Jawab Lulba cepat membuat semua temannya menganga menatapnya.
“Cih! Kenapa lagi dengan bocah itu?!” Setelah mengucapkan kalimat itu Adiniata langsung pergi begitu saja membuat Lulba seketika menghembuskan nafas lega.
“Benarkah itu?” Tanya Luna yang masih betah di posisi awal.
“I-iya kak Luna” Jawab Theo bimbang.
Muka Luna seketika mengeras.
“Lalu apa yang kalian lakukan ha!? Tidakkah kalian memikirkan Feron juga? Apa kalian akan bersikap idiot saja disini tanpa ingin menolong Feron yang pasti dan aku sangat yakin sengaja ditangkap demi kalian?” Luna mengedarkan pandangannya garang menatap semua teman Feron termasuk Nanda yang langsung terkejut ditatap dengan garangnya oleh Luna.
Setelah mengucapkan kalimat makian, Luna langsung berlalu pergi mengikuti arah perginya Adiniata.
Ryou yang masih terduduk dilantai seketika menatap punggung Adiniata dan Luna yang mulai menjauh.
"Sudahlah pak, kak Adi dan kak Luna memang begitu sifatnya" Ryou langsung mengalihkan atensi kesamping, melihat Theo, Lulba dan yang lainnya sedang terduduk lemas setelah diteror Adiniata.
"Dulu sewaktu kami semua bertamu kerumah Feron, kakaknya bahkan langsung menghadang kami dipagar rumah dan mengusir kami pake air" Ucap Theo mengingat kejadian waktu itu.
“Dan juga, saat Feron pingsan kami juga langsung di tendang kak Luna sampai pipi gua membiru” Sambung Regas.
"Makanya kami akan datang kalau udah disuruh Feron aja" Ucap mereka semua kompak.
Pantas dia bilang dia lebih menyukai ketiadaan teman-temannya saat ia di rumah sakit, rupanya karna ini
Inner Ryou mengingat ucapan Feron yang menikmati waktunya itu.
****
*Dipenjara*
Muka Feron, Reo dan Bruno masih memiliki bekas ruam. Belum ada penanganan sejauh ini, mereka bertiga hanya diminta untuk membasuh wajah sebelum masuk jeruji besi.
“Jangan ada yang melewati batas ini” Peringat Reo menunjuk garis yang telah ia buat dengan batu bata.
“Apa gua terlihat peduli?” Ucap Feron dan Bruno kompak.
“Eeee Uhuk.. Uhuk…” Feron tiba-tiba terbatuk tanpa henti.
Pusing sekali
Feron membatin, sel penjara dupenuhi banyak orang. Feron mencoba mengambil duduk dipojok dekat dengan sel penjara.
Sebenarnya Feron, Reo dan Bruno duduk dalam barisan yang sama seperti saat mereka di mobil polisi, Feron di dekat sel, Reo ditengah, dan Bruno di ujung. Walau mereka bisa dikatakan preman, namun cukup canggung juga berada diantara penjahat pro disini.
“Hoy bocah!”
Reo, Bruno dan Feron hanya menatap datar.
“Apa?” Jawab mereka kompak.
“Heh! Cukup berani juga tiga bocah memandang gua seperti itu. Hmm.. Gua hargai keberanian kalian” Ucap napi tersebut tersenyum.
“Langsung saja paman, lo pasti bertanya kenapa kami disinikan?” Ucap Bruno.
“Ho~hohoho~ tepat sekali, sekarang jawablah” Ujarnya tersenyum sinis.
“Tawuran” Jawab Feron lemas.
“WAW!! Luar biasa, sekolah apa dan sekolah apa?!” Tanya napi lainnya.
“SMK 1 melawan SMA 1” Ucap Bruno.
“Dan ditambah campur tangan SMA 2” Desis Reo memandang Bruno.
“Hahahahahahaha…. Rupanya masih sekumpulan bocah toh dan bla.. bla…” Ujar napi tersebut.
Feron tidak dapat mendengar kelanjutannya, kepalanya semakin pusing. Dia hanya dapat memperhatikan Reo yang berbicara tanpa henti hingga Feron sempat berfikir, darimana dia mendapatkan stamina sebanyak itu untuk berbicara?
“Dan begitulah gua bertarung dengan makhluk disebelah gua ini” Kata Reo menunjuk Feron yang hanya diam.
“Kalian tau anak muda, sebaiknya lo pada sekolah aja yang tekun. Dunia begitu kejam nak, jangan sampai lo semua dipecat hanya karna sebuah perkelahian sepele” Ucap napi bernama Tenku menasihati.
Sementara Feron dan Bruno hanya diam mendengarkan.
“Kalian tau, semakin dewasa kalian akan dihadapkan dengan kehidupan yang tidak mudah. Akan banyak kerikil yang akan menusuk kalian, jadi jangan sampai kalian salah jalan lagi. Anggaplah dengan duduknya kalian di sel ini merupakan suatu peringatan untuk tidak mengulang kembali keributan yang kalian anggap besar itu, percayalah nak dunia tidak akan sujud pada orang sok kuat, tapi dunia akan tunduk pada orang yang berilmu”
Reo hanya dapat ternganga mendengar petuah Roki, napi lainnya. Sementara Bruno langsung memalingkan wajahnya, air mukanya keruh.
Terkadang gua selalu berpikir, kenapa gua selalu mengikuti keinginan mama sementara gua tau dia salah?
Inner Bruno kesal.
“Bruno” Kata Tenku mengarahkan atensi pada Bruno yang sedang kalut.
“Lo sepertinya memikirkan sesuatu yang sulit” lanjut Tenku.
“Gua? Ngak sama sekali” Balas Bruno.
“Benarkah~” Balas Reo mendekati Bruno.
“Serius, dan berhenti bersikap seperti itu Reo. Duduklah yang tenang seperti Feron” Balas Bruno kembali mengusir Reo dengan tangan yang menempel pada mukanya dan berusaha membuat muka itu mundur dari hadapan Bruno.
*Di lain sisi*
Hujan deras mengguyur daerah sekitar, termasuk kantor polisi tempat Feron ditahan, namun hal tersebut tidak membuat mundur seorang pemuda yang kini tengah berlari menghindari derasnya hujan yang mengguyur.
Saat sampai diteras, pemuda itu sedikit merapikan pakaiannya yang terkena tetesan air hujan. Merasa cukup kering, pemuda itu lanjut memasuki kantor polisi.
“Permisi kakak polwan”
Polwan yang awalnya fokus pada layar PC langsung mengalihkan atensinya.
“Iya? “ Tanyanya.
Pemuda yang masih memakai penutup kepala itu langsung membuka jaketnya, dan sedikit berjarak untuk merapikan rambutnya yang lepek.
“Apakah tahanan bernama Alferon Adidjaya ada? “ Tanya pemuda itu, Adiniata dengan senyuman yang berhasil membuat sang polwan langsung senam jantung.
“Aaaa… B-biarkan saya melihatnya sebentar” Balas sang polwan berdiri dan berjalan pergi.
“Haaaaaaa~ deras sekali hujannya” Adiniata langsung memandang kesumber suara.
“Luna? Kenapa lo juga ikut kemari? Bukannya gua udah yuruh lo buat tinggal didalam mobil sama bunda? “ Tanya Adiniata beruntun.
"I-itu sebab" Luna hanya bisa memainkan harinya berpikir, jawaban apa yang tepat untuk Adiniata ini.
"Karna aku juga ikut berkunjung" Balas satu suara tegas.
...TBC'...