All For Dreams

All For Dreams
96. Kau di mataku dan aku di matamu



"Gua pengen...." Feron mengulurkan tangannya pada Nanda yang langsung menerima tak mengerti. Membawa gadis itu kedepan kelas.


"Nan, pacaran-" Feron, berkata dengan ringannya.


Semua kelas langsung sunyi, bahkan burung yang sedang terbang langsung berhenti di udara.


Setelah terdiam cukup lama.


"Kenapa kalian diam? Aku hanya ingin mengatakan.


'Nan, pacaran itu apasih rasanya?'" Tanya Feron dengan ekspresi ceria, hampir membuat wajah berseri Nanda jadi hilang tergantikan dengan muka datar siap meninju wajah pemuda yang sayangnya sudah menggeser Anwar dari hatinya ini.


Anj*ing memang, gua kira bakal di tembak dan di buatin pengungkapan cinta depan kelas. Taunya di permaluin, dasar sahabat kurang otak!


Isi hati Nanda marah melihat ekspresi Feron yang masih nyengir kuda tepat di depannya.


Sementara Anwar, dia hanya memperhatikan dalam diam. Ingin komentar tapi...


Ya sudahlah, siapa yang tidak tau dengan frekuensi kebodohan Feron yang hanya berjarak 0,01 cm itu, Anwar 100% sudah yakin dia tidak akan mampu mengatakan 'I love you' pada Nanda yang notabenenya adalah gadis bar-bar.


Dan satu hal lainnya, Anwar juga tau jika Feron menyukai Afni. Teman dan tetangga Anwar di rumah.


Jadi, rasanya jika ingin memikirkan Feron menyatakan cinta dan segala fikiran bodohnya selama ini, Anwar sadar bahwa dia pastilah terlalu jauh berpikir.


Sementara Fiona, ya sudah panas di kursi sedang mengepalkan tangannya emosi. Mari ditinggalkan saja.


.


.


.


Ryou dan pekerjaannya.


"Aduuuhhh, kepalaku sakit" Imbuh Ryou memijat kepalanya dalam gurat kesal.


Hasil pekerjaan kelas 12 sudah di terima Ryou dalam satu file flashdisk, namun saat dilihat hasilnya!


Sungguh, hampir membuat Ryou masuk UGD.


"Bagaimana bisa mereka semua hampir lulus dengan gambar sejelek ini" Gumam Ryou jengkel.


Urat emosi Ryou di uji.


Ruang sebesar 5x6 menjadi saksi bisu bertapa Ryou menjadi sosok Out Of Character. Besok pagi,


"Besok pagi aku pastikan akan memberikan mereka pelajaran ekstra (menepuk pelan rotan di tangan kirinya) akan ku buat mereka mengingat masa-masa kejayaan u menjadi guru teknik hahahahahah ahahahaha-uhuk uhuk uhuk keselek!"


.


Esok harinya.


"Selamat datang di neraka saudara-saudara sekalian, dan aku adalaaaahhhh..... " Ucap Ryou dengan senyum setannya, memandang keseluruh murid kelas 12 dalam air muka ceria nan misterius.


"Penguji ter habdsome dengan IQ diatas kapasitas normal, selain itu aku juga sudah S3 di 10 jurusan terkemuka, memiliki banyak sertifikat dan sudah diakui Unesqoe, tidak buruk untuk mengatakan aku sebenarnya adalah manusia yang berhati lembut bagaikan atmosfer dunia tanpa celah itu sendiri, ekhem! Baiklah, dengan mempersingkat waktu saatnya bapak menguji kalian dengan ujian lisan sebelum kalian UKK hahahahah! Jangan harap bapak akan memberikan nilai 90 jika kalian salah menjawab satu pertanyaan saja, bahkan mendapatkan nilai 45 bapak rasa itu mustahil!" Ceramah Ryou panjang lebar di kelas khusus kelas 12.


"TIDAKKKKKKK!!!!!!!!!" Teriak seluruh kelas 12 frustasi hingga membuat Theo sampai salah dalam mengklik jawaban di pcnya.


"Apaan tu?" Gumam Theo bertanya.


"Paling bengkel tetangga" Jawab salah satu teman Theo yang masih fokus mengerjakan tugasnya.


Sementara Theo hanya dapat memajukan bibirnya.


.


.


.


.


"Ah sudah jam 18.00 WIB, aku harap aku tidak menemukan hal aneh di perj-" Ucapan Ryou seketika terhenti saat melihat punggung salah satu siswanya tepat didepan pintu kelas, sedang bersandar lesuh.


"Feron?" Gumam Ryou.


Disisi Feron...


"Ck! Menyebalkan" Gumam Feron menatap lantai koridor. Tak dapat di pungkiri jika saat ini pemuda 17 tahun itu tengah kesal.


Ckrek!


"HAH!?" Feron langsung melihat ke arah sumber suara.


Disana, Ryou tengah memotret dirinya seraya tersenyum jahil.


"Belum pulang?" Tanya Ryou menyimpan kembali smartphonenya.


"Kau sendiri?" Ucap Feron ikut melontarkan pertanyaan seraya mata memandang tajam kantung jas Ryou yang berisi smartphone.


"Heh! (merotasikan mata) jangan memandang saku ku seperti memandang emas, kau membuat kantungku seperti tempat penyimpanan barang ghaib" Ucap Ryou mengusap kepala Feron sebentar, sebelum tangan itu di tepis kuat oleh Feron.


"Tidak butuh perhatianmu" Sarkas Feron buang muka.


Ryou tersenyum dan mensejajarkan posisinya.


"Kau tau, dalam ilmu arsitek. Memotret juga merupakan salah satu teori dasar. Contohnya seperti tadi, saat bapak memotret mu. Itu di sebut teknik unexpected, dimana gambar di ambil terlebih dahulu baru konsep. Sementara ini..." Ryou kembali mengeluarkan smartphonenya dan memotret ke apa yang menjadi objek pandangannya sedari tadi.


" Nah, ini bangunan bekas kita yang sudah menjadi bengkel MM merupakan wujud dari expected, dimana objek diambil dengan konsep terlebih dahulu. Jadi..."


Feron memperhatikan foto dan penjelasan Ryou dengan khidmat, hingga tanpa sadar pandangannya memandang sosok yang janggal.


" Lah ini apa ya pak? " Tanya Feron, yang seketika bulu keteknya langsung menegang.


" Apa Aaaaa.... Aduh! Ini mah jadinya unexpected" Balas Ryou bergetar, ia mengalihkan pandangannya dari smartphone ke objek asli.


Feron merasakan tangannya di genggam erat.


"Pak R-Ryouuuu..." Panggil Feron bergetar.


"Dalam hitungan ketiga, kita cabut Ron" Bisik Ryou berkeringat dingin.


"1"Ryou mulai menghitung.


" 2" dilanjutkan Feron.


"...." Diam, wah kenapa ni?


"Pak Ryou?" Tanya Feron memastikan, ia memandang ke arah kiri secara terbatas, mencoba menyingkirkan fikirannya mengenai sang Walas yang dengan tega meninggalkannya di jam magrib seperti ini.


"Heeeeiiiii~~~~" Lirih suara itu dingin dan mencekam.


"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!"


"Masih ada aja yang test fokal jam segini, mau heran tapi ini SMK 1, bisa apa OB seperti mas oskar ini" Gumam mang Oskar lanjut main ludo di ruangannya sendiri di SMK 1, tak curiga ataupun ada niatan ingin memeriksa.


Kasian.


Dan sejak hari itu, Feron izin tidak masuk selama seminggu lebih karna panas tinggi dan trauma berat tak berkesudahan. Bahkan saat melihat Ryou, dia jadi panas dingin sendiri. Karna apa?


Karna saat Feron bertanya mengenai hari itu, Ryou menjawab.


"Loh? Saya sudah pulang dari pukul 17.45 WIB, bagaimana saya bisa di sekolah pukul 18.00 WIB? Aneh sekali" Jawab Ryou mengusap dagu ya berpikir.


Dan mulai dari hari itu, bahkan saat Alfi dan Nanda mengajak Feron untuk main Wifi , ia enggan dan memilih untuk pulang cepat. Karna entah sejak kapan, mata tajam itu menatap hal-hal ghaib yang tak bisa di ucapkannya.


Tawaran makanan dan berbagai ucapan pengantar syahwat untuk tetap menyamankan diri di kursi tunggu tamu di depan Lobby sekolah sudah tak menjadi prioritas Feron lagi, yang jelas setelah jam sekolah pukul 16.00 WIB, Feron akan pulang.


Tak akan disini lagi seperti pemuda kesepian kurang belaian, iiiiiii jijik!


...Tbc...