
"Sebenarnya.... Tadi pas Vc-an gua liat ada cewek yang gelandutan ama Anwar" Terang Nanda kesal.
"Trus?" Tanya Feron disela mengunyah siomay.
"Masak lu bilang trus sih! Gak menghargai banget dah! Ya jelas gua cemburulah, secarakan si Anwar disana sendirian, pastinya bakal banyak cewek-cewek nyebelin yang bakal godain dia" Ketus Nanda marah.
Feron merotasikan matanya.
Jadi si Adam sama Imam fungsinya apa di sana?
Feron kembali menatap Nanda.
"Trus kenapa dan apa alasan lo nyuruh gua buat jadi pacar kontrak lo? Lagian apa untungnya juga ama gua gangguin hubungan lu ama si Anwar, buang-buang waktu aja, lagiankan ini masalah l-" Nanda langsung menutup mulut Feron dengan tangannya.
"Lu tega bener sih Ron! Masa iya lu tega ama sahabat lu sendiri! Sekarang lu pokoknya harus bantuin gua buat mata-matain si Anwar di pekanbaru! Gua pengen liat kemana aja tu tangan nyempil!" Geram Nanda.
Sementara Feron hanya dapat memperhatikan dalam tanda tanya besar "Jadi, sebenarnya lu cuma pengen punya teman buat intip kegiatan pacarlu?" Tanya Feron setelah Nanda menjauhkan tangannya, Feron bahkan menaikkan sebelah alisnya bertanya dalam ekspresi acuh tak acuh mengenai rencana absrub sang sahabat.
"kagak!! Pokoknya kita berdua harus romantis kalau sampai ketahuan si Anwar selingkuh disana!" Geram Nanda mengepalkan tangannya marah.
"Ajak Alfi boleh?" Tanya Feron lagi.
"Satu gank lu ajak juga gak masalah!" Balas Nanda.
Semua percakapan ini ngak seperti perjanjian kontrak melainkan menjadi aksi penggerebek pacar yang diyakini selingkuh, atau hanya perasan Nanda saja.
Inner Feron.
...105...
...Pacar kontrak 2...
.......
.......
.......
Keesokan harinya.
" Gimana penampilan gua The?" Tanya Regas merapikan rambutnya.
"Udah cakep Re, sekarang lu bisa mulai" Balas Theo.
"Ok gaes, kembali lagi bersama gua Regas Brahma di acaraaaaaaa..... PUTUS NYAMBUNG!!! Bersama sohib gua Alfi!" Ucap Regas merangkul Alfi yang malah ikut mendalami peran.
"Hy gaessss!!! Kali ini kita berdua bersama client kita bernama mbak Nanda, Hy yoo mbak Nanda. Coba di ceritain dikit dong mbak, kenapa pake jasa kita-kita?" Tanya Alfi dan di balas dengan tatapan datar oleh Nanda yang tidak mengerti kenapa teman-teman Feron berubah menjadi orang gila dengan tripod dan Camera di genggaman.
" Enghh.... Lu kenapa sih Fi? Gila? Saraf? Maag? Ambeyen? "Tanya Nanda.
" Kagak, kita kan cuma jalanin peran di acara 'PUTUS NYAMBUNG' dan client kita kan lo" Ucap Alfi menepuk punggung Nanda.
Plak!!
Bug!!
Prank!!!
"Auch!" Lirih ketiga korban menyentuh kening masing-masing.
"Kita gak lagi kelas komedi, gua harap lu semua bisa jaga sikap!" Ancam Feron dengan aura membunuh.
"Siap paduka" Ucap ketiga korban saling mendekat.
"Jadi Nanda" Feron mulai rileks, ia menyandarkan tubuhnya di ralling tangga "Jadi apa rencananya, lagian kenapa sih lu pake bikin kegiatan pacar kontrak begini? Seharusnya lu nikmatin aja masa bahagia lu pacaran ama Anwar. Kan ini yang lo ingininkan? Kenapa lu pake acara curigaan?" Ucap Feron bertanya.
Sementara Nanda hanya mendengarkan dengan ekspresi geram "Gua sebenarnya gak pengen juga jadi begini Fer, tapi ini semua menyangkut pada cewek yang ngerangkul si Anwar kemaren itu bukan satu atau dua kali terjadi, dan si Anwar gak ada respon Fer, alih-alih nyingkirin tu tangan malah si Anwar keliatan menikmati" Ucap Nanda menggebu, hampir membuat keempat remaja sontak terkejut.
"Aseeekk!!! Rupanya ilmu pacar tiga bang Regas sudah menyebar lewat E-book gratis yang di pasarkan ke seluruh email siswa SMK 1 minggu lalu" Gumam Regas berbangga hati.
"Dia ngomongin apaan dah?" Tanya Nanda menunjuk Regas.
.
.
.
"Jauh-jauh ke Pku, masak gak healing" Gerutu Alfi mengangkat Nanda yang sedang melihat Anwar dari jauh.
Singkat peristiwa, kini mereka berlima tengah mengamati Anwar yang sedang bekerja di tengah teriknya panas matahari, namun karna tempat mereka dan Anwar yang terlalu jauh akhirnya membuat Nanda terpaksa meminjam pundak Alfi sebagai tempat ia menyambung kaki dari tingginya pagar pemisah kantor magang Anwar dan mereka.
"Alfi, tegap dong. Ini gua kagak bisa liat si Anwar kalau lu makin lama makin nunduk gini" Cerca Nanda.
"Lu berat dugong, di bandingin ama gua lu lebih beraaaaaatttt" Balas Alfi menahan nafas.
"Apa lu- ah! Anwar pergi" Seketika Nanda langsung melompat dan berlalu pergi meninggalkan Feron dkk yang seperti pengawal dadakan sang anggota passus.
Beberapa jam berlalu, sudah seharian penuh mereka membuntuti Anwar. Namun apa yang mereka dapatkan hanyalah kehampaan, mungkin saja apa yang selama ini di cemaskan Nanda hanyalah seputar ketakutan berlebihan semata. Setidaknya itulah yang ada di fikiran Feron saat ini.
Ditambah dengan Theo dan Regas yang sudah pergi sedari tadi membuat hanya tiga sahabat ini yang tersisa untuk saling berbagi beban.
"Kita pulang aja Nan, lagian rumah lu juga jauh. Gak mungkinkan kita buntut mereka sampai kost" Ucap Feron lelah sepanjang hari hanya diisi dengan hal monoton.
"Ide bagus tuh Ron, lagian gua juga udah lapar dan haus nih, dari tadi kita juga belum makan" Sahut Alfi.
Sementara Nanda masih memperhatikan kegiatan Anwar yang sepertinya akan pulang. Namun, seorang gadis muncul, memanggil Anwar yang langsung berbalik.
"Eh tunggu, kok perasaan kenal?" Ucap Feron tiba-tiba berada di samping Nanda yang sontak terkejut.
"Iye Ron, maka dari itu gua intipin si Anwar. Perasaan gua kenal ama ni cewek Ron, tapi entah dimana gua lupa" Ucap Nanda masih memperhatikan, sementara Alfi hanya menyimak.
"Mereka jalan Ron, ayo cepat kita ikuti" Ucap Nanda berlari ke arah motor Feron dan diikuti oleh sang empunya.
Sementara itu....
"Yuna, tumben minta pulang bareng? Ada apani?" Tanya Anwar memandang spion motor.
"Engh... Itu.. (berfikir keras) Hari ini Yuna gak ada tumpangan War, kan Lina lagi sakit. Jadi karna gak tau harus minta tolong sama siapa jadinya Yuna coba minta tolong sama Anwar aja, gak apa-apa kan?" Tanya Yuna memberikan ekspresi sedih yang kentara dibuat-buat.
"Gak apa-apa sih Yun, tapi kan masih ada si Adam sama Imam, masak minta tolong sama Anwar aja?" Tanya Anwar lagi berbelok untuk masuk kehalaman rumah Yuna.
"Jadi Anwar keberatan nih tiap hari sekarang nganterin Yuna?" Ucap Yuna bertanya dengan ekspresi cemberut.
"Ahhh... Gimana ya Yun (menurunkan standart motor) bukannya Anwar gak pengen nganterin Yuna, tapi... (Anwar diam sejenak) Anwar udah punya pacar dan rasanya agak canggung aja disini suka anterin cewek lain sementara pacar sendiri dibiarin pulang pergi magang sendiri" Tutur Anwar memandang langit, saat ini ia tengah memikirkan Nanda sang pacar.
"Ukh! Nyebelin deh, kan gak apa-apa juga atuh War, lagiankan Yuna belum apa-apaan Anwar, kenapa se-negatif thingking gitu sih!" Yuna marah, ia langsung turun dan memukul kepala motor KLX Anwar.
Anwar langsung tak enak hati, ia mencoba membujuk Yuna supaya mau memaafkannya, namun Yuna enggan, ia malah buang muka setiap kali Anwar ingin bersitatap dengan matanya.
" Ok, jadi apa yang bisa Anwar lakuin supaya Yuna mau maafin Anwar?" Ucap Anwar pasrah, ia langsung turun dari motornya dan berdiri tepat di depan Yuna yang ngambek.
"Kalau gitu Anwar tutup matanya" Perintah Yuna.
"Buat apaan?" Tanya Anwar.
"Ih! Anwar kebanyakan tanya deh! Dari tadi perasaan Anwar nanya melulu! Ini bukan jam ujian ya War, jadi gak usah nanya-nanya trus, ikutin aja ucapan Yuna!" Kesal Yuna langsung menutup mata Anwar.
"Ok.. Ok, trus Anwar harus apa lagi n- sorry nanya melulu" Ujar Anwar.
"Dan sekaraanngggggg....." Suara Yuna semakin dekat.
Cup!
"AAAAAAAAAAAAAA!!!!!!" Teriak Nanda dari kejauhan.
Anwar langsung membuka matanya terkejut "Y-Yuna" Lirih Anwar terbata.
"I love you Anwar" Ucap Yuna menggoda dan langsung mencium Anwar kembali.