
Kita berdua satu, jika lu sakit gua akan ikut sakit.
Jika lu gundah, gua pun demikian.
Jika lu tak ada disisi gua, gua bakal kesepian.
Regas to Ragas.
Saudara gua, untuk lu yang koma.
Tetaplah berjuang.
_____________________________________________________
“Jadi bapak mengenal Hermantino Brahma?” Tanya pak Ibram mendahului pertanyaan Alfi dan Feron.
Kini mereka berempat sudah berada di ruang yang lebih privat.
“Tentu saja saya tau pak Ibram, kami kan sama-sama kepala sekolah” Sahut pak Bino.
“Saya pikir, karna sekolah kita yang berbeda status membuat bapak tidak terlalu perduli akan hal itu” Ucap pak Ibram.
“Astaga, di daerah ini hanya ada 4 sekolah SMA sederajat pak Ibram. Pertama SMA 1, kedua SMA 2, ketiga SMK 1, dan yang terakhir adalah SMK Dirgantara. Tidak mungkin saya tidak mengenal kepala sekolah dari masing-masing sekolah ini bukan?” Seru pak Bino.
Pak Ibram berpikir, kemudian mengangguk setelahnya.
“Jadi benar rupanya, jika Regas dan Ragas adalah anak Hermantino. Tapi sebelum itu, sepertinya kita perlu tau mengapa mereka sampai sebegininya” Ucap pak Bino berpikir.
“Mereka terlalu sensitive untuk ukuran kesalah pahaman” Lanjut Alfi menyambung perkataan kepala sekolah.
“Kamu benar nak Alfi. Namun, ada apa sebenarnya dengan Hermantino ini?” Tanya pak Bino memandang Feron lekat.
.
.
.
Keadaan meja makan keluarga Brahma benar-benar panas, kepala keluarga Hermantino kini sedang mengintrogasi putra bungsunya yang selalu memberontak.
"Ragas!!! Dengarkan papa, kamu tu harus pindah berdua sama si regas. Kalian gak cocok sekolah di tempat sarang berandalan seperti itu, apalagi kalian berteman dengan kepala berandalannya langsung, jauhi dan besok kalian bisa masuk ke SMA 2, biar papa sama Reyo yang mengurus kepindahan kalian" Tegas Hermantino memaksa kedua anak kembarnya.
BRAK!
Ragas berdiri dari duduk dengan aura kesal "Gak bisa gitu dong pa! Kita berdua udah nyaman sekolah di SMK 1 dan disana bukan sarang brandalan pa. Ragas juga gak suka kalau papa ngomongin Feron kek gitu, bukannya dulu papa fine aja kalau kami bersahabat? Kenapa sekarang papa menentang kami? Oh! Ragas tau, pasti ini semua karna pembantu naik pangkat ini kan?! " Tegas Ragas menunjuk ibu tirinya yang terdiam berpura-pura tetap nyaman dengan posisinya.
"Jaga mulut kamu ragas!" Bentak Hermantino ikut kesal.
"Apa!? Papa lebih belain dia ketimbang darah daging papa sendiri?! Bul***** kalian semua! Lo juga Bruno" Ragas beralih menatap Bruno nyalang "Lu ngadu apa ke papa gua ha!"
TRANK!!!!
Gelas mahal hancur berkeping-keping. Hermantino, pelaku pemecahan gelas kini memandang Ragas nyalang.
“CUKUP RAGAS! Jaga ucapan kamu, semakin hari papa lihat kelakuan kalian berdua semakin kurang ajar. Apa ini karna pemuda bernama Feron itu kalian jadi sanggup melawan papa!!” Marah Hermantino.
Tidak ada jawaban, Regas dan Ragas bungkam.
“Rupanya benar, bocah itu membawa pengaruh buruk” Dengus Hermantino tak habis fikir.
“Bruno, kamu kenal Feron?” Tanya Hermantino memandang Bruno, smentara yang ditanya malah memilih bungkam seraya memotong nyaman iga sapinya tanpa ada niatan untuk menjawab.
“Dia preman pa, dia benar-benar memiliki catatan merah dan selalu memaksa Regas dan Ragas untuk mengikuti perilaku merugikannya disekolah, Bruno tau berita ini dari pak Ardi langsung pa" Jawab Bruno.
“A-APA!! WOY KUTU JENIFER LOVERS, jaga muncung ya! Feron bukan seperti apa yang lo sebut, ingat itu dugong arab!!” Maki Regas pada akhirnya mengangkat suara.
"Dasar HAMA, dan juga papa gak seharusnya menyuruh pak Ibram buat ngeskors Feron dong pa, bukan Feron yang memulai perkelahian itu, tapi siswa papa sendiri! Ragas dan Feron korban pa, karna harga diri lebih berharga dari anak orang maka Ragas pukul siswa papa yang sudah menghina sekolah Ragas, gara-gara mulut lemesnya kurang didikan dari guru-guru sekolah papa. Sekarang Ragas minta supaya papa mencabut hukuman buat Feron, atau jangan ada kata berdamai diantara kita" Cerca Ragas langsung pergi dari ruang makan itu, ia sangat jijik melihat ibu dan saudara tirinya yang pastinya tengah tertawa puas sekarang.
Sementara Regas yang kembali melanjutkan makan dengan tenang hampir tidak menggubris satupun ucapan yang dilontarkan sang papa, contohnya seperti sekarang.
"Regas, tolong kamu nasehati adik kamu. Suruh dia sopan sama yang lebih tua" Keluh Hermantino pada Regas.
"...."
"Regas, kamu dengar papa kan?" Tanya Hermantino.
Tring
Dua alat makan beradu, Regas membalikkan garpu dan meletakkan pisau makannya pertanda selesai makan dan beranjak pergi begitu saja mengabaikan ucapan sang papa.
"Dasar!" Gumam Hermantino mengurut pangkal hidungnya lelah.
"Sudahlah sayang, masa pubertas memang seperti itu, dimaklumi saja ya" Ayudia Bela, ibu tiri dari dua kembaran itu kini tengah menenangkan sang suami yang mulai kesal.
Sementara Bruno malah tersenyum smirk.
Plan A berhasil, lo hebat Bruno
.... ...
.... ...
.... ...
Dikamar nan luas, Regas dan Ragas masih dalam satu kamar yang sama, walaupun sudah remaja mereka tetap menolak untuk berpisah, katanya ikatan batin.
Regas dan Ragas saling duduk di kursi belajar masing-masing sambil menghadap pada jendela besar yang memperlihatkan pemandangan malam.
"Gua tau apa yang lo pikirin Ra" Kata Regas memainkan bola kasti ditangannya.
"Emang gua pikirin apa?" Tanya Ragas cuek tidak ingin memandang Regas.
"Si nenek sihir sama anaknya kan" Tebak Regas.
Ragas langsung berdiri dari kursinya.
"Sekarang gimana? Lo punya ide?" Tanya Ragas menggebu.
"So pasti, sebagai kakak tertua gua selalu dan harus lebih jenius dari pada lo" Tunjuk Regas pada Ragas yang langsung lesu mendengar ucapannya.
"Najis!" Ucap Ragas jijik.
"Heheheheheh" Tawa Regas.
Suasana mulai mencair dengan candaan ringan Regas, mereka berdua memilih untuk saling tertawa sekedar melepaskan beban pikiran.
"Aku rindu mama/aku rindu mama" Ucap mereka kompak memandang bulan yang sedang bersinar terangnya dilangit.
Sang papa yang ingin masuk kedalam kamar kedua putranya hanya bisa berdiri diambang pintu, tangan kanan yang semula ingin mengetuk pintupun diturunkan kembali, tangan kiri yang sudah membuka pintu kembali ditutup seperti semula.
Apa aku terlalu egois?
Fikirnya diambang pintu.
.... ...
.... ...
.... ...
Pagi harinya dikediaman Brahma.
"Reyo, nanti kamu antarkan Regas sama Ragas ke-sekolah, harus sampai kedalam tidak boleh seperti yang sebelum-sebelumnya mereka turun di bengkel kumuh di daerah Jernih itu, TIDAK BOLEH" Perintah Hermantino.
"Baik tuan, akan saya laksanakan" Ucap Reyo patuh.
Tuk!
Tuk!
Tuk!
Regas dan Ragas datang dengan baju sekolah yang rapi serta rambut yang diklimis persis anak culun, mencontohkan sikap pelajar yang santun didepan sang papa.
"Pap, kita berangkat dulu" Kata Regas menyalami tangan sang papa kemudian dilanjutkan dengan Ragas. Tapi sebelum mencium punggung tangan sang papa Ragas langsung melontarkan ucapan yang membuat Hermantino sedikit berpikir.
“Ragas berharap berita yang baik akan datang, dimana hukuman Feron dicabut dan ditanda tangani oleh papa sendiri” Ujar Ragas mengintimidasi sang papa.
Sementara ibu tiri yang berada disebelah sang papa hanya bisa tersenyum.
Diperjalanan, seperti biasa Regas akan bertelpon ria bersama sang pacar, sementara Ragas dan Reyo harus siap-siap tutup telinga mendengar nada suara Regas yang bikin mual.
"Ok honey, iya aku juga sayang kamu. APA!? ngedate, aman. Aa' regas selalu setia kok hehehehhehe" Ucap Regas.
Setia dalam kamus regas, adalah:
[SETIA : SEtiap TIkungan Ada]
"Jangan ketipu dek, aa' Regas punya banyak selir. Gak percaya obrak-abrik aja WA nya" Ucap Ragas keras hingga membuat pacar Regas langsung tajam mendengarkan.
"Astaga, itu semua fitnah Sinta, orang yang ngomong habis ditinggal kekasihnya makanya dia rada jutek ama hubungan kita" Kata Regas ngeles sambil melirik dengan tatapan 'Kubunuh kau' pada Ragas yang tertawa geli.
"Ok syiap ayang, apa? Mau cium, buat kamu apa yang ngak sih hahahha, ok. Muuuuaaachhh~" Regas menutup telfonnya dengan kecupan alay, membuat Ragas disebelahnya hampir saja ingin menerjunkan sang kakak kembar dari mobil yang berkecepatan 190 km/jam ini.
Setelah menutup telfonnya, Regas mengarahkan atensinya pada sang adik.
"Benar-benar penghancur suasana lo Ra, untung gua kakak yang baik jadi gak punya dendam ama lo. Sini sujud di kaki gua supaya hidup lo selalu berkah gegara punya kakak baik cam gua" Ucap Regas menunjuk kakinya, mempersilahkan Ragas untuk sungkem.
Sabar Ragas sabar, anggap aja dia bagian dari diri lo yang lain
“Bueeghhh!!! Jijik gua sujud ama lo” Sembur Ragas berpura-pura muntah.
.... ...
.... ...
.... ...
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka sampai juga di tempat pemberhentian, bukan sekolah melainkan bengkel kumuh yang dilarang sang papa. Untuk sedikit pemberitahuan, Reyo lebih perhatian kepada sikembar dari pada mengikuti perintah sang majikan.
"Yoai mas Reyo emang yang terbaik" Regas dan Ragas melakukan tos dengan Reyo yang tersenyum sumringah.
"Jalani kehidupan kalian dengan bahagia, tapi ingat! Jangan sampai melakukan hal yang merugikan, mengerti?!" Petuah Reyo memperingati.
"Siap komandan Reyo" Ucap si kembar kompak, hormat layaknya prajurit TNI.
Setelah Reyo pergi, kedua pemuda kembar itu masuk kedalam bengkel ingin mengganti gaya rambut yang semula rapi menjadi berantakan, pakaian yang dimasukkan kedalam celana mulai dikeluarkan. Regas menambahkan headband di kepala sebagai pelengkap penampilan berandalannya, sementara Ragas hanya mengacak asal rambutnya tanpa memakai headband.
Tak lama setelahnya, teman Ragas datang dan mengklakson memberikan kode.
"Re, gua berangkat duluan ya" Ragas berpamitan pada Regas yang masih sibuk mengatur headbandnya.
"Iya Ra, tiati di jalan ya" Ucap Regas.
"SIP" Balas Ragas berlalu pergi.
Ragas akhirnya pergi dengan temannya menyisakan Regas yang masih sibuk, dan teman mereka Budi si pemilik bengkel yang asyik ngupil sambil selonjoran.
"Dek sinta~
Ku zayang~
Abang regas cintaiiiii~ dan takkan ada yang lain ooooo....
Kau lah segalanya bagiku~
Biarpun ada bidadari datang,
Cintaku padamu tetap 1000% huuuuu- eh tunggu bukannya juga ada mona?
Bodo amat dah
hoooouuuuooo dek monaaaaa~.
Eits tunggu,gua kan hari ini ada ujian praktek au ah sekalian aja tukar baju"
Setelah menunggu beberapa saat.
"Ok mantap saatnya pergi" Regas berkacak pinggang didepan cermin kusam, penampilannya sudah maksimal dengan pakaian bengkel teknik sepeda motornya dan headband kebanggaan, Regas siap menjadi buaya pejantan nan tangguh yang siap menjerat hati para gadis dengan kharismanya.
"Bud, gua berangkat dulu ye~" Ucap Regas.
"Iye, eh! tapi entar jangan lupa mampir ke bengkel kayak biasa, soalnya para cewek SMA kemaren cuma mau dilayani ama lo doang" Ucap Budi masih asyik selonjoran di tempatnya.
"Ok" Balas Regas
Regas keluar dari rumah kecil Budi yang sekaligus menjadi bengkel itu. Berjalan kesamping dan mengeluarkan motor berharga hasil modifnya sendiri.
Di kejauhan...
"Ba*ngke ni si JUPE (nama motor), kok bisa-bisanya bannya bocor si? Bukannya kemaren abang udah tambal? Kok masih bisa bocor lagi? Ah! Gua tau, ini pasti salah si tambal ban, emang anj*ing tu tambal ban" Sungut Nanda mencaci.
Sementara itu, Budi yang asyik selonjoran tiba-tiba bersin.
"Nah, tu ada bengkel, pas pula ada mamangnya. OOOOIIIII MANG~! Ada job ni!" Ucap Nanda lekas mendorong motornya cepat.
"Hadehhhh~ akhirnya sampai juga. Capek bat dah" Nanda langsung menstandar tengah motornya, sementara Regas yang sudah berbalik hanya dapat menatap nanda dengan muka cengo.
Ini cinta~ bukan yang lainnya~, maaf dek mona cinta bang Regas gak jadi 1000% deh eh tunggu kan juga ada dek Sinta yang gua kasih harapan? Eh? Bodoh amatlah yang penting sikat dulu yang ada di depan mata asyiiikk.....
Regas tersenyum pedo, lalu mendekati Nanda.
"Ada apa ini kak?"
Nanda menatap Regas dengan kesal bercampur lelah.
"Mata lo masih tinggal di kasur ya! Dah jelas ni motor bannya bocor masih di tanya! Cepat perbaiki! Gua dah telat ni!" Ucap Nanda ngegas pada Regas yang langsung mundur satu langkah seraya memegang dadanya yang berdegub kencang.
D-dia~? DIA MEMBENTAKKU KYAAAAAAA!!!! AKHIRNYA YA AMPUN
Mari kita tinggalkan saja scane bucinnya Regas yang kesekian ini.
.... ...
.... ...
.... ...
"Memang ban*gke kamu Gas!!!"
Plak!!!
Plak!!!
Plak!!!
Tiga tamparan panas berhasil membuat Ragas tersadar kalau soto itu hangat, bukan lagi dingin karna cuaca melainkan hangat karna kedua pipi sudah memerah.
"Apa maksud kamu macarin si Mona ha! Udah jelas-jelas aku pacar sah kamu, tetap aja ni mata ganjeeeennnnya minta ampuuunnn!!!" ucap Dira malah mencubit kuat pipi Ragas yang sudah bengkak hingga kuah soto yang ingin ditelannya kembali keluar seperti mata air di Papua.
"Gwa bwukuan rewguas" Ucap Ragas kesulitan
"Apa!?" Dira langsung melepas cubitannya.
"Uhuk... Uhukkk... Gua bukan Regas nyet" Ragas mencoba menetralkan tenggorokannya yang sempat tersedak.
"Ada apa tu?" Bisik-bisik mulai terdengar di sudut kantin.
"Biasalah, paling roman picisan" Ucap siswa lainnya.
"Hoo~" Sahut siswi A.
Ragas memandang sekitarnya, banyak siswa siswi yang memperhatikan mereka, jujur Ragas risih.
"Gua bukan Regas, kalau lu cari dia pergi ke bengkel TKR bukan ke kantin, mana sudi dia pergi kekantin di jam segini, selain itu Regas punya ciri khas selalu pake headband Dira!" Terang Ragas.
Setelah mengucapkan kalimat itu, Ragas langsung bangkit dari duduknya, memilih untuk pergi dari pada meladeni dira yang sedang emosi.
.... ...
.... ...
.... ...
...*Jam pulang sekolahpun tiba*...
Lamborgini berdiri apik di sudut jalan, Reyo sang supir kini duduk tenang dikursi supir menunggu sang tuan selesai dengan kegiatan rutinnya.
Setelah melalui hari yang cukup melelahkan, Ragas tidak langsung pulang kerumah. Ia lebih memilih untuk bersandar di pohon tua dekat taman kota, kebiasaannya sedari dulu.
Bahkan ada ukiran namanya dan sang kembaran di balik pohon ini. Membayangkan masa itu, Ragas jadi teringat akan sahabatnya yang juga bernasib sama seperti dia dan sang kembaran.
"Feron" Gumamnya menatap gumpalan awan.
Setelah mengancam sang papa, akhirnya hukuman yang diberikan pada Feron diringankan, ia hanya akan diskors selama 3 hari, informasi didapatkan Ragas secara akurat melalui Reyo yang beberapa waktu lalu berbicara, dan jika Ragas tidak salah hitung besok Feron sudah kembali kesekolah. Namun, dibalik rasa bahagianya tersimpan rasa bersalah kala Alfi yang memandangnya meminta penjelasan ia tidak merespon karna ancaman sang papa.
"Gua benar-benar pria pengecut. Tak seharusnya gua pergi begitu saja waktu itu, seharusnya gua.... Gua...." Gumam Ragas.
Trrrtttt..
Trrrtttt...
Ragas langsung tersadar dan mengambil smartphonenya dari saku celana.
"Selir jahannam" Ekspresi Ragas langsung kelam.
"Hallo?" Ucap Ragas.
[.......]
Ragas langsung berdiri, dan bergegas pergi.
.
.
.
.
Regas yang tengah bekerja di bengkel Budi seketika memiliki pikiran aneh.
Kenapa gua sedih?
Inner Regas menyentuh dada kirinya.
"Napa Re?" Tanya Budi.
"E-ng-ngak, ngak ada apa-apa bud" Regas terbata-bata dalam menjawab dan Budi tau, itu pasti menyangkut kembarannya.
Ragas
Inner Regas lagi.
Selama bekerja, Regas tidak fokus bahkan ia menuangkan oli motor ke tanki bensin, untung saja Budi cepat menutup tanki bensin tersebut kalau tidak!!! Maka ya sudahlah...
"Gua fikir lo udahan aja kerjanya, cepet pulang temuin kembaran lo sebelum terlambat" Budi memberikan gekstur mengusir namun tanpa perlawanan, Regas langsung pergi dengan mata yang sudah siap mengeluarkan air mata.
.
.
.
“Reyo, lo disini aja biar gua yang masuk” Perintah Raga.
“Tapi tuan, tugas saya adalah untuk menjaga anda. Jika terjadi sesuatu pada anda maka saya akan dihukum tuan besar” Terang Reyo ingin membantah perintah Ragas.
“Tidak akan terjadi apa-apa sama gua, selain itu jika ada hal yang mencurigakan lo bisa langsung menghubungi polisi dan kakak gua” Ucap Ragas.
“Tua-“
“Gua bakal baik-baik aja ok. Lu harus tetap disini memastikan keadaan, nanti gua balik lagi” Ucap Ragas lagi, menyela ucapan Reyo.
Setelah itu, Ragas segera pergi meninggalkan Reyo di parkiran pabrik.
“Semoga dia baik-baik saja” Monolog Reyo khawatir.
***
"PAPA!!! PAPA!!!" Ragas mencari kesegalah arah, pabrik itu begitu besar Ragas sampai pusing mau mulai dari mana.
Dari data yang diterima Ragas, sang papa belum juga pulang dari pabrik padahal waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 wib Ragas jadi cemas.
Sedikit info, keluarga Brahma memiliki sebuah pabrik kelapa sawit terbesar, dan pengelolanya adalah Hermantino Brahma sendiri. Selain menjadi kepala sekolah, ayah dari dua kembaran ini juga memiliki bisnis yang cukup menjanjikan untuk diwariskan kepada Regas dan Ragas kelak.
"Pap!!!"
Ragas akhirnya melihat sang papa yang sudah pingsan diatas mesin pencacah pelepah sawit, tanpa berpikir panjang Ragas langsung berlari kearah sang papa, namun naas.
BRRRUUUKKKKK!!!!!
PRANKKKKKK!!!!!
Saat telah sampai diatas, pijakan Ragas kurang kokoh hingga mengakibatkan lantai yang ia pijak seketika ambruk dan Ragas yang tidak sempat menyelamatkan diri kehilangan gravitasi dan terjatuh dari atas mesin.
Mesin tersebut cukup tinggi sehingga membuat Ragas tidak dapat merasakan dirinya sendiri, darah segar terus mengalir keluar dari kelima panca indranya, di keadaan seperti ini Ragas malah memikirkan sang kakak. Ia sangat sedih tidak dapat memandang wajah menyebalkan itu disaat seperti ini.
"Hmmm hmmmmm hmmmmm~~~" Gumam satu suara.
"Reo Alman memang selalu jenius. Selain itu tinggi mesin ini lumayan juga ya, gua perkirakan tiga lantai hahahahahaha…. Kasian sekali gua ngak sempat mengabadikan adegan jatuhnya tadi hahahahaha…. "
"Diam lo ba*gke, ide gua yang brilian. Lu cuma pelaksana, ingat itu. Sekarang tinggal hubungi mama untuk menginfokan keberhasilan ini" Ucap suara lainnya.
“Dia mati ngak ya?” Tanya Reo melihat Ragas.
“Semoga saja” Jawab suara satunya malas, ia sedang sibuk menghubungi sang mama.
Reo kembali melihat Ragas dan tersenyum menang.
“Jangan gentayangan disini ya Gas….” Ucap terakhir Reo sebelum menyusul temannya yang lebih dulu pergi meninggalkan tempat kejadian.
Dalam kesadarannya yang hampir habis, Ragas bisa melihat Reo dan siluet temannya itu, sepertinya dia adalah.
Bruno bang*sat
Geram hati Ragas.
Tak lama setelahnya, sebelum kesadaran Ragas benar-benar menghilang sepenuhnya, pendengarannya masih dapat menangkap suara tapak sepatu yang berjalan tergesa menghampirinya.
“Tuan Ragas..” Gumam Reyo menatap Ragas kalut.
***
Dirumah sakit swasta nan indah dan mahal.
"Luka serius di tempurung kepala, tulang kaki retak, tangan kanan patah, dan juga...." Dokter itu menjeda ucapannya membuat Regas langsung naik pitam, ia berdiri dan mencengkram kearah baju sang dokter.
"DAN JUGA APA HA?!!!!" Marah Regas.
"Pasien koma" Sambung dokter menunduk.
BUK!!!
Sang dokter tersungkur dengan luka lebam di pipi kanannya. Sementara Regas, pelaku pembogemam semakin emosi memilih menghancurkan kursi dan perabotan rumah sakit sebagai pelampiasan.
Sang papa yang masih duduk tenang dikursinya, hanya bisa menyesali apa yang terjadi.
Saat itu, ia seperti melihat seseorang yang mengikuti dan tiba-tiba saja semua gelap.
"Siapa orang itu?" Gumam Hermantino bertanya pada dirinya sendiri.
“Tuan tenanglah tuan” Bujuk Reyo berusaha menenangkan Regas yang masih emosi.
“Gimana gua bisa tenang Reyo, saudara gua koma trus lo suruh gua tenang aja! Trus dimana lo disaat adek gua butuh pertolongan ha!?” Kini Regas beralih mencengkram kerah baju Reyo hingga Reyo tidak dapat merasakan pijakan pada kedua kakinya.
“Sa-saya…. Ughhh..” Ucap Reyo tersenggal.
TUK!
“Regas, berhentilah sekarang juga!” Bentak sang papa membuat Regas dan Reyo seketika langsung memandang Hermantino.
Diluar ruang dokter.
"Hebat kamu Bruno" puji sang mama menepuk bangga punggung Bruno.
"Iya dong ma, Bruno~" Ucap sang anak bangga.
"Sekarang hanya tinggal menyingkirkan satu orang lagi, dan Hermantino akan segera aku kuasai hahahahahahhaha" Kata sang mama tertawa pelan.
.... ...
.... ...
.... ...
Hari, minggu, dan bulan berlalu, Regas selalu menunggu mata sang adik kembar terbuka. Namun masih tidak ada tanda.
"Padahal sudah menggunakan obat-obatan paling mahal dan teruji, tapi kenapa?" Bisik Regas kesal.
Regas mulai curiga, kenapa sang adik tidak pernah siuman dan kenapa setiap obat yang akan diberikan selalu disortir dulu pada sang ibu tiri?
...*...Flashback and...*...
*Welcome to real time.......*
Feron hanya bisa menatap jalanan dengan pikiran yang melayang jauh, berada satu kursi Bersama Bruno dan Reo benar-benar membuatnya muak.
"Hahhhh~ Kenapa gua harus bernasib sial satu kursi dengan dua berandalan ini? " Tanya Feron.
“Apa lo bilang!? Seharusnya itu kalimat gua!” Protes Reo yang duduk diantara Feron dan Bruno.
“Ngomong lagi, mulut lo gua jahit” Ancam Bruno mencengkram kerah baju Reo.
“YANG NGOMONG BUKAN CUMA GUA PAOK!” Teriak Reo tidak terima langsung memukul kepala Bruno.
“Wah~ cari perkara lu ya!?” Sinis Bruno geram.
BUK!!
BAK!!!
PRAK!!
“Kalau lu berdua mau kelahi tu cari tempat yang lebih lapang gob*lok, entar kena gua!” Ucap Feron protes berusaha menghindar dari tinju kedua orang disampingnya.
DUAK!
Baru saja diperingatkan, satu bogeman langsung singgah diwajah Feron, membuat muka itu langsung datar.
“Hooo~ memang cari mati lo berdua!!!” Ucap Feron menatap dua orang itu marah.
BRUK!!
PRANK!!
BUK!!
“KEPALA GUA BE*GO!” Teriak Reo.
BAK!!
“MUKA GUA ANJ*ING!” Teriak Bruno meninju brutal kedua objek didepannya.
BUK!!
dan begitulah adegan yang terjadi hingga mereka sampai di kantor polisi. Sementara dua polisi yang duduk didepan sebenarnya sudah melerai sedari tadi, namun bukannya mereka diam malah muka sang polisi yang jadi pelampiasan ketiganya.
“Aku pasrah” Ujar polisi tersebut mengompres luka di pipinya.
...TBC...