All For Dreams

All For Dreams
Tinggalkan



"Menyebalkan membicarakan ini, namun lo harus tau Fer, kalau Afni itu sakit"


Kenangan kala Bruno mengatakan hal itu sontak menjadi fikiran Feron.


Afni sakit?


Innernya bingung.


"Kenapa lu Ron?" Tanya Alfi menyadarkan Feron dari lamunan panjangnya.


"Bukan apa-apa" Balas Feron kembali menatap kartu Remi miliknya.


Saat ini Feron dan Alfi tengah bersantai di Gazebo rumah Feron, mereka berdua yang sedang memiliki waktu luang lebih memilih untuk menghabiskannya bersama dengan para sahabat seperti...


"Memang kurang otak lu berdua, gua cewek malah disuruh bawa barang berat" Maki Nanda menunjukkan dua bungkusan besar dikiri dan kanan tangannya.


Sementara Feron dan Alfi hanya menatap dengan tangan yang masih asyik melempar Remi, tidak peka.


"Memang gak ada akhlak, malah main Remi sambil selonjoran tanpa perduli sedikitpun ama nasib gua" Lanjut Nanda meletakkan dua bungkusan diatas meja kecil di Gazebo.


"Sans aja Nan, anggap apa yang lo lakuin sebagai latian angkat beban. Kan lo mau tanding silat bentar lagi di Gor, baeknya lo perbanyak latihan, dan ini adalah salah satu latihan dari kami. Selain melatih otot tangan latihan ini juga melatih kesabaran lo dalam menghadapi kepemalasan kami, bener gak Ron? " Terang Alfi panjang lebar disertai senyum bangga pada Nanda yang sudah bermuka masam.


" Bener banget Fi" Balas Feron mengacak bungkusan mencari pesanan miliknya.


"Gotcha, inilah yang gua butuhin" Lanjut Feron membuka tutup botol minuman bersoda pesanannya.


"Pokoknya gua gak mau tau, lo berdua harus jadi yang terdepan yang nyemangatin gua pas tanding besok. GUA PANTAU LU BERDUA, POKOKNYA HARUS YANG PALING MERIAH DAN PALING ALAY. Titik, kalau perlu dandan jadi banci gua makin bangga" Ancam Nanda memandang garang kedua sahabatnya yang langsung mundur teratur.


"Gak bisa janji Nan, masalahnya besok gua ada kelas buk Oliv, lu kan dah tau sendiri kalau buk Oliv itu orangnya garang maksimal" Ujar Alfi mencoba mencari alasan.


"Gua gak perduli, mau tu ibuk garang, penjahat, polisi, *******, pengedar, atau apalah lo harus tetap datang atau rahasia lu bakal gua sebar keseluruh kelas MM supaya mereka tau kalau bang Alfi itu punya hmph!!!!" Ucapan blak-blakan Nanda langsung terpotong oleh kedua tangan Alfi yang membekap erat mulut ember Nanda, bahkan Alfi tidak perduli lagi dengan kartu Remi miliknya yang sudah berceceran dan dilihat oleh Feron.


"Emang kalau lu punya pitak apa salahnya Fi?" Licin sekali mulut Feron.


Seketika Alfi langsung pundung diujung Gazebo, aura gelap benar-benar melingkupi dirinya.


Nanda langsung memandang Feron malas.


"Apa yang salah?" Tanya Feron.


"Mulut lo memang gak punya minyak rem, lurus aja macam jalan tol" Jawab Nanda beralih merogoh bungkusan mencari minuman kaleng favoritnya.


klek!


Nanda meminum rakus isi botol kaleng tersebut hingga membuat Feron sampai bertanya di otak kecilnya.


"Disini sebenarnya yang lanang kami berdua apa lo si Nan? Lo Pro*Man kita berdua Fan*ta, emang ajaib sahabat betina ku satu ini" Ucap Feron menepuk punggung Nanda pelan seraya meminum Fan*ta merah kegemarannya.


"Gak laku tu minuman ama gua, minuman bocil kek gitu bukanlah selera gua" Sombong Nanda menghabiskan minumannya.


Feron langsung memandang heran kearah Nanda dan minuman yang digenggamnya.


Minuman bocil?


Triiinggg..... Triiiingggg.....


"Akh?" Feron langsung bergegas merogoh saku celananya, melupakan pertanyaan yang sempat singgah di benak.


"Nomor yang tidak dikenal? Hallo, siapa ini?" Tanya Feron.


^^^[Feron, ini aku Afni]^^^


"Eh, siapa ya mbak? Nama Afni soalnya pasaran juga di kompleks saya ini?" Feron langsung melihat layar smartphonenya.


^^^[Ini gua Afnia Elsa Nabila, masak lo lupa si! An*Jing memang!]^^^


Teriak suara diseberang sana yang sontak membuat otak mampet Feron langsung bergerak cepat.


Ni orang kalau dah tensian bahasa bakunya langsung lenyap


Inner Feron.


^^^[Iya, ini nomor kedua aku. Nomor yang ngak diketahui Bruno]^^^


Ucap Afni kembali berbahasa baku.


Saat ingin bertanya kembali, Feron tiba-tiba merasakan seseorang memasrahkan beban bumi pada pundak malasnya, dan setelah dilihat lebih cermat rupanya itu Alfi yang sudah berada di samping Feron, ia mendengarkan dengan khidmat tanpa memperdulikan Feron yang terkejut dengan kedatangan Alfi yang semula pundung menjadi semangat untuk kepo.


"Bruno ngak tau nomor ini? Trus buat apa lu nelpon gua ha? Entar terjadi perang badar antara lu ama Bruno gua gak pengen ikutan dah"


^^^[Bodo! Yang jelas aku cuma pen ngajakin kamu jalan besok, kamu bisakan?]^^^


Feron lantas memandang Nanda yang sedang menghibahi dirinya dengan bisikan yang masih bisa didengar Feron.


"Entah kenapa gua bisa masuk circle makhluk setengah amper macam mereka" Gumam Feron malas.


^^^[Jadi kek mana Ron? Kamu mau?]^^^


Seketika Feron membuang muka dari Nanda, berniat ingin mengiyakan malah panggilan telefon di sabotase sang sahabat.


"Sorry very godbey ya mbak e, dek Feron terpaksa saya tahan dulu untuk tidak menerima acara selain acara super mega bintang saya di Gor besok siang, jadi diharapkan bagi mbak-mbak centil ini untuk mengurungkan niatnya sekarang juga, terima kasih" Smartphone langsung dimatikan oleh Nanda yang menatap Feron gahar.


"Kalau sampai lu berdua gak datang, persahabatan kita end!" Peringat Nanda penuh dendam seraya membawa bungkusan berisi cemilan.


"E-eeeee Nan, itu cemilannya jangan di bawa semua wei!!!!" Teriak Feron dan Alfi.


"Bodo!" Jawab Nanda ketus.


*****


"Dan begitulah akhir dari pelajaran kali ini, ada yang ingin bertanya?" Ucap Ryou memperhatikan kelas.


Semua diam sunyi dan senyap, tidak ada satupun yang berniat memberikan pertanyaan, bahkan Fadli yang duduk dibelakang seraya menarik turunkan jarinya pun dapat dilirik Ryou dengan jelas namun ia tidak kunjung berbicara.


" Baiklah, jika tidak ada yang ingin bertanya kelas saya tutup sampai disini, jangan lupa kerjakan pr kalian dan tetap 'menyerah' assalamualaikum" Jelas Ryou berlalu pergi dari kelas seraya melirik kearah Feron yang bengong dengan air liur yang mengalir begitu deras seperti iklan air kemasan terkenal.


Astaga gua harus gimana ini? Dua-duanya malah ngotot lagi, Nanda dengan pertandingannya, dan Afni yang semakin sering ngechat pengen jalan bareng.


"Ah sial banget gua, satu sahabat satu lagi bismillah temen tapi mesra, anjai gua gak tau lagi harus duluin yaaaaaa-" Tiba-tiba Feron langsung memikirkan ide brilian.


****


"Selamat datang dan selamat menyaksikan pertandingan p...."


"Ron, yakin kita duduk disini? Tempatnya rawan banget lo" Ucap Afni mencoba menyamankan diri.


"Duduk aja lu napa" Sarkas Ragas memandang kesal Afni.


"Serah gua lah, yang duduk juga pantat gua kok lo yang sewot" Balas Afni ikut kesal memandang Ragas.


"Anjai, untung lo cewek, kalau gak udah habis lo gua lempar ke Podium" Sungut Ragas melipat tangan di dada.


"Anjir lu" Kesal Afni langsung membuang muka dari Ragas yang juga ikut membuang muka.


"Feronn~ minta airnya dong" Ucap Afni mencoba bersikap manja.


"Air lo kan udah ada Afni, jangan manja ya" Ucap Feron memilih fokus menatap arena pertandingan.


"Phhtt!" Afni langsung melirik Ragas dendam.


"Aw-"


"Sssttt.... Diam lah, acara sudah dimulai" Peringat Feron mencubit mulut Afni hingga sang empunya langsung syok.


Sementara itu.


"Masih gua pantau, belum gua sleding" Ucapnya kesal.


...TBC ...