
...Cerita ini tak bermaksud untuk menyinggung pihak manapun, cerita ini hanya fiktif, semoga selalu ceria saat membacanya...
.
.
.
"Sebenarnya...."
.
.
.
...Who is Adidjaya's...
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu.
"Siapa Put?" Tanya sang Papa pada putrinya.
"Gak tau pa, tadi orang itu Putri suruh masuk, tapi dia menolak dan memilih untuk duduk di kursi teras depan, cepat gih papa samperin" Ucap Sang putri bungsu dan berlalu pamit pergi untuk membuatkan air.
"Ya sudah" Balas sang Papa, merapikan sedikit pakaiannya yang kusut kemudian berjalan ke depan rumah, hendak menyambut siapa gerangan tamu tersebut.
Sesampainya di ambang pintu.
Dalam benak sang Papa Awalnya hanyalah satu, pria elit dengan dua bodyguard mengawasi situasi. Cara duduk yang angkuh dan senyum fake.
Sepertinya aku pernah liat ni orang, tapi di mana ya?
Pria itu tak sengaja melirik Beni.
"Oh, hey" Sapa pria itu melambai.
"Oh iya, heii juga" Balas Beni, papa Nanda dalam pengucapan kaku memberikan tangan hendak menjabat.
Pria itu memperhatikan tangan Beni cukup lama, hingga ia kembali tersenyum dan menyambut tangan Beni.
"Silahkan duduk kembali" Ucap Beni mempersilahkan tamunya untuk duduk.
"Terima kasih" Balasnya sedikit merapikan jasnya.
"Jadi, ada gerangan apa tuan-tuan sekalian kemari ya?" Tanya Beni dalam senyum sopannya.
"Hemm Hemm hemmm, langsung to the point" Ucap pria itu dalam kosa kata sing a song.
"A-"
"Ini silahkan minumnya" Ujar Putri tiba-tiba datang dan membawakan teh hangat lalu menyuguhkannya, membuat pandangan sang Papa seketika masam dan kecut.
"Makasih Put" Ucap sang Papa langsung menyeruput teh hangat dalam hisapan kuat.
"Siipp" Balas Putri mengacungkan jempolnya dan berlalu pergi kembali masuk ke dalam rumah.
Setelah kepergian sang putri, Beni kembali menatap wajah pria itu yang malah menampilkan Smirknya.
"Ukhum! Bisa kita lanjutkan" Ucap Beni mencoba se-profesional mungkin, keluarnya kalimat bijak ini tentunya karna ia menatap orang-orang ini yang memakai jas lengkap, bahkan bodyguardnya saja berkelas sekali, mirippp
Tidak, Beni tidak berani mengambil kesimpulan secepat itu. Tolong.
"Langsung saja, (Beni langsung menatap pria itu) sepertinya saya tak perlu perkenalan lagi karna anda pasti masih mengingat wajah saya" Ucap pria itu tersenyum misterius.
Boro-boro ingat nama, lihat wajah maneh aja aing lupa
Inner hati Beni agak sedikit sewot.
"Apa tadi Tuan Feron kemari?" Tanya pria itu langsung mengambil tablet yang di pegang oleh bodyguardnya, dan meng- scrool entah apa.
"Eeee- mmm iya, memangnya ada ap-"
Lagi-lagi.
"Ayo dimakan dulu gorengannya mumpung masih anget" Tawar sang istri meletakkan setumpuk gorengan di atas meja, ingin marah tapi istri sendiri.
"Hmmm, terima kasih, tapi saya tidak makan-makanan yang mengandung minyak rakyat jelatah (tersenyum lebar tapi siapapun yang melihat jadi ingin memukul) Tapi, (memandang tepat ke arah dua bola mata mama Nanda) Terima kasih" Ucap Pria itu antara tulus dan tidak tulus.
Mama Nanda tak langsung pergi, ia menggenggam nampannya dan mengapit duduk di sandaran tangan kursi sang suami.
"Saya tidak akan mengambil banyak waktu disini (menatap kesegala arah dengan wajah jijik) jauhi tuan Feron" Ucap pria itu langsung berdiri dari duduknya. Ia memberi isyarat pada bodyguard lainnya untuk menyerahkan sebuah koper besar lalu pria itu membuka secara angkuh.
" Saya memberi anda uang sebesar 100 juta (mencampakkan uang tersebut tepat ke muka Beni dan sang istri yang langsung diam) sisanya akan saya kirimkan ke rekening anda, tapi dengan satu syarat (mengangkat jari telunjuk ya menunjukkan angka satu) Jauhi Alferon Adidjaya" Ucap suara itu angkuh.
"Atau tidaaakkk...... (ia menatap kesegala arah dengan pandangan remeh dan jijiknya) akan kusuruh bosmu untuk memecatmu dan mengusir kauu (menunjuk Beni dalam kemarahan ) beserta istri dan anak-anak kau Paham, Beni kusuma (berucap dalam intonasi mengintimidasi) aku tidak pernah main-main. Karna keluarga ADIDJAYA tidak pernah bercanda, termasuk untuk keturunannya" Ucap pria itu dalam intonasi mengintimidasi.
"Apa maksudnya ini semua!!!!?" Emosi Beni langsung bangkit dari kursinya dan refleks membogem muka pria itu dalam kemarahan yang luar biasa.
Pria itu menyentuh bekas pukulan Beni dalam senyum. Menyeka darah yang keluar dan sebelum ia sempat menatap Beni, uang berhamburan ke wajahnya.
"Ambil uang kau dasar manusia tidak beradab! Kau pikir keluarga ini pengemis ha!? Jangan sampai kau buat seperti itu kalau gaaa-"
Cklik!
"Kalau gaakk?" Ucap pria itu dalam intonasi meremehkan, mengarahkan senjata api tepat di kening Beni yang langsung mengangkat tangannya.
"Dengar ini Beni, bos ku tidak suka, anak bungsunya di dekati oleh kaum jelata seperti kalian. Ingat it-"
"PAPA mama ada yang bawa pistol todongin paman Ben-"
Dor!
"Ma-" Lirih anak itu mencoba.
Dor!
Dor!
Dor!
Tiga tembakan berhasil membuat suasana di rumah Nanda menjadi ricuh, sementara tiga orang itu hanya menatap dalam ekspresi datar, seperti sudah biasa saja.
Tembakan yang di arahkanpun bukanlah asal-asalan, terbukti dari tubuh anak itu yang masih bergerak.
"Anak buahku hanya menembak bagian dari titik Vital bocah itu, tenang saja" Ucap Pria itu menenangkan wajah kaget Beni dengan memukulnya pelan.
"Ini baru permulaan Beni, namun. Jika sampai putrimu masih mendekati tuan muda kami, makaaa... Duarrrrrr, nyawa putrimu hanya tinggal kenangan (memainkan moncong pistol ke sekitar wajah Beni yang sudah berkeringat) Pahamm Beniiii?" Bisik pria itu tersenyum iblis.
.
.
.
" Itulah yang terjadi" Cerita papa Nanda yang langsung menyembunyikan wajahnya di antara kedua telapak tangannya.
"Sementara bocah yang di tembaknya sudah di bawa kerumah sakit" Lanjut sang Papa.
"Jadi begitu" Gumam Nanda menatap kotak sushi dan kantong kresek, hadiah makanan dari Feron.
"Pa, Ma. Dimakan dulu buah tangannya" Tawar Nanda langsung membuka kotak empat tingkat itu, namun sebuah kertas langsung terjatuh tatkala Nanda mengangkat kotak pertama.
"Apa ini?" Gumam Nanda, meletakkan kotak sushi dan beralih meraih kertas itu, ia membolak balikkan kertas, namun ia hanya mendapatkan sebuah kalimat saja.
Sushi tei
Adidjaya Corp
Itulah tulisan yang tertera di kertas itu.
"Apa maksudnya?" Lirih Nanda bergumam.
"Pembelian siapa ni Nand?" Tanya sang kakak langsung mengambil salah satu sushi dan memakannya lahap.
"Siapa lagi kalau bukan Feron" Jawab Nanda ringan, menuangkan berbagai saus sushi tanpa memperhatikan sang kakak yang langsung keselek setelah mendengar nama pemuda yang menjadi topik mereka.
"Gak apa-apa juga kali dimakan, orang makanannya enak dan gratis. Jadi, sebelum kita lanjut membahas masalah ini, lebih baik kita makan dulu makanan orang kaya ini" Ucap Nanda langsung mencomot salah satu sushi dan memakannya.
Namun, perasaan Nanda masihlah kacau.
Ada masalah apa ini? Kenapa dengan Feron?
.
.
.
Di sekolah, beberapa hari setelah hari itu.
Obat Feron masih ama gua
Inner hati Nanda menatap ke arah meja Feron yang kosong melompong. Setelah pagi datang, Nanda baru tersadar jika ada sesuatu di saku jaket dongker itu dan langsung teringat jika itu adalah obat rawat jalan Feron, dan sekarang di saat Nanda hendak memberikan barang ini kepada pemiliknya, malah pemiliknya sudah tidak masuk semenjak terakhir kali mengantar Nanda, ia beralasan sakit juga. Membuat Nanda seketika langsung menatap kotak obat itu dalam rasa bersalah.
.
Sementara itu,
"Dia udah gak masuk semenjak 2 hari lalu" Ucap Adam memberi tau Alfi yang langsung memegang kepala tak percaya.
"Feron, kok bisa? Padahal kita udah ada rencana sore iniiii" Gumam Alfi frustasi, ia langsung menendang botol minuman bekas hingga terlempar cukup jauh dari tempatnya.
"Janji apa Fi?" Tiba-tiba suara Nanda menyambut, membuat ekspresi frustasi Alfi seketika berganti dengan wajah kaget saat melihat Nanda bermuka serius menatapnya.
"Jawab Alfi!" Bentak Nanda semakin mendekat.
"B-bukan apa-ap! Eh"
"Kata-kata ini udah lama gua simpan Fi, dan kayaknya ini adalah saat yang tepat buat gua ngomong ama lo" Ucap Nanda memegang erat kedua pundak Alfi yang seketika diam membatu. Nanda langsung menyeret Alfi ke tempat yang lebih sepi agar dapat berbicara dengan leluasa.
"Apa?" Latah Alfi dengan ekspresi ingin kabur saat sudah sampai di belakang bengkel DPIB.
"Lo sama Feron, sebenarnya selama ini kenapa selalu cabut dan buat onar? Lebih-lebih lo sering tawuran ama SMA 1 dan 2. Perkumpulan Gank, serta DARJOT itu siapa? Dan juga siapa Feron sebenarnya Fi, siapa itu Keluarga Adidjaya?" Tanya Nanda menatap lekat wajah Alfi yang seketika langsung menampilkan gurat serius ingin pergi.
" Buat apa lo nanya masalah Itu Nand, bukannya kita bertiga udah sepakat buat gak campuri urusan itu?" Peringat Alfi sudah berwajah serius.
" Ck! (memandang kiri dan kanan) Gua tau Fi, tapi " Nanda semakin mendekatkan wajahnya pada Alfi yang refleks mendekatkan telinganya.
" Tapi kemaren, suruhan keluarga Adidjaya datang dan neror keluarga gua!" Bisik Nanda, membuat ekspresi wajah Alfi seketika terkejut bukan main.
" Apa jangan-jangan sudah saatnya! UPS!" Kurang didikan, si Alfi malah keceplosan.
Di balik dinding, tepatnya di ruang guru DPIB. Ryou yang hendak mengambil absen para murid seketika menjeda keinginannya dan berganti menatap pantulan wajah Nanda dan Alfi dari balik jendela.
" Hmmm" Smirknya, menatap perdebatan kedua siswa itu.
"Apa sudah di mulai? Cepat sekali" Gumamnya dan langsung berlalu pergi membawa absen.
"Here we gooo"
...Tbc...