All For Dreams

All For Dreams
E



"Ron, lu bener-bener dah." Nanda berjalan lebih dulu, mukanya lesuh dengan gurat ketakutan, sementara Feron di belakangnya hanya berjalan santai seraya mengunyah permen karet Favoritnya.


"Kenapa? Gua emangnya lakuin apa sampai lu Kata-katain?"


Nanda langsung berbalik, ucapan acuh yang di berikan Feron sukses membuat Nanda langsung membalikkan badannya hanya untuk sekedar menatap wajah tidak perduli itu terpampang jelas tengah memandang kesembarang tempat.


" Apa? " Tanya Feron yang langsung melirik Nanda dengan acuh.


"Aaaahhhhhuaaaaaahhhhhhhhh!!!!!" Pekik Nanda tanpa sadar langsung menendang masa depan Feron.


Teng......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...All For Dreams...


...E...


.......


.......


.......


Hari ini perasaan gua benar-benar buruk, kayaknya lewat depan halaman rumah Afni bakal buat semangat gua kembali.


Inner Feron semakin melajukan motornya di antara derasnya rintikan hujan yang membasahi aspal jalanan.


Sesampainya di persimpangan rumah Afni, bukannya melihat sang sport system, Feron malah melihat siluet ayahnya tengah memandangnya tajam dengan sebatang rokok di antara belahan bibirnya.


Treennggg.....


Ckitt...


" A-Eh... Bapak?"


Tiba-tiba saja Ryou muncul di depan Feron.


"Oh, hy Feron. Sudah lama ya tidak bertemu." Ucap Ryou dalam senyum simpul.


Sementara Feron di tempatnya masih dalam kondisi mencerna kejadian, ia kembali memandang ke samping, tempat di mana ia melihat sosok sang ayah, namun nihil.


"Apa gua kebanyakan beban pikiran ya?" Gumam Feron bertanya-tanya.


.


.


.


"Bagaimana sekolahmu? Apa semuanya menyenangkan?" Tanya Ryou seraya tersenyum ceria menatap Feron yang juga menatapnya.


Kue muffin yang berada tepat di antara mereka bahkan tak tersentuh sama sekali oleh keduanya.


Setelah mengalami pertemuan tak terduga dengan Ryou di simpang rumah Afni, akhirnya sang mantan Walas mengajak Feron untuk singgah ke rumahnya.


Meski ini pertama kalinya bagi Feron, namun mengingat jarak antara rumah mereka berdua membuat rasa canggung Feron meluap seketika, bahkan dari tempatnya duduk Feron dapat melihat dengan jelas kegiatan bi Asih yang tengah merapikan ruang keluarga.


Kembali pada topik, Feron menatap Ryou. Acara mengupas tabir di rumah tetangga sukses membuat air muka Feron menjadi kecut tak beralasan.


Ryou menatap Feron dan muffin bergantian, mempersilahkan remaja itu untuk makan dalam isyarat kontak mata.


Namun Feron malah mengacuhkannya dan beralih menatap kakinya yang tertutupi oleh kaus kaki berwarna gelap, persis seperti kehidupannya yang suram.


Ryou sendiri yang sudah bosan pada akhirnya menepuk lutut dan memandang plafond pasrah.


Ryou membuang muka, ekspresi yang di berikan anak muridnya ini sukses membuatnya menurunkan ego "Ok, sekarang apa maumu?" Tanya Ryou menyerah, ia sudah bosan dalam posisi dan topik yang beku terus-menerus sedari 2 jam yang lalu.


Bahkan mereka sudah 5 kali membahas topik pertemuan tak terduga mereka di simpang rumah Afni, hingga Ryou bosan mendengar dan menjawabnya.


" Baiklah, aku hanya ingin bapak jujur," Feron menggantung kalimatnya, Sorot matanya yang tajam sukses membuat ekor mata Ryou meliriknya walau sesenti.


"Tentang apa?" Tanya Ryou dalam logat bosan bercampur geram menghadapi remaja labil seperti Feron ini.


"Aku ingin bapak jujur mengenai pemberhentian bapak dari sekolah sekaligus...." Feron sedikit menimbang kalimat yang akan ia sampaikan, apakah ucapan ini baik atau tidak untuk ia utarakan Feron tidak terlalu yakin, namun kalimat Ryou berhasil membuat alis mata Feron naik ke atas hingga membuat gurat halus tercipta di kening mulus.


" Hubungan kerjasamaku dengan Veiner? Hmph! Bukan urusan anak kecil, oh iya bagaimana kalau kita membahas perihal sekolahmu misalnya?" Ucap Ryou cepat dengan senyum canggung.


Feron ternganga "Aku belum tentu mengatakan itu tapi kau sudah mengambil kesimpulan demikian. Bapak sungguh membuat saya penasaran." Sorot mata Feron kini memicing curiga.


"Ah itu.... Hmmm..."


"Tapi ya sudahlah, urusan pekerjaanmu dan ayahku bukanlah urusanku, selagi aku masih dapat uang saku, apapun yang di lakukan si tua Vein aku tidak perduli, asal jangan cari ibu baru dan adik saja aku akan biarkan pantatnya itu duduk di sofa manapun." Ucap Feron acuh sambil meraih muffin yang sudah terlanjur terabaikan sedari tadi.


Anak ini sungguh bermulut frontal.


Fikir Ryou merotasikan matanya mencoba maklum dengan mulut kelewat sopan Feron.


" Oh iya,"


" Hmmm....??" Gumam Feron.


" Apa terjadi sesuatu di sekolah?"


"Apa?" Feron langsung membuat ekspresi wajah tak mengerti.


Ryou menatap Feron, sepertinya ia tidak mengetahui maksud ucapan Ryou hingga akhirnya pria blonde itu memilih untuk diam dan mengisyaratkan tangannya untuk melupakan perkataannya barusan pada Feron.


Aku rasa belum saatnya memberitahukannya pada Feron.


.


.


.


.


Keesokan harinya.


"Lu udah dapet kartu belajarnya Nand?" Tanya Feron sambil memperhatikan gumpalan awan yang bergerak lambat di penglihatannya.


"Belum." Jawab Nanda seraya menjilat es krimnya.


"Hehhh~ gak asyik, gua rugi 145 ribu ama si banci." Balas Feron melirik Nanda cemberut.


"Iye iye, kan bukan lu doang yang nasibnya kek gini. Gua juga asal lo tau."


"Iye sih, tapi kan makhluk dengan jajan pas-pasan macam gua merasakan siklus ketidak berdayaan dimana duit jajan bergantung pada selembar duit merah selama seminggu itu nggaklah mudah Nan. Dan lo harus tau kalau bensin motor juga di embankan pada kertas rapuh seperti ini. "Tiba - tiba Feron memamerkan selembar duit seharga 100 ribu tepat di depan muka Nanda.


" Lah! Itu kan lu punya dugong Afrika, bagi sinilah gua pen makan."Ucap Nanda langsung merebut uang itu dari tangan Feron.


" Eh jangan oi, entar gua bayar bensin kek mana oi! " Jerit Feron mengejar Nanda yang senantiasa berlari makin menjauh.


........


Mereka terlalu ceria sampai lupa kapan waktunya menangis dalam kehampaan.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...TBC...