All For Dreams

All For Dreams
N



"Hari ini ujian pertama gua sebelum lulus dari ni sekolah, beberapa hari lalu gua juga gak ketemu ama anak-anak yang laen. Boro-boro yang lain, si Alfi aja gua gak nemu batang pantatnya." Monolog Feron sambil bermalas-malasan di atas motor matic miliknya.


Memandang gumpalan awan putih langsung membawa Feron pada masa-masa indahnya bersama teman-teman dan sahabat. Dan juga...


Gua ampe lupa, waktu itukan Nanda ngungkapin rasa ama gua, gua jawab apa ya?


.......


.......


.......


.......


.......


...All For Dreams...


...N...


.......


.......


.......


.......


.......


Pada akhirnya Feron tertidur, lelap. Begitu lama menunggu hingga ia tak sadar akan tertidur begitu mudahnya karna mengerjakan latihan UKK hingga larut malam.


Rencananya hari ini mereka akan Ujian Nasional dan akan berlanjut pada UKK. Untuk ujian akhir semester sudah di lalui di minggu sebelumnya.


Namun sudah 2 jam menunggu, dari pukul 06.30 WIB Feron bahkan tak melihat satupun orang yang datang.


"Ini gua yang kecepetan apa emang satu sekolah janjian ujian di lapangan pelajar?" Ucap Feron di kesunyian setelah terjaga dari tidur singkatnya.


Ia memilih untuk bangkit dan duduk di depan bengkel TKJ untuk sekedar menatap pohon palm yang sudah lebat daunnya menutupi fasad depan bangunan.


"Eh Feron."


Feron menoleh, tak jauh darinya buk Reisya menyapa. Dalam keterdiamannya Feron ikut membalas dengan senyuman.


Buk Reisya duduk dengan semangat, menepuk punggung Feron akrab. Buk Reisya memberikan senyum senang dan bercerita panjang seputar hari-hari yang berjalan kepada Feron yang di kenalnya melalui ajang lomba yang menurut Feron tak jelas kabarnya.


Feron mengangguk, memberikan senyum dan sesekali menjawab omongan buk Reisya dalam semangat juga.


Tak berselang lama, setelah pembicaraan yang panjang, akhirnya sampailah pada satu ucapan yang berhasil membuat Feron mengalihkan atensinya pada buk Reisya secara cepat.


.


.


.


.


Rofftop yang indah dengan pemandangan kota yang membuat mata terpesona, Yuna menunggu.


Menunggu kehadiran Daffa yang tiba-tiba saja menghubungi dengan pesan singkat.


"Sudah lama menunggu?" Yuna langsung berbalik, menatap wajah Daffa dengan senyum penuh beban datang menghampirinya.


Yuna kaget, namun tetap berusaha tenang.


"Tidak terlalu lama, duduklah." Ucap Yuna membersihkan tempat duduk di sampingnya.


Daffa mendekat namun menolak niat baik Yuna, ia lebih memilih untuk berdiri tak jauh dari Yuna sambil menatap hamparan pemandangan kota.


Daffa menghela nafas, sesekali mengusap dada dan pada akhirnya ia berbicara "Sepertinya hubungan ini gak bisa dilanjutkan Yun,"


Dalam sepersekian detik, Yuna langsung meremat rok sekolahnya. Mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.


"Maksudnya?" Tanya Yuna sedikit gemetar.


Semua atmosfer seakan menjadi lambat dengan iringan wajah Daffa yang memandang Yuna sendu.


.


.


.


.


.


"Ya,"


"Maksudnya?" Tanya Feron tak paham.


"UKK di batalkan dan kita gak jadi UKK." Ucap Adam sambil mengemas barang-barang.


Feron langsung tepok jidat "Babi, gua udah capek dateng pagi ampe lupa gosok gigi malah gak jadi UKK. Bahlul memang." Omel Feron menendang angin kasar.


"Arrrggghhhh...." Pekik Feron dalam kesunyian sekolah tanpa makhluk yang di sebut 'siswa'.


"Eh tunggu," Feron langsung berbalik dan menghentakkan tapak kesal "Gua baru ingat, kok cuma kita berdua yang datang? Yang lain pada kemana Dam?!"


"Ehmm? Lo gak tau ya, kan berita ini udah di sampaiin buk Ariani di grup, lo lupa ya?" Ucap Adam balik bertanya.


"Buka WA grup gih, semua hal yang lo cari ada di sana, okey Fer gua cabut dulu ya byee.." Adam langsung pergi.


Feron memandang Adam dalam diam, sedikit aneh dengan pemuda itu.


"Gimana gua mau tau, paket internet aja blum gua beli."


.


.


.


.


"Dia ngucapin hal yang ngak seharusnya ia ucapin ke orang hamil muda." Gumam Vion menatap pemandangan kota Pekanbaru dalam hati yang masih tak percaya Daffa mengatakan hal seperti itu pada Yuna.


"Yah mau gimana lagi, namanya cuma J*lang." Balas Yuna tanpa beban, namun matanya yang sudah sembab kini malah dengan berani menatap Vion dalam dan tanpa gairah hidup.


Vion ikut menatap Yuna dan tiba-tiba berucap "Jangan bundir."


.


.


.


.


"Dan lo tau apa! Gua disana kayak orang tolol, sendirian melamun di depan bengkel DPIB melongo kiri-kanan dan rupanya semua orang udah tau gak bakal ada UKK gara-gara Virus kolor na."


"Corona sahabat ku." Ucap Alfi memperbaiki.


"Ya gitulah, entah kenapa yang jelas si Regas sampai loncat-loncat dan berakhir patah pinggang gegara keseleo di bathtub." Sambung Ragas santai menjelaskan perihal saudara kembarnya yang malah berakhir menginap di RSUD Bangkinang.


"Pasti dia bosan banget di sana." Ucap Theo mengasihani keadaan Regas.


"Gua gak yakin deh." Balas Ragas menatap sinis jendela yang menghubungkan dengan taman mawar.


Sementara itu....


"Makasih ya kak." Balas Regas dengan senyuman lebar.


"Anjai, gak sia-sia gua masuk RS ahhh~" Gumam Regas kesenangan.


Kembali pada Feron dkk.


"Begitulah, pasti saat ini dia senyum sendiri seperti orang gila menatap perawat-perawat muda di sana." Akhir Ragas memakan buah yang di sajikan.


"Hahahahahahahhaah...." Respon yang lainnya mendengar penuturan Ragas yang cenderung datar namun malah membuat yang lainnya tertawa.


Sementara Feron hanya dapat tersenyum dan itu langsung membuat Alfi yang berada tepat di sampingnya ikut menatap Feron.


"Lo kenapa?" Tanya Alfi.


"Gak ada," Feron langsung menatap lantai.


"Cerita aja kawan, kami siap mendengarkan kok." Ucap Theo.


Feron menatap semuanya dalam diam yang cukup lama.


"Gua masih kepikiran si Nanda nembak gua dan gua belum jawab ampe detik ini."


Semua langsung memandang satu sama lainnya.


"Trus dia ada nanyain gak sejak yang terakhir kali dia bilang begituan?" Tanya Ragas.


Feron dan Ragas saling menatap dan berakhir main mata.


"Sumpah gua jijik, ini kayak LGBT lo berdua." Kalimat Alfi menutup mata Feron dan Regas bersamaan.


.


.


.


.


"Dan ini dia nilainya. Sudah di rekap dan selesai." Ucap Ardi tersenyum senang.


.


.


.


.


Keesokan hari...


Pembagian nilai di berikan secara acak, cukup mengesankan sekali di saat gua membuka lapor besar yang memberikan kejutan tak termaafkan untuk si banci.


.


.


...Tbc...