
"Ayah" Gumam Feron.
"Apa yang kamu lakukan di kamar ayah? Bukankah ayah sudah menyuruhmu untuk tidak menyentuh kamar ini" Ucap Vein Memandang Feron dan beralih pada koper besar di depan sang anak.
Vein memasukkan kembali pistolnya, mengusir Feron menjauhi koper dan langsung menutup kembali koper itu.
"Ayah, kenapa ayah menyimpan benda-benda berbahaya seperti itu?" Tanya Feron menunjuk koper berisikan senjata api.
"Buat ngusir maling! Sekarang pergilah ke kamarmu Feron. Ayah ingin mandi dan beristirahat" Perintah Vein mengusir Feron dengan mengibaskan tangannya.
"Oo-ok?" Ucap Feron terbata, berjalan keluar kamar.
"Oh iya sapu dan-"
SWIIIIIINNGGGGG
Pluk!
Blam!!
Pintu di tutup kasar, sementara Feron di biarkan berdiri menatap datar sapu yang berhasil di layangkan Vein tepat di depan mukanya.
"Ayah biadab! Kasar sekali caranya" Nyinyir Feron menyingkirkan tangkai sapu dari wajahnya dan memilih beranjak pergi, namun sebelum langkahnya menjauh, Feron baru menyadari satu hal.
"Kenapa dia menodongkan senjata api pada anaknya sendiri?"
.
.
.
2 hari kemudian.
"Baiklah, bsok kalian berdua datang langsung ke tempat magang, nanti ibuk menyusul." Ujar Buk Sinta memberi arahan.
"Kami harus datang pukul berapa ya buk?" Tanya Nanda.
"Kita berkumpul saja di depan kantor dinas pukul 07.30 WIB" Balas buk Sinta.
"Baik buk, terima kasih" Ucap Nanda dan Feron kompak.
Mereka berdua pun berlalu pergi, tidak ada rasa ragu lagi setelah keluar dari tempat itu. Mereka berdua memilih untuk kembali ke kelas sebelum Feron benar-benar merubuhkan konsentrasi Ryou hingga kedua orang itu terjatuh dan berhujankan kertas A3.
"Aduuhhh" Gumam Ryou menyentuh kepalanya.
"Astaga, maafkan saya pak. Saya tadi tidak melihat" Ucap Feron mengumpulkan kertas-kertas itu dan langsung memberikannya pada Ryou yang mulai membiasakan pandangannya.
"Astag- keseringan ngucap itu, sekarang ganti" Jeda Feron menatap plafond.
Astagfirullah pak, kenapa muka bapak sekuyu ini?" Tanya Feron terkejut.
"Nghhh, oh itu. Bukan apa-apa, sekarang kembalilah ke kelas kalian" Balas Ryou mengambil kertas A3 dari genggaman Feron dan berlalu pergi.
"Kasian sekali ya, pasti bapak stres membimbing kelas 12" Feron memberikan pendapatnya.
"Iya, pasti stres sekali" Balas Nanda ikut menatap punggung lesuh sang walas.
.
.
.
Kantor kepala sekolah.
Cklek!
Bunyi suara pintu terbuka, di ambang pintu pak Bino menatap dengan tajam kedalam ruangannya,
Memperhatikan dua orang yang sangat ia benci itu kembali datang menghampirinya. Dulu datang dengan uang, sekarang datang dengan senjata.
"Apa yang kalian inginkan kali ini?" Tanya Bino datar, mencoba berjalan keluar namun pintu segera di kunci Robert dan senjata tak luput di todongkan. Membuat pergerakan Bino terhenti.
Ia mengalihkan pandangannya, tak ingin menatap dua orang yang kini tengah menatapnya menyelidik itu.
Robert dengan pistol yang tepat berada di tengkuk Bino, sementara Vein.....
Dia hanya menampilkan senyum culas, membelakangi Bino seraya tangannya sibuk membolak balikkan dokumen sekolah, sesekali ia juga melirik ke halaman sekolah tempat Feron dan teman-temannya tengah berolahraga.
"Bino.... (Vein berbalik) aku sudah mendapatkan persetujuan Guntur mengenai proyek ini, sekarang hanya tinggal kau" Tunjuk jari telunjuk kiri Vein pada Bino yang menampilkan gurat wajah tak bersahabatnya.
"Kau fikir aku percaya!" Bantah Bino bermuka keras, menolak percaya dengan ucapan iblis satu ini.
"Hmmm... Aku tidak butuh kau percaya padaku, apa untungnya juga kan?" Sindir Vein mengangkat kedua pundaknya. Ia kembali memandang ke halaman sekolah, menatap anaknya dalam ekspresi serius.
"Alferon Adidjaya, anak dari Veiner Abdi Adidjaya. Keturunan bangsawan terkemuka seperti kau, kenapa bisa meletakkan 'bibit' di sekolah rendahan kami ini? Apa jangan-jangan ada maksud tertentu?" Pancing Bino berusaha membuat Vein murka.
Vein hanya diam, ia tak menampilkan gekstur tubuh berarti.
Setelah beberapa saat "Bukan keinginanku, itu keinginan Sintia" Gumam Vein bersmirk seraya sedikit merogoh kedalam jasnya, dannn...
Dorr!!!!
Dor!!!
Dor!!!
Saat sampai di depan pintu ruang kepala sekolah, pak Puad di kejutan dengan kehadiran pak Ibram yang juga sama-sama baru sampai di depan pintu. Pandangan dan ekspresi pak Ibram begitu panik.
"Buka pintunya pak Ibram" Ucap Pak Puad mencoba setenang mungkin dan di angguki oleh pak Ibram yang langsung membuka pintu.
Cklek.
Bau bubuk mesiu langsung menghinggapi penciuman mereka, ruangan sebesar 5x4 m itu begitu kacau, sedikit banyaknya pak Puad beserta pak Ibram tak dapat melihat dengan jelas karna pandangannya terhalang oleh kabut dan semua perabotan yang acak-acakan dan rusak parah.
Hingga pandangan pak Ibram langsung ter-arah pada meja kepala sekolah.
"Pak Binooo~" Lirih pak Ibram berlari ke arah meja.
Disana, pak Bino terduduk tak bernyawa di kursi kebesarannya dengan tangan kiri yang memeluk erat sebuah album foto dan pistol Revolver gun di genggaman tangan kanannya yang sudah lemah. Kepalanya juga tertunduk lemas dengan darah yang mengalir deras tepat di titik yang sama di tempat kepala itu tertembak.
Pak Puad tak dapat melihat hal itu, ia memilih untuk mengalihkan pandangannya. Sementara pak Ibram langsung menelpon polisi.
Beberapa saat kemudian, Adam yang sudah gatal ingin melangkahkan kakinya ke yayasan akhirnya memilih jalan keras untuk memuaskan hasratnya.
"Ada apa tu?" Tanya Adam mendekati TKP.
"Jangan mendekat Dam, kamu bisa menghilangkan bukti nantinya" Sentak Pak Ibram menghalangi langkah Adam.
Sementara Feron dan teman-teman lainnya menyusul.
"Kenapa?" Tanya Feron menatap Adam.
"Pak Bino" Balas Adam menggantung.
"Pak Bino kenap-" Pertanyaan Feron terjeda tat-kala ia menatap jasad Pak Bino yang mulai di otopsi.
Jasad yang sudah mulai kaku itu dipindahkan secara perlahan oleh dokter forensik kekantong jenazah. Bukti berupa album foto dan senjata api jenis Revolver gun pun telah di amankan.
"Senjata itu?" Gumam Feron menatap tajam ke arah senjata yang mulai di amankan polisi.
Senjata yang gua liat kemaren di kamar ayah
"Apa pelakunya sudah di ketahui pak Ibram?" Tanya Adam memecahkan imajiner Feron.
"Belum, pelaku sangat pintar dengan merusak seluruh cctv sekolah terlebih dahulu sebelum melancarkan aksinya, bahkan tak ada satupun yang tau jika pak Bino mendapatkan tamu" Jawab Pak Ibram lesuh.
Adam kaget, namun Feron curiga.
.
.
.
Pukul 18.00 WIB.
Rumah Vein, ruang makan.
"Tumben sekali kita merayakan makan malam semewah ini" Ucap Adi tersenyum senang.
"Ini semua karna Bunda ingin kalian bahagia di saat terakhir Bunda bisa mengurus kalian" Balas Bunda Neti mencubit pipi tembam Adi yang berisi makanan.
Adi langsung menatap Bunda Neti, ia cepat-cepat menelan makanannya dan berkata.
"Jadi benar Bunda mau menikah?" Tanya Adi.
"Ehmm... (merotasikan matanya tepat memandang Vein yang serius memotong daging) iyaph! Dan di saat itu Bunda sangat ingin kalian semua untuk datang dan berada di samping Bunda" Ucap Neti tersenyum.
"Bunda bahagia?" Tanya Feron spontan. Tatapan mata remaja itu tajam menatap Neti yang langsung gugup.
"Tentu saja" Jawab Neti cepat.
"Rupanya tidak (Feron langsung menatap Vein) jadi," Feron menjeda kalimatnya. Ia memainkan pisau makan di tangan kanannya dengan penuh dendam.
"Kenapa, kenapa ayah membunuh pak Bino?" Tanya Feron, membuat seluruh bunyi yang di keluarkan alat makan setiap orang di ruang makan menjadi terhenti.
"Apa maksud kamu Feron?" Tanya Nenek Feron merasa aneh.
"Ini rumit, namun gua tau pistol Revolver gun yang di pegang Pak Bino tidaklah asing" Ucap Feron curiga. Ia semakin memutar kencang pisau makan yang ia mainkan di tangan kanannya.
Vein langsung melirik.
"Dan dua hari lalu gua gak sengaja melihat pistol dengan bentuk yang sama di kamar ayah, dan juga....
BRAK!!!!!!
Zwing!!
Tes...
Semua tersentak dengan pukulan keras Vein pada meja makan. Namun yang lebih membuat semua orang terkejut adalah perbuatan Feron yang melemparkan pisau makan hingga melukai pipi kiri Vein hingga meneteskan darah. Sementara pisau tertancap keras tepat di sandaran kursi Vein.
" Berani sekali anak seperti kamu menuduh ayah membunuh orang, dimana rasa hormat dan sopan santunmu itu? Sudah SMK, omongan masih seperti tak sekolah" Balas Vein dingin, ia menyapu bekas darah pada luka yang baru saja di torehkan Feron dengan cepat.
"Makan selesai, semuanya kembali ke kamar kalian masing-masing!" Perintah Vein mutlak.
...Tbc...