All For Dreams

All For Dreams
Si Theo



Sementara itu.


"Hallo tuan, target dalam radius aman, namun sedang di introgasi oleh seorang pria pemarah dan aneh" Ucapnya menatap kedepan serius.


"........."


"Baik tuan, akan saya laksanakan" Jawabnya mantap dan langsung menutup panggilan.


"Tuan Theo, akhirnya anda mau kembali juga"


.......


.......


.......


...All For Dreams ...


...Si Theo...


.... ...


.... ...


.... ...


Di ruang makan, hotel.


"Kepala gua kayaknya bakal amnesia kalau bapak selalu mukulnya kayak tadi huhuhu" Lirih Alfi menyentuh kepalanya yang sudah panas di pukul Geo sedari tadi ( helmnya yang di pukul)


"Biarkan saja!" Tegas Geo menatap garang Alfi yang hanya bisa meringkuk di kursinya ketakutan menatap induk singa sedang mengamuk.


"Kalian juga! Kota Pekanbaru ini cukup kejam hanya untuk anak ingusan seperti kalian! Kenapa kalian dengan mudahnya malah menyetujui permintaan aneh pak Bino ha!?" Tanya Geo mengintimidasi setiap gank Feron satu persatu.


"Dan kamu Feron!" Tunjuk Geo tepat ke muka Feron.


"Pandailah memilah perkataan, jangan langsung cus gitu aja. Kalau terjadi apa-apa dengan kalian bagaimana ha!? Kalian pasti bilang pada orang tua kalian kalau kegiatan kalian ini menyangkut sekolah kan?!" Tegas Geo marah.


Semua menunduk.


"Ck! Tidak bisa di maafkan" Geram Geo menutup mata mencoba meredakan emosi.


Sementara itu, pak Sabran yang kini asyik memakan dessert bersama pak Ibram hanya dapat memperhatikan mereka dari jarak satu meja lainnya.


Mereka berdua sedang tidak ingin ikut campur dan lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan makan.


Di temani dengan sejumput harapan jika prasmanan hotel ini berkelas.


Tak lama panggilan masuk ke smartphone pak Sabran yang sedang asyik mengunyah makanannya.


"Hallo, assalamualaikum" Mulai pak Sabran mengangkat telpon.


^^^[Waalaikumsalam pak, tadi Arin liat bapak posting foto Feron. Bapak sedang sama Feron ya?] ^^^


Tanya buk Ariani dari seberang Telfon.


"Iya ni Rin, bahkan bapak juga sama si Geo dan William yang sedang membina anak-anak hahahahaha" Tawa pak Sabran menatap mereka yang sedang diikat di kursi masing-masing oleh Ryou yang sudah dalam keadaan marah total.


^^^[Hahh, baguslah kalau begitu. Arin sedikit tenang, Arin gak nyangka aja pak Bino bisa setega itu sama mereka. Arinkan jadi khawatir pak, masalahnya Feron masihlah tanggungan Arin juga. Untung saja Ryou cepat mengambil tindakan] ^^^


Panjang lebar buk Ariani mengucapkan rasa kelegaan dari telfon.


"Oh ok. Bla... Bla..."


Mari kita tinggalkan pak Sabran dan mari ber-alih pada Nanda yang belum di sorot sedari 2 episode lepas.


"FEROOOOONNNNN BAGS*T!!!!!!!" Teriak Nanda di tengah jam pelajaran yang sedang berlangsung.


"Bisa-bisanya ni orang ngirimin gua foto dia lagi asyik-asyik sendiri! Sementara gua di suruh nyatat tugas dia!!!"


Semua menatap ke arah Nanda yang kini sudah berdiri marah di tempatnya. Smartphone bahkan sudah di genggam Nanda erat, rasa marahnya menatap foto sahabat yang bahagia sendirian membuat Nanda rasanya ingin segera menyusul dan menendang masa depannya?


"S-sabar Nan" Ucap Anwar menyentuh pundak Nanda takut-takut.


"Gimana gua bisa sabar kalau ni makhluk sebentar-sebentar udah pigi, sebentar-sebentar ngilang! Sebentar-sebentar ngirimin foto healing dan ujung-ujungnya pasti di rumah sakit atau ngak pergi sekolah dengan keadaan pincang dan muka lebam membiru!" Marah Nanda membanting kitabnya ke meja, mengekspresikan kekesalan yang sudah terkumpul di dalam benaknya yang mendidih ingin segera memukul pemuda liar itu.


"Huhhh~ sabar dong Nand, mending lo duduk dulu." Ucap Anwar menenangkan Nanda.


Setelah Nanda duduk, Anwar pun beralih mengambil duduk di tempat duduk Feron.


"Huhhh~" Helaan nafas Anwar yang kedua kalinya duduk tepat di samping Nanda yang enggan untuk melirik Anwar yang kini tengah memandangnya.


"Nan" Panggil Anwar.


"Ya" Jawab Nanda seadanya dan memilih menatap kitab.


"Lu ama Si Feron terlalu dekat ya hahahahaha" Ucap Anwar berasa-basi ikut memandang ke kitab Nanda.


"Maksud lo?" Lirik Nanda.


"Yaaah, gimana ya ngomongnya (menggaruk tengkuk) Sebenarnya tiap gua liat lu dari meja gua (menatap Nanda) yang gua harapin lo natap balik malah selalu tatapan tajam Feron melulu yang gua dapat. Kayaknya si Feron seakan ngejaga lo deh. Terbukti dari tatapan tajamnya ama gua" Lirih Anwar di akhir kalimatnya.


HAH? Apa iya?


Inner Nanda mencoba mencerna ucapan Anwar.


"Apa sih War? Jelas dikit dong kalau ngomong, gua betul-betul gak paham ni" Ucap Nanda menatap Anwar tak mengerti.


"Ehmmm (melirik kiri kanan) lu ama Feron pacaran ya?" Cicit Anwar.


.


.


.


"Jangan telfon Theo lagi pa, Theo udah bilang kan! Kalau Theo gak setuju dengan keputusan papa!" Bentak Theo pada sang papa di seberang telfon.


"Grrrrrhhhh! Trus kenapa papa suruh satpam komplek rumah kita buat ngawasin Theo si? Gak habis thinkhing aku tuh! (nge-alay) Shuttt! Shut! (memainkan jari telunjuknya memberi gekstur berhenti bicara pada angin) Shut up pa! Kalau papa masih pakai cara begitu, jangan harap Theo bakal nginjakin kaki lagi kerumah. BY!!!!!!!"


Klik!


Theo mematikan telfon sepihak, enggan mendengarkan lebih penjelasan sang Papa yang menurutnya hanya akan membuang masa liburan asyiknya bersama para sahabat seper-gank-an.


"Kak Theo!!!"


Theo langsung berbalik dalam keterkejutannya memandang seseorang yang baru saja memanggilnya.


"The-!?"


...****...


"Lain kali Fer, kamu jangan seenaknya nyetujuin apa yang dibilang pak Bino. Besok pagi, kamu dan yang lain pulang bareng bapak aja. Disini banyak ranjau polisinya. Anak sekolah seperti kalian takutnya ditangkap sebelum nyampai rumah masing-masing" Tegur Ryou menunjukkan kunci mobilnya.


Sementara Feron yang tengah asyik makan jajanan jalanan langsung menelan makanan itu dalam satu kali suapan pada mulutnya.


"Gulp! Uhuuk Uhuuk uhukk!!! (memukul dada) Ekhem! Ekhem!! Walaupun gua tau tu kunci mobil mahal, tapi sebagai anak jalanan gua menolak di bonceng mobil yang cuma muat dua penumpang. Lagian gua udah kece bawa motor sendiri kok" Tunjuk ibu jari kanan Feron pada motornya yang terparkir tepat dibelakang mereka berdua yang tengah menunggu jagung bakar.



"Wishh! Ngeri-ngeri" Ryou pura-pura terkejut menatap motor Feron, padahal perginya naik tu motor.


"Oh iya. Bapak udah lama pengen nanya hal ini sama kamu" Ujar Ryou melirik Feron kembali.


"Hmm" Balas Feron meminum colanya.


"Kamu kalau ke sekolah pake motor matic pink, kok sekarang malah bawa motor sport kece begini? Apa ada sesuatu hal yang bapak tinggalkan selama episode ini berjalan?" Tanya Ryou tidak habis fikir.


"Dasar kepo! Lagian itu rahasia gua" Ucap Feron menatap Ryou.


"Gak mungkin gua bilang itu semua supaya Nanda mau boncengan ama gua" Ceplos Feron kembali meminum colanya tanpa sadar sudah mengatakan apa yang seharusnya menjadi rahasianya.


"Oh! Trus?" Tanya Ryou mendekati Feron.


Feron melirik Ryou yang malah semakin mendekat "Ck! (mendelik tak suka) Lagian tu cewek susah banget kalau pen di ajakin jalan. Banyak banget alasannya. Dari A sampai Z, semua di komen ama dia. Sampai-sampai motor gua juga di komen ama tu cewek bar-bar. Dan berakhir gua pake tu motor matic jaman ibu gua dulu, baru tu cewek mau nebeng. Dia bilang gak suka aura holkay, si Nanda bilang alergi sama orang-"


"Minus duitnya kan" Lanjut Ryou memilih memandang api panggangan jagung dalam senyum simpul.


"Anehkan?" Tanya Feron.


"Yah, itulah sikap cewek. Susah di tebak, dan unik" Senyum di ukir Ryou pada wajahnya yang sudah lelah.


"Pasti pas gua kembali sekolah, tu cewek ngambek gak pengen ngomong," Gumam Feron menatap langit malam penuh bintang.


"Hehehehehehehe Nanda" Gumam Feron lagi tersenyum membayangkan muka kesal sang sahabat.


...****...


Keesokan paginya.


Kelas 11 DPIB.


"Nan~ Nand~ please dengerin penjelasan gua dulu dong, Nand~" Rayu Feron seraya membawa klepon, mengikuti kemana Nanda pergi (bolak balik kelas)


"Apa sih Ron!?" Sewot Nanda bolak balik mengitari meja guru.


"Nan, beb, Honey, sweatie. Lop yu! Banteng ngamuk!"


BRAK!!!!


"Auch! Sedikit lagi gua jadi dendeng kalau gak refleks ngindar" Gumam Feron menatap nanar meja yang sudah terbelah dua di sudut pintu masuk kelas.


"Naaannnn, Nih oleh-oleh buat kamu tapi jangan marah terus dong Nand. Entar ulangan agama aku gimana kalau kamunya gak mau bicara sama aku" Mohon Feron memeluk kaki Nanda, mencoba berbahasa baku pada Nanda yang malah mengambil klepon dari tangan Feron seenaknya.


"Yah berusaha sendiri dong" Jawab Nanda memandang isi bungkusan itu penuh minat.


"Jangan gitu dong Nan, kan kamu tau kalau aku payah dalam pelajaran agama khukhukhukhu" Keluh Feron langsung memeluk Nanda dari belakang, membuat siapa saja termasuk Anwar yang baru saja datang jadi mengundurkan diri untuk masuk ke dalam kelas.


Di balik pintu kelas, Anwar menggeram.


"Ck! Ngapain sih sok mesra-mesraan di pagi hari" Geram Anwar mengepalkan tangannya cemburu.


"Nand, padahal gua udah terang-terangan bilang kalau gua tertarik ama lo (melirik Feron dan Nanda yang masih dalam posisi sebelumnya) Tapi sepertinya kalau lawan gua Feron, apa gua harus mundur?" Lirih Anwar bergumam.


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


...TBC ...