All For Dreams

All For Dreams
89



"Semoga harimu sabtu terus" Ucap Nanda melirik Feron yang ikut meliriknya dalam ekspresi bosan.


Dalam kepungan hujan, hanya ada mereka berdua dan pedagang lopek bugi sebagai pemain latar. Menunggu hujan reda juga cukup membuat perut Nanda kembali berbunyi minta diisi sesuatu, ia melirik Feron yang asyik memainkan jari tangannya, ia ingin memanggil Feron, hendak menyuruh membeli namun rasa lapar yang sudah tidak tertahan akhirnya membuat ia pergi sendiri ke etalase lopek bugi dan membeli satu bungkus untuk kemudian ia bawa ketempat ia duduk bersama Feron.


"Makan Ron" Tawar Nanda meletakkan kotak lopek di antara mereka.


"Hmmm" Balas Feron mengeluarkan botol obat dalam saku jaketnya.


"Apaan tu Ron?" Tanya Nanda di sela gigitannya pada lopek bugi.


"Obat gua, kemaren dokter nyuruh gua buat konsumsi ini secara rutin karna gua yang gak betah terus-terusan di rumah sakit" Jawab Feron langsung menelan obat Pertamanya dalam tegukan pelan, dan lanjut menelan obat berikutnya secara bergantian. Total obat yang harus di telan Feron berjumlah 5 butir termasuk pil kapsul, kemudian di lanjutkan dengan minum air dan langsung mencicipi lopek yang di beli Nanda.


"Thanks lopeknya" Ucap Feron memakan makanan manis itu agar rasa lidahnya tak lagi kelu.


"Iya sama-sama" Jawab Nanda memandang ke arah jalanan yang berhiaskan derasnya hujan dan terpaan angin dingin, membuat Nanda hendak membuka jaket yang ia gunakan sebagai penutup pantatnya, namun dengan cepat di hentikan oleh Feron.


"Pake jaket gua aja, " Ucap Feron langsung melepas jaket dongkernya dan menyampirkannya pada tubuh Nanda.


"Dah kan, sekarang lo gak usah lepas jaket lo. Entar sampe rumah lo bukannya di sambut pake teh anget takutnya gua dilempar golok ama papa lo hahahahaha" Lanjut Feron tertawa, ia juga kembali ke posisi awalnya, duduk di atas meja pedagang lopek bugi. Sementara Nanda dibiarkan duduk di kursi yang ada.


Keadaan kembali diam setelahnya, hanya air hujan yang menjadi soundtrack kedua insan ini. Nanda yang mulai merasa bosan dan Feron yang mulai merasa kedinginan mencoba untuk menghangatkan diri dengan menyilangkan tangannya.


Perlu di ketahui bahwa Feron hanya mengenakan kaos polos V berwarna hitam dengan lengan baju pendek. Tidak ayal ia mulai merasa kedinginan namun gengsi untuk mengatakan.


"Eh iya Ron, Btw lu cepet banget keluar dari rumah sakit, apa cuma karna gak betah atau ada lagi ni?" Tanya Nanda menghilangkan rasa bosan di antara mereka.


"Gak ada si, cuma karna bosan aja. Lagian gua juga gak pengen lama-lama nyicipin makanan dan suasana disana" Jawab Feron masih menatap jalanan berhias derasnya hujan.


"Ooooo" Balas Nanda langsung melirik Feron.


Tatapan matanya langsung ter-arah pada garis wajah itu, ia memperhatikan setiap inci dari pahatan wajah pemuda yang berstatus sahabatnya ini. Dari garis mata yang tegas, bulu mata yang panjang, hidung mancung, mulut tipis dan senyum hangatnya sukses membuat Nanda selalu tersipu setiap kali menatap bola mata coklat itu memperhatikannya.


"Gua suka ama lu Ron" Gumam Nanda tanpa sadar.


"Apwaaaa??" Tanya Feron dengan mulut penuh lopek bugi.


Seketika Nanda tersadar.


"Aaaaa bukan, bukan apa-apa" Jawab Nanda kalut dan langsung memperhatikan kotak lopek bugi yang hanya tinggal daun pisang saja.


"Lu abisin semua ya?" Tanya Nanda datar.


"Hehehehehe... Sorry" Jawab Feron tersenyum kikuk.


"DASARRR!!!!" Teriak Nanda emosi langsung menggeplak kepala Feron dengan kotak sushi 4 tingkat, setidaknya sangat cukup untuk membuat kepala Feron benjol.


"Kan gua juga masih lapar" Lirih Nanda memegang perutnya, membuat Feron merasa bersalah.


"Tunggu bentar, " Ucap Feron berjalan pergi.


"Nah Nand, sekalian buat orang rumah juga" Lanjut Feron menyerahkan bungkusan dan sebaskom lopek bugi siap makan.


Sementara Nanda hanya dapat ternganga di tempatnya.


Ni orang memang gak pernah nanggung kalau masalah makanan.


.


.


.


"Kedinginan? " Tanya Feron di sela kebutan motornya.


"Hmmm" Gumam Nanda menjawab.


"Gua artiin itu kagak" Jawab Feron tersenyum dan semakin melajukan motornya.


Sementara itu di rumah Nanda.


"Lama sekali Nanda pulang" Ucap papa Nanda memperhatikan pekarangan rumah dalam rasa cemasnya.


Ckiiiitttt....


Tanpa basa basi, papa Nanda langsung berdiri dan membuka pintu. Menyambut kedatangan sang anak dan pemuda yang langsung menyatukan kedua tangannya dan menunduk di belakang Nanda.


"Assalamualaikum pa" Ucap Nanda menyalami tangan sang Papa.


"Waalaikumsalam" Jawab sang Papa dengan muka masam.


Namun tangannya seketika terhenti untuk melarang Feron ikut masuk ke dalam rumah.


"Mau kemana kau?" Tanya sang Papa mengintimidasi.


"Masuk om" Ucap Feron latah.


"Aku tak pernah tawarkan kau masuk kerumahku bulukku, ingat itu, " Balas papa Nanda menedekatkan wajahnya, menatap Feron tajam.


"Tak pernah ku ijinkan kau menjemput ataupun mengantar Nanda lagi, aku berjanji akan mematahkan kaki kau jika sampai ku liat kau sama anakku lagi" Lanjut papa Nanda menunjuk-nunjuk kening Feron yang hanya dapat menatap papa Nanda dalam tanya.


"PULANG KAU DASAR KELUARGA ADIDJAYA!" Usir sang Papa mengusir Feron pergi.


BLAMMM!!!


Pintu di banting begitu keras, hingga beberapa lampu rumah yang sudah padam kembali menyala. Pintupun juga tak luput terbuka seperempat, menampilkan kepala yang mencuat ke luar.


"Bukan apa-apa, bukan apa-apa" Ucap Feron mengayunkan kedua tangannya memberi gekstur 'dada' tanda tidak terjadi apapun seraya tersenyum lebar.


Setelah semua kembali menutup pintu dan memadamkan lampu, Feron langsung menaiki motornya. Memakai helm, dan memandang pintu rumah Nanda.


Gua takut si Nanda kenapa-napa deh,


(melihat arlogi)


"Gua juga salah, nganter dia ampe jam 3 subuh" Gumam Feron merasa bersalah dan langsung memukul tangki bensin motornya dalam rasa kesal kemudian menatap rumah Nanda kembali sebelum tatapan tajam sang Papa dari balik tirai jendela berhasil membuat Feron menyerah untuk berlama-lama dan langsung berlalu pergi.


Didalam rumah.


"Bukan urusan kamu Nan" Jawab sang Papa tak menghiraukan sang anak.


"PAPA!" Teriak Nanda merasa kesal di abaikan.


"APA BEGINI HASIL PERTEMANAN DENGAN KELUARGA ADIDJAYA HA!?"


Plak!!


Dengan cepat sang Papa langsung menampar Nanda hingga gadis itu tersungkur ke lantai ruang tamu.


Nanda menyentuh bekas tamparan sang papa, dan seketika langsung menatap wajah itu dengan linangan air mata kecewanya. Kalimat Sarkas hendak di keluarkan, namun kembali urung setelah Nanda melihat wajah menangis sang Papa yang berusaha di tenangkan sang mama.


Tak luput Nanda juga menatap kakak dan adiknya yang menyudut ketakutan.


"Ada apa ini?" Tanya Nanda langsung bangkit dan mengubur kalimat hinaannya pada sang Papa dan beralih menatap wajah kalut sang mama.


"Ma? Ada apa sebenarnya, coba jelasin ke Nanda kenapa?" Tanya Nanda langsung menyentuh kedua pundak sang mama yang seketika mengeluarkan air mata dengan tubuh bergetar.


"PA, ma... (tak menemukan jawaban, Nanda langsung menatap sang adik dan kakaknya yang berdiri tak jauh dari mereka bertiga) kak, kenapa?" Tak ada jawaban, Nanda langsung beralih ke arah sang adik yang seketika memeluk sang kakak erat, menyembunyikan wajahnya dari Nanda.


"Puttt" Ucap Nanda lembut, ia juga menyentuh punggung sang adik pelan seraya mengusapnya lembut.


"Ken-"


"Ada om kaya raya yang datang terus ngancam papa sama mama suruh jauhin kak Feron"Jawab sang adik cepat tanpa jeda untuk bernafas. Sementara Nanda langsung kembali menelan kalimatnya.


Nanda berbalik dan menatap sang Papa.


" Maksudnya pa? "Tanya Nanda.


Sang Papa mengepalkan tunjunya, kuku tangannya memutih. Berat untuk menceritakan ini pada putrinya.


Tapi......


Daripada Nanda yang menjadi korban berikutnya....


Beni harus.....


Mengatakannya walau berat.


Ya


Harus,


Ini


Demi putri dan keluarga.


"Sebenarnya....."


...Tbc...


...Cuplikan ep berikutnya...


" Saya memberi anda uang sebesar 100 juta (mencampakkan uang tersebut tepat ke muka Beni dan sang istri yang langsung diam) sisanya akan saya kirimkan ke rekening anda, tapi dengan satu syarat (mengangkat jari telunjuk ya menunjukkan angka satu) Jauhi Alferon Adidjaya" Ucap suara itu angkuh.


"Atau tidaaakkk...... (ia menatap kesegala arah dengan pandangan remeh) akan kusuruh bosmu untuk memecatmu dan mengusir kauu (menunjuk Beni dalam kemarahan ) beserta istri dan anak-anak kau Paham, Beni kusuma (berucap dalam intonasi mengintimidasi) aku tidak pernah main-main. Karna keluarga ADIDJAYA tidak pernah bercanda, termasuk untuk keturunannya"


.


.


.


Obat Feron ama gua


Inner hati Nanda.


.


.


.


"Dia udah gak masuk semenjak 2 hari lalu" Ucap Adam memberi tau Alfi yang langsung memegang kepala tak percaya.


"Feron"


.


.


.


"Maksud ayah apa ha!?" Teriak Feron.


"Ayah cuma mau yang terbaik FERON!"


.


.


.


"Nan, gua cinta ama lo."


"Ini gak bercandakan?"


"Gua serius Nan, kalau perasaan hati. Gua gak pernah becanda"


...EP 90...


...Who is ADIDJAYA?...