All For Dreams

All For Dreams
Reyo



Sudah genap setengah semester gua lalui disekolah ini, tapi gak ada sedikitpun hal yang membuat gua pengen buat jatuhin Feron, alih-alih memprofokasi, gua malah pengen minta maaf dan memperbaiki hubungan, Sebelum semua terlambat.


...****...


TRIIIINNGGGG!!!!!!


"Reyo"


Reyo berbalik, langkah tegasnya terhenti paksa untuk menghadap kepada 'nya' yang memanggil.


"Tuan Robert, ada apa?" Tanya Reyo menyelidik.


"Kau tau bukan, waktu yang kau miliki untuk membuat insiden ini sudah berjalan? Aku harap kau mulai sadar akan waktu" Peringat Tuan Robert menepuk pelan bahu kanan Reyo dan berlalu pergi.


"Ck! Menyebalkan" Lirik Reyo menatap tajam punggung tegap yang kian menjauh.


.


.


.


"Nan~ please lah, gua pengen martabak mini lo lagi. Di bawa napa?" Regek Feron melingkarkan kedua tangannya pada leher Nanda.


"Lu nyekek gua bodat!" Marah Nanda mengerahkan suara terakhir karna menahan cekikan Feron.


"Eh maap, sengaja" Jawab Feron melepaskan.


"Kawan saraf! Eh iya, Alfi mana? Dari tadi gak keliatan batang pantatnya" Tanya Nanda celingak-celinguk.


"Mungkin dia sedang bermigrasi ke novel tetangga" Balas Feron acuh seraya mematahkan batang poki karna kesal.


"Novel? Ah bodo amat" Balas Nanda duduk di sebelah Feron.


"Hari ini pelajaran pak Guntur. Rada gak pengen si" Lirih Nanda menatap meja guru bosan.


"Hmmm... Ntar pas pelajaran pak Puad lo juga bakal semangat. Nikmatin aja prosesnya" Imbuh Feron.


"Hmph....." Gumam Nanda malas.


Tap... Tap..


"Gua merasakan aura permusuhan mulai datang" Ejek Nanda tanpa mengalihkan pandangan dari meja guru.


"Ckk... Bisa gak lo diam aja, jangan jadi kompor meletup dulu" Decak Feron.


"Fer, gua mau ngomong sesuatu ama lo. Boleh minta waktunya?" Tanya Reyo yang sudah berdiri di depan meja Feron.


"Buat lu jam gua sibuk" Sarkas Feron tak ingin memandang.


"Gua minta tolong Ron, ini penting" Mohon Reyo mulai berjongkok.


"Sekali kagak ya kagak, kenapa si lo sewot bener" Ucap Feron mulai emosi.


Reyo hanya bisa mengeluarkan helaan pasrah. Mengajak Feron untuk berunding sepertinya cukup sulit dengan catatan pertemanan mereka yang terbilang tidaklah baik itu. Pada akhirnya Reyo mengalah, dan beranjak pergi ke kursinya.


Padahal gua cuma pengen memperingati dia.


Gumam hati Reyo.


......***......


Hari ini merupakan hari dimana Festival HUT SMK 1 akan dimulai.


Bertepatan dengan itu semua, Ryou sebagai walas yang baik dan berakhlak santun akan memberikan arahan santuy kepada para murid kesayangannya,


Atau mungkin tidak.


"Sejak kapan kelas kita berganti menjadi taman penangkaran?" Tanya Ryou Sudah pasrah di kursinya.


"Uuu... Aaaaa....uuuu... Aaaa!!!" Teriak Arman seperti monyet bergelantungan, meloncat, dan menggagu teman di sekitarnya.


"Pak Ryou, ayo ma-Uhuk!" Teriak Arman memanggil.


"Saya rasa bakat monyet kamu bisa di pakai di festival Arman" Komentar Ryou seraya menarik kerah baju sang murid yang hampir pingsan tercekik.


"Menarik, kamu bisa berperan menjadi orang gila" Tambah Ryou melepaskan tarikan, meninggalkan Arman yang sudah jatuh di lantai kelas.


"Awas jatuh Man" Peringkat Fiona dengan senyum mengejek.


"****** punya teman" Gumam Arman yang sudah terlentang lebay.


"Oh iya, Nan bantu bapak dong" Panggil Ryouichi pada Nanda yang senang-senang saja dipanggil, sementara Feron yang keheranan di mejanya hanya dapat menatap aneh.


Tumben si Nanda lengket ama pak Ryou? Udang di balik bakwan mana yang ia makan?


Isi hati Feron bertanya.


.


.


"Jadi Nanda, nanti kamu sama..." Ryou langsung memandang kembali muridnya.


"Adam, Fiona kemari" Panggil Pak Ryou. Kedua murid itu patuh dan berjalan ke depan.


"Nanti kalian bertiga buat pasukan baris berbaris ya, setiap kelas diminta untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini. Berhubung Nanda dan Fiona anggota Passus, jadi bapak agak lega karna kalian dapat mengarahkan teman-teman, selain itu suami buk Ariani juga akan membimbing, lumayan kan tentara. Dan juga untuk Adam, tolong siapkan acara drama juga, Fikri cocok itu buat pemeran, tinggal cari teman-teman yang lain buat berpartisipasi, jangan sampai kalah dengan anak MM, bapak dengar siswa yang bernama Alfin Muhammad Hasqi sangat hebat dalam pengaturan acara seperti ini. Sedangkan untuk fotografi bapak rasa kita tidak perlu berpartisipasi karna kelihatannya kalian lebih suka aduk semen ketimbang pegang camera" Ucap Ryou panjang lebar.


Heh! Kalau Alfi lawannya lebih baik gua ama Feron jadi penonton aja pas kegiatan fotografi berlangsung.


Gumam hati Nanda menyetujui ucapan Ryou.


"Sekarang kalian boleh duduk, Terima kasih ya. Nanti nama-nama teman yang ingin ikut serta di beberapa perlombaan lainnya yang ingin kalian ikuti laporkan pada bapak dan catat di kertas" Ujar Ryou mengakhiri sesi diskusi.


"Untuk hari ini bapak akan memberikan waktu santai pada kalian supaya dapat memaksimalkan kegiatan HUT SMK 1. Semoga kita menjadi kelas yang paling semarak untuk kegiatan kali ini horeeeeeeee!!!!!!" Ryou bertepuk tangan sangat meriah, disertai senyuman bahagianya yang senantiasa terpatri bangga, hingga tatapannya tak sengaja menatap Feron.


" Loh, Feron. Kamu kenapa cemberut? " Tanya Ryou mendekati sang murid paling terkenal di buku BK itu.


"Gak apa-apa pak, saya cuma lagi bete aja"Jawab Feron seraya memberikan senyum simpul.


" Oooo, jangan sering-sering cemberut ya Ron. Nanti takutnya kamu jomblo sampai tua" Petuah pak Ryou yang berhasil membuat Feron melakukan kegiatan memuntir lengan guru di depan kelas.


"Adududududuuduhhhhh... Sakit Ron sakit" Rintih Ryou.


"Saya bukan jomblo pak, tapi takdir yang memaksa saya untuk tetap sendiri"


Semua diam, Ryou diam, Nanda memperhatikan dalam diam, teman-teman juga terdiam.


"Kenapa!? Iri lo semua liat gua jomblo abadi?" Tanya Feron lebih ke arah membentak.


Semua langsung mengalihkan pandangan. Feron melepas puntiran, dan Ryou dengan suka rela merapikan pakaiannya yang sedikit kusut.


Tuk


"Jangan terlalu banyak memikirkan hal berat Feron, kamu masih muda" Ucap Ryou kemudian berlalu setelah mengucapkan salam.


"Ck, tau apa si dia?" Decak Feron kembali duduk.


"Ok ok semuanya, tetap di tempat kalian ya" Tiba-tiba suara Adam datang mengintrupsi.


Sang ketua kelas berjalan ke arah papan tulis setelah mengambil spidol dari meja Hawa.


"Baiklah, grup kita bagi. Pertama adalah grup baris-berbaris, siapa disini yang mau berpartisipasi selain Nanda dan Fiona tunjuk tangan" Ujar Adam seraya memperagakan acungan tangan.


Di perhatikan dari sudut kanan hingga sudut kiri, tidak ada yang dengan sukarela menunjuk tangan hingga membuat muka cerah Adam jadi kecut seketika.


"Aha, Reyo Reyo. Sebagai anak baru kamu harus menunjukkan partisipasi kamu untuk kelas ini, oleh karena itu kamu harus ikut" Tunjuk Adam selicin sabun di toilet.


"Ha! Kok gua si, gua kaaaa- I-iya deh" Akhirnya dengan paksa setelah hampir mengutarakan keberatan hati, Reyo pasrah menerima.


"Bagus" Balas Adam yang sudah berwajah hantu menatap Reyo hendak memakannya bulat-bulat.


"Berikutnya" Adam kembali meneliti satu persatu personilnya , tatapannya cerah menatap Feron yang juga menatapnya malas hendak beranjak.


TAP!!!


Kedua pundak Feron di genggam erat, satu dua tiga tetes keringat jangung sontak mengalir dari pelipis mulus Feron, ia melirik horor.


"KYAAAAAAAA!!!!" Teriak Feron layaknya perawan mau di jajanin.


"Saatnya, tunjukkan pesonamu" Ucap Adam menekankan setiap kata.


"P-p-pesona apa Dam?" Tanya Feron gugup hendak kabur dari sang ketua kelas.


Grap!!!


Adam semakin mengeratkan pegangannya.


"Tunjukkan pesonamu sebagai ketua gank berandalan ha.. Hahahahaha" Tawa Adam layaknya psikopat kerasukan setan.


"Aaaaa......." Gumam Feron ketakutan menatap ekspresi Adam yang sudah seperti om pedo.


Tolong gua, ibu yang ada di surga.


...***...


Prrrriiiiiittttt!!!!!


"Baiklah semuanya, setelah kalian lari sepuluh putaran. Saatnya untuk push up 50 kali. Ayo! Ayo! Siswa semua ambil posisi" Perintah suami buk Ariani semangat.


"SEMANGAT MURID-MURIDKU, BAPAK TAU KALIAN PASTI MENGUTUK BAPAK!!!! BAPAK BANGGA KOK" Teriak Ryou bahagia.


Semua siswa 11 DPIB yang ditunjuk untuk acara sontak menatap Ryou datar.


"Nasib buruk apa yang membuat gua bertemu dengannya" Gumam Feron menggelengkan kepala.


Sementara itu, Feron bukannya mengambil posisi push up seperti teman-teman lainnya, ia malah memilih tiarap di paving block tidak ingin bangkit.


"Nanda, katakan pada kakak gua, kalau gua menyayangi dia walaupun dia menyebalkan dan sering gantung ****** gua buat di jadiin penangkal petir" Ujar Feron masih tiarap menyembunyikan muka.


Sementara Nanda hanya dapat menatap jijik sang sahabat yang kelebay-annya tiba-tiba bangkit.


"Bangkit lo tong, biasanya lari dari SMA 1 ke SMK lo sanggup, timbang lari 10 putaran di lapangan upacara aja tepar lu" Caci Nanda mengangkat Feron.


"Jangan paksa gua untuk bangkit Nanda, ini tidak sama seperti lari dari SMA 1 ke SMK, ini adalah kegiatan terpaksa yang tidak ingin gua ikuti Hahhhhh....." Keluh Feron dalam bopongan Nanda.


"Ah bacot lu, Liat tu Reyo. Dia aja semangat" Tunjuk Nanda pada Reyo yang sudah memulai push-upnya.


Feron ikut melirik, dan berdecak kesal tat kala menatap air muka Reyo.


"Dia juga terpaksa Nanda. Lu liat aja sendiri" Balas Feron mencapit pipi gembul itu dengan jarinya dan mengarahkannya pada Reyo kembali.


"Eh?"


Sementara Reyo.


Kenapa dia natap gua gitu?


Gumam hati Reyo frustasi.


Ia yang di bicarakan hati Reyo kemudian beranjak dan mengambil smartphone dari kantung celananya.


"Panggil Stevan, dan buat ia menyetujui hal 'tersebut'. Sepertinya Reyo tak berguna sama sekali. Aku mau tanah ini segera menjadi milikku, entah bagaimanapun caranya. Jika Reyo tidak bisa, singkirkan secepatnya"


...TBC...