All For Dreams

All For Dreams
Tanpa



"Lu kenapa?" Tanya Yuni membuyarkan lamunan Nanda.


"Ga apa-apa" Ucap Nanda mengganti posisi menyanggah pipinya.


"Mikirin feron ya?" Tanya Yuni lagi.


"Kagak, gua lagi mikirin gimana caranya buat ni gambar di cad" Ujar Nanda menunjuk gambar hasil fotocopy di mejanya.


"Heeee~, ya udah. Kalau lu rindu ama tu anak kan bisa di chat" Balas Yuni pergi meninggalkan Nanda dimejanya.


Chat?


*****


*Jam istirahat*


"Nan, Alfi nyariin" Ucap Adam yang berada di ambang pintu.


"Suruh masuk aja" Balas Nanda masih fokus dengan layar PC.


"Masuk aja bro" Seru Adam kepada Alfi yang langsung masuk tak lupa melepaskan sepatunya.


"Widih, rajin sekali nanda triasla kita ini. Wiiiihhh... Canggih-canggih" Ucap Alfi kagum berjalan dibelakang nanda tak lupa ia meletakkan tasnya dikursi kosong sebelah Nanda.


"Lo bisa diam bentar gak!" Geram Nanda menatap Alfi yang langsung bersikap kaku sambil memandangnya.


"Lu kenapa? Oooo~ gua tau, ini pasti karna belum makan siang yok makan dulu" Ucap Alfi yang sudah membuka bekalnya dan duduk bersila dilantai.


Nanda melirik sedikit, cukup bimbang antara memilih makan atau tetap melanjutkan tugasnya. Namun namanya juga Nanda.


"Yaudah, gua bergabung" Final Nanda pada akhirnya meninggalkan tugas.


Nanda dan Alfi makan dengan tenang terkadang juga diselingi canda tawa. Namun semua itu kurang jika tidak ada Feron yang selalu bisa membawakan suasana.


"Hmmm... Gimana keadaan luka lo Fi, makin membaik? Gua denger lo menolak buat di jahit" Tanya Nanda disela makan.


"Makin membaik, gua tolak tu jahitan. Gua lebih milih dilem, biar lama yang penting gak berbekas" Jawab Alfi memelankan makannya.


"Alhasil, menu gua dari pagi ampe pagi lagi selalu diganti ama sayuran hiks.." Lanjut Alfi sedih.


"Hahahahahahhahaha kan bagus Fi, lo ganti menu kalau gak asyik telor ceplok melulu yang lo bawa" Balas Nanda mentertawai kemalangan Alfi.


"Memang babi~" Gumam Alfi.


"Apa!" Pekik Nanda.


"Tidak ada yang mulia" Jawab Alfi melipat kedua tangannya diatas kepala.


"Hahahahahahahahahahahaha" setelah terdiam beberapa saat akhirnya mereka berdua tertawa.


"Sayang sekali Feron hahahaha tidak ada hahahahaha" Ucap Nanda disela tawa.


Seketika tawa Alfi terhenti dan membuat suasana menjadi canggung.


"Feroooonnnnn~" Ucap mereka berdua sedih.


*sementara itu*


"Ibu" Feron memanggil.


"Sedang masak apa?" Tanyanya.


"Hmmm... Coba Feron tebak"


"Hmmm... Dari aromanya seperti aaaaaaaa?" Feron kecil mencoba berpikir keras.


"Ayo tebak" Ujar sang ibu kembali.


"Aaaaaaa! Sarden, benar kan" Jawab Feron semangat.


Prok.... Prok.... Prok....


"Benar sekali" Balas sang ibu bertepuk tangan.


"Yeeeeee!!!!"


.


.


.


" Hari ini ibu hanya bisa membuat teh alami tanpa gula, dan jugaaa" Sang ibu hanya bisa menggarukkan kepalanya.


"Ibu ibu, rasa sardennya tidak enak bueeekkk" Ungkap Feron melepehkan makanannya.


"Feron! Jangan melepehkan makananmu, ibu sudah bersusah payah memasak untuk kita" Tegur Adiniata tegas memandang Feron, setelah Feron menunduk dan makan Adi kembali meminum teh buatan sang ibu dengan nikmat. Walau tidak manis Adi tetap bersikap biasa dan meminnya sampai habis.


"Kakak, apa lidah kakak tidak merasa kelat. Tehnya tidak manis looo" Bisik Feron pada sang kakak.


Plak!!!


Adiniata memukul keras punggung sang adik hingga sang adik sedikit terperosot kedepan.


"Semua makanan akan enak jika kamu bersyukur Feron, jadi diamlah dan makan dengan tenang. Habiskan makanan yang sudah kamu ambil sebelum kakak menggantungmu seperti jemuran basah" Seru Adiniata memakan sarapannya tenang.


Sementara sang ibu hanya dapat membatin dalam diam, air mukanya keruh. Sebenarnya ia tak sanggup melihat kedua anaknya seperti ini, namun apa yang harus ia lakukan. Garis kemiskinan membuat ia terpaksa melakukannya.


"Ibu, kami berangkat" Seru Adiniata memanggil sang ibu.


"Iya, hati-hati dijalan" Ucap sang ibu berjalan ke teras depan.


"Assalamualaikum" Kata Adiniata mencium tangan sang ibu.


"Abang juga bu" Seru Feron semangat berlari dan memeluk sang ibu erat.


"Nanti abang pulang cepat dan pasti bawa oleh-oleh, ibu tunggu ya" Ujar Feron kembali.


"Pasti" Jawab sang ibu tersenyum.


"Assalamualaikum" Kata Feron mencium tangan sang ibu.


"Waalaikumsalam, hati-hati ya"


Tapi...


"Ibu... Dimana? Ibu..."


Feron kecil berlari dengan semangat, sambil menggenggam sebungkus bakso tusuk yang akan ia bagi dengan sang ibu.


Namun....


"I-ibu... Kenapa tidur di si-


Tanpa disadari olehnya, Feron menjatuhkan bungkusan bakso tusuk hingga berserakan dilantai. Tanpa memperdulikan cemilan yang sudah berantakan, Feron lebih memilih berlari mendekati sang ibu yang sudah terbaring dilantai.


Darah berceceran disekitar kepala sang ibu, Feron mencoba kembali memanggil dan menepuk pelan pipi sang ibu namun tidak ada pergerakan. Feron kembali mencoba sebisa mungkin, namun apa yang ia lakukan semua sia-sia, percuma.


Hingga ia...


"TOLONG!!!!!"


"TOLONG!!!!!"


.


..


...'.'


Drrrtttt


Drtttt


Drrrtttt


"Tolong~"


"Tolong~" Gumam Feron tanpa henti.


Neti yang berada disamping Feron terus mencoba membangunkan sang keponakan.


"Feron sadar nak, Feron" Ujar sang bunda menepuk pelan pipi Feron yang panas.


"Ngghh.." Feron perlahan membuka matanya yang kabur. Pandangannya samar-samar menatap Neti.


"B-bunda? Kenapa bermuka seperti itu?" Tanya Feron bangkit dari kasur.


"Seharusnya bunda yang bertanya begitu, kamu kenapa tiba-tiba mengingau meminta tolong? Dan lagi, kenapa kamu menangis?"


"A-aku tidak ingat, aku hanya merasa sedih dan" Feron beralih mengelap pipinya yang terus mengalirkan air mata.


"Dan ingat pada ibu" Lanjut Feron.


"...."


Drrrttt


Drrrttt


"Ha?" Feron langsung beralih menggapai smartphone yang berada di nakas.


"Hallo"


^^^Nanda: Feron, lu masih sakit?^^^


" Iya, masih sakit gua. Kenapa lu nelpon? Kangen?"


^^^Nanda: Najis gua kangen, ni gua lagi kesusahan. Kasih maklumat dong^^^


"Tumbenan lu minta maklumat ama gua bia-"


^^^Nanda: Udah lu simpan aja Bacotannya, sekarang gua butuh bantuan lo masalah autocad. Bilang dengan simpel dan rinci, cepat! ^^^


Feron memandang Neti yang tersenyum dan kemudian pergi seraya memberi gestur 'lanjutkan'


Feron beralih mengambil posisi yang pas ditempat tidurnya.


"Jadi lo nelpon gua cuma buat nanya masalah autocad?! Gua pikir lo kesepian tanpa gua, padahal gua berharap lo bilang 'tanpa Feron Nanda tidak bisa hidup' atau ada drama lo ngemis cinta ama gua kek biar gua bahagia dan cepat sembuh gitu~" Monyong Feron.


^^^Nanda: Heh! jomblo lumut, mungkin emang bener ni kelas ama ni sekolah terasa adem ayem tanpa lo yang gak datang, tapi please ya please!!! Najis gua buat mencintai manusia buluk macam lu, Anwar lebih menarik ketimbang muka lecek lu. Jadi sekarang cepat bantu gua sebelum gua sleding online lu!!!^^^


"Hmmmm... Iyadeh, dasar wanita jejadian. Gak ada romantisnya, minimal buat ngibur gua yang lagi sakit pun enggan-"


^^^Nanda: FERON JANGAN CERAMAH, NGABISIN WAKTU. NTAR KEBURU PAK DIMAS MASUK!!!^^^


Dan berakhir Feron yang menjelaskan dan Nanda yang memberi tau pokok permasalahan. Waktu berlalu begitu cepat, dengan dua remaja yang saling berbicara melalui teknologi modern.


*****


" Dua hari berlalu begitu cepat, rasanya badan ini enggan untuk bangkit dari kasur nan nyaman" Ujar Feron mengeluh.


"Gak usah ngeluh Feron" Ucap Ryou dan Nanda kompak menatap Feron malas.


...TBC...