All For Dreams

All For Dreams
Chapter bonus



Pertama:


Hari UTS.


UTS di smk 1 memakai metode seperti ujian akhir semesternya, dimana guru pengawas bukannya guru yang ahli dalam bidang pelajaran yang diawasi.


Tapi, apakah itu berlaku untuk guru ini?


******


"Sekian, terima kasih semuanya telah mengikuti ujian dengan jujur dan tanpa mencontek. Siap-siap buat yang remed" Ucap guru matematika, membuat satu kelas DPIB tremor dadakan.


Tap


Tap


Tap


Setelah guru itu keluar.


"AS*WWWWW!, gua benci ulangan, UTS, ujian, remed" Teriak Arman dipojokan.


"Ya, gua juga" Balas Jojo yang sudah pundung dipojokan karna dia tau diri akan keremed-annya.


"Malah bentar lagi pelajaran Estimasi Biaya Konstruksi lagi" Sambung Feron berat dengan sikap kaku memandang papan tulis dengan nanar.


"Gak usah ngomong, lu buat gua pen cepat ketemu tuhan aja" Jawab Nanda yang sudah menutup muka dilipatan kedua tangannya.


"Haaaaahhhh~"


Di jam istirahat, semua siswa DPIB memilih mengheningkan cipta dikelas. Karna mereka tau, membuat contekan pun percuma untuk pelajaran satu itu.


Teng


Teng


Tong


Teng!


"Terompet sangka-kalanya dah bunyi" Gumam Bunga.


Tap!


Deg!


Tap!


Deg!


Tap!


Deg!


Tap!


"Assalamualaikum"


Bruk!!


"Loh, kenapa johanes pingsan?" Ucap Ryou menghampiri bangku siswanya itu.


"Jo, Jojo. Sadar Jo, ingat hutang lu ama gua Jo, ingat!!!" Teriak Arman mengguncang bahu Johanes dan sempat-sempatnya ia menampar Johanes.


Sementara Ryou yang hendak menghampiri hanya bisa diam ditempatnya, menatap sandiwara receh itu sebenarnya ia bosan namun karna tuntutan pekerjaan, sifat asli harus di kebelakangkan.


"Aaaa.. Hahahahahahahhaha, yaampun kenapa sampai pingsan begini Jo? Man, Johanes belum makan ya?" Tanya Ryou.


"Belum pak, karna terlalu memikirkan ujian" Ucap Delima.


" Kami semua hampir tidak makan" Ujar Adam.


Ryou hanya bisa menggelengkan kepalanya heran memandang satu persatu muridnya.


Sementara dibangku depan, Ryou dapat melihat pandangan bosan yang terpancar dari ekspresi Feron.


Setelah melihat kejadian receh itu, Feron malah memilih mengajak Nanda mengobrolkan sesuatu yang tidak dapat dikupingi Ryou karna masalah Johanes yang harus diselesaikan secepat mungkin.


"A-" Ryou malah menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal melihat muka Johanes.


"Biar saya saja pak, bermumpung Tika tadi minjamin saya minyak angin maka sekalian aja" Ucap Fadli mengambil alih.


Fadli berjongkok menghadap Johanes yang pingsan.  Menuangkan setengah botol minyak angin di kedua telapak tangan dan mengosokkannya ke-kedua tangan kemudian membaluri seluruh muka Johanes dengan minyak angin yang sudah menyatu dengan tangan Fadli.


"Bangun gak lo! Gua tau lo cuma pura-pura supaya kagak ujian kan! Bangun" Geram Fadli mencongkel hidung Johanes dengan jari yang sudah berlumuran minyak angin.


"Hwaaaaa...... Pedes woy pedes!! Iya iya, gua bangun Fadli, iya gua bangun. Jangan congkel lubang hidung gua lagi sama jari neraka lo" Teriak Johanes bangun.


Ajaib, Johanes langsung bangun, dengan tangan yang gesit membersihkan hidungnya.


"Anj*r, rasanya nano-nano" Komentar Johanes.


"Hmmm.... Jadi itu masalah kamu Jo. Kamu gak pengen ujian ya?" Tiba-tiba muka Ryou menjadi menyeramkan.


"Gulp.."


"Selamat siang pak Ryou"


"Selamat siang, ada apa pak Rizki?" Ryou mengalihkan atensinya menatap kearah sumber suara, disana berdiri Rizki guru pelajaran yang sedang di awasi Ryou saat ini.


Dalam rangka apa pria ini datang?


Untuk menyikat habis rasa penasarannya, Ryou memilih beralih menghampiri Rizki yang sudah menunggu di ambang pintu.


"Ada apa pak?"


"Entar kalau ada..... Bla.. Bla... Bla..."


Semua siswa DPIB mencoba menjamkan pendengaran mereka, namun nihil.


"Ngapain Ron?" Tanya Ryou.


"Lu berdua ngomong macam semut njir, gak kedengeran" Balas Feron.


JDAK!


Dan pada akhirnya Feron duduk anteng di mejanya dengan kening yang sudah membengkak.


"Aduhhhh..., nyut-nyutan" Protes Feron  pada Nanda yang dongkol mengompres bengkak tersebut dengan sapu tangan miliknya.


"Makanya kalau mau dialog tu liat tempat, jangan ngoceh didepan objek go*lok" Geram Nanda tanpa sadar menekan benjolan Feron.


"Aw awawawawa...."


"Ok, selamat mengawas Ryou, sampai jumpa"


Akhir pak Rizki pergi.


***


"Hadeuh, nah baiklah saya akan membagikan kertas ujian bayangan ini walaupun kertasnya bukan kertas bayang"


"Garing an*jir!" Celoteh Feron.


*Sesi ujian berjalan dengan hening, dan dingin hingga Ryou yang melihat anak didiknya jadi malas ditempat*


"Oh ya ampun"


Ryou beralih beranjak dari kursinya, berjalan ke meja Fiona dan Iis.


"Bapak pinjam kertasnya is" Izin Ryou mengambil kertas soal Iis.


"Hmmm...., baiklah. Kalian tidak paham nomor berapa?"


"SEMUANYA"  Jawab satu kelas kompak membuat Ryou seketika drop ditempat.


Ia memilih memijat pangkal hidungnya heran, sudah hampir 1 jam dia memandang anak-anaknya, namun dari bukti kertas yang ia lihat, hanya goresan angka tak jelas yang tercipta.


Sungguh heran, apa yang mereka pelajari sebenarnya?


Inner Ryou heran.


"Baiklah, karna bapak baik. Maka bapak akan memberikan jawaban dengan gaya"


Ryou mengambil pena dari sakunya dan mulai menggoreskan sesuatu di kertas soal itu. Tidak perlu waktu lama, kini seluruh kertas penuh dengan coretan.


Ia memilih mengambil smartphone dan Memotret kertas penuh coretan tersebut.


"Bapak sudah membagikan jawabannya di grup kelas kita, silahkan isi dengan bijak"


Seketika seluruh wajah siswa DPIB cerah menyaingi cerahnya cahaya matahari.


Namun keceriaan itu seketika sirnah setelah melihat tulisan abstrak di layar smartphone masing-masing.


Ryou kembali duduk nyaman, mengambil sebuah kertas dan mencoret isinya, menuliskan sepatah dua patah kata didalamnya tanpa merasakan aura kesal yang sudah memenuhi ruangan kelas tersebut.


Sekarang ia menulis keluhan.


***


Beberapa hari berjalan, kini tibalah ujian terakhir.


"Ujian pelajaran bapak Ryou, kira-kira bagaimana ya isi ujiannya?" Celoteh Nanda yang malah asyik mengaduk-aduk  makanannya hingga mirip seperti muntahan sapi ketimbang makanan layak untuk manusia.


Sementara Feron dan Alfi hanya bisa mengernyit melihat tingkah Nanda yang membuat selera makan mereka hilang.


"Ehhmmm... Menurut gua si, pasti kamp*et Ryou itu bakal tulis soal abstrak se abstrak dia-nya. Coba lu bayangin aja kunci jawaban kemaren, masak dia nulis bahasa Rusia. Itupun di campur ama bahasa Kanada, sumpah gak ngotak. Seluruh kelas diajak tour bahasa ama tu satu guru gila" Caci Feron masih tak terima dengan perlakuan Ryou.


Feron benar-benar meledak jika menceritakan kejadian beberapa hari yang lalu itu, sungguh ia tidak habis pikir dengan guru pertukaran yang sifatnya gaje itu.


"Hahahahahahha, justru itu menyenangkan. Kalian adalah kelas beruntung yang bisa mendapatkan guru seperti pak Ryou itu loh, bahkan buk Desi saja selalu menceritakan soal kepintaran walas kalian. Seharusnya kalian mulai menyalin ilmunya" Saran Alfi bijak, membuat Feron menatap heran pada Alfi.


" Apa? " Tanya Alfi memandang Feron.


"Gak nyangka gua kalau lu bisa ngomong kek gitu, habis kejedot apaan lu tadi Fi?" Ucap Feron balik bertanya.


Sementara Alfi hanya menatap Feron dan Nanda bergantian.


"Ah! Bodo amat" Ujar Alfi mengalihkan atensinya malas.


...*Waktu uts pun dimulai*...


Semua kertas soal telah diberikan.


"Atas permintaan pak Ryou sendiri, soal boleh dibuka setelah 1 jam waktu berjalan" Ucap pengawas tersebut.


Semua murid hanya bisa menatap lembar soal yang terbalik itu dengan heran, mencoba mencuri pandang pun sulit bagi mereka, karna pengawas saat ini dikenal dengan ketajaman penglihatannya.


*Ngintip dikit ah.." Gumam Johanes mencoba mengangkat lembar soal tersebut.


TLAK!!!


Johanes spontan terjungkal, pengawas tersebut dengan gesitnya memukul meja hingga membuat lembar soal itu kembali tertutup rapat di meja.


"Mengintip berarti di kick dari kelas" Ucapnya penuh penekanan.


"Baik pak" Jawab Johanes gugup.


1 jam berlalu, seluruh murid sudah boleh membuka lembar soal.


Dan......


"Wanj*r" Teriak semua siswa syok.


...End...