
"Hi semuanya, assalamualaikum dan selamat pagi bagi kita semua. Hari ini bapak akan kembali melanjutkan pelajaran terdahulu kita, yaitu mengkaji sambungan-sambungan yang terdapat pada kuda-kuda kayu. Dan pertama sekali...." Ryou langsung mengalihkan pandangannya pada kursi Fadli dan Adrian.
" Fadli, menurut kamu kanapa kuda-kuda kayu itu mempunyai sambungan-sambungan yang beragam? " Tanya Ryou mendekati kursi siswanya yang langsung lirik kiri-kanan meminta pertolongan.
" Eeeee..... Anu.... Itu pak????" Fadli tanpa sengaja melirik kearah Feron yang juga meliriknya.
"..........." Gerak bibir Feron memberi jawaban, Fadli mengangguk paham dan langsung mengalihkan pandangannya pada Ryou.
"Sambungan di perlukan karna kayu di Indonesia ini hanya memiliki panjang maksimal 4 meter pak, (melirik Feron dengan cepat) dan misalkan lebar sebuah rumah itu sepanjang 12 Meter untuk rumah type 36 saja sudah kurang, jadi dibutuhkan sambungan sebagai penyatu dari kayu tersebut, dan salah satu contoh sambungan kayu adalah Sambungan bibir miring dengan kait {dada tegak} dimana ia menyatukan 2 atau lebih kayu untuk balok tarik yang Berfungsi untuk menahan gaya horizontal yang disebabkan oleh gaya yang bekerja pada kaki kuda-kuda. Begitu pak menurut saya" Terang Fadli panjang lebar.
Ryou melirik Feron yang berada di belakangnya, Feron langsung menghadap kedepan dengan kilat, namun Ryou sangat hafal dengan semua sikap murid-muridnya, jadi...
"Hohoho, benar tapi masih kurang tepat penyampaiannya" Balas Ryou menutup Feron dengan badannya agar tidak dapat memberi jawaban lagi pada Fadli.
Ryou mengulum senyum penuh arti "Baik, berikutnya Adrian"
"HA! Apa pula pertanyaan bapak pada saya yang tidak tau apa-apa ni?" Tanya Adrian tersenyum lebar.
"Hehehehhehe, pertanyaan paling simple saja kok Adrian" Balas Ryou ber-smirk seraya mendekati Adrian.
"Jawab pertanyaan bapak secara cepat, sebutkan minimal 3 sambungan pada kuda-kuda kayu" Seru Ryou memelototi Adrian.
"Aaaaaaaaaaaaaaa???" Adrian langsung kicep.
"Anu pak..." Ucap Adrian terbata.
"Teng tong! waktu menjawab habis" Ucap Ryou kembali berjalan kedepan.
"Feron! Jika kamu merasa ingin menjadi superstar sebaiknya kamu tidak terlalu jauh" Sinis Ryou melirik Feron yang langsung terkejut dipelototi seperti itu.
"Oh ya, dan juga" Ryou kembali berjalan dengan senyumnya.
"Feron, nanti tolong datang keruang BK, ada beberapa hal yang harus saya sampaikan pada kamu" Ucap Ryou.
"Soal apa?" Balas Feron beralih melirik Nanda.
****
Jam istirahat.
Nanda ragu ingin menegur Feron yang hanya memandang smartphonenya malas. Niat hati ingin memperbaiki susasana malah kini Feron menatapnya dengan pandangan datar.
"Nan, Anwar putus ama Denada" Ucap Feron seraya menyunggingkan smirk dendam.
"HA?" Nanda terkejut bukan main, tumben sekali pembicaraan langsung dipusatkan pada Anwar.
"Lo gak gak senang gitu?" Tanya Feron lagi kini dengan smirk andalannya.
Sekilas Nanda dapat membaca gurat kecewa dari ekspresi itu, namun apa mungkin?
"Jadi?"
Tringggg... Tringggg......
"Ya, Hallo?" Ucap Feron menjawab telfon.
"HAH? Bodoh amat" Jawab Feron langsung men-silent smartphonenya.
"Siapa?" Tanya Nanda pada Feron.
"Biasa, panggilan dari BK" Jawab Feron santai.
"Lu kenapa lagi si?" Tanya Nanda dengan senyuman mengejek.
"Macam lo gak tau aja kalau pak Ibram punya mata dimana-mana, Ini masalah pertandingan lo kemaren kal-" Balas Feron tercekat oleh kedatangan pak Puad.
"Nanda dan Feron, silahkan ikut bapak keruang BK!" Perintah pak Puad tiba-tiba datang dan malah hanya menyeret Feron yang masih terkejut bukan main.
"Gak adil woy!!!" Teriak Feron yang kembali sadar dari keterkejutannya dan mencoba menyesuaikan langkah dengan pak Puad yang menyeret kerah bajunya kuat sementara Nanda hanya mengekor dari belakang.
******
Diruang BK
Pak Sutejo garuk-garuk kening, pak Puad pura-pura sibuk, pak Ibram pura-pura melihat lapangan Takraw.
Sementara Ryou kini tengah memandang Feron yang tengah di omeli sang ayah dengan ekspresi tersenyum pasrah.
"Mau berapa kali lagi kamu buat masalah ha!?" Geram Vein menjambak rambut gondrong Feron.
Sementara, Nanda, Regas, Ragas, Theo, Lulba, Stevan, Alfi, Bagas, Desta, dan Robi hanya dapat menunduk seraya mencuri pandang melihat sang ketua di aniaya malaikat maut.
"Aduh! Aduh! Jangan jambak rambut yah, aduh! Aduh! Ampun!" Mohon Feron mencoba melepas jambakan sang ayah.
"Kamu harus di kasar dulu baru mau dengar, kalau ngak masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Selalu begitu!" Marah Vein menarik kerah baju Feron hingga sang empunya sampai terangkat cukup tinggi.
"KAMU MAU JADI PREMAN HA!? MENGAJAK ANAK-ANAK REMAJA LAIN MENGIKUTI LANGKAH JELEK KAMU! KALAU MEREKA KENAPA-KENAPA BAGAIMANA HA!? BAGAIMANA JIKA KEJADIAN TEMANMU DITIKAM TERJADI LAGI HA!? KAU LUPA KALAU AYAH TIDAK MENGIJINKANMU PERGI KE GOR!? KAMU MELAWAN DAN PERGI JUGA KAN? SEKARANG KAMU MEMBAWA KABAR JELEK LAGI! KAMU SOK KUAT, BERKELAHI LAGI! " Teriak Vein benar-benar murka.
Semua terkejut dan langsung menatap bukan lagi melirik.
"Jangan mengintrupsi orang tua! " Marah Vein menatap Alfi sinis.
Alfi langsung pundung dan kembali menunduk.
Informasinya salah
Inner semua gank Feron termasuk Nanda kompak.
Tok.. Tok.. Tok...
Semua memandang ke ambang pintu.
Disana pak Bino yang dipandang semua orang langsung pundung dan berniat mundur, namun mengingat ia mengantarkan wali murid, ia mencoba untuk berani kembali.
"Mohon maaf pak, orang tua dari beberapa murid datang untuk menghadap" Ucap Pak Bino takut-takut memandang Vein yang sudah menatap marah pada pak Bino yang mengintrupsi kegiatannya mendisiplinkan anak.
Kini ada Hermantino sebagai wali Regas dan Ragas, Beni sebagai wali Nanda, dan beberapa wali murid lainnya yang sudah mengisi ruang BK berukuran 5x5 Meter itu.
Sementara Vein masih berdiri dan mencengkeram kerah baju sang putra dengan beberapa darah yang sudah mengotori baju putih abu-abu dan juga wajah Feron yang sudah lebam dengan darah kering dimana-mana.
Saat sampai ke ruang BK, Feron langsung menerima banyak pukulan dari Vein yang sudah menunggu lama kehadiran sang putra hingga saat ia melihat siluet wajah Feron, rasa ingin membinasakan sang anak muncul tanpa sebab.
Vein yang menerima kabar bahwa sang putra kerap kali tawuran dan perang gank langsung membakar rasa kesabarannya hingga membuat sang anak pincang rasanya masih belum cukup, apalagi informasi ini ia dapatkan dari Pak Sutejo yang tiba-tiba jadi cepu.
"Ck!!" Gumam Vein langsung melepaskan cengkramannya dari kerah baju sang putra dan memilih untuk menghidupkan rokok mentholnya sebagai peredam rasa amarah yang semakin membuncah mendengar fakta-fakta yang ada.
Sementara Feron yang terjatuh ke lantai dingin langsung saja mengusap bekas darah diwajahnya kasar dan memandang Pak sutejo dingin, hingga membuat pak Sutejo harus dengan susah payah menelan ludah kasar.
"Jadi begini, ekhem... Anu pak Adidjaya, silahkan duduk terlebih dahulu pak, agar emosinya mereda hahahaha" Ujar Pak Sutejo tertawa canggung.
Vein menurut, ia mengambil duduk diantara Hermantino dan Bino. Ia melirik kiri dan kanannya seraya menawarkan rokoknya, namun ditolak oleh kedua pria itu sopan.
"Sst.. Nan, ini bapaknya Feron ya?" Bisik sang papa bertanya pada putrinya yang duduk tepat disampingnya.
"Bener pa, kejamkan" Balas Nanda ikut berbisik.
"Apa!?" Bentak Vein melirik tak suka pada Nanda dan sang papa yang langsung menjawab
"Tidak apa-apa papa Feron, saya hanya sedikit memberikan wejangan pada putri saya supaya tidak mengulangi perbuatan yang salah lagi" Jawab papa Nanda bijak.
"Hmph!" Gumam Vein langsung membuang muka.
*****
Setelah sesi dipanggil keruang BK tanpa alasan yang jelas, ketiga ayah itu memilih untuk duduk sebentar di Gazebo terdekat sementara para anak dipersilahkan untuk kembali kekelas.
"Hi, bukankah kau Veiner Abdi Adidjaya, teman SMP ku?" Tanya Hermantino tersenyum ramah.
"Siapa ya?" Balas Vein ikut bertanya.
"Aku Di, Hermantino, teman SMP mu itu loh, yang pernah buat kamu putus sama Lisa, ngak ingat ya?" Ulang Hermantino menepuk punggung Vein yang langsung menatap jijik.
"Hermantino? Hmph...." Gumam Vein seraya berpikir mencoba untuk membuka memori lamanya.
"AH! HERMANTINO BRAHMA!" Syok Vein langsung tersenyum culas setelah dapat mengingat siapa Hermantino.
Grap
"Lu yang buat gua putus sama Lisa kan!!! Dan lo juga yang buat gua gak bisa ungkapin rasa sama Rere, sekarang mau apa lo? Mau cium kaki gua sebagai permintaan maaf, gitu!?" Geram Vein mencengkeram kerah baju Hermantino hingga sang empunya tercekik.
"Bu-bukan begitu Abdi, sabar dulu" Mohon Hermantino mencoba mengendurkan cengkeraman Vein dan menatap Beni meminta pertolongan.
Sementara Beni hanya melihat tidak ingin ikut campur, benar-benar seperti Nanda?
**********
Ting!
From: Afni
Feron, aku mau jumpa sama kamu sore ini. Ada yang mau aku ungkapan, kamu datang ya
Chat Afni, Feron langsung menatap Nanda yang hanya bermuka gusar menatap papan tulis.
Luka di wajah Feron sudah diobati Nanda, bahkan Nanda meminjamkan sapu tangannya pada Feron sebagai alat pengompres luka saat ini.
"Nan, habis pulang sekolah ikut gua kesuatu tempat ya" Ajak Feron menarik tangan Nanda yang menopang pipi gadis itu hingga ia terpaksa memandang Feron yang menampilkan senyum lebar.
"Kemana?" Tanya Nanda pura-pura cuek mencoba melepas genggaman Feron pada tangannya.
"Gak usah tanya, gua juga gak terima penolakan, pokoknya lo harus ikut gua habis pulang sekolah ini, titik! " Titah Feron mencengkeram kedua pipi Nanda, mencegah gadis itu supaya tidak mengalihkan pandangannya dari Feron.
"Cih! Gua bukan babu lu" Ucap Nanda sinis.
"?"
...TBC...