All For Dreams

All For Dreams
Theo Story (Bagaimana gua dan mereka berdua bertemu)



...All For Dreams...


...Theo Story...


...(Bagaimana gua dan mereka bertemu)...


.............


.......


.......


"Gua ama Alfi gak butuh, kita emang sering cosplay jadi pengemis supaya ngurangin rasa malu orang tua kok, jadi lo gak usah kasihan karna kita belum Yatim" Ucap pemuda tengkurap dengan pandangan tajam menatap gua agar gua mau mengambil kembali uang yang ia sodorkan.


Dan tanggapan gua hanya bisa membatu di tempat.


"Ape!?" Tanya gua menaikkan satu oktaf nada suara dengan mata menatap aneh kedua makhluk yang mukanya pen mati.


"Kita emang sengaja pen tampil beda supaya gak di suruh lari 10 putaran ama pak kubur- eh, pak bram- pak tukik, pak... pak... Pak siapa sih Ron, anten gua rada korslet pas tu orang nyebutin harga dirinya" Ucap pemuda malas menarik-narik kerah baju pemuda tengkurap.


"Pak Sutejo Fi-"


"PAK IBRAM GOBLOG!! LAGIAN DIA ITU PERKENALAN BUKAN NYEBUTIN HARGA DIRI, TUHAAAANNN!!! ADAKAH MAKHLUK GOBLOG MELEBIHI DUA ORANG INI!!!???" Teriak gua emosi, frustasi, dan tanpa sadar langsung menjitak kepala kedua pemuda itu, gua kehabisan infus kesabaran melihat bertapa tololnya dua makhluk Gaje ini.


"Eh? Bener, namanya Ibram" Ucap Pemuda malas senang seperti mendapatkan tempat persembunyian tante sexy.


"Hooo..." Balas pemuda tengkurap ber-oh ria.


"SMK 1 bakal hancur kalau dua orang ini lulus sekolah disini" Ucap gua tepuk jidat.


"Apa?" Tanya keduanya malah menatap langit yang cerah.


"GUA DISINI WOY, DISINI DI DEPAN LU PADA, BUKAN DI LANGIT LU PIKIR GUA UDAH MATI???!!!! Yaampun sudahlah, bosan aing mah disini, mending cari tempat sepi buat abisin makanan kucing" Gumam gua menatap aneh kelakuan mereka berdua yang Goblok gak ada faedahnya.


Tap


Tap


Tap


Tap


"Eh, tunggu dulu anak Genderuwo, kita belum saling ken-" Ucap pemuda tengkurap hendak meraih tangan gua lagi.


"GUA ANAK MANUSIA ANYING!!!!!!" Teriak gua pada dua makhluk itu yang langsung menciut di tempat seperti tertanam di lubang cacing.


"Lu PMS ya? Gimana kalau beli pembalut dulu, kata Luna pembalut malam lebih flexible pas aktifitas lagi padat-padatnya" Ujar pemuda tengkurap mencoba memberikan saran.


"KAGAK BUTUH GUA, LU PIKIR GUA GADIS APA!? GUA PUNYA BELALAI DI ANTARA ************, GAK PERCAYA LU, MAU LIAT!!!?" Teriak gua mulai membuka kancing celana.


"KYAAAAAAAAA~ Jangan bang, jangan PERKAOS sayaaaaaa~" Teriak kedua pemuda itu seperti pelakor banci pasar bawah Pekanbaru.


"Hadeuh, kenapa gua di pertemukan sama dua makhluk abstrak cam mereka? Kabur ah!" Ujar gua datar dan berlalu pergi begitu saja.


...***...


Di tengah suasana makan nan sunyi.


Di bawah pohon rindang nan suram.


Srekkk


Srekkkk


"Hmmm? Seperti ada yang memantau tapi bukan bodyguard?" Gua meluaskan pandangan dengan pendengaran yang sedikit di pertajam.


"Nghhhh.." Lagi-lagi ada suara.


"Siapa?" Tanya gua melirik kiri kanan dan langsung menutup bekal hendak kabur.


Srekkk


Sumpah, gua mulai merinding dengan suara ini.


"Masak ia hantu di siang bolong si?" Tanya gua mulai panik di bawah pohon rindang sendirian dan jauh dari kerumunan.


"Siape lu?" Tiba-tiba satu suara mengintrupsi gua.


Dengan pandangan cepat, gua langsung menatap ke atas pohon dan benar saja, disana sedang tertidur nyaman seorang pemuda plontos seperti gua dan yang lainnya.


"SIAPA LO!? HANTU? POCI? GEND-"


Tap!


Pemuda itu langsung turun dengan satu lompatan, ia kemudian memasukkan kedua tangannya pada saku celana dan melirik gua menyelidik.


"Oh, murid baru juga" Ujarnya malas sedikit mendekatkan wajahnya pada gua yang gak tau harus berekspresi seperti apa.


"Salam kenal, moga-moga kita berantem terus, bye~" Ucapnya berlalu pergi.


"Keanehan lainnya dari warga SMK 1" Gumam gua menatap sinis punggung pemuda hantu (nama samaran).


......***......


"Ekhem! Pak, salah kalimat" Bisik seorang pria bernama Ical pada pak Ibram yang langsung garuk kepala di Podium.


"Eh? Salah ya? Hmmmm, malahan bakal enak kalau mereka semua gak jadi lulus disini. Beban ngajar jadi berkurang, gaji bulanan juga cepat cair, gak perlu ngejar bibit berandal" Curhat pak Ibram.


"Tapi bapak lupa kalau ada tim penilaian dari pusat pak. Masih untung ada yang mau masuk ke sekolah bobrok kita ini lo, masak disia-siain" Bisik Ical Geram pada pak Ibram.


"Kamu benar juga, yaaaa jadi kalian semua di terima. Yak makasih dan pulanglah karna saya mau dinner sama selingkuhan" Tutup pak Ibram turun dari Podium.


Dari barisan para murid, gua cuma bisa face palm liat humor receh di depan gua. Tapi ada satu hal yang membuat gua jadi pen muntah dan ngiket tu orang di pohon angker terdekat.


"Holaaa~ Anes" Sapa satu suara yang paling gua benci melebihi makhluk banci.


"Nama gua Theo bukan Anes" Teriak gua enggan menatap mantan teman SMP.


Ia langsung berpura-pura syok hingga mengeluarkan air mata "Jahat bat si lo, makhluk ganteng lo cuekin. Entar mubazir gimana coba? (mengusap peluh di dahi) Padahal gua mau berbagi keringat pemberi ketampanan buat lo supaya muka lo bisa di kondisikan m" Ucap mantan teman SMP gua merangkul paksa punggung gua yang alergi ama dia.


"Bisa gak Lul, lu pura-pura gak kenal gua aja disini? Entar banyak mata netizen yang liat trus jail jadiin kita halaman sampul Madingkan gua yang malu jadinya minus lo" Maki gua berusaha melepaskan rangkulan Lulba yang langsung bermuka jutek.


"Sensi amat lu mac- gak jadi" Jawab Lulba mengakhiri sesi komennya setelah gua tatap nanar.


"Oh iya The, gua ada saran grup buat lo yang pastinya menatang. Lu mau ikut gak?" Tanya Lulba menunjukkan selembaran pada gua yang langsung menatapnya.


"Mari satukan hati dan raga kita dengan bergabung bersama gank Seribu Langit, Pendaftaran terbatas bagi kaum duafa. Apa-apaan ni?" Tanya gua menatap Lulba yang langsung menampilkan smirk.


"Ini gank yang terkenal itu Be*go Theo. gank yang selalu kita bicarain dan kita idolain pas masih di perut ibu itu lo" Balas Lulba menerawang jauh.


"Perut ibu?" Tanya gua bermuka masam.


"A... Anggap ae kayak gitu dah. Yang penting lu mau masuk gak? Pendaftaran terbatas lo. Lumayan juga banyak cewek cantik di sana" Ucap Lulba mencoba menghipnotis gua dengan ucapan buayanya.


"Ok gua ikut" Ucap gua tanpa sadar.


****


"Nyesal gua percaya ama lo" Ucap gua bermuka datar.


"Mana cewek cantiknya!? Yang ada cuma pria berambut panjang belum di Sampho sebulan mah iya!!!!" Geram gua menahan emosi menatap Lulba yang hanya bisa tertawa hambar.


"Tapi di brosu-"


"Lupain brosur dan liat kenyataan" Geram gua merebut brosur itu dari tangan Lulba.


"Wah, udah rame aja ni"


"Ha?" Gua dan Lulba langsung menatap ke sumber suara.


"Kenalin gua Radit Pamungkusuma Patria Sutejo Kusumo Diningrat, disingkat Darjot. Salken every body" Ujarnya memperkenalkan diri dengan tangan yang di lambai menyapa layaknya putri disney yang habis pulang kondangan.


Gua hanya bisa ternganga di tempat melihat orang ini yang jujur berpenampilan layaknya "Ngapain dia masih pake sarung ama peci?" Tanya gua pada Lulba.


"Entahlah The, tapi yang jelas bagi gua dia adalah calon panutan. Terlihat jelas dari aura penuh kemiskinannya" Ungkap Lulba lebih ke arah merendahkan.


"Lu ngina apa ngejek?" Tanya gua melirik Lulba yang masih terpana menatap bang Darjot.


"Dua-duanya si kalau boleh korupsi" Jawab Lulba semakin melebarkan senyum begonya.


"Sorry, kita terlambat. Apa acara prasmanannya udah selesai?" Ucap satu suara yang gak asing di pendengaran gua.


"Kayaknya belum, tapi kalau bener percuma gua bawa karung" Suara ini juga.


"Ragas tungguin abang dong. Abang lelah dan ingin tiarap aja" Suara lainnya.


"Pen kayang" Ucap suara pen mati.


"Fi bungkusan gorengannya tadi bilang apaan si? Kayaknya kita salah lapak. Bukannya lapak prasmanan malah lapak pesugihan yang ada" Komen suara lainnya.


Gua yang udah gatal pen ngelirik langsung aja melancarkan aksi "Kenapa mereka semua juga ikut?" Geram gua langsung memegang dahi pen balik ke syurga aja.


Tak! Tak! Tak!


"Diam-diam. Karna kalian sudah berada disini langsung saja kita mulai acara seleksinya" Ucap seorang pemuda blonde memukul kayu ke dinding kelas.


"Gak ada prasmanan ya bang?" Tanya satu suara.


"Prasmanan nunggu acara lulusan kelas 3. Sekarang lu seleksi master chef dulu supaya bisa ikut lomba renang" Jawab pemuda blonde.


"Ok bang" Dan mudahnya anak itu percaya!?


Gua langsung menyentuh kening "Kayaknya gua harus menarik kembali kata-kata gua yang setuju ikut ama Lulba kemari" Gumam gua frustasi.


.......


.......


.......


.......


.......


...TBC...