
"Karna hari ini walas kalian atau William itu sedang sibuk menangani kelas 12, jadi ibuk akan menggantikan ia dan akan membimbing kalian semua, tentunya tak luput juga buk Ariani dan salah satu tamu undangan kita, mas Rois akan memberikan beberapa wejangan dan gambaran mengenai tempat kerja dan 'sikap-sikap' yang harus kalian amalkan, PAHAM FERON!!! "
SWIIIIIINNGGGGG!!
Pluk!
Penghapus papan tulispun ikut melayang bersamaan dengan pidato buk Sinta di depan kelas bengkel. Sementara korban saat ini ditemukan sudah pingsan dengan busa di mulutnya.
" Bisa-bisanya ngupil di jam saya menjelaskan hal-hal seputar magang" Kesal Buk Sinta menyilangkan tangannya.
"Aduuhhh sakit banget" Keluh Feron mengusap kepala Bagian belakangnya yang seperti tersengat listrik.
Ia melirik ke arah penghapus yang sudah tergeletak manja di samping kakinya, Feron mengambil penghapus itu dan malah melemparkannya kembali ke arah buk Sinta, namun sengaja meleset supaya tepat terletak kembali ke tempatnya semula.
"Sorry buk, karna fash shoot dari ibuk saya untuk sementara jadi malas sopan hahahaha" Ucap Feron tertawa lebar hingga ia hampir jatuh dalam pelukan Nanda.
"Lu nape si Ron, liat tuh buk Sinta jadi kesal kan! Sekarang lu harus gimana tu? Mana dia bimbingan kita lagi" Bisik Nanda menyadarkan Feron.
"Gentong itu guru pembimbing kita? Gak salah info lu kan Nand?!" Balas Feron langsung berbalik memandang Nanda.
"Yang salah tu sikap lu tadi be*go" Jawab Nanda membuat Feron langsung Menatap buk Sinta yang seketika berkemas pergi seraya mengumpat kesal.
"Astagaaaa matilah kehidupan permagangan guaaaaaa" Keluh Feron langsung frustasi.
.
.
.
.
Jam istirahat.
Ayu keluar dengan muka kuyu dan lesuh. Sudahlah badannya kecil, kurus dan mudah sakit. Sekarang berhadapan dengan tugas menjengkelkan dari Ryouichi yang malah 100% mengambil hak atas UKK mereka kali ini. Sungguh menyebalkan.
Ia memandang ke arah ruang guru, dimana kini Gusti tengah di uji oleh Ryou. Tatapan mata Ayu sedikit iba, apalah yang akan terjadi dengan Gusti sekarang? Apa dia selamat atau tidak dari si guru iblis itu?
.
.
Di posisi Gusti.
Untuk pertama kalinya gua nyesal jadi kakak kelas.
Inner Gusti menatap kertas gambarnya yang kini tengah di periksa oleh Ryou dalam suasana gelap dan mencekam.
"Untung saja aku datang dengan cepat kesekolah ini, kalau tidak bisa hancur reputasi Arsitek jika meluluskan bibit-bibit cacat seperti kalian" Sarkas Ryou mengambil pena merah dan mencoret gambar manual Gusti di depan matanya hingga kedua mata itu membelalak tak percaya dengan perbuatan Ryou.
"Kalian sebenarnya kemaren magang apa sih!? Kenapa yang seperti ini saja tidak paham ha!?" Bentak Ryou bertanya.
"Saya juga tidak niat masuk GB (Gambar Bangunan) kok pak, ini semua karna paksaan orang tua saya saja" Jawab Gusti cepat dan takut.
"Apa!?" Gumam Ryou.
"Jadi...?" Raut bertanya Ryou berikan pada Gusti.
"Sebenarnyaaa..." Gusti mulai menceritakan kisahnya, sedikit banyak sebenarnya Ryou bersyukur. Ada salah satu muridnya yang mau berbicara dan terbuka padanya, namunnnn....
Ryou terus mendengarkan cerita Gusti, naik turun perjalanannya hingga kehidupan perekonomian keluarga. Dan dari sana Ryou agak memahami beberapa hal dan sungguh menyesal telah mengucapkan beberapa kata pedas.
.
.
Feron sendiri
"Astaga, tiga hari lagi kita magang tapi gua ngak merasa bahagia. Seakan berpisah dari tempat ini begitu berat, berpisah dengan pak Ibram, pak Puad, dan pak Dinooo hehehehehe" Ucap Feron dengan posisi tangan terikat kencang kebelakang.
Dan tiga orang yang di sebut oleh Feron hanya menatap dalam pandangan dendam.
"Justru kami sangat bersyukur kamu pergi Rooooonnnn! Bapak bersyukur sekali, kalau boleh bapak ungkapan rasanya seperti mendapatkan bongkahan emas yang hilang di telan dalamnya palung Mariana" Pak Ibram berucap dalam intonasi kesalnya.
Sementara pak Puad hanya menyetujui dalam diam dan anggukan mantap di belakang pak Dino.
"Lagian kamu ngapain si, malah buat ulah saat ingin magang. Bakar petasan dan coret-coret dinding sekolah sampai pak Ibram ikutan ke cat gini" Tunjuk pak Puad pada Pak Ibram yang masih asyik mengusap wajahnya dari cat pilox.
"Baiklah, sebagai hadiah bahwa sebentar lagi kamu ming-eh maksudnya magang, bapak akan meringankan hukuman kamu dengannnnnn....." Ucap pak Dino membuat seluruh orang di ruangan itu bertanya-tanya.
Jeng....
Jeng...
Jeng.....
"Diam lu Agus!" Bentak Feron kesal.
"Hahahahaha hahahahah, astaga hahahahahahha. Aduh perut gua keram Hend, keram hahahahahahha hahaha. Ini mah bukan Feron lagi tapi Ferinia hahahahahahahahahaha" Tawa Agus tak henti-henti menunjuk Feron yang harus memakai rok di depan umum.
Sungguh klise, semua orang tertawa bahkan Alfi sampai menutup wajahnya tak ingin mempermalukan sang sahabat tapi... Tapi...
"Buahahahahahahahahahaha" Tawa Alfi pecah, ia bahkan memukul punggung Nanda sanking tak sadarnya melihat penampilan Feron yang malah cocok dengan tubuh berotot itu.
Feron sengaja di berikan pakaian longgar plus jilbab syar'i rapi, dan dijadikan ikon hura-hura sebagai perwakilan foto magang untuk tahun ini.
"Bwahahahaha senyum dong Ron, tunjukkan rasa bahagia lo di depan kamera ini phpft!" Perintah pak Irkan berusaha menahan rasa geli di perutnya.
"Ketawa aja lo semua an*jing!" Sarkas Feron menatap seluruh orang tajam.
"Yang pfth! Yang tabah ya Feron, nanti kita ngedet habis ini ya, hahahahahahha" Ejek Regas mengusap punggung Feron seraya menampilkan senyum tampannya ke kamera.
"Ape lu bilang dugong!!!!!" Teriak Feron dannnn
Ckrek!
.
.
.
Hari minggu.
"Karena besok Bunda akan kembali, jadi untuk hari ini Bunda ingin meminta bantuan kamu Feron" Ucap Bunda Neti melempar pel dan sapu ke hadapan Feron.
"Ini?" Tanya Feron menatap dua alat bersih-bersih itu.
"Yap, bantu Bunda beberes rumah ini ya" Balas Bunda memberikan senyumnya dan berlalu pergi.
"Bersihkan semuanya Ron, jika sampai saat Bunda kembali dari pasar ada setitik saja debu maka jatah makan kamu akan Bunda transfer ke Amo" Teriak Bunda Neti dari ambang pintu utama.
"Heh? (menatap sekeliling) rumah sebesar ini gua sendirian yang harus bersihin? (memandang ke sofa ruang tv) Nenekkkkk~" Panggil Feron memelas.
"Nenek sudah tua dan renta Feron, masak kamu tega nyuruh nenek bersihin kastil ini" Balas sang nenek tersenyum ceria sekali dan hampir membuat Feron melayangkan sapunya kalau saja tak mengingat wanita tua yang sedang mengusap sayang panda gendut itu neneknya sendiri.
"Hmph!!!!! Huaaaahhhhh!!!! BAIKLAH FERON, MARI KITA BEKERJAAAAAAA!!!!!" Teriak Feron pasrah dan memilih mengencangkan suaranya untuk menarik semangat yang tersisa.
"SASAGEYO! SASAGEYO!!" Sambung sang nenek memberikan semangat seraya tertawa geli sendiri.
Beberapa saat kemudian.
Didepan pintu kamar Vein.
"Tinggal ni atu ruangan yang belum di jamah sapu bohay gua" Gumam Feron hendak memutar kenop.
Tiba-tiba sebuah imajiner Vein nyamplok di otak berdebu Feron.
"Dengar ini wahai penghuni dan beban-beban ku! Kalian jangan pernah menyentuh ataupun mengintip kamar ayah! Baik keadaan darurat ataupun saat minta transferan Dana, paham dan jelas bukan!"
Feron mengacungkan tangan.
"Ya Feron, ada yang tak jelas?" Tanya sang ayah.
"Apa itu termasuk meminta uang jajan secara nyata, maksudku seperti meminta uang langsung dari dompet tebal ayah, atau meminjam jas keren ayah sebagai bahan maling ke kantor pak Dino?" Tanya Feron.
"Ayah rasa otakmu perlu di rinso Ron, banyak kuman dan debu"
Pluk
Pluk
Pluk!!!
"Hmmmm..." Feron menimang, masuk atau tidak?
"Au rasa hmmmmm.. (mengusap dagu) Aha! Masuk saja, kan larangan adalah tantangan" Ucap Feron akhirnya memutar knop pintu, namun malah terkunci.
"Tenang pembaca, Feron bukan hanya sekedar berandalan gadungan, yang begini mahhhh hehehehehe" Feron langsung mengeluarkan penjepit rambut bunda Neti yang entah sejak kapan ia kutip.
Feron sedikit membengkokkan ujung penjepit rambut itu supaya dapat mengait.
"Ok siap, saatnya bergerak layaknya mata-mata sejati" Gumam Feron mulai mempreteli kunci kamar sang ayah hingga pintu itu terbuka.
Cklek!
"Hehehehe, gak sia-sia gua sering nonton film mafia. Rupanya ilmu mereka keguna juga ama gua" Ujar Feron berbangga hati.
Ia mulai memasuki ruangan itu, memandang ke sekeliling dan terpana untuk beberapa saat.
"Astaga, selera interior ayah benar-benar buruk" Komentar Feron memandang sekitar. Kamar itu di dominasi warna hitam dan dongker, membuat mata Feron sakit.
Di depan tempat tidur terdapat tv 90 inch, di sebelah kanan terdapat meja rias.
Di sudut terdapat lemari.
"Biasa saja, tidak ada yang spesial di sini. Tapi kenapa ayah sampai melarang aku dan Adi untuk masuk kemari?" Tanya Feron.
"Apa jangan-jangan!?" Feron langsung menajamkan penglihatannya, memandang ke segala arah dengan tampang curiga.
"Apa Vein menyembunyikan wanita malam? Hmmm, patut di curigai karna gua sering dengar suara ngebor di kamar ini" Gumam Feron mulai beranjak dari area kasur, ia memandang sebentar foto yang berada di nakas, foto mereka bertiga 5 tahun yang lalu. Ya, rupanya pria tua itu agak sedikit perhatian rupanya.
Feron kembali memutari kamar itu, hingga tanpa sadar kakinya merasakan sesuatu. Sesuatu yang aneh di bawah kolong tempat tidur.
Feron langsung tengkurap, ia mengambil smartphone dan menyalakan senter.
"Koper apa ini?" Tanya Feron mengambil koper itu.
"Wish, canggih bener. Apa ini yang seperti film budak kembar dari negri cikgu Jasmin itu? Hmmmm... Atau, apakah ini merupakan bukti bahwa aku bukan anak Vein dan sebenarnya aku adalah anak dari seorang raja di negri tetangga yang di culik Vein lalu karna sadar aku berguna ia akhirnya menyembunyikan semua bukti beserta surat adopsi palsu di koper ini? Ha! (terkejut) Patut di buka" Feron langsung mempreteli, mencoba asal kunci sandi pada koper itu.
"Sulit sekali" Gumam Feron tak menyerah, hingga.
Cklek!
"Feron memang pintar hehehe" Gumam Feron sombong sejenak.
"Baiklah, apa isi dari koper besar ini? Mari kita lih- Astaga" Feron terkejut bukan main, di dalamnya terdapat.
Klek
Feron dengan perlahan, menatap ke samping.
Moncong pistol tepat di arahkan ke kepalanya.
"Ayaaahhhh" Gumam Feron terbelalak kaget dan tak percaya.
...Tbc...