
Di sebuah Bar terkenal PKU.
Tuk!
Trrrreeeenggg... Plup
"Paman," Panggil Suara itu datang menghampiri Vein yang tengah fokus ingin mendorong bola.
Vein masih tidak bergeming, ia tengah fokus pada satu tujuan dan ia tidak akan pernah rela untuk menyia-nyiakannya.
Tuk!
Treeeengggg... Plup
Satu bola lainnya kembali masuk "Nanti kita lanjutkan" Ucap Vein pada rekan bermainnya yang langsung mengangguk setuju dan pergi.
"Hey.. Jangan abai ama gualah" Sindir suara itu jengkel di abaikan.
Vein melirik "Kamu toh Daff, bagaimana? Apa papamu sudah mengurus dokumen-dokumen yang paman minta?" Tanya Vein seraya membersihkan Kiu (stik Biliar) cekatan.
Dengan wajah yang masih jengkel Daffa memberikan amplop coklat pada Vein yang langsung tersenyum puas.
"Kau benar-benar bisa diharapkan" Ucap Vein mengambil amplop itu.
"Bagaimana dengan upah ongkirnya?" Tanya Daffa menuntut.
Vein kembali melirik, namun kali ini disertai senyum miring "Kupikir gratis ongkir, taunya masih minta COD Huft! Berapa usiamu?" Tanya Vein malah balik bertanya.
"Ck! Gua minta bayaran, bukan usia. Lo pikir gua minta kado?!" Sungut Daffa kesal.
"Hahahahahahhaha, bukan begitu nak," Vein langsung menepuk kedua pundak Daffa "Aku hanya penasaran karna sepertinya kau seusia dengan putraku" Lanjut Vein.
"Putra? Bukannya putra paman Adiniata? Dan gua rasa umurnya jauh lebih tua dari guakan?" Tanya Daffa sedikit memastikan.
Vein kini tersenyum teduh "Sekarang dia sedang magang, mungkin suatu saat paman akan memperkenalkannya padamu" Tutur Vein berjalan ke sudut meja Biliard, siap untuk memulai permainan kembali.
"Ayo bermain sebentar, nanti paman kasih ongkos minyak kalau kamu berhasil menang" Ucap Vein tersenyum miring.
"Ck! Gua negatif thinkhing kalau udah main ama makhluk tua penuh dosa" Gumam Daffa menggosok tengkuknya agak speechless.
"Hahahah dasar bocah bang*sat" Seru Vein tertawa.
.......
.......
.......
...All For Dreams...
...Tawanan...
.......
.......
.......
Geotan hanya dapat menatap dalam pada Ryou yang tersenyum miring padanya.
"Kenapa?" Tanya Ryou.
Geo hanya diam, namun ekspresi wajahnya tak dapat membohongi jika kini ia kesal.
"Kau tau, belakangan ini aku sering melihat para siswa pulang terlambat" Ucap Geo gelisah.
"Lalu?" Tanya Ryou seraya mengaduk kopinya.
"Kau tau sendiri bukan, jam pulang sekolah itu pukul 04.30 WIB. Dan sudah hampir lima kali (menunjukkan kelima jarinya) aku melihat siswa DPIB pulang terlambat. Astaga, ini sangat tidak wajar," Ucap Geo mengurut pangkal hidungnya frustasi.
"Hey! Apa kau dengar! Ini murid-muridmu loh! Setidaknya terkejutlah" Kesal Geo menatap Ryou yang tidak ada respon terkejutnya.
Sementara Ryou hanya menatap dalam diam, lebih tepatnya Ryou tak begitu mendengarkan. Ia lebih memikirkan hal yang berbeda. Seperti "Apa itu berhubungan dengan Ardi?" Tanya Ryou lagi dengan Smirk diwajah tegasnya.
Geo yang sedang frustasi langsung menatap Ryou "Benar, darimana kau tau padahal aku belum cerita sampai situ" Jawab Geo.
"Sudah ku tebak guru itu agak aneh" Ujar Ryou menatap kopi hitamnya.
.
.
.
Di sebuah rumah mewah.
Setelah menemui Vein dan berakhir dengan kekalahan telak dan harus membayar uang kompensasi, Daffa benar-benar marah dan dendam.
"Astaga, Bisa-bisanya," Hardik Daffa geram.
Sementara itu, Vion hanya dapat mengikuti Daffa dalam diam. Ia tidak dapat berbicara sepatah katapun mengingat ia yang tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Oh iya hampir aja gua lupa" Lanjut Daffa menepuk jidatnya langsung berjalan ke arah belakang rumah, melewati taman mawar dan berakhir di depan pintu tua yang sudah lapuk.
"Ngapain kita dimari Daff?" Tanya Vion.
.
.
.
Pak Ibram hanya dapat melihat dari kejauhan. Semenjak tiga hari lalu, ketika petugas PU datang membawa surat perobohan sekolah ini dan pak Ibram hanya bisa diam.
Setelah melalui perlawanan tak berarti akhirnya satu gedung yang baru saja dibangun akhirnya dirobohkan kembali secara paksa, bahkan pamplet persetujuan dari kedinasan sudah tertancap kuat didepan pamplet sekolah.
"Sekarang bagaimana pak? Bahkan kelulusan kelas 12 akan segera diadakan, tapi bukannya sibuk dengan acara, kita malah disibukkan dengan kasus perobohan sekolah" Ujar salah satu guru kalut.
Pak Ibram berbalik, menatap kearah seluruh guru yang sudah berkumpul di ruang majelis, pak Ibram tersenyum simpul "Tidak ada yang bisa kita lakukan. Sebagai bentuk penyesalan saya yang tidak dapat menghentikan upaya ini, akan...."
Semua menatap Pak Ibram serius.
"Akan (menatap plafond) mengajukan surat pengunduran diri sebagai wakil Kepala sekolah yang tidak becus mempertahankan tempat ini" Ucap pak Ibram bermuka sedih.
Apa gua terlalu berlebihan?
Inner Ryou yang baru saja datang bersama Geo yang tak tau apa-apa dengan maksud pak Ibram.
.
.
.
Sementara itu,
Alfi yang tengah serius memperhatikan layar PC seketika terkejut saat Feron menyapanya.
"ALFI!!!" Teriak Feron menghampiri Alfi di tempat magang.
Alfi yang terkejut sontak berdiri dan berlari untuk menerjang Feron, namun dihentikan oleh tangan sang sahabat yang sedang bermuka kusut.
"Kenapa Ron?" Tanya Alfi sedikit kecewa, tangannya masih menggantung diudara, siap untuk memeluk sahabat karibnya.
Feron mengalihkan pandangannya menatap bola mata Alfi serius "Sejak seminggu yang lalu, apa lo masih ingat perkataan gua?" Tanya Feron menyilangkan tangan didada.
"Apa?" Tanya Alfi langsung berpikir.
"Heish! Memang susah punya teman dengan radius kepekaan hampir mencapai nol," Keluh Feron menggelengkan kepalanya.
"Seminggu yang lalu gua nyuruh lo buat awasi Nanda kan!? Trus apa laporan lo!?" Geram Feron menuntut.
Alfi langsung berwajah serius "Heh, beberapa hari yang lalu yaaa?? (Berpikir serius) gua ngawasin dia kok, trus gak ada yang aneh, malah dia dengan sewot dan angkuhnya nyuruh gua pergi (menyilangkan tangan didada) sebenarnya gua sedikit kesal, tapi gua tetap jagain dia sampai dia ngomong 'Gak usah ikutin gua terus dasar paok!' Ck! Anjir banget. Gua langsung cuss aja pergi, dasar. Bukannya berterima kasih malah ngatain gua, dasar cewek kasar," Desis Alfi marah.
Alfi melirik Feron" Emang kenapa Fer? "Tanya Alfi.
"Sejak pagi ampe pulang magang, Nanda gak masuk. Gua jadi khawatir sama dia" Ucap Feron.
"Akh! Palingan dia sakit, kan bisa aja. Terlebih, lo gak usah terlalu perduli deh Fer, mending lo perduliin aja apa yang ada di depan lo dulu, dan jangan lupa magang cuma tinggal dua hari, kita juga harus fokus buat isi dokumen kegiatan" Nasehat Alfi.
Feron langsung membuang nafas gusar "Tapi dia kan sahabat kita Fi" Balas Feron sedikit kesal.
Sementara Alfi hanya dapat memperhatikan seraya ikut menghela nafas "Ya udah, kita tunggu sampe besok, kalau tu cewek juga gak masuk. Kita telfon orang rumahnya," Saran Alfi memberi ide seraya menepuk pundak sang sahabat "Dan kita do'ain aja dia gak kenapa-napa" Lanjut Alfi.
.
.
.
Pyuuurrrrr!!!!
"Woy bangun lo dasar pemalas" Teriak suara itu membuang baskom yang sudah kosong ke atas kepala Nanda hingga baskom terpental jauh.
"Nghhh...." Gumam suara Nanda membiasakan pandangannya.
"Ck! Dasar, hoy kampungan bangun gak lo" Sinis Yuna langsung menarik jilbab Nanda hingga sang empunya mendongak terpaksa.
"Nghh.... Kenapa gua bisa berakhir disini?" Lirih Nanda dengan suara serak.
Yuna tersenyum miring "Bagaimana mengatakannya yaaa?" Ucapnya mengusap dagu.
"Mungkin untuk menguliti lo!" Lanjut Yuna menampilkan deretan gigi putihnya seraya memperlihatkan silet tajam pada Nanda yang langsung membelalakkan mata terkejut.
"Oh! Jadi lo datang cuma buat ngulitin tawanan gua!?"
.......
.......
.......
...TBC...
.......
.......
.......