
Di Gazebo nan tenang, Theo dan Lulba tengah mengotak-atik smartphone Ryou dengan segala cara.
"Udah 29 kali kita coba buka ni kunci layar, tapi kagak bisa-bisa. Untuk yang terakhir sebelum ni smartphone mati otomatis, Theo akan berusaha! Pasti mampus! " Ucap Theo semangat.
Lulba tepok jidat, rasa jengah dengan smartphone satu ini mulai naik hingga ke ubun-ubun Lulba. Sementara Theo masih semangat untuk mencoba semua kata yang terlintas cepat di otaknya, namun saat ia ingin mengutarakan isi fikiran absurb lainnya, tiba-tiba Lulba menampar pipi Theo.
"Kalau lu coba lagi ni smartphone bukannya kebuka kunci layarnya malah kebuka isinya di tukang ponsel karna ketahuan yang buka kunci bukan pemilik smartphone" Tukas Lulba seraya menggenggam pipi Theo yang masih merah menyala.
"Lulbaaa" Ucap Theo.
"Iya Bestie~" Balas Lulba dengan senyum tampan menatap Theo dengan binar-binar kemewahannya.
"Sakit any*ink!!!"
Plak!!! Plakk!!
Pipi kiri Lulba langsung menggembung sebelah "Lu pikir gak sakit di tampar tiba-tiba hah!!?? Makan tu tamparan maut Theo!!!" Teriak Theo kesal tiba-tiba ditampar Lulba tanpa persiapan dan berakhir kini Lulba yang pundung di sudut Gazebo menahan sakit.
"Hoy Theo, ga adakah niatan lo untuk membuat pekerjaan ini menjadi lebih mudah?" Tanya Lulba dari sudut Gazebo.
"Untuk sekarang, mari kita bersusah dulu Lul baru bersenang kemudian, seperti kata pepatah negri Antartika yang terkenal itu lo" Ucap Theo bangga pada dirinya yang dapat mengeluarkan kalimat keren di saat seperti ini.
Gua anggap lu rebung aja dah
Inner hati Lulba kembali duduk di samping Theo.
"Percuma otak lu encer tapi goblok!" Sarkas Lulba memilih memandang langit-langit Gazebo.
"Lah? Apa hubung-"
"BODO AMAAAAATTT!!!" Kesal lulba mengacak kasar rambutnya, tak memberi kesempatan Theo untuk menyelesaikan ucapannya.
"Lebih baik gua hubungi yang lain" Lanjut Lulba mengetik sesuatu di smartphonenya.
"Ya udah lanjuuuuttttt" Ujar Theo kembali fokus membuka kunci layar.
Tak berselang lama Feron datang bersama Alfi, mereka berdua langsung mengambil duduk seraya memperhatikan Theo yang berusaha membuka kunci layar smartphone Ryou.
"Mana yang lain Lul?" Tanya Feron.
"Regas sama anak-anak yang lain lagi ada pengambilan nilai kejuruan di workshop jadi mereka gak bisa hadir" Terang Lulba.
"Ooo jadi gitu" Feron memilih menatap aktifitas Theo yang tidak berhasil membuka kunci.
"Theo!" Panggil Feron.
"Paan?" Theo sudah mulai jengah.
"Coba gua" Ucap Feron mengambil smartphone dan asal mengetik sesuatu dan ajaibnya kunci smartphone terbuka, Alfi dan Lulba tercengang apalagi Theo yang sudah pingsan duluan.
"Idih~ canggih juga lu Ron" Komentar Lulba memandang Feron takjub.
"Iya dong, gak macam Theo yang TKJ sogokan" Sindir Feron sadis.
(TKJ: TEKHNIK KOMPUTER JARINGAN)
"Pfffftt!!!" Gumam Alfi dan Lulba menahan tawa.
"DIAM LU PADA!!!" Bentak Theo tidak terima jurusannya dibawa-bawa.
Feron masih terkikik geli melihat reaksi Theo yang mengundang tawa tersebut.
Feron terkikik bangga "Sebenarnya gua gak sekeren yang lo bilang Lul, gua cuma pernah liat dia ngetikin passwordnya, awalnya gua pikir hobi ngintip gua gak guna, eh taunya sekarang bawa hoky" Ucap Feron berbangga hati.
"Astaga~" Gumam Theo langsung menjedukkan kepalanya pada meja Gazebo.
Feron lanjut ingin membuka galeri namun sebuah pesan mengalihkan perhatiannya.
Ps: Bapak-bapak seram.
Aku fikir kau akan pasrah atau lebih parahnya tidak peduli, rupanya kau cukup lihai untuk ukuran guru baru
Dengan cermat, Feron membaca pesan itu.
Apa maksudnya?
"Napa Ron?" Tanya Theo.
"Ngak apa-apa?" Feron kembali fokus dan membuka
galeri, namun.
"Et dah! Ini kenapa password lagi!" Ujar Feron menaikkan nada suaranya. Keterkejutan Feron malah membuat Theo tertantang kembali.
"Siniin" Ucap Theo merebut smartphone.
Theo menghubungkan smartphone dengan laptopnya yang sudah membuka software hack.
Dilaptopnya, Theo menuliskan beberapa baris kode dengan lihai.
"Enter daaaaannn~ walla" Galeri terbuka menampilkan isi dari Galeri, tanpa pikir panjang Feron langsung mencari foto bukti tersebut namun, ia tak menemukannya.
.... ...
.... ...
.... ...
Di ruang olahraga yang kosong.
Ryou yang tengah kelimpungan makin dibuat menderita dengan Stevan yang tiba-tiba mencekiknya dari belakang.
"K-kamu.....!" Ucap Ryou terbata, ia mencoba melirik Stevan yang berdiri menjulang didepannya.
"Bos mengatakan kalau tidak apa-apa melakukan cara apapun dan menyerahkan semuanya pada kami. Aku akan memakai cara ini saja khekhekhe" Stevan benar-benar serius mencekik Ryou hingga kesadarannya perlahan menghilang.
Jika aku tidak bertindak maka sekolah ini adalah kuburanku
Batin ryou.
...***...
Kunci file manager terbuka, untung saja Feron bisa menebak foto itu akan disimpan kemana kalau tidak muncul di Galeri, akhirnya Feron mengacak seluruh isi manager file smartphone tersebut hingga sampai pada satu file yang menampilkan banyak sekali gambar. Feron jadi sedikit khilaf melihat banyak foto wanita cantik, ia langsung menggelengkan kepala kuat untuk kembali fokus.
"Ini dia!" Teriak Feron semangat.
Alfi, Lulba, dan Theo kini melirik gambar yang menjadi bukti tersebut dengan seksama.
"Widih ganteng juga gua pas buka baju,bisa ikut trend Citayem nih" Ucap Lulba narsis.
"Gitu aja lo bangga, be*go!" Desis Theo.
"Ih! Heaters!!!!" Balas Lulba berpura-pura takut.
Alfi melirik interaksi Theo dan Lulba dalam kejengahan "Ngomong-ngomong, kok si Ryou bisa tau posisi kita?" Tanya Alfi, mereka semua langsung saling bertatapan.
"Tidak ada yang tidak aku ketahui tentang murid-murid kuuu" Bisik suara itu tepat di telinga kiri Alfi.
"HWAAAAAAA!!!!!" Semua kompak berteriak melihat Ryou yang sudah duduk disebelah Alfi secara mengejutkan.
"Hahahahahahha, kenapa kalian terkejut begitu?" Tanya Ryou tertawa renyah.
"Ryou Asw, siapa yg gak bakal terkejut kalau ada aura kuyang tiba-tiba nyamplok di perbincangan para pujangga pencari kebenaran seperti kami Hahh!!!" Maki Feron murka.
Benar-benar hidup seorang Feron selalu dihiasi dengan sesuatu yang aneh.
"Cacianmu benar-benar tanpa jeda, satu tarikan nafas sudah 21 kata saja" Komentar Ryou yang masih menutup kedua kupingnya dengan jari telunjuk.
Ryou memperhatikan teman-teman Feron yang sudah mengerutkan muka jengkel "Kenapa dengan ekspresi kalian? Ingin BAB kah?" Tanya Ryou polos.
"Oh iya, ini minuman kamu ketinggalan" Ryou meletakkan minuman isotonik kehadapan Lulba yang sontak terkejut.
Asw, bisa-bisanya dia bawa ni minuman lagi, apa jangan-jangan dia udah tau kalau gua yang ambil smartphone dia?
Isi hati Lulba cemas.
"Daaann... Berikan smartphoneku" Pinta Ryou pada Feron.
"Ini" Balas Feron langsung menyerahkan smartphone tersebut.
Feron memberikan smartphone yang sudah tidak memiliki aib mereka lagi, Ryou menerima benda berharganya itu dalam suka cita.
.... ...
.... ...
.... ...
Masih di Gazebo, Feron, Alfi, Lulba dan Theo kini sedang menatap Ryou yang bahkan tidak marah atas apa yang mereka lakukan padanya.
"Mon maaf pak, itu smartphonenya gak sengaja ke reset, hehehe... bapak gak ada niatan marah gitu ama saya?" Tanya Theo menyatukan tangannya seraya berusaha bersikap seimut mungkin.
Theo benar-benar niat ingin dimarahi sepertinya.
Ryou menatap datar Theo dari balik kacamatanya "Sudahlah, tidak apa-apa. Berkat kamu juga beberapa file 'sampah' jadi hilang disini" Dengus Ryou menatap Theo dengan senyum charming.
"Jadi bukan salahku lagi jika suatu saat 'dia' bertanya hehehehe" Gumam Ryou senang.
"Apa?" Tanya Feron.
Ryou melirik Feron "Bukan apa-apa"
Tidak mengerti apa yang dikatakan oleh guru satu ini. Akhirnya satu-persatu dari mereka memilih membubarkan diri dalam diam, sementara Ryou malah asyik membuka smartphonenya yang sudah bersih tanpa bertanya lebih lanjut.
Sudah dua puluh langkah berjalan "Ini aneh,"
Theo berhenti dan berbalik memandang Ryou yang masih di Gazebo, terlihat tak perduli dengan mereka yang baru saja membongkar smartphonenya, jangankan bertanya menyinggung saja tidak.
"Sepertinya ada yang tidak beres" Gumamnya lagi.
Drrrt.... Drrrtt.....
"Nomor yang tidak dikenali? Ah! Sudahlah reject saja"
Dengan ringannya Ryou mereject panggilan tanpa nama di smartphonenya yang selalu kembali menelpon dan senantiasa akan kembali diriject Ryou, sementara si penelpon sudah menyumpah serapah ingin mengirim santet saja kalau tidak ingat dosanya sudah banyak.
.... ...
.... ...
.... ...
"Ngghhh.. " Gumam Stevan menatap linglung ruang olahraga yang senyap, ia mencoba bangkit dari posisi tidurnya dimatras?
"Baik sekali dia mau menaruhku disini" Monolog Stevan mengusap tengkuknya yang berdenyut sakit.
TING!
Stevan langsung merogoh sakunya melihat sebuah notif pesan di smartphone.
Ps: +6203......
Pulanglah, bapak sudah mengobati lukamu juga. Hati-hati dijalan yaaaa
Stevan langsung meraba lukanya yang sudah diperban "Dari mana dia tau nomorku?" Gumamnya lagi.
*Flashback*
Tangan dan kaki terikat kuat pada kursi yang didudukinya "Kau yakin tidak ingin membebaskanku?" Tanya Ryou tenang.
Ryou menatap dingin Stevan yang sedang mengasah belatinya.
" Untuk apa? Khekhekhe... Ini bukan drama series Ryou, justru akan sangat menyenangkan jika melihat korban yang sadar langsung disayat sampai mati bukan?" Tanya Stevan dengan Smirk anehnya.
"Kau ini benar-benar melenceng dari perintah Feron ya" Balas Ryou mengerutkan keningnya.
Asahan Stevan memelan.
"Sedari awal gua emang gak suka ama dia" Gumam Stevan pelan.
"Hah?" Tanya Ryou mencoba bertanya apa yang sebenarnya digunakan Stevan.
Stevan berbalik menghadap Ryou "Dia selalu seenaknya, sok pintar dan berkuasa. Sudah hampir satu setengah tahun gua habiskan menjadi bawahannya namun dia ngak pernah (menunduk geram mengingat Feron) ciih!! Sudahlah" Final Stevan berjalan pelan ke arah Ryou yang langsung panas dingin menatap belati Stevan yang tajam.
Stevan mengangkat belati yang sudah ia asah ke arah Ryou yang semakin gelisah diikat kuat pada kursi yang ia duduki.
"Jadi kau iri padanya?" Tanya Ryou seraya mencoba peruntungannya mengulur waktu.
Stevan masih berjalan, memilih bungkam dengan pertanyaan Ryou.
Ryou menatap Stevan remeh "Rupanya benar, kau iri padanya. Hah!! Alasan klasik Stevano" Ejek Ryou tersenyum miring.
"Bodoh!" Geram Stevan langsung melayangkan belatinya tepat kedada Ryou.
Namun dengan gesit Ryou malah membalikkan keadaan.
Stevan terkejut bukan main "Hah! Bagaimana bisa? Padahal ak-"
Ryou langsung menyela "Ikatan simpul anak-anakmu benar-benar harus diasah"
Dengan lihai Ryou berhasil memelintir tangan Stevan dan merebut belati itu dari tangannya.
"AKKKKHHH!!!" Stevan meraung terduduk sakit, sementara Ryou cepat-cepat membebaskan kakinya dari ikatan yang menyatu dengan kaki kursi.
Tap!
Stevan mendongak, menatap Ryou yang sudah berdiri kokoh dihadapannya dengan belati yang senantiasa masih digenggam erat.
"Mainan seperti ini tidak cocok bagi bocah sepertimu" Komentar Ryou menatap belati yang sudah berada digenggamannya.
Sleep....
Belati itu terlempar jauh menancap ke tembok.
"Nah~ sekarang mari kita belajar Stevan " Ryou tersenyum tapi ditatapan Stevan senyum itu sangat mengerikan.
Stevan tidak akan tumbang semudah itu, dia dengan cepat melakukan gerakan Guntingan tungkai kaki membuat Ryou langsung terjerembap, tanpa menghilangkan kesempatan Stevan sigap menedang dan memukul Ryou membabi buta.
Dalam kuda-kuda bertahannya Ryou berpikir dan mencari kesempatan untuk melumpuhkan murid energik ini.
Pukulan yang kesekian kalinya, Stevan sudah lelah dan Ryou sudah mengeluarkan darah dari mulutnya secara terus menerus.
"Ha... Ha... Ha... Aku.. Ha... Menang" Gumam Stevan terengah-engah.
Stevan berjalan kearah belati yang ditancapkan Ryou tadi, namun sebelum dia mencapai belati itu, sebuah pukulan kuat ditengkuknya berhasil membuat Stevan tumbang.
Brukk!!
Ryou berjongkok, mengelus pelan tengkuk Stevan yang baru saja ia pukul "Saaaa~ kami sebagai seorang guru dilarang untuk menyakiti anak murid apalagi melakukan kekerasan, tapi apa yang kulakukan padamu ini anggaplah sebagai sebuah hukuman kecil" Bisik Ryou.
"Maafkan guru ini" Gumam Ryou beranjak pergi.
Dalam kesadarannya yang hampir menipis, Stevan masih dapat mendengar gumaman kecil itu.
"Aku berharap mereka menemukan sesuatu di smartphone itu" Ucap Ryou tersenyum misterius, dan Stevan sangat yakin pandangannya saat itu bukanlah ilusi.
...TBC...