All For Dreams

All For Dreams
Orang kampungan



"Eh? Apa benar ini hotel, huaaaaaaaa~" Tatapan Alfi penuh binar senang tatkala menatap lobby Hotel yang begitu mewah merekah.


"B-bahkan A-A-ada air mancurnya Fi, buahahahahahahhahaha bisa minum dimari ni, asyik!!!" Seru Feron menimpali. Ia bahkan sampai berlari-lari di lobby itu hanya untuk mencapai air mancur yang berada tepat di samping tangga menuju akses lantai 2.


Alfi tentunya juga tidak ketinggalan, ia bahkan sampai loncat-loncat sanking tidak pernahnya ke hotel untuk menyusul Feron yang sudah terlebih dahulu mengarahkan mulutnya pada pancuran air.


Sementara Theo, ia hanya dapat menarik nafas gusar. Kasian sekali, kalau tau teman-temannya akan senang dengan hal sekecil ini, sudah dari dulu Theo bersumbangsih untuk mengajak mereka ke hotel Jiwa Tampan di Jl. Tampan Pekanbaru, setidaknya di sana gratis biaya makan dan penanganan bagi mereka berdua.


Eh?


"Mbak?" Tanya Theo menghampiri resepsionis.


"Ia bang? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya resepsionis itu sopan.


"Saya......"


Yah, biarkan saja urusan resepsionis menjadi urusan Theo.


Sekarang kita beralih pada Regas yang sedari tadi sibuk menatap makhluk dengan baju minim tajam. Bukannya tertarik, Regas malah semakin memfokuskan pandangan, ia takut kalau salah, tapi ini diluar ekspetasi, Regas syok.


"Ra.... Ra... Itu dia Raaaaa......" Bisik Regas ketakutan bersembunyi di balik punggung sang kembaran.


"Itu apa si Re?" Tanya Ragas keheranan dan mengikuti arah telunjuk Regas yang bergetar.


"A-Hiiiiiii~"


Imajiner Ragas langsung runtuh, tatapannya langsung datar, pundaknya langsung lesuh, dan rasa ingin check Out semakin meningkat drastis.


Ragas ikut menunjuk seseorang yang di tunjuk oleh Regas dalam kehampaan.


"Itu ya Re, eh! Kalau dia mah gak lu aja yang bergetar. Gua bahkan hampir jatuh syok, kok kita bisa ketemu lagi ama dia sih!?" Komentar Ragas melirik sang kakak yang malah asyik bersandar padanya, enggan untuk melepaskan barang sekejap. Sungguh aura saudara kembar telah melingkupi ketakutan Regas.


"Kita balik badan aja, semoga dia gak liat kita sem-"


"Hiiiiiiii COWOK-COWOK MANJAAAA RIIIIIIIIHHAAAAAA!!!!!"


"Terlambat" Sesal Ragas langsung menunduk dalam.


"Waaaahhhh~ semua disini yaaaa!!!! Iiiiiii kika jadi seneng deh aaaaaaaaahhh!!!!!" Teriaknya menunjuk semua gankFeron.


Feron yang sedang asyik minum dari air mancur membatu, Theo yang sedang check in diare, Lulba yang sudah tidur menghilang, Stevan yang lagi membawa barangnya hilang. Semua gank Feron membatu di tempatnya masing-masing.


Sementara banci itu,


"Loh? Kok semuanya perhatiin kika macam itu siiiiiihhh! Kan jadi salting kikanya uuuuuu!!!!!" Ucap banci itu sok genit.


Feron dkk yang menyadari keterdiamannya langsung melesat berkumpul. Didalam lingkaran yang tercipta.


"Apa ini surprise lainnya dari pak Bino?" Tanya Stevan kalut.


"Gua rasa kagak deh Stev, ya kali pak Bino kenal banci pasar senen. Ini pasti pertemuan yang tidak di kehendaki" Balas Ragas bermuka gusar.


Sementara Alfi yang kebingungan hanya dapat melihat teman-temannya yang kini sudah berwajah pundung, aura kegelapan juga melingkupi setiap ekspresi yang mereka keluarkan, hingga rasa ingin bertanya Alfi semakin kuat terjadi.


"Sebenarnya ada masalah apa antara kalian dan Banci itu si?" Tanya Alfi dengan tidak sopannya malah menunjuk sang banci, namun dengan gesit tangan Regas langsung mengeplak tangan kurang bimbingan Alfi.


"Jangan di tunjuk Fi, nanti insting bancinya aktif!" Marah Regas menatap Alfi kesal.


"Ya maaf, namanya gua gak tau. Lu pada kagak mau cerita" Keluh Alfi melirik Regas yang makin menggelatukkan gigi kesal melihat tingkah sok polos Alfi.


"Intinya dia turut andil dalam penyelamatan lo dulu pas di tangkap Reyo. Jadi inti dari segala inti, kita pada gak ingin lagi berurusan ama tu banci, cukup sekali kemaren doang, gak mau ngulang lagi Fi sumpah. Gua bahkan sampai mandi kembang seven rupa supaya ngilangin bau tu banci" Ucap Stevan panjang lebar dengan mata yang semakin membelalak frustasi.


"Oh! Ok~" Balas Alfi tak ingin melanjutkan pertanyaannya melihat wajah Stevan yang seperti ingin kayang itu.


"Tuan-tuan, kamar nomor 345 dan 347, silahkan di-"


"Makasih!!!" Teriak Theo dan yang lain langsung kabur dari lobby Hotel.


"Di ambil" Lanjut sang resepsionis tercengang menatap Feron dkk yang lari seperti di kejar setan.


"Permisi~"


"Iyaaaa" Sang resepsionis langsung menatap pelanggannya dan


"Iya ba- eh Ne- eh ka- eh! Manusia aja deh" Ucap sang resepsionis tersenyum simpul.


"Kamar 346 please~" Mohon sang banci tersenyum sok manis, nyatanya kecut.


"Silahkan" Jawab resepsionis menyerahkan kunci dalam keterpaksaan yang mendalam.


.


.


.


"Sumpah, gua gak mau keluar hotel kalau tu makhluk jejadian masih ada di sekitar sini" Panik Lulba memegang kepalanya yang langsung Frustasi.


"Bodo amat, yang penting gak ganggu kita" Balas Feron memilih duduk di sofa yang tersedia.


"Iya si Fer, tapi....." Ucapan Lulba yang semula menggebu langsung sirna mengingat sesuatu.


"Fer, Fi, gimana kalau kita jalan-jalan ke mall. Gua denger ada film baru yang keluar nih! Lumayan hari kerja, jadi tiket nontonnya murah" Ucap Lulba kembali semangat dan langsung membuat pengumuman di grup chat mereka tanpa menunggu persetujuan Alfi dan Feron yang langsung melirik Lulba.


"Boleh aja si" Jawab Feron menatap Alfi yang juga ikut menatapnya.


"Gua si seneng-seneng aja asal jangan film horor" Ucap Alfi tersenyum lebar.


Jeng! Jeng! Jeng!


"JANGAN GAS JANGAN, AMPUNI GUUUAAAAAAAA!!!!!" Teriak Alfi penuh ketakutan saat melihat iklan film yang akan mereka tonton bersama.


"Banyak drama lo Fi, kita lanjut aja. Ni tiket udah mahal gua beli, masa lo milih diam di luar tanpa melakukan pergerakan" Keluh Theo ikut menarik badan Alfi yang masih betah memeluk kasir bioskop yang hanya bisa maklum. Bahkan muka sang kasir sampai datar melihat kelakuan pelanggannya. Sangat ramah bukan?


"Kenapa Lul, kenapaaaaaa~ KENAPA LO GAK MILIH FILM SPONGEBOB AJA SI! PADAHAL FOTONYA PAS BANGET ADA DI SAMPING FILM POCONG KESAMBAR MAK LAMPIR YANG LO PESAAAANNNNN!!!!!!" Teriak Alfi tidak ingin masuk.


"Banyak gaya lo Fi, saatnya menunjukkan kejantanan kita dengan menonton Film terkenal ini, ayo! Jangan banyak penolakan. Entar gua kasih jilbab lo gantiin Andin jadi cewek kalau mewek trus!" Pancing Feron membawa nama belahan jiwa Alfi.


Dan terbukti manjur, Alfi langsung diam dan turun dari badan sang kasir yang sudah frustasi di tempeli anak kunti.


"Ayo kawan-kawan, kita buktikan kalau kita punya belalai" Ucap Alfi serius langsung masuk terlebih dahulu. Meninggalkan Feron dan yang lainnya dalam senyum penuh tawa.


"Udah gua bilangkan, kalau nama Andin itu sakral bagi Alfi, phft!" Gumam Feron menahan tawa dan mengikuti jejak Alfi.


Tak jauh dari mereka.


"Kesel banget dah, neng Yuna batalin janji" Kesal pemuda itu, Daffa mendial nomor sang pacar terus menerus.


"Ya udah Daf, kalau si Yuna udah gak mau ama lo. Kita memangnya bisa apa? Perasaan seseorang tidak ada yang tau" Ucap Vion menepuk bahu sang sahabat. Vion mencoba memberikan pengertian, namun yang ia dapatkan malah tatapan sinis Daffa yang langsung menyingkirkan tangan Vion kasar.


"Huuuuuhhh~" Hela nafas Vion pasrah mencoba sabar dan kembali mengikuti langkah panjang Daffa.


Di tengah langkah panjang mereka, Vion tanpa sadar melirik bioskop yang terletak tak jauh dari mereka. Dan seketika ingatan kemarin kembali terputar.


"Oh iya Daf"


Daffa langsung berhenti, ia melirik kebelakang menatap Vion yang menunjuk semangat Bioskop.


"Bukannya film yang kemaren kita pesan bentar lagi mau mulai, dari pada jalan gak nentu lebih baik kita segera ke bioskop aja Daf" Ucap Vion mencoba mengajak Daffa dengan senyuman hangatnya.


"Ck!" Daffa berdecih dan kembali melirik smartphonenya. Mengetik beberapa kata kemudian langsung menyimpan smartphone kembali ke saku jaket mahalnya.


"Ya udah, cus meluncur" Ajak Daffa langsung menggandeng tangan Vion.


Vion terkejut, sudah lama adegan ini tidak terjadi di antara mereka. Vion langsung menampilkan senyum hangatnya dan ikut menggenggam tangan besar sang sahabat dalam kesenangan.


Semoga ini bertahan lama


Lirih hati Vion memohon.


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


...TBC ...