
...All For Dreams ...
...Ada apa dengan si tolol ini?...
.......
.......
.......
Gua sebenarnya gak pengen memperpanjang masalah tapi....
***
"Nek, tumben kleponnya udah abis? Gak mau di pake buat sembahyang pagi ini? Mumpung cuaca bagus ni nek" Terang Feron menatap langit pagi yang cerah.
"Tadi nenek sudah sembahyang, sekarang kamu makan dulu nanti keburu dingin makanannya" Ujar sang nenek mengambilkan Feron nasi dan lauk pauk.
"Ini" Ucap nenek memberikan piring yang sudah tersedia makanan untuk Feron yang baru saja mengambil duduk.
"Makasih nek" Ucap Feron berterima kasih dan menerima piring yang di sodorkan nenek.
"Do'a dulu Fer baru makan" Tegur nenek melihat sang cucu yang langsung ingin melahap makanannya rakus.
"Selamat mak-"
Plak!
Satu pukulan spatula berhasil mengenai punggung tangan Feron yang bersih dari yang namanya luka.
"Bukannya do'a itu bismillahirrahmanirahim lalu apa lagi ya? Hmmm? Ya pokoknya itu deh Fer, kamu harus ucapin itu sebelum makan" Tegur nenek pada sang cucu yang seketika terdiam membatu.
Sebenarnya yang islam gua apa si nenek?
Inner Feron menatap Nenek dengan ekspresi tak percayanya.
"Sluurrrrppp.... Haah, sup iga sapi memang yang terbaik" Imbuh nenek menyeruput kuah sup pelan, menikmati setiap rasa rempah-rempah yang bersatu di dalam masakannya.
Hmmm.. Terakhir kali gua coba sup nenek waktu ituuu, hmm tapi..?
Feron menatap makanannya penuh tanya, tak ayal pemuda usia 17 tahun beberapa bulan lagi itu sedikit merasa trauma mengingat masakan sup terakhir yang di sajikan sang nenek rupanya sup babi. Alhasil membuat Feron langsung memuntahkan makanan yang sudah habis ia kunyah dan telan dalam ilmu pengetahuan baru, ia berhasil mengetahui rasa daging babi yang rupanya...
"Sudahkah diri ini bertanya apa jenis daging yang nenek suguhkan ini?" Tanya Feron dengan wajah penuh selidik.
"Tentunya itu daging sapi pilihan, nenek baru saja membelinya kemarin bersama Neti" Jawab nenek melirik Neti yang baru saja duduk.
"Ooo~ kalau begitu diriku tenang" Ucap Feron langsung memakan makanannya.
Namun didalam hati Feron, ia masih memikirkan Nanda.
.........
Pukul 09.00 WIB, 11 DPIB class.
Yah, seperti inilah keseharian Nanda dan Feron setelah insiden Feron goes to Pekanbaru dan meninggalkan Nanda hingga sang empunya enggan untuk melirik Feron barang sesenti.
"Nann~" Lirih Feron memandang Nanda penuh mohon, namun Nanda enggan untuk melirik.
"Please lah Nan, gak gini juga dong ngambeknya. Lagian lo marah kenapa si?" Tanya Feron.
"Gak ada!" Jawab Nanda judes.
"Jadi? (memainkan jilbab Nanda) Kenapa lo gini ama gua. Tolonglah, lu kenapa si?" Tanya Feron lebih, kini ia langsung memegang pundak kanan Nanda.
"Ok, kalau gitu. Gua bakal lakuin apapun asal lo"
Nanda seketika bergeming.
"Asaall?" Ulang Nanda disertai kalimat tanya menatap Feron dalam menyelidik.
"Gulp, ya asal lo gak ngambekan lagi" Jawab Feron tersenyum enggan menatap binar kesenangan yang di pancaran oleh mata indah Nanda.
.
.
.
"Ferrrrr, kenapa lo iyain ucapan Nanda siii?" Keluh Alfi yang sudah kelelahan di bopongan Feron.
"Ya mau gimana lagi Fi, kalau gak gua turutin kemauan tuh cewek alhasil nilai agama gua di pertaruhkan" Ucap Feron berusaha menyeimbangkan langkah tertatihnya.
Sementara Alfi, kini mukanya sudah berusaha maklum dengan sahabatnya ini yang terbilang payah dalam urusan agama. Apalagi dalam pelajarannya, sudah harus Alfi pahami jika Nandalah tempat Feron bergantung.
Mengesampingkan hal itu, kini mereka berdua tengah bersembunyi di balik bangunan kantin sekolah, tatapan Feron tak bisa bergeming dari cerahnya langit. Awan-awan gendut yang senantiasa bergerak lambat dan kadang menyerupai Nanda yang sedang marah.
"Eh! apa?" Feron langsung terjerembab memandang Nanda yang kini tersenyum iblis menatap Feron dan Alfi dalam kepuasan tiada tara.
"Disini kalian rupanya yaaaaaa" Ucap Nanda pelan menikam.
"Nan! Nan gua bisa jelasin Nand, tapi kan kesepakatan kita gak kayak gini Naaaaaaaaannnnnn"
Berakhir sudah....
..........
Ruang Passus.
"Trus? Lu pengennya gimana? Mereka kayang? Kabur lagi? Atau lu suruh mereka trip jauh kayak pak Bino?! Iya gitu!?" Tanya Nanda emosi menunjuk tepat ke arah wajah Agus yang langsung menelan ludah kasar.
"Bukan gitu maksud gua Nand, maksud gua (memandang ke arah Feron dan Alfi yang terikat dengan punggung yang saling bersentuhan) mereka udah lebam dan penampilan mereka acak-acakan, lo yakin bakal foto mereka dan masukin ke buku jurnal pelanggaran Passus? " Tanya Agus tak habis fikir dengan keinginan absurb Nanda yang tiba-tiba menyuruh untuk menangkap Feron dan Alfi.
Nanda bahkan sampai membuat sayembara bagi anggota Passus yang bisa menangkap dua orang itu (Feron dan Alfi) akan di naikkan pangkatnya menjadi pelatih, siapa sih yang gak tertarik? Apalagi jika di tambah dengan uang saku seminggu khusus dari bang Ical yang tidak tau apapun mengenai sayembara ini.
Dan berakhir mereka semua di pukul mundur oleh Feron dan Alfi yang tentu saja bukanlah lawan mereka. Namun sepertinya aksi kucing-kucingan ini berakhir sudah dengan taktik licik Nanda.
"Ukhh..." Rintih Alfi tersadar dari pingsannya. Ia sedikit menggerakkan tangannya yang terikat erat kebelakang punggung.
Alfi melirik ke belakang.
"Feron? Fer bangun Fer bangun" Panggil Alfi menggoyangkan badannya, memaksakan diri untuk membangunkan Feron yang masih tertidur lelap.
Tangan Alfi dan Feron terikat dalam satu gulungan tali, menyebabkan mereka berdua saling memunggungi satu sama lain.
Namun bukan Feron namanya kalau tidak tidur seperti sapi.
"Astagfirullah Fer, bangun lu napa? Keadaan darurat lu masih enakan molor" Gumam Alfi menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Ck! Sudahlah" Pasrah Alfi memandang langit-langit ruangan.
Cklek!
Alfi melirik ke arah pintu yang terbuka.
"Udah sadar Fi?" Tanya Nanda mendekat.
"Udah ni Nan, cuma gua lagi kesulitan aja ngebangunin gajah Asia di belakang gua ini" Ucap Alfi melirik Feron.
"Hooo~ itu mah gampang banget" Jawab Nanda dann
Bruuukkkk!!!!
Sledingan Nanda memang tiada duanya.
.
.
.
"Senyum Fer, senyum. Keluarkan senyummu di depan kamera ini" Ucap Agus geram memandang Feron yang malah tersenyum dan bergaya sok cool.
"Kan ini udah Gus! Lu mau gua gaya kek manapun air muka gua tetap kek gini, stay cool dan tampan pemberani" Feron dan segala ke Pedeannya.
Plak!
"Yang betul gaya kau sikit Fer, jangan sampai ni kertas gulunganku melayang lagi ke punggung kau yang udah membungkuk itu!" Marah bang Ical memukul punggung Feron.
"Auch! Sakit bang Ical" Keluh Feron mengusap punggungnya.
"Makanya kau kalau disuruh senyum ya senyum!" Emosi bang Ical.
ASW memang ni Passus, gua udah senyum calm salah, senyum ceria salah, senyum bahagia salah, stay cool juga salah melulu ama ni orang-orang. Gua jadi heran, Alfi dan Nanda cuma sekali jepret selesai, nah guaa?!
Lirih hati Feron geram.
"Sekali lagi, awas kau gak senyum ku libas masa depan kau" Ancam bang Ical menunjuk Feron junior.
"Eh! Jangan dong bang, nanti Feron-Feron kecil gak bisa nginjak bumi dong" Balas Feron menutup selangkangannya.
"Makanya serius kau!" Seru bang Ical.
...........
Keesokan harinya...
"Fotonya dah jadiii" Ucap Nanda memajang foto itu di antara foto anggota Passus lainnya.
Nanda tersenyum senang menatap muka Feron yang berhasil di abadikan oleh Agus.
"Hahahahahahha! Dengan begini setidaknya gua terlihat keren di antara bintang SMK 1 yang lain" Ucap Nanda seraya tertawa bangga menatap hasil foto tersebut.
Bagaimana fotonya?
"Yap, Feron benar-benar mirip om-om pedofil hahahahahah ahahahaha gak sia-sia gua suruh bang Ical marahin dia" Gumam Nanda tertawa puas melihat ekspresi Feron.
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
...TBC ...