All For Dreams

All For Dreams
Rasa (end flashback)



"Aaaaa.... -"


KRAAAKKK!!!!


Reno sang pelaku membuat Feron menjadi sebuah samsak dadakan didepan seluruh anggota gengnya. Ia dengan tanpa ampun memukul titik fital Feron berulang kali hingga membuat sang empunya langsung tersungkur tak berdaya diatas tanah penuh kubangan lumpur.


"HAH... Hahh... Memang pantas sekali pecundang disematkan pada namamu hahahahahah. Selain jelek, kemampuan berkelahimu juga amatir, bahkan aku tidak merasakan pukulan bayimu itu hahahahahahha" Reno benar-benar sangat bahagia saat memukul Feron tanpa ampun, sementara Feron sang korban hanya dapat tersungkur tak berdaya dengan muka yang sudah lebam penuh darah dan baju yang sudah sobek sana sini dengan ruam yang ikut mengisi beberapa bagian tubuh.


Feron hanya dapat menundukkan kepalanya menatap tanah, niat hati ingin mengungkapkan rasa pada Afni kini semua sudah menguap tanpa sisa saat melihat afni yang hanya memperhatikan dalam diam saat Feron dipukuli tanpa ada niatan untuk menghentikan.


"Aa-" Feron mencoba menggapai Afni dengan tangannya Yang sudah bergetar.


"Eits... Eits, jangan secepat itu menyerah dong. Gua bahkan belum peregangan" Ucap Reno menggenggam tangan penuh luka Feron dan langsung mematahkannya tanpa ampun hingga membuat bunyi KRAK yang begitu nyaring.


"Haaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!" Teriak Feron menggema keseluruh gang sempit dibelakang SMP.


TAK!!


Kepala Feron diinjak begitu kuat ketanah hingga darah mengalir begitu cepat dari mulut dan hidungnya.


Tak!!


Trak!!


Bugh!!


Setelah melihat darah begitu banyak berceceran disekitar Feron, bukannya membuat Reno takut ataupun gentar, malah ia semakin bersemangat untuk menambah darah itu mengalir semakin banyak.


"Hahahahahahha" Tawa Reno psikopat.


Tendangan Reno tidaklah main-main. Setelah menendang kepala Feron berkali-kali, Reno langsung menempatkan sasaran pada kaki Feron yang sempat menendangnya kala mereka saling adu jotos.


Reno berjalan perlahan dengan tangan kanan yang langsung merogoh saku celana.


"Dengan ini permainan akan semakin menarik" Ucap Reno menampilkan pisau lipatnya kearah kaki Feron yang sudah dipegang oleh kedua anteknya, berjaga supaya Feron tidak bisa kabur.


"Mari kita membuat karya" Lanjut Reno menjilat pisaunya dan langsung merobek celana Feron hingga kepaha.


"Mari kita mulai dari kaki kanan" Lanjut Reno lagi menyeringai seraya menatap kaki Feron penuh minat.


Deg


Deg


Deg


Suara detak jantung Feron semakin cepat, ia tidak berhenti mengucap dan menyesali diri sendiri.


Kenapa Afni


Inner feron menatap Afni yang hanya dapat memandang dengan tangan kanan yang menutup mulut menganganya.


Berpikir dengan penuh penyesalan, Afni langsung berfikir mengapa semua tidak sesuai dengan yang diucapkan Reno padanya?


Tangan Feron langsung diikat dan ia diterlentangkan ditanah dengan bahu yang ikut dipegang agar Feron tidak memberontak.


Antek Reno juga langsung menyumpal mulut Feron agar tidak berteriak keras lagi seperti tadi, bisa gawat jika ada yang curiga dan mendatangi gang sempit ini bukan?


Crash!!!


"Nghhhhh!!!!!" Teriak Feron tertahan oleh sumpalan kain, Reno dengan sengaja menancapkan pisaunya pada tulang kering di kaki kiri Feron dan mencongkelnya tanpa rasa iba sedikitpun hingga saat Reno mencabut pisaunya tulang langsung dapat terlihat dengan jelas.


"Lu bisa diem gak? Suara lu membuat Afni ketakutan tau" Ucap Reno menunjuk Afni yang sudah menampilkan wajah ketakutan seraya mundur perlahan ingin kabur namun urung karna antek Reno yang langsung memblokir jalan dibelakang Afni.


"Chi Chi Chi... Kenapa si Af? Lu juga harus nonton triller ini sampai selesai dong, jarang-jarangkan lu dapat life actionnya? Lagian lu kan yang bilang kalau suka adegan psikopat" Ucap Reno melirik Afni dengan muka yang sudah penuh darah segar Feron.


"Mendekatlah dan mari menonton" Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Afni langsung didorong mendekati Reno dan langsung diawasi disisi kanan dan kiri agar ia tidak dapat melarikan diri.


"Jongkok disebelah gua Af, supaya lo dapat ngeliat gua menorehkan seni gua pada kanfas hidup ini" Ucap Reno lebih kearah memerintah.


Dengan terpaksa Afni jongkok dengan gemetar, sekilas ia melirik kearah Feron yang menatapnya penuh emosional namun ia langsung membuang muka dari Feron. Afni tidak ingin menambah rasa bersalahnya pada Feron lagi.


"Let's do it" Ucap Reno menggoreskan pisaunya secara perlahan pada kulit kaki kiri Feron.


****


Sudah setengah jam Reno melukis kaki Feron, darah sudah begitu banyak terbuang bahkan ada yang sudah kering. Kondisi Feron sendiri sudah tidak dapat dideskripsikan dengan mudah.


Ia sudah pingsan hampir tujuh kali, bahkan semenjak Reno memulai aksinya hingga sekarang, setetes biuspun tidak diterima Feron. Ia dibiarkan merasakan sakit yang begitu dahsyat hingga hampir merenggut nyawa. Reno betul-betul mendalami jiwa psikopatnya saat ini.


Dengan pandangan sayu Feron yang sudah trauma untuk menatap kearah bawah tepatnya pada kakinya yang sudah disayat Reno, kini ia lebih memilih untuk menatap ke arah kanan, sepertinya memandang ke arah lain lebih baik daripada menatap kaki kirinya yang sudah dipenuhi darahnya sendiri.


Orang itu mengarahkan kamera smartphonenya pada Feron yang sudah pasrah, setelah cukup orang itu langsung menghilang dibalik tembok setinggi 3 meter.


Feron yang melihat itu hanya dapat menghela nafas pasrah dan langsung mengalihkan pandangannya kembali menatap langit biru yang indah namun gelap baginya itu. Feron menutup matanya dan pasrah dengan keadaan, jika ia mati maka ibunya akan kesepian.


Ibu, Feron minta maaf tidak dapat menjenguk ibu...


Ucap hati Feron dengan tetesan air mata yang keluar mengiringi kalimat penyesalannya.


Tap!!


Tap!!


Tap!!


Trak!


Trak!!


Trak!!!


"Reno kita ketahuan!!!!" Teriak Afni langsung kabur dari tempat dan disusul oleh gank Reno berhambur pergi.


"Cih!!! PENGGAGU" Teriak Reno murka dan langsung berdiri membanting pisaunya ketanah.


"BERHENTI KALIAN SEMUA!!!!" Teriak suara polisi begitu keras.


Setelah itu semuanya terasa sunyi dan gelap bagi Feron yang sudah pingsan terlebih dahulu.


"Fer.. Sadar Fer... Feron lu jangan pingsan dulu dah" Ucap Dino meletakkan kepala Feron kepangkuannya, tangannya langsung melepaskan sumpalan mulut Feron dan mencoba untuk memukul pelan pipi sang teman, berharap muncul respon dari sang empunya namun semua nihil, Feron sudah pingsan.


*****


...End flashback...


Feron mengusap kaki kirinya yang tertutup oleh celana dongker.


"Setelah itu kabar yang kudengar adalah kepergian ibu" Ucap Feron menatap batu nisan.


"Ibu terlalu kejam meninggalkan aku yang terpuruk kala itu (terdiam sejenak) Apa karna Feron tidak tepat waktu hingga membuat ibu sampai egois untuk pergi meninggalkan Feron agar Feron sadar bertapa tidak bergunanya diri ini?" Lanjut Feron berteriak.


"Hiks.. Hiks... Padahal Feron masih punya banyak curhatan untuk menemani kesunyian ibu di rumah sakit..." Gumam Feron berdiri dan berjalan pergi begitu saja tanpa ingin mengucapkan selamat tinggal.


*****


Ditengah perjalanannya pulang, langitpun rupanya sudah menggelap tergantikan oleh cahaya hitam penuh bintang.


Feron yang hanya dapat berjalan dalam diam malah menikmati kesunyian yang tercipta.


Mending gua pinjam motornya si Luna aja buat pulang kerumah, mumpung rumah dia dekat sini


Inner Feron hendak berbelok ke gang rumah Luna, namun urung setelah ia mendengar suara teriakan.


"HYAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!"


Tanpa berpikir panjang Feron langsung berlari kearah sumber suara, di suasana magrib nan sunyi mendengar suara wanita bukannya berpikir kunti Feron malah berpikir logis dan berlari kearah gang sempit diujung jalan raya.


"Tolong aku, jangan mendekat... Kumohon siapa saja tolong aku hiks... Hiks...." Teriak suara itu kembali dengan diiringi tangisan pilu.


"Kenapa ha? Tadi kamu yang menggoda, sekarang kamu malah ketakutan, aneh" Ucap preman itu mencengkeram tangan sang gadis yang sudah terpojok didinding gang.


"Ka-"


Zrasshhhh


Bugh!


"Kalau mau mesum cari hotel saja sana" Ucap Feron memukul tengkuk sang preman hingga ia tersungkur tak sadarkan diri.


"Heh, lemah" Lanjut Feron.


"Terima kasih" Ucap suara itu pelan.


"Sama-sa" Balas Feron terhenti setelah menatap gadis itu.


"LUUUUU!!!!!?" Teriakan Feron menggema keseluruh gang sempit.


...TBC...