
"Pssstt!!! Psstt!!!" Bisik Alfi memanggil Feron dari ambang pintu kantor. Ia sedikit menjulurkan kepalanya hanya untuk dapat mengintip sang sahabat.
Feron yang sedang sibuk membersihkan meja-meja kantor seketika langsung budek dadakan saat mendengar suara Alfi yang seperti memanggil tikus.
Feron yang geram akhirnya melempar lap pada muka sang sahabat "Lo kan bisa panggil nama gua, minimal ngucap salam dulu kek!! Disini belom ada penduduk kecuali di dalam rumah sebelah O*on!!!" Kesal Feron mengepalkan tangannya emosi kemudian melirik rumah yang langsung terhubung dengan kantor.
"Oh! Gua kira" Ucap Alfi tanpa beban langsung keluar dari persembunyiannya seraya menenteng kotak bekal berwarna ungu.
"Sini breku, karna sahabatmu ini tak bisa lama maka diriku tak ingin sopan dengan mengunjungi mu kedalam sana, maka lebih baiknya engkau segera kemari dan menayambangiku di ambang pintu garasi bercat gelap dengan sedikit kenangan dari tukang las ini" Tutur Alfi menghayati ucapannya seperti sedang bersair namun jujur malah membuat Feron ingin melempar printer di sampingnya langsung ke muka jelek Alfi.
Dengan muka geram Feron berjalan mendekati Alfi "Ucapkan kata-kata terakhir sebelum lu gua kirim buat jumpa ama malaikat malik!"
"Iiihhh~ Feron emosian melulu deh ah," Ucap Alfi mengerucutkan bibirnya "Eh iya nih, gua bawain putu buatan emak gua sesuai pesan gua di WA tadi (sadar akan sesuatu) Nanda dimana?"
Feron melirik ke dalam kantor sejenak sebelum kembali menatap Alfi "Belum dateng, mungkin dia lagi ngedate ama Anwar keliling Bkn sebelum kesini, bisa jadikan ( mengedikkan bahu) emang kenapa?" Tanya Feron balik.
"Gak ada sih Fer, masalahnya gua bawa pas tiga biji ni buat lu, gua, ama Nanda. Hehh~ jadi sayang banget lah ya yang sebiji ini" Ucap Alfi, membuat mereka berdua memandang isi kotak bekal ungu Alfi dalam pandangan yang sulit diartikan.
"Lu tau apa yang gua fikirin kan Fi" Ucap Feron menyentuh pundak Alfi dengan pandangan yang masih fokus menatap kue putu.
Alfi ikut menggenggam pundak Feron "Aku tau apa yang engkau fikirkan wahai sahabatku dan itu sudah menjadi bagian dari isi otakku sedari engkau menyebut Nanda tidak ada disini"
Feron dan Alfi saling berpandangan dalam senyum lebar "Hehehehehehehe" Tawa mereka kompak.
"Paroh dua Fi cepat"
"Siii-" Namun, sebelum Alfi sempat mengambil kue itu, sebuah tangan lainnya langsung mencomot dan menggigit kue tanpa memperdulikan ekspresi Feron dan Alfi.
"Enak Fi, tapi masih kurang kelapa nih" Komentar Nanda melahap sisa kue putu dalam satu kali suapan.
"Aaaaaa"
"Ba*bi, rencana kita gagal karna kebanyakan drama ni Fer" Bisik Alfi langsung mengambil kue bagiannya dan melahap dalam sekali lahap.
Sementara Feron memakan bagiannya dalam ketenangan seraya menatap Nanda yang sudah kembali pulih.
"Tumben gak dianter Nand? Kenape lo ama Anwar? Kelahi? LDR? Atau ada prahara lagi?" Tanya Feron beruntun.
"Kagak ada sih, cuma gua aja yang pengen berangkat sendiri karna udah sembuh. Lagian kasian juga si Anwar antar jemput gua trus" Tutur Nanda duduk di tempatnya.
"Hooo~"
Alfi memandang smartphone "Oh iya Ron, gua berangkat dulu ya, udah telat ni" Pamit Alfi pada Feron dan Nanda yang juga menatapnya.
"Oh iya, makasih ya Bestie atas kuenya. Lain kali bawa lagi yang banyak!!!" Teriak Feron di akhir kalimatnya melambaikan tangan pada Alfi yang langsung mengacungkan jempol.
.
.
.
Beberapa jam kemudian~
"Ron" Bisik Nanda.
"Apa?" Tanya Feron mengalihkan atensinya pada Nanda.
"Gua mau cerita" Ucapnya menidurkan kepala diantara kedua lengan yang ia jadikan sebagai bantal.
"Cerita ae bestie" Balas Feron kembali mengarahkan fokus pada layar Smartphonenya yang tengah memperlihatkan sebuah game terkenal.
Nanda melirik Feron, pandangannya masih fokus menatap gurat keseriusan yang di pancarkan oleh wajah rupawan itu "Kemarin gua dimarahi Kak Layla" Cicit Nanda.
"Kok bisa?" Tanya Feron masih fokus pada gamenya.
"Ya karna itulah" Jawab Nanda berbelit.
"Iya kenapa begitu Nanda manisss?" Feron langsung menoel pipi sang sahabat.
"Lu ingatkan waktu lu yang gak datang karna deman tempo hari"
"Hmmm.. Ingat" Ucap Feron.
"Saat itu gua dipanggil kak Layla ke mejanya,"
"Trus?"
"Gua fikir apaan kan, masalahnya gua lagi ngerjain laporan yang di kasih bang Sukma sambil dengerin lagu di headset, trus dia manggil dengan angkuhnya 'Nanda coba kemari' bilang dia kan, nah gua samperin lah tu, orang gua ngerasa gua gak punya salah. Trus pas gua udah sampe dihadapan dia, dianya bilang 'Kamu udah bisa apa aja di kantor ini?' Sontak gua kagetlah ama pertanyaannya, loh ada apa ni?, Ucap hati gua gitu. Trus gak ada angin hujan dia bilang 'Aduh, memang-memang, anak magang gak bisa apapun kamulah orangnya, aduh! Nanti kalau ditanya gurunya apa aja yang udah kalian pelajari trus kamu cuma diam gini aja bisa malu besar CV ini Nanda~ Nanda~, udah kembali duduk aja kamu merenung disitu, memang gak bisa diharap' gitu Roonnn~~~, gua langsung pias dan jadi gak enak hati anji*k lah "Kesal Nanda bercerita panjang lebar.
Feron akhirnya menyelesaikan game dengan kemenangan "Kasian banget sih lo (mengusap kepala Nanda) kak Layla pedes banget bacotannya, gua jadi bertanya-tanya tu mulut makan apa aja bisa sampe sepedes itu?"
"Cabe mercon kali!" Celos Nanda kesal.
"Palingan cabe batak itu" Balas Feron memandang plafond kantor.
Tuk (suara pintu mobil yang di tutup)
Feron dan Nanda melirik.
"Assalamualaikum" Ucap kak Layla membuka sepatu surveynya.
"Waalaikumsalam" Jawab kedua remaja kompak.
"Mana om Wen?" Tanya kak Layla.
"Di dalam rumah kak" Balas Nanda.
"Hooo~" Gumam kak Layla mengalihkan atensinya pada meja Feron dan Nanda.
"Ngerjain apa?" Tanyanya.
Ni orang buta apa pura-pura be*go.
Inner Feron meletakkan smartphone di atas meja.
"Laporan dari bang Sukma kak Lay" Balas Feron berbalik menatap kak Layla.
"Oh, begitu (berjalan ke arah mejanya) jadi, bagaimana perjalanan magang kalian disini? Menyenangkan? Sudah dapat tidak ilmunya?" Tanya Kak Layla sudah duduk di kursinya.
Pertanyaan ini lagi!?
Sentak fikiran Nanda.
Nanda melirik Feron yang masih menampilkan wajah datarnya dalam ekspresi menahan kesal.
" B aja sih kak, palingan kami banyaknya cuma dapat ilmu lapangan aja, itupun karna om Wen yang mau ngasih tau, selebihnya cuma ngerjain laporan ginian dari bang Sukma, abang-abang yang lain juga pada gak peduli ama kami, jadinya ya kami belajar mandiri aja"Ucap Feron ber-Smirk.
Dann....
"Dan akhirnya berakhir dilapangan bersama bang Sukma dan Om wen dimari" Ucap Nanda ikut menyandarkan diri pada pegangan jembatan seraya memandang langit.
Di sampingnya, bang Sukma tengah menghisap rokok dalam. Ia melirik Nanda sedikit dan Feron yang asyik memotret sana sini dengan kamera proyek.
Bang Sukma melirik ke arah pohon, ia sangat serius hingga Nanda meliriknya dan ikut berbalik menatap apa yang dipandang bang Sukma.
"Merhatiin apa bang?" Tanya Nanda.
"Itu...." Tunjuk bang Sukma.
"Coba kamu tebak, itu pohon apa?" Tanya bang Sukma menunjuk pohon jengkol yang jelas-jelas sudah menampakkan pucuk buah.
"Hah? Durian ya bang" Jawab Nanda asal.
"Heeeehhhh~ coba yang itu" Tunjuk bang Sukma lagi pada pohon durian
"Mudah banget, itu jengkol bang" Seru Nanda semangat, merasa yang paling benar.
Pletak!
"Mata kau picak! Jengkol kau sebut durian, durian kau sebut jengkol. Memang betul kayaknya nilai pkn kau itu nol dasar pa*ok!" Omel bang Sukma menjitak kepala Nanda hingga berbunyi nyaring.
"Auch... Sakit atuh bang, lagiankan itu beneran jengkol" Tunjuk Nanda pada pohon jengkol di sebelah pohon durian.
"HAH!? Mana jengkol mana jengkol" Ucap Feron mengarahkan kameranya ke arah pohon dan langsung memotretnya.
Entah yang mana yang kutanya entah yang mana yang dia nampak, dasar gak sinkron.
Omel hati bang Sukma memilih untuk pergi, meninggalkan Nanda dan Feron yang makin lama malah membuat hatinya semakin kesal saja.
"Heh? Bukannya itu durian bang Sukma?" Tanya Nanda mengikuti langkah bang Sukma pergi lebih dalam kehutan mengikuti Om Wen yang sudah lebih dulu berjalan.
"Hehhh Nandong! Bsok gajian periksa mata sono" Sarkas bang Sukma menjitak kepala Nanda lagi.
Sementara Feron yang berjalan di belakang mereka hanya bisa tersenyum dan sedikit terkikik geli menatap interaksi kedua orang itu seraya memandang hasil jepretannya.
"Eh? Apaan ni putih-putih?" Gumam Feron masih berjalan.
Bruk!!!
Bang Sukma dan Nanda sontak berbalik "Kenapa Ron?" Tanya Bang Sukma.
"Aduh (mengusap kaki) gak papa bang" Balas Feron kembali berdiri dan berjalan walau pincang.
Tanpa memperhatikan kebelakang, sesosok makhluk tak kasat mata juga mengumamkan rasa sakitnya.
"Uuuuu~~~~"
...Tbc...