All For Dreams

All For Dreams
Kembali pulang



"Ssssstttt....." Desis kesakitan langsung keluar dari bibir tipis Feron.


"Hahahahahahahaha.... Sakit? Makanya jangan seenaknya Bang*sat," Sinis Daffa mengambil beberapa benda tajam lainnya di meja.


"Pulanglah, gua gak suka tamu." Lanjut Daffa berjalan pergi dengan tangan yang melambai.


"Selain itu, " Daffa melirik Vion yang membelalakkan matanya menatap Yuna "Kenapa muka lo Vion, biasa aja kali."


"Aa... Aaa.." Suara Vion tercekat, ia tidak dapat mengatakan sepatah katapun sampai akhirnya kaki Vion bergerak untuk mendekati Yuna.


"Yun... Lu bisa denger gua? Yun? Sadar Yun..." Lirih Vion dengan air matanya.


"Yunaa... Kita ke rumah sakit ya?" Vion langsung mengangkat tubuh lemas Yuna, ia sudah tidak memperdulikan keadaan sekitarnya, bahkan bungkusan yang tak sengaja terjatuh sudah di abaikan Vion begitu saja.


Baginya yang terpenting adalah keselamatan Yuna dan juga bayi yang tengah ia kandung, namun tangan Daffa malah menghentikan tindakan Vion yang hendak pergi.


"Lu mau kemana?" Tanya Daffa.


Vion melirik "Bukan urusan orang yang gak bertanggung jawab seperti lo."


Vion pergi begitu saja meninggalkan kerumunan itu, tapi,


"Ck! Menyebalkan sekali dia. Berani-beraninya berbicara hal yang ngak jelas sama gua." Desis Daffa sebelum muka itu kembali menampilkan wajah tersenyum.


"Ya sudah lah, memangnya apa perduli gua ama keadaan dia? Karna yang lebih penting saat ini adalah apa yang sedang berada di pelupuk mata." Daffa meraih pisau bedah.


"Haaaaaaaaaaaaaaa!!!!"


Trank!!!!!!


.......


.......


.......


.......


...All For Dreams...


...Kembali pulang...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


Trankk!!!!


"Lu dengar itu!" Ucap Ragas langsung berbalik menghadap rumah Yuna.


Stevan melirik "Apa?"


"Itu, suara barusan (memandang wajah Stevan yang tak perduli) Arrggghh!!!! Sudahlah." Menendang angin "Btw, kenapa rumah ini aneh banget?" Tanya Ragas menatap bagian belakang rumah Yuna.


Stevan mengerutkan kening "Lu bener, tapi bukan itu focal pointnya."


"Tempat ini begitu kotor, apa rumah ini tidak punya asisten rumah tangga? Menyebalkan melihat sepatu gua jadi berlumpur kayak ini." Keluh Ragas membersihkan kotoran yang melekat di sepatu ketsnya.


"Dasar orang kaya, kotor sedikit langsung mengeluh." Dengus Stevan menatap Ragas yang asyik membersihkan sepatu di pinggiran kolam renang yang sudah di penuhi lumut.


Stevan kembali berjalan untuk mengarahkan dirinya pada pintu gudang yang tertutup oleh banyak rantai.


Tapi? Apa bener semua ini berhubungan dengan? Ahh.. Gak mungkin, gua yakin tuan Adidjaya gak bakal begitu ke anaknya sendiri dengan memanfaatkan sahabatnya, gua yakin ini gak berhubungan apapun sama dia, pasti ini cuma fikiran gua aja. Ok Stev, sekarang lu fokus aja buat cari celah supaya bisa cari sesuatu yang diinginkan tuan Adidjaya.


"Oh iya Stev,"


Stevan langsung melirik Ragas "Apaan?"


"Kalau kita udah tau target di dalam kenapa kita ngebodoh di mari? Ke dalam aja bantuin mereka yuk." Ajak Ragas mulai beranjak pergi.


"Ngak bisa, di dalam!" Seru Stevan cepat.


Ragas langsung melirik Stevan menyelidik "Kenapa?"


"Ah ehmmm.... Itu... Karna kita perlu mematikan pemicu arus listrik di rumah ini." Alibi Stevan.


Ragas langsung memicing curiga "Lu agak aneehhh...." Setelah berucap, Ragas menekan earphonenya tanpa sepengetahuan Stevan.


Ragas mulai curiga, dan kecurigaannya ini harus di dengar oleh seluruh gank.


Ragas berbalik "Pemicu arus listrik? Lu mau buat orang di dalam cosplay rumah hantu!? Ni rumah tiga lantai lu kata gak ada setan pake lu matiin lampunya entar kalau si Regas pingsan gimana gua nyarinya coba!?" Ragas menyilangkan kedua tangan di dada "Selain itu, kenapa lu bawa gua kesini? Dan kenapa lu bisa tau kalau pemicu arus listrik disini?" Menunjuk gudang yang tepat berada di depan mereka.


"Oh iya, jika lo gak mau nemenin gua lagi gak apa- apa kok Ra. Dari titik ini gua bisa sendirian." Stevan langsung mengeluarkan alat pemotong besi yang sengaja ia persiapkan sedari awal.


Turk.. Trank... Trek..


Ragas yang memperhatikan barang bawaan Stevan seketika terperangah "Lengkap juga peralatan lo Stev, gak nyangka gua."


"Lu sebenarnya anak SMK apa SMA sih? Bukannya semboyan kita 'Dimanapun berada alat-alat selalu ada' kemana sih otak lu saat nama SMK di sahkan?" Sindir Stevan.


Ragas langsung terkejut "Masih di adon emak bapak gua."


Stevan langsung Facepalm dan memilih untuk melanjutkan kegiatannya.


Krriiiieeettt....


"Kalau lu beneran gak mau ikut, hussshhh... Sana." Usir Stevan masuk ke dalam gudang.


Ragas seketika terusir "Kagak, gua ikut." Serunya mengikuti langkah Stevan.


.


.


.


"Dasar pengganggu."


"Gak juga sih." Balas Anwar yang semakin menekan balok kayu ke tulang kering Daffa.


"Bagus War, teruskan bakatmu selagi gua ngelepasin ikatan yang membelenggu Nanda." Feron dengan cepat membuka setiap ikatan.


"Lu pikir gua lagi got talent!!!" Teriak Anwar.


Anwar sudah mengerahkan banyak tenaganya untuk mengungkung Daffa tapi sepertinya ini tidak akan bertahan lama.


.


.


.


"Widih, gua gak tau kalau di dalam gudang ada jalan rahasia kayak film-film luar." Ragas terperangah takjub.


Sementara Stevan sibuk mencari sesuatu.


"Lu cari apaan dari tadi grusak-grusuk mulu?" Tanya Ragas.


"Nah ini dia!" Stevan tidak memperdulikan Ragas, ia sibuk mengamati benda yang baru saja ia temukan itu.


"Ngapain lo ngambil foto keluarga orang, mau lo jampi-jampi?"


"Lu bisa diem gak sih?! Dari tadi bacot mulu." Tegas Stevan berbalik pergi.


"Menyenyenyenye.... Syukur dong lo gua temenin." Sungut Ragas.


"Gua gak minta di temenin sampai ke dalam ye."


Ragas langsung memegang Ulu hatinya yang tiba-tiba saja berdenyut "Huuggg... Sakit zekali khukhukhu..."


"Bodo." Gumam Stevan keluar lebih dulu.


"Ga asyik bener." Ucap Ragas bosan merotasikan matanya, hingga tatapannya menemukan sebuah pegangan "Apaan nih?" Ragas langsung memegang benda itu.


"Agak mencurigakan dan bikin penasaran." Lanjut Ragas mengusap dagunya menimang.


Setelah beberapa menit akhirnya Ragas senyum sendiri dan langsung memegangnya "Bismillah."


.


.


.


Krannkkkkk...


"WOY ANJ*NK!!! SIAPA YANG MATIIN LAMPU BEGOOOOOOOOO!!!!!!!!!!!!!"


.......


.......


.......


.......


.......


...TBC...