All For Dreams

All For Dreams
Theo Story (Secret ceremony)



...**All For Dreams...


...Theo** Story...


...(Secret ceremony)...


.............


.......


.......


Dan pada akhirnya....


Kami semua di kumpulkan di dalam satu ruangan serbaguna yang tidak sengaja di bobol bang Darjot. Semua orang di perintahkan untuk duduk di lantai sementara bang Darjot dan kawanannya duduk di sofa empuk berlapis parfum putri khayalan.


"Lu semua harus dapat ranking sepuluh besar baru bisa masuk ke gank ini. Dan juga lu harus punya dua ekstrakurikuler samaran supaya perkumpulan kita tidak di ketahui ataupun tercium, baik oleh warga sekolah maupun tenaga pengajar beserta staf" Ujar bang Darjot memberikan arahan pada kami semua.


Kami semua menggaguk aneh dengan ucapan bang Darjot yang terkesan berlebihan itu, namun mau bagaimana lagi namanya juga ketua.


"Oh, dan juga satu hal lagi. Jangan sampai persekutuan kita tercium kaum Passus. Mereka adalah musuh alami kita di sekolah ini" Tambah bang Darjot langsung bermuka dendam.


"Mereka jugalah yang membuat rencana tawuran bulan lalu jadi bubar, benar-benar perkumpulan sampah, mereka mengadukan kami semua pada pak Ibram, dan Darjot harus di tindak lanjut oleh kepsek mengenai rencana yang telah tersusun matang itu. Benar-benar menyebalkan, Ck! " Lanjut pemuda di sebelah bang Darjot begitu geram.


Sejujurnya, gua mulai merasa aneh setelah melihat bertapa tidak etisnya gank ini namun setelah mendengar bertapa dendamnya mereka dengan Passus, gua jadi sedikit tertarik. gank yang sudah berumur 25 tahun dan di wariskan dari generasi ke generasi seperti Malika dan sekarang di ketuai oleh bang Darjot dan wakil bang Jamet atau dia nyebut nama lengkapnya itu...


"Jaymin Ethward. Silahkan panggil Jamet" Ujar bang Jamet yang merupakan hasil perkawinan silang antara kaum pribumi dan kaum Belanda.


"Tapi kenapa namanya lebih ke arah Korea ya?" Tanya gua berpikir keras.


"Terlepas dari dendam, gua pengen lu semua perkenalan satu-satu. Dimulai dari lo gundul" Semua langsung menatap bang Darjot.


"Sorry, salah panggilan. Maksud gua lu yang mukanya pas-pasan" Tunjuk bang Darjot pada gua yang langsung menunjuk diri sendiri.


"Gua bang?" Tanya gua memastikan.


"Kagak, rumput tetangga ya lo lah kutu aer! Cepet, ingat durasi cuma lima detik setiap perkenalan. Sekalian lu berdiri supaya bisa dikenali sama teman baru. Oh dan juga sebutin motivasi lo masuk sini" Seru bang Darjot.


"Ok, kenalin semua nama gua Theo Bursa Anggara, panggil aja Theo, motivasi gua karna di ajak Lulba. salken semua" Ucap gua bersuara lantang dan kembali duduk.


"Next"


"Nama gua Ragas Brahma, lu bisa panggil gua Ragas, motivasi gua supaya bisa jauh dari Regas tapi sepertinya gua harus lebih jauh mainnya" Melirik barisan belakang.


"Ck! Salam kenal semua" Lanjut pemuda hantu yang rupanya bernama Ragas.


"Next"


"Kenalin nama gua Alferon Adidjaya, panggil Feron. Motivasi gua....." pemuda tengkurap yang gua ketahui bernama Feron itu tertunduk diam.


"Ya kenapa motiv lo masuk ni gank?" Tanya bang Jamet mendekat.


"Cuma pen cari prasmanan bang" Lanjutnya menampilkan wajah ceria lebih terkesan bego itu.


Bugh!!


Brag!!


Dug!!


"Ampun bang Jameeettt" Ucapnya memohon ampun dan imajiner raga yang mulai terbang menembus langit kegalauan gua.


"Klub masak di sebelah, silahkan mencuri semampunya" Ucap Bang Jamet membersihkan tangannya.


"Nghhhhh!!! NEXT!"


"Nama gua Alfin Muhammad Hasqi, panggil Alfi. Motivasi karna baca selembaran gorengan apek dan ingin cari tempat buat tidur siang. Makasih" Kembali duduk dengan ceria.


"Bisakah, bisakah cerita motivasi kita lebih serius dan benar. Kenapa kalian jawabnya ngasal trus si?!" Kesal bang Darjot hendak bangkit namun di tahan bang Iwan selaku penasehat.


Anj*ay, ni gank udah kayak perkumpulan DPR, semua orang punya kedudukan. Tapi bukannya bagus?Perkenalan kembali dilanjutkan, dan sampai pada sesi ujian.


Sementara Pemuda bernama Feron, karna ulah anehnya ia terpaksa di ujiankan bersama bang Tomi yang jujur memiliki muka sangar berkat bekas luka memanjang di pipi kirinya.


"Untung gua baek, jadi gak bernasib sial macam dia" Gumam gua bersyukur seraya mengerjakan soal dengan serius.


Beberapa menit kemudian.


"Terima kasih dan hasil ujian akan di umumkan di mading depan perpus minggu depan. Silahkan pulang, jangan beramai, ingat udah jam 1 malam" Tegur bang Jimi berlalu pergi meninggalkan kami yang hanya dapat memeluk diri sendiri.


"Theo, peluk gua dong. Gua takut gelap" Rengek Lulba hendak memeluk gua.


"Gak ah! PELUK DIRI LO SENDIRI, MACHO DONG, DASAR COWOK ALAY" Teriak gua memarahi Lulba yang malah langsung berhambur ke pelukan gua.


...***...


Keesokan harinya.


"Karna MOS telah usai, kalian boleh bubar dan masuk kelas masing-masing, dan ingat kalian selalu saya pantau, jangan masuk gank berandalan, jangan melakukan segala sesuatu yang merugikan selama sekolah, dan iiiinngggaaaaaattttttt.... Tetap di jalan kesunyian. Sekian" Ucap pak kepsek mengakhiri acara penutupan MOS.


Di kelas TKJ.


Kelas begitu ramai, semua murid rata-rata merupakan anak rantau. Tak terkecuali gua yang tidak memiliki teman ini (terus Lulba apaan?) Entahlah, biar semesta yang menjawab.


"Oi, gua duduk disini ye" Ujar seorang pemuda mengambil duduk di samping gua.


"Serah si, gua gak keberatan juga"Jawab gua mengalihkan pandangan.


" Hmph, makasih" Balasnya duduk di samping gua.


Dan akhirnya sesi pertama belajar TKJ pun dimulai.


...****...


"Ini si Lulba ngapain si nyuruh gua ke kelasnya? Mau pamer cewek cantik kali ya? Hmph... Patut dipertimbangkan, secara dari awal gua masuk gua ngak menemukan satupun bidadari. Patut di terawang ampe kelasnya ni" Fikir gua berjalan menuju kelas Lulba yang berada tak jauh dari kelas gua.


"Hahahahahahha"


"!"


Suara tawa berhasil membuat atensi gua belok kekelas yang terjepit dan suram penuh aura negatif.


"Kelas apa ini?" Gumam gua menatap ke atas pintu.


"TGB. Hmmm..." Gua kembali melirik kelas itu yang diisi oleh gerombolan murid baru.


"Hmph! Feron?" Jadi tu makhluk masuk jurusan ini, tapi kok rada aneh ngeliat dia yang biasanya bersikap goblog jadi pendiam gitu dan tatapannya.


"An*jay, tu anak tatapannya tajam banget. Mana duduknya di kursi pojok belakang lagi" Gumam gua bersembunyi di balik pintu kelas TGB.


"Beda jauh pas ketemu ama gua, apa ini sifat dia yang sebenarnya?" Lanjut gua bergumam seraya menatap Feron yang serius memperhatikan guru di depan kelas.


"Lul, lu ngapain?"


"HUAAAAAAAA!!!!! " Tiba-tiba suara Lulba datang tanpa diundang dan sontak membuat gua berteriak dan berjengit panik hingga kami menjadi tatapan anak TGB.


"Kenapa? Kenapa?" Tanya mereka semua mulai berjalan mengerumuni dan memperhatikan gua.


Gua dengan panik mulai menatap mereka semua secara acak, dan tanpa di sadari tatapan gua dan Feron bertemu.


Tatapan mengerikan, atau sebenarnya apa? Kenapa dia mempunyai aura semenyeramkan itu?


.......


.......


.......


.......


...TBC...