
Di resto sushi.
Ini gimana cara makannya sih?
Inner hati Nanda menatap makanan yang berada tepat di depannya dalam ekspresi bingung.
Sementara Feron yang tak peka dengan Nanda malah makin asyik melahap shisamo dengan sumpit yang bahkan Nanda pun sulit mencapit makanan dengan benda ini dan beralih mendekatkan wajahnya dengan Feron yang sedang asyik mengunyah dengan lahapnya.
"Fer shuutt" Bisik Nanda memecahkan keseriusan Feron menikmati setiap inci dari telur ikan salmon yang pecah di mulutnya.
"Paan?" Tanya Feron di sela suapan keduanya pada Ebikko sushi lagi.
"Ada garpu ngak?" Tanya Nanda membuat sumpitan sushi yang hendak di lahap Feron terhenti di udara, bahkan mulutnya masih ternganga.
"Nand, disini kalau mau makan gak ada yang namanya garpu ataupun sendok kayak di warteg" Ucap Feron langsung meletakkan kembali sushinya dan lanjut menatap Nanda kembali.
"Dan jugaaaa...." Feron langsung memukul punggung tangan Nanda yang baru saja menusuk sushi dengan satu sumpit. Feron langsung mengayunkan telunjuknya, mengisyaratkan 'jangan'
"Lebih baik kamuuuu, " mengarahkan sumpit yang sudah tercapit sushi kehadapan Nanda yang langsung melahapnya.
"Kamu pegang pake tangan aja" Lanjut Feron meletakkan sumpit ketempatnya. Feron langsung mengambil sushi dan mencocolnya ke wasabi kemudian melahapnya dalam sekali gigitan penuh.
Namun bagi Nanda sendiri, ini bukan makan tapi tempat para orang kaya membuang uang hanya untuk seporsi makanan sekali kunyah. Kecil dan tak mengenyangkan. Apalagi cara makannya yang ribet dan penuh tata krama, hampir membuat Nanda minder sendiri saat melihat anak usia 4 tahun saja sudah sangat mahir menggunakan sumpit, sementara Nanda sendiri...
Nanda menunduk, ia menatap ke arah Ramen yang sengaja di pesan Feron karna mengingat salah satu anime jepang.
"Makan Nand" Tawar Feron tersenyum pada Nanda yang hanya dapat mengangguk kaku.
Jangan bilang makan ni mie bihun gak boleh pake sendok.
Isi hati Nanda menusuk-nusuk mie Ramen dalam senyum paksa. Ia mengalihkan pandangannya ke arah samping, menatap anak kecil sebelumnya yang Nanda banding-bandingkan kini tengah menyantap Ramen dengan rakusnya. Gerakan sumpit yang begitu natural di tunjukkan anak kecil itu pada Nanda yang langsung menampilkan wajah kesal setelah melihat ia tersenyum meremehkan Nanda yang dari tadi hanya dapat makan satu sushi saja, itupun karna di suapi Feron. Entah karna lupa atau apa, Nanda malah melupakan satu ucapan Feron yang mengatakan jika sushinya bisa langsung di ambil dengan tangan saja. Hmmm... Mungkin dia lupa.
"Hahahahahahha, ada orang desa masuk kota hahahahahahha, kakaknya kuper pa, ma hahahahahaahahaha, makan sushi aja gak bisa hahahaha" Tawa riang anak itu menunujuk Nanda yang seketika langsung menunduk dalam, dia juga tau sopan santun untuk tak berteriak dan bertindak brutal disini.
Ditambah dengan pakaian yang ia kenakan, membuat Nanda semakin ingin keluar saja dari tempat ini. Semua orang termasuk Feron memakai pakaian yang bahkan bisa mengisi kedai rumah Nanda.
Nanda menatap Ramen, atau lebih tepatnya menatap pantulan wajahnya pada kuah Ramen.
"Ron" Panggil Nanda pada Feron yang asyik melihat menu lainnya di smartphone.
"Iya Nand, ada apa? Kurang Ramennya?" Tanya Feron.
"Bukan itu dugong!" Kesal Nanda.
"Lah? Trus? (mengusap dagunya) Oh, gua tau. Dessert kan, tenang aja. Gua udah pesan kok"
"Bukan itu juga Babi!" Balas Nanda makin kesal.
"Lah trus?" Tanya Feron tak paham.
"Kurang enak makanannya?" Lanjut Feron bertanya. Nanda mengangguk dan langsung menunduk, membuat perasaan Feron seketika kalut.
Gua salah milih tempat ya? Atau tempatnya kurang nyaman.
Inner Feron menatap ke segala arah, hingga tatapannya terhenti pada seorang anak yang menatap Nanda dalam kekehan lebarnya menunjuk Nada mencemooh, bahkan kedua orang tuanya ikut menjuliti Nanda karna pakaiannya yang lusuh. Seketika emosi Feron langsung naik dan beranjak dari kursinya untuk menghampiri anak itu.
"Ron, lu mau kemana?" Tanya Nanda hendak meraih pergelangan jaket Feron. Namun sepertinya terlambat.
"Tolong ya di jaga tata krama anaknya ibuk dan bapak!" Ucap Feron menyilangkan kedua tangannya kesal, menatap ke arah anak dan orang tua bergantian.
Ayah si anak langsung menaruh sumpitnya dan menghadap ke arah Feron.
"Maksudnya?" Tanyanya.
"Anak bapak gak sopan natap temen saya, dan jujur saja itu menggagu pak. Apalagi mulut anak bapak ini membuat nafsu makan saya dan teman saya jadi hilang" Umpat Feron kesal, menatap anak itu dalam ekspresi marahnya.
Anak itu seketika menampilkan gurat ingin menangis, namun segera di sambut Feron dengan ucapan lainnya.
"Anak laki-laki tidak boleh cengeng, mau jadi apa kamu masih kecil saja sudah berani mencemooh teman gua, besar pasti lu beban orang tua" Sarkas Feron menatap anak itu tajam, dan pada akhirnya anak itu tetap menangis kencang.
Trak!! Prankk!!!
Semua barang di atas meja makan orang tua anak itu terhempas jatuh ke lantai, Feron dengan tidak sopan langsung menendang meja itu hingga semua piring dan peralatan makan lainnya terjatuh dan menyebabkan bunyi suara yang kentara. Semua tatapan mengarah pada mereka.
" Emang gua gak punya mama! Mau apa lo, dasar ibu muda kebelet kawin, didik anak aja masih remedial apalagi mendidik suami, Heh! " Balas Feron melirik kedua orang tua muda itu remeh, tanpa ingin memperpanjang pembicaraan Feron langsung berbalik ingin kembali ke mejanya.
Namun tangan lain malah menahan pundak Feron dan langsung membalikkan badan itu dan dengan cepat sebuah bogeman mentah berhasil menghantam hidung Feron hingga mengeluarkan darah segar.
**Duagh!!!
Duagh!!!!
BUGH!!!
BUGH**!!!!
Feron terjatuh, namun ayah dari anak itu malah makin brutal menendang perut Feron hingga sang empunya muntah darah.
"Berani-beraninya kau tidak sopan dasar sampah!!!!" Teriak ayah anak itu menunjuk Feron marah hingga urat di keningnya menjalar keluar.
"UHUK!! Uhuk!!! (tersenyum remeh dan bangkit) Lu pikir," Feron bangkit dan menampilkan Smirk meremehkannya.
"Fer, udah Fer. Gak apa-apa kok, baiknya kita pergi aja dari sini" Ajak Nanda menggenggam tangan kanan Feron kuat, Feron memandang wajah Nanda yang jelas menampilkan gurat tidak nyaman.
"Bentar ya Nand, orang kayak gini harus di kasih tau tata krama dulu" Bisik Feron menepuk-nepuk punggung tangan Nanda yang berusaha menahan Feron lalu melepaskannya perlahan.
"Jadi lo mau tangan kanan apa tangan kiri (mengangkat kedua tangannya) kiri rumah sakit, kanan UGD." Tawar Feron tersenyum, sementara ayah anak itu tak paham sama sekali.
"Karna lu kelamaan jawab, gua kasih lu..."
Brugh!!!
Duagh!!
Duagh!!
Prankkkk!!!!
Tak sempat dihindari, pukulan Feron terus bertubi mengayun memukul ayah dari anak itu hingga mereka terjatuh ke meja makan Feron masih tetap memukul brutal, mengerahkan semua emosinya pada setiap pukulan yang ia layangkan.
"Aaaaaaaaa..... Su.. Sudahhhhh cuuukuupppo hikssss.... Haaaaaaaaa..... Jangannnnnnn" Tangis sang istri dan anak yang saling bersaut, menatap sang suami sudah pingsan di hajar Feron.
Seperti biasa, sang security baru saja datang setelah Feron selesai dan sudah mengelap tangannya dengan tissue.
"I-ini tttuan pesanannya" Ucap seorang waiters wanita menyerahkan kotak pada Feron yang langsung menatapnya dalam.
"Makasih!" Sarkas Feron langsung mengambil kasar kotak tersebut dan langsung menyerahkan black card pada waiters itu.
"Kubayar semua kerusakannya" Ucap Feron menatap waiters yang langsung bergetar dan berbalik, memberikan isyarat pada security untuk membantu pasangan suami istri itu.
Sementara Adiniata yang baru saja keluar dari ruangannya, Ia hanya menatap Feron dalam ekspresi bercampur aduk. Ia mengerahkan banyak waiter dan security lainnya untuk membersihkan tempat dan mengamankan keadaan kembali. Namun, tatapan kecewanya masih tetap ter-arah pada Feron yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Semua tatapan yang di berikan Adi tak luput dari Feron yang hanya menampilkan tatapan datar menanggapinya, dan langsung menarik Nanda untuk pergi meninggalkan tempat itu.
Waiters yang baru saja menerima black card Feron seketika langsung di hentikan oleh Adiniata, "Antarkan dua pasangan itu dan anaknya ke rumah sakit dan jangan sampai semua kejadian ini bocor ke pihak luar, bayar mereka semua untuk tutup mulut" Perintah Adiniata.
"Baik bos" Balas sang waiters undur diri.
"Feroonn" Gumam Adi menatap Feron di meja kasir bersama temannya yang di ketahui Adi bernama Nanda.
.
.
"Semoga harimu sabtu terus"
...Tbc...