All For Dreams

All For Dreams
Dua pilihan



"ROBERT!!!" Teriak suara itu hampir membangunkan seluruh pelayan.


"I-iya iya tuan" Balas Robert berlari ke ruang kerja sang tuan.


"Aku butuh data semua pekerja di Smk 1, berikan semua tanpa terkecuali, dan hubungi Gundur karna sepertinya dia sudah melupakan banyak hal" Titahnya memberikan gekstur pergi pada Robert yang patuh.


"Baik tuan, akan segera saya laksanakan" Ucap Robert tunduk hormat dan berlalu.


*****


...Panggilan telfon....


"Hallo?"


^^^[Kau sepertinya butuh peralatan Baru]^^^


"Hmph! Sudah saya duga anda peka" Jawabnya tersenyum bahagia.


^^^[Buat surat peringatan, dan kirimkan ke Smk 1.aku ingin tau bagaimana reaksi Binosti Kusumo tentang ini]^^^


"Baik bos, saya tidak akan mengecewakan bos" Balasnya serius menatap PC.


****


"Kita mau kemana si Ron?" Tanya Nanda berusaha melepaskan diri dari Feron namun begitu sulit, bahkan Nanda sampai menyesal pernah mengajari Feron bagaimana melakukan gerakan mengunci tangan lawan agar ia tidak dapat melepaskan genggaman.


"Nyesal gua pernah kasih tau teknik ini" Geram Nanda menyesali kebaikannya pada Feron yang hanya menampilkan senyum puas seraya menggenggam tangan itu kuat berjalan di koridor sekolah.


"Fer, lepas dulu ngapa dah!" Geram Nanda menendang tulang kering Feron, namun sepertinya percuma karna kini Feron beralih menatapnya geram.


"Ok fixs" Feron melepas genggamannya pada Nanda.


Kini Nanda dapat merasakan yang namanya bebas, pastinya sebelum Feron beralih membopong Nanda layaknya karung beras.


"Anjir! TURUNIN GUA RON, TURUNIN. GUA BERAT ASW!" Teriak Nanda disela usahanya untuk melepaskan diri dari gendongan Feron.


"Berisik amat si" Ucap suara itu jengah.


"Eh?" Nanda diturunkan di tengah lingkaran gank Feron.


Semua pemuda itu tersenyum, termasuk Feron yang menampilkan gurat bahagia. Sementara Nanda, ia malah menampilkan wajah bingung dan tak mengerti kejadian yang sebenarnya.


Nanda beralih melebarkan pandangan, mencari Alfi yang sepertinya lebih normal disini dan benar saja, rupanya Alfi malah ikut tersenyum kearahnya.


"Nanda" Ucap Feron, membuat Nanda kembali menghadap sang ketua gank yang kini malah berlutut dihadapannya.


"Mau gak, lo jadi pacar gua?" Tanya Feron seraya membuka kotak kecil berisi kalung indah berlapis berlian disekitar abjad yang bertuliskan F dan N.


Apa-apaan semua ini


Suara hati Nanda menutup kedua mulutnya bingung dan syok tak percaya.


"Jika lo nerima gua, ambil kalung dengan abjad F ini Nan" Lanjut Feron semakin mengarahkan kotak mewah itu kehadapan Nanda yang tidak dapat berkata apa-apa.


Semua diam menunggu reaksi Nanda yang malah kaku ditempat.


"Udah lah ketua, kalau Nanda gak mau nerima lo, pasti dia mau nerima Regas Brahma ini, betulkan Nan?" Ucap Regas langsung merangkul Nanda, Regas juga berbisik hal gila di telinga Nanda.


"Terima gua aja Nan, setidaknya gua gak banyak masalah kayak Feron"


Bisik Regas memberikan smirk menggoda pada Nanda yang mencoba menahan rona pink di mukanya.


"Aaaa----" Nanda tidak dapat berkata apapun,kini tangannya malah diraih oleh..


"Alfi!!!!" Nanda terkejut bukan main, kini Alfi berdiri di samping Nanda seraya menunjukkan sebuket mawar merah besar yang berhasil menutupi muka pemuda itu.


"Nanda, mungkin ini terlihat gila, tapi gua pengen lo tau kalau hati ini gak bisa berpaling dari lo sejak lama, semua wanita kalah dengan kecantikan lo, lo yang pemberani, kuat, dan cantik menjadikan satu poin lebih bagi gua untuk meminang lo. Ini adalah suatu ungkapan sebagai bukti kalau gua beda dari Feron dan Regas yang cuma modal omongan manis doang" Terang Alfi memiringkan buket bunganya dan tersenyum tampan pada Nanda yang sudah menampilkan wajah merah semerah tomat.


"Aaaa-" Nanda tidak tau mau bilang apa lagi.


"Nanda!" Teriak suara lainnya.


Nanda langsung beralih pandang kembali.


"A-ANWAR!!!" Jerit Nanda.


"Kalau mereka pamer harta, gua pamer surat tanah sama lo, ini aset kita setelah menikah, jadi hempas mereka dan hidup bahagia sama gua" Ucap Anwar mantap berjalan kearah Nanda.


"Hmph!?" Semua langsung mengalihkan pandangan pada Feron yang menunduk.


"Harta ya" Feron berdiri, pandangannya menatap remeh kearah semua orang.


"Masih kaya gua ketimbang lo semua, jadi kalau mau laga kaya, sebaiknya lo perbaiki lagi silsilah keturunan yang masih miskin itu" Ucap Feron meremehkan semua temannya.


"Dan juga" Lanjut Feron menatap Nanda sendu.


"Feron" Ucap Nanda tersihir oleh mata itu.


"Gua...." Lanjutnya.


.


.


.


"Nan, woy sadar woy!!" Suara itu berhasil menyadarkan Nanda dari tidur singkatnya.


"Lo gak mau mati muda kan?" Ujar Feron memandang spion motor maticnya.


"HA? Apa maksudnya?" Jawab Nanda ling-lung menatap sekitarnya.


"Dimana gua?" Lanjut Nanda memandang punggung Feron.


"Di hutan lindung putri tidur" Jawab Alfi dengan seringaian mengejek.


"HA?" Balas Nanda masih tidak mengerti situasi.


"Lo kan tadi minta diantar pulang Nan, kok lu malah tidur si?" Geram Feron menggoyang motornya kiri-kanan,membuat Nanda hampir terjatuh kalau saja ia tidak mengingat mereka sedang berhenti di bahu jalan.


"Eh iya kah?" Balas Nanda menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Hihihi, efek tidur membuat Nanda idiot. Apalagi igauannya, hihihihi pen ketawa njir. Lu dipinang siapa ha? Genderuwo? Hahahahahahha" Balas Alfi kembali tertawa geli di motornya yang tepat bersebelahan dengan motor Feron.


"Ape lu bilang HA!!!!" Ucap Nanda mulai emosi.


Ctak!!!


Satu pukulan berhasil diterima Alfi tepat dikepalanya yang langsung mengeluarkan asap panas.


"Rasakan" Kata Nanda memperbaiki duduknya di jok belakang.


"Dasar jahat lu Nan" Ucap Alfi mengusap kepalanya yang sudah berasap.


"Syukurin" Jawab Nanda yang mengusap bibirnya yang baru mengalirkan sedikit air liur.


"Iiiii, Nanda meler di punggung Feron, iiiiii!!! Cepat Ron, mandi kembang tujuh rupa, badan lo udah terkontaminasi racun Nanda" Ucap Alfi menampilkan ekspresi jijik.


Ctak!!


Ctak!!


"Ngomong lagi, lo gua lempar kehutan lindung" Marah Nanda berhasil menambah benjolan di kepala Alfi hingga sang empunya hanya dapat menunduk menahan sakit.


"Oh iya Ron, bukannya tadi pas belajar lo mau ajak gua kesuatu tempat? Kok lu malah langsung antar gua pulang?" Lanjut Nanda bertanya seraya menatap spion yang menampilkan wajah tersenyum Feron.


"Gak jadi deh Nan, urusan ini tiba-tiba berganti genre menjadi urusan lelaki" Balas Feron ikut menatap spion motor, tepatnya menatap Nanda yang langsung kesal.


"Oh iya, lu dah sadarkan? Jangan tidur lagi, entar di buang Feron ke jurang baru tau rasa lo" Ancam Alfi menstater motornya.


"Iya bego" Sungut Nanda mengucek kedua matanya.


"Cus" Titah Feron menjalankan motornya.


Sementara itu, 1 jam kemudian di kafe.


"Ah! Lama banget!!!!" Geram Afni sudah mondar mandir ditempat, minuman yang ia pesan juga sudah habis, bahkan make up yang ia pakai hampir pudar tak tersisa.


"Feron Kok lama banget si" Jengkel Afni menatap jam tangan.


"Uuuuu... Sebal deh kalau kek gini" lanjutnya lagi kembali duduk dengan mulut yang digembungkan.


"Lama banget ya" Bisik Wilda pada Afni yang langsung menatap ke tempat duduk belakang.


"Iya ni, aaaaa~ sebel, sebel, sebel!!! Padahal udah sengaja tampil cantik dan mandi kembang tujuh rupa supaya wangi malah yang dinanti tak kunjung datang menghampiri" Kesal Afni mengacak rambutnya yang sudah kusut tak rapi lagi.


"Awas aj-"


"Afni.. Afni, itu Feron dah datang" Teriak Wilda tertahan seraya mengarahkan wajah Afni kearah Feron.


Seketika muka Afni langsung cerah, rambut yang tadinya kusut cepat ia sisir dengan tangan, lipbalm yang sudah memudar kembali dioles, kini Afni berdiri cantik seraya melambai pada Feron yang langsung berjalan kearahnya.


Sementara Wilda sontak langsung bersembunyi, menunggu kesuksesan sang sahabat bersama Meilin yang hanya diam sedari tadi.


Aneh sekali.


...TBC...