All For Dreams

All For Dreams
SADNESS (promotion)



...Kamu tidak perlu menjadi salah satu di antaranya, yang kamu perlukan hanya ada di antaranya...


^^^Ryouichi , 2018^^^


.............


.......


.......


...Kisah dari sisi sang walas PT. 1...


"Tidak semua kisahnya akan dikisahkan, ada beberapa hal yang tak dapat di sebutkan. Dia berharap kalian paham"


.


.


.


Pukul 20.29 WIB.


Tanah hiburan Pekanbaru, distrik rahasia yang tak kan pernah kau jumpai. Tempat para orang tersohor untuk sekedar menghabiskan malam sunyi mereka. Atau mungkin tidak?


"Aku tidak tau kalau pengacara itu akan membuat tempat berdosa ini" Ucap seorang pria kaya meminum Vodkanya rakus.


"Benar bukan Tuan William, di mana lagi orang luar seperti kita mendapatkan fasilitas semenakjubkan ini di kota yang terkenal akan adat melayunya. Aku bahkan sampai tercengang saat pertama kali kesini, distrik ini benar-benar menyediakan pelacur kelas tinggi" Lanjutnya menerima suapan manis anggur dari seorang wanita malam yang rela duduk di pangkuan lebarnya. Pria bule itu bahkan sampai melancarkan aksinya mengelus bagian paha dalam sang wanita malam yang hanya bisa menampilkan senyumnya. Lima wanita malam siap menghangatkan pria itu, namun berbeda dengan lawan bicaranya.


"Tuan William, kau tidak mau mencoba salah satu pelacur disini? Aku bahkan sudah menjadi pelanggan tetap. Jika kau mau aku bisa merekomendasikan barang segel, bagaimana?" Tanyanya menatap William yang hanya diam memperhatikan seraya mengaduk gelas Vodka yang berada di genggamannya pelan.


" Mungkin Tidak" Balasnya datar tanpa ingin memandang pria bejat yang saat ini tengah menjadi partner bisnisnya itu.


"Kau mengundang ku kemari untuk berbisnis, bukan untuk menikmati wanita malam" Lanjutnya melirik salah satu wanita malam yang berusaha menggodanya.


"Maaf, aku tak berselera dengan wanita pribumi" Ucapnya pedas menatap garang wanita yang hampir menyentuh ujung kemeja mahalnya.


William, pria itu beranjak dari sofa nyaman Club malam itu. Meninggalkan rekan bisnisnya yang kini kesusahan untuk berdiri karna terhalang oleh para wanita malam.


"Hi! Tunggu sebentar MR. RY-"


.


.


Sebuah siluet pria dengan ukiran hidung mancung dan badan Sixpack roti sobek. Tengah menatap Seren lapar.


"Kemari lah" Ucap suara Bariton itu memerintah Seren yang sontak terkejut dengan panggilannya. Ia bahkan kini beralih posisi dari duduk menjadi terlentang di atas kasur tanpa menutup tubuh atasnya, sekali lagi tubuh bagian atas! Apa Seren lupa kalau pria bule itu sudah tak memakai atasan sedari tadi?


"Apa kau tuli?! Aku bilang kemari dasar idiot" Ucapnya lagi, namun kini di sertai hinaan yang hampir membuat Seren syok di tempat.


Dengan gerakan lambat Seren berjalan mendekati ranjang.


"Berhenti disitu" Stop suara Bariton itu menyuruh Seren berhenti dari kegiatannya yang ingin menaiki ranjang.


Pria itu sontak langsung berdiri dari posisi terlentangnya dan berjalan ke arah kursi untuk mengambil handuk dan menyampirkannya di area pinggang melindungi boxer hitamnya.


"Aku hanya ingin keadaan kamar ini terang" Lanjutnya kini menyalakan semua lampu.


Seren di tempatnya hanya bisa membatu, mengikuti perintah sang tuan yang sudah memesannya.


"Jadi, kita harus mulai dari apa dulu?" Tanya pria bule itu yang sudah berada tepat di samping Seren yang masih membatu.


Pria bule itu, William. Kini mengapit dagu Seren dengan kedua jarinya, memaksa gadis itu untuk memandangnya yang kini seperti ingin marah.


"K-kau!!! KAU PRIA BULE YANG MENATAPKU SECARA SINIS, BETAPA TIDAK SOPANNYA" Marah Seren meluap setelah berhasil menatap keseluruhan dari wajah bule itu.


"Apa?" Tanya William aneh.


.


.


.


"Ck!! Dia pingsan. Padahal aku hanya bercanda" Bisik William kembali menatap Seren yang tak bergerak kemudian menjatuhkannya ke lantai balkon dengan kasar hingga bunyi kedebam yang begitu kuat terdengar.


Dalam pandangan Seren, semua sudah gelap. Ia hanya dapat mendengar dengan lirih suara polisi dan suara penggerebekan lainnya.


"Apa aku akan mati?"


Lirihnya dalam hati. Sedikit senang mungkin saja. Atau terlalu naif?


.


.


.


"Selamat pagi putri tidur. Apa mimpimu menarik?" Smirk William duduk bersilang kaki menatap Seren yang langsung terpelanjat dari tidurnya.


"A-apa? Bagaimana bisa!? Kau- polisi?" Ucap Seren terbata langsung bangkit dan menyudut ke pinggir tempat tidur menjauhi William yang semakin melebarkan senyum iblisnya.


"Uang mengatur negara" Sinisnya menatap Seren licik.


...Kisah dari sisi sang walas PT. 1...


...End...


......Promosi SADNES......