All For Dreams

All For Dreams
Kita putus dan maaf



Sudah seminggu Nanda di rawat di kediaman Luna, teman-teman dan keluarga juga tak luput menjenguknya. Terlebih Anwar yang datang, walau tak sesering Feron yang selalu di usir Nanda dengan brutal.


Kini Anwar duduk di kursi yang tepat berada di samping Nanda.


"Kamu mau ngomongin apa War, dari tadi diam bae?" Tanya Nanda sedikit jenaka.


Anwar menghela nafas "Nand, kayaknya hubungan ini udah gak bisa di lanjut."


.......


.......


.......


.......


...All For Dreams...


...Kita putus dan maaf...


.......


.......


.......


"A-apa maksud lo?" Tanya Nanda tak paham.


"Ya itu maksud gua, kita putus. Apa omongan gua kurang jelas?" Tanya Anwar yang langsung berdiri.


"K-kenapa?" Tanya Nanda.


Anwar menggeleng dan tersenyum sedih "Bisa-bisanya lo bilang kenapa di saat lo yang nyakitin gua tanpa sadar!!!" Menunjuk dirinya sendiri dan Nanda bergantian.


Nanda diam, dia tidak mengerti. Namun sejenak kemudian Anwar berlalu pergi "Gua harap, meskipun lo dan gua udah putus, kita gak saling berjauhan." Lirih Anwar pergi meninggalkan Nanda di ruangan sepi itu.


"Anwar..." Gumam Nanda menundukkan kepalanya.


.


.


.


.


Sebulan berlalu, kini Nanda sudah dapat bersekolah seperti biasa walau ia masih di dampingi obat-obatan oleh Luna.


"Assalamualaikum." Ucap Nanda lebih ke arah berbisik.


"Pagi, " Balas Ryou dengan senyum ceria "Silahkan duduk anak silat bapak." Lanjut Ryou mempersilahkan Nanda untuk duduk di tempatnya.


"Gua pindah ya Fio, gak enak si Nanda udah datang." Bisik Feron yang hendak berdiri dari kursi.


Fiona langsung menahan tangan Feron "Disini aja Ron, masak lo tega ama gua sih. Kemaren pas gak ada Nanda lu lari ke gua, sekarang udah ada Nanda lu mau ninggalin gua. Gak bisa gitu dong!" Keluh Fiona.


"Ehhhh...." Feron memperhatikan Fiona dan Nanda bergantian.


Agak sedikit bimbang memilih ini, namun Feron kembali teringat akan ucapan papa Nanda yang membuatnya jadi duduk di kursi sebelah Fiona kembali.


Tatapan Feron menjadi sedih dan sedikit kalut, sampai ia kembali menatap Nanda yang juga menatapnya sedih.


"Maaf." Gumam Feron dan mengalihkan atensinya.


.


.


.


Jam istirahat.


Semua siswa berhamburan keluar kelas untuk mencari makanan pengganjal perut. Sedikit tidaknya, Nanda masih mempertahankan kebiasaannya membawa bekal.


Ia memandang ke arah Feron yang masih merapikan alat tulisnya dalam diam.


Niat hati Nanda ingin menyapa namun di halangi oleh punggung Fiona yang langsung menarik Feron untuk pergi ke kantin. Anehnya Feron tak melawan dan malah pasrah mengikuti Fiona meninggalkan Nanda seorang diri.


"Ada apa sama dia?" Keluh Nanda memandang arah perginya Feron.


"Ya udah, mungkin dia emang sibuk. Baiknya gua chat Alfi aja, tumben dia telat dateng. Apa jangan-jangan dia ada praktikum dadakan kayak yang lalu-lalu?"


Nanda melakukan Chat pribadi dengan Alfi, namun 30 menit berlalu chat Nanda masih di abaikan sampai gadis itu bosan dan memilih untuk membuka dan memakan bekalnya dalam ke hampaan kelas tanpa satupun siswa/i selain dirinya.


.


.


.


.


Jam pulang sekolah.


"Angga, baut tujuh belasnya mana?"


"Kayaknya gua kenal suara itu." Gumam Nanda menaikkan kepalanya menatap ke arah sumber suara.


"Dimana ya Gas? Gua lupa." Sahut Anggara mencari-cari baut yang di maksud Regas.


"Waduuhhh... Gimana dong kalau kayak gini ceritanya. Masak turun lima naik tiga baut motornya, nanti kalau yang bawa motor khilaf nyaingin Rossi bisa bawa beras campur kita ke rumahnya." Keluh Regas mengusap keningnya yang langsung hitam karna oli.


Bahkan headband yang ia gunakan juga ikut terkena imbas oli yang menempel di tangan Regas.


"Oi Regas, lagi ngapain!?" Teriak Nanda mengejutkan Regas yang langsung cosplay jadi burung.


"Oi mamamamamamamamamkkkk.... Astaga, gua kira siapa. Ngagetin aja lo!" Regas langsung menurunkan kedua tangannya dan berjalan santai untuk membersihkan bekas peralatan yang ada sambil mencari baut.


"Hehehehehehhe sorry (Berjalan masuk ke Bengkel TSM) lagi ngapain?" Tanya Nanda mengambil duduk di kursi yang tersedia.


"Biasa, lagi benerin motor adek kelas. Kemaren kami promosi buat ambil nilai sekalian beramal Service motor adek kelas lu." Ucap Regas menekankan kalimat terakhir.


"Hehh.. Ngapain lu beramal lagi? Gua rasa lu cuma butuh dosa deh kali ini." Sahut Nanda.


"Eh? Kenapa harus dosa di saat dosa gua udah setinggi Tajmahal." Balas Regas menaikkan tangannya, mereplikakan dosanya yang menggunung.


Nanda tersenyum, namun senyumannya langsung berubah sendu "Makasih ya udah nolongin papa gua."


Regas diam, gerakannya juga ikut terhenti "Gak apa-apa, itu semua murni kesalahan kami kok."


"Btw, gua baru tau kalau lu itu anak dari pemilik PT. Tempat papah gua kerja, gak nyangka ya dunia itu rupanya sempit hahahahahaha." Ucap Nanda menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Dunia emang sempit bagi orang yang banyak masalah (tersenyum ke arah Nanda) salam kenal ya, besok kalau ada masalah di PT bilang aja sama gua, entar gua yang tanganin." Regas berjalan ke arah Nanda, memberikan gekstur keluar bengkel.


.


.


.


"Lu mau bicarain apa?" Tanya Regas to the point.


Nanda bingung harus mulai dari mana sebelum Regas kembali bersuara "Jika itu mengenai sikap Feron, gua rasa itu adalah pilihan sikap terbaik untuk saat ini."


"Kenapa?" Tanya Nanda cepat, ia ingin segera menyelesaikan permasalahan ini, ia tidak ingin terus-terusan berjauhan dengan Feron.


Regas memandang Nanda, agak sedikit ragu memberikan jawaban ini atau tidak.


"Ya karna itu, lu harus tanya Feron sendiri untuk tau kebenarannya. Kalau tanya gua entar jatuhnya gosip."


Akhirnya mereka berdua diam, Nanda jadi ragu untuk kembali bertanya sampai suara langkah kaki datang menghampiri.


"Regas, lu jadikan nginep di rumah gua?" Tanya Feron seraya memainkan helmnya tanpa mengetahui ada Nanda di samping Regas.


Namun saat mata itu menatap Regas, ia langsung dapat menatap Nanda yang juga menatapnya.


Feron tersenyum simpul "Kok lu belum pulang Nand, si Anwar udah pulang duluan tu (menunjuk ke arah gerbang) Kalian gak kenapa-napakan?"


Regas langsung menyela "Gua rasa kalian deh yang kenapa-napa?"


Feron dan Nanda langsung menatap Regas. Namun Nanda langsung menanggapi ucapan Feron tadi dengan ikut tersenyum "Kita udah putus, jadi udah gak ada alasan lagi bagi Anwar buat peduli ama gua."


"Loh? Kok tiba-tiba?" Tanya Regas lagi hingga membuat Feron yang sudah menganga jadi sabar pribadi, menutup mulutnya sebelum kalimat makian yang di semburkan.


"Ya gitu, gua juga gak tau kenapa. Yang jelas dia bilang gua yang nyakitin dia tanpa sadar." Balas Nanda tersenyum kecut memandang ke arah sepatunya.


Dalam persekian detik mereka kembali diam. Perasaan dilema langsung menyinggahi relung hati Feron, ia ingin menghibur Nanda, tapi karna peringatan papa Nanda membuat Feron harus berkeras hati.


Ia tidak ingin Nanda kenapa-napa karna dirinya, lagi.


Feron memalingkan muka sebelum ia mengatakan "Kalau gak ada yang mau di bicarakan lagi, gua duluan Re. Bye... Gua dul-"


"Bentar Ron, ada yang mau gua bicarain ama lo." Sergah Nanda menahan Feron.


Feron menatap tangan Nanda yang menahan lengannya dalam diam.


"Fer, kita perlu bicara" Ucap Nanda lagi, kali ini ia berusaha untuk menguatkan hatinya.


Feron hanya menatap dalam diam, pandangan tak sanggup namun masih terselip rasa untuk menghindar "Kalau lo cuma mau ngomongin sesuatu hal yang bakal merusak persahabatan kita, lebih baik lo gak usah omongin Nand." Balas Feron.


Maaf....


.......


.......


.......


.......


.......


...TBC...