All For Dreams

All For Dreams
Just say that, Are you ok?



Di tengah suasana ketenangan di balik bengkel MM. Feron dan Nanda berdiri saling berhadapan. Tidak ada lalu lalang siswa/i yang ramai seperti jam-jam lainnya.


Kali ini Nanda seperti diberkati, suasana yang mendukung dengan angin yang bertiup pelan mengantarkan anak rambut Feron melambai indah di antara wajah rupawan itu.


"Gua gak yakin kalau disini bakal senyaman ini untuk beberapa jam lagi, tapi gua yakin untuk beberapa menit obrolan kita berdua bakal serius sebelum jam istirahat kedua berbunyi." Ujar Feron acuh tak acuh menatap sekitar.


"Ok, maaf sebelumnya Fer," Nanda berucap dalam penyesalan.


Feron langsung melirik Nanda walau sedikit "Buat apa minta maaf?"


"Untuk ucapan papa gua ke elu Fer, gua bener-bener minta maa-"


"Gak usah, lagian yang di katakan oleh om Beni Caksa benar adanya. Jika lo sering di dekat gua itu gak baik, walaupun lo jago silat tapi lo tetaplah cewek bagaimanapun lo menampik hal itu Nan." Potong Feron.


Nanda langsung diam, sudah lama ia tak secanggung ini dengan Feron semenjak pertama bertemu.


Dan sekarang pemuda gondrong itu menatap Nanda tepat di mata gadis itu, walau sedikit menunduk Feron tetap nyaman dengan posisinya.


"Jadi lo mau ngomongin apa ama gua?" Tanya Feron bersedekap dada.


Ia juga memperhatikan sekitar, bahkan sedari tadi Feron memperhatikan jendela bengkel MM, takut-takut kepala Alfi tiba-tiba mencelos keluar sambil menatap mereka dengan tatapan ingin di pukul Feron.


Nanda jadi salah tingkah sendiri, di suruh untuk berbicara seperti ini oleh Feron sungguh membuatnya gugup untuk pertama kalinya, namun Nanda harus mengutarakan hal ini secepat mungkin.


Kapan lagi bukan?


Dengan segenap rasa malu yang sudah dibuang jauh-jauh, Nanda mengambil ancang-ancang seperti ingin memukul orang.


"FERON!" Teriak Nanda.


Feron dengan was-was menatap Nanda yang tiba-tiba berteriak "I-iya?"


"Huuuuuufffftttt...... (mengambil nafas besar hingga kedua pipi itu menggembung) FERON GUA SUKA AMA LOOOO!!!!!" Teriak suara Nanda menggelora hingga tulisan tangan pak Sutejo langsung tercoret, Buk Rara yang berjalan slay dengan sepatu hils 12 cm langsung terpeleset, mang Oskar yang tiduran santai di atas gerobak langsung terjatuh, bang Ical yang sedang memperbaiki pamplet 'di larang duduk di atas rumput' langsung terjatuh dan sontak duduk di rumput tersebut.


Sementara Feron sendiri langsung terjatuh mendengar penuturan Nanda untuknya. Feron tidak percaya, ia seketika menampilkan wajah syok dengan mulut menganga besar.


"APA!!!?" Ucap Feron tak kalah menggelora.


Feron langsung berdiri dan mengecek dahi gadis yang baru saja mendeklarasikan isi hatinya itu.


"Lu sakit ya?" Tanya Feron menyentuh wajah, pipi, pundak hingga tangan gadis itu secara cepat. Namun Nanda tak membalas pertanyaan Feron.


Ia hanya menunduk, mengumpulkan nyalinya sekali lagi untuk mengatakan kalimat berikutnya, namun Feron malah selalu mulai dengan kalimat konyol lainnya.


"Gua serius gobl*k, gua ngak lagi latian drama juga kalau otak udang lo nanya." Sentak Nanda cukup kesal.


Feron langsung membatu, pegangannya pada pundak Nanda seketika berhenti. Feron langsung menjauhkan tangannya.


"Jadi...." Feron menjeda, ia menggaruk kecil dagunya sebelum kembali berbicara "Lu menu-tidak maksud gua lu suka ama gua maksudnya Apaan? Enggak, maksudnya lo suka dalam artian sayang sebagai pasangan gitu?" Tanya Feron sekali lagi, takut-takut ia salah dengar dan menafsirkan.


Walau terkesan murahan, jika kalian di posisi yang di alami oleh Nanda, sangat di yakinkan kalian tidak akan meninggalkan kemungkinan untuk gila seperti Nanda.


Feron menatap wajah itu, walau sudah memiliki beberapa goresan akibat ulah Daffa, namun wajah manis tak bisa hilang dari Nanda.


Feron berbalik "Bukannya lo baru aja putus ama Anwar? Kenapa lo malah nembak gua? Dan asal lo tau satu hal, cowok itu suka cewek yang misterius dan penuh penolakan, tapi kenapa lo obral ke gua?"


KRAAAKKK..


Feron memberikan senyum simpulnya "Sorry, tapi gua gak bisa di jadikan tempat pelarian."


Dan berakhir sudah, setelah Feron mengucapkan kata itu dengan senyuman, berakhir pula senyum kesabaran yang selalu di pasang oleh Nanda sedari tadi.


Matanya langsung berlinang air mata, ucapan Feron yang singkat berhasil membuat relung hati Nanda tercabik.


"Oi... Lu berdua ngapain?" Tiba-tiba suara Alfi datang di tengah keterdiaman kedua insan.


Feron menatap Alfi dalam diam, sementara Nanda hanya melirik, namun sorot kebencian seketika tercipta dari lirikan itu.


"Lu gak usah ikut campur Fi, baeknya lo masuk lagi ke kelas terus belajar aja yang bener supaya gak nyusahin orang tua mulu." Feron langsung berjalan dan memasukkan kepala Alfi kedalam secara paksa, berusaha untuk menyingkirkan satu orang dengan mulut ember.


"Fer-Fer gua juga mau dengar uii-" Tanpa menunggu ucapan lainnya dari Alfi, Feron langsung menghempas jendela itu.


"Akhirnya penggagu pergi." Gumam Feron menepuk kedua tangannya, berusaha menyingkirkan debu yang tersisa setelah memaksa Alfi pergi.


Tap! Tap! Tap!


"Banyak jalan menuju tujuan~" Tiba-tiba Alfi muncul di belakang Nanda, dengan kamera dan juga sebuah buku kecil.


"Lu kenapa Nand?" Tanya Alfi tiba-tiba memberikan pertanyaan.


Nanda langsung gelagapan, tiba-tiba di beri pertanyaan oleh Alfi seperti ini benar-benar membuat Nanda jadi salah tingkah sendiri.


Namun semua senyum canggung Nanda hilang saat melihat Feron pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata lainnya.


.......


.......


.......


.......


.......


...TBC...