
...All For Dreams...
...Pak Bino Akhirnya Tenang...
.......
.......
.......
"Hahhhhh, akhirnya aku bisa tenang setelah kepergian mereka, hmmm" Seru pak Bino senang, kini ia malah tengah pijat relaksasi sanking bahagianya ditinggal mudik gank Feron ke Pekanbaru.
Bahkan pak Bino sampai tumpengan, mengajak seluruh guru beserta staff setelah jam pulang sekolah untuk makan-makan bersama. Entah apa, tapi pak Bino begitu senang bukan kepalang. Ia sampai rela mengikhlaskan uang gajian bulanannya demi semua hal ini, sungguh perjuangan penuh modal dari pak Bino.
Sementara di sisi pak Ibram, ia selaku wakil kepala sekolah hampir jantungan saat melihat binar kebahagiaan yang di tampilkan anak-anak itu. Bukan apa, tapi kenapa mereka yang terbilang juara kelas sekaligus preman sekolah itu bahkan tidak mencium aura pengusiran pak Bino? Pak Ibram tidak bisa diam, pak Ibram tidak bisa santai tumpengan, sekarang adalah saatnya untuk mengawasi para bocah itu.
Persetan dengan kedatangan pengawas dari kota, anak-anaknya adalah prioritas utama. Ya, dan juga....
Pak Ibram melirik muka garang Ryou yang sudah dari tadi menelfon Feron namun tak di jawab oleh sang murid. Bahkan Ryou sudah berulang kali menendang tangkai sapu mang Oscar yang hanya dapat menatap dalam diam perilaku guru Bule satu ini.
Murid satu itu benar-benar membawa pengaruh besar bagi sang walas yang entah mengapa membuat pak Ibram sedikit merasa aneh.
.
.
.
Di sisi Feron dan kawan-kawan yang lagi nongki santai di Gazebo rumah Feron.
19.00 WIB
"Gimana Fi, aksi kabur lo?" Tanya Feron antusias.
"Ckckck! Aman terkendali, bahkan gua sengaja bawa motor bokap buat pelarian yang lebih hakiki" Ucap Alfi menunjuk motor Be*at sang ayah dengan dagunya.
"Widih! Udah berani aja si Alfi semenjak dua menjak ini, Aa' Regas jadi salut deh" Terang Regas semangat menepuk punggung Alfi berulang kali.
"Hehehehe, Alfi gitu lo. Secara gua bosan di pingit terus ama ayah ibu, yang seharusnya di pingitkan si Tirta ama Aulia. Ngapain gua juga ikutan di pingit?" Kesal Alfi menceritakan keluh kesahnya.
"Mungkip Ayah lu pikir kalau lu itu juga Cewek Fi, mangkanya lo ikutan di pingit, hahahahahahaha" Imbuh Lulba tertawa puas.
"Gak lucu Lul, sumpah. Garing yang ada" Keluh Stevan menoyor kepala Lulba.
"Sakit anying, Auch! Sakit be*go!!!!!" Jerit Lulba kesal.
Sementara Theo, sedari tadi ia selalu diam. Entah kenapa, tapi melihat sifat Theo yang Out of character sontak membuat semua teman-temannya bingung. Bahkan kini Theo sengaja menyudut dan memilih untuk pundung secara solo.
"Nape lu The?" Tanya Ragas yang baru saja habis bersiul (pipis).
"Gak demamkan?" Gumam Ragas menyentuh kening Theo dengan tangan kirinya.
"Kok pesing ya Ra?" Tanya Theo menutup hidungnya.
"Eh? Apa iya?" Tanya Ragas langsung mencium tangan kirinya.
"Etdah, gua lupa cebok! BALEK DULU!!!" Teriak Ragas langsung kabur ke dalam rumah Feron yang terbuka.
"Woy ASW, kening gua jadi najis ni!! Aaaaahhhh!!! Bang*at!!!! Tunggu Ragas be*go gua bales lu!!!" Teriak Theo langsung lari mengikuti Ragas.
"Damai sekali hahahahahahha" Ucap Stevan tertawa lebar dengan tangan yang memeluk erat kardus setinggi dua meter.
"Lu peluk apaan Stev?" Tanya Alfi curiga, sebab diantara mereka semua cuma Stevan yang kalau jalan-jalan pasti bawaannya aneh-aneh.
"Biasa Fi, nyokap gua" Ucap Stevan ringan serta tersenyum lebar, tak luput ia juga menepuk-nepuk kardusnya.
Sementara Feron dan yang lainnya langsung bermuka horor di tempat.
"Lu gak psikopatkan?" Tanya Regas dengan tampang syoknya mencolek kardus itu takut.
.
.
.
SMK 2 PEKANBARU.
"Daffa, lu yakin mau bobol ni tembok penjara kesengsaraan para makhluk bebas seperti kita?" Tanya Vion keheranan dengan sikap Daffa yang seperti kontraktor lapangan.
Bahkan untuk menambah keseriusan perannya, Daffa sampai rela meminjam/mencuri helm proyek bengkel TGB untuk semua aksi yang tak berguna ini.
"Gak usah bacot Vi, gua bakal nunjukin cara kabur berkelas ala anak Pekanbaru, hehehehe" Ucap Daffa tertawa misterius.
"Semoga gak kayak minggu lalu" Do'a Vion menatap Daffa yang kini malah menggaris tembok pagar dengan kapur sirih.
"Daff, saran gua mending kita lewat samping aja" Saran Vion menunjuk pagar.
"Gak aestetik dong Vion, gua kan maunya kayak pelarian Romeo dan Juliet. Tapi kok...?" Daffa mengedarkan pandangannya. Tak ia lihat satupun orang yang mengejarnya, alih-alih pak Kasep. Oh iya, dimana dia?
"Pak Kasep iiihhhh!!!! Di tungguin hampir 20 menit kok gak nongol" Kesal Daffa menendang badan satpam yang sudah pingsan.
"Bukannya lo udah beresin pak Kasep tadi pagi Daff?" Tanya Vion ogah melihat Daffa yang kini menampilkan wajah bengisnya.
Di sekitar mereka, kini semua satpam beserta ***** bengeknya sudah pingsan, bahkan ada yang sampai mengeluarkan darah. Sementara Daffa dan Vion hanya berjalan santai di antara tumpukan orang pingsan dan hampir koma itu, walau sebenarnya di hati kecil Vion, ia merasa kasian dan bahkan sebenarnya tak tega. Tapi karna Daffaa.....
"Masak iya sih? Perasaan gua cuma matahin kakinya deh, manja banget dah ampe gak mau kejar gua lagi" Omel Daffa duduk di atas punggung salah satu Satpam yang sudah tak berdaya.
Gimana caranya dia ngejar kita????!!!! Lu buat kaki Pak Kasep jadi patah empat! Ya tuhan, ampuni gua yang salah pergaulan ini. Daffa benar-benar psikopat, ia bahkan sudah berhasil mencetak rekor sebagai murid yang kebal hukum. Gua jadi heran udah berapa kali dia nginap di penjara, atau tidak pernah mengingat dia... Ah sudahlah, gua gak perlu mikirin hal itu, yang jelas sekarang gua harus mikirin apa yang ada di depan gua.
Inner Vion menyesal dan memilih menatap sekitarnya dalam perasaan bersalah.
Ditengah lamunanannya, tanpa Vion sadari kini Daffa memperhatikannya yang sedang menggerutu tak jelas.
"Ngomong apa lu?" Hardik Daffa menatap tajam temannya itu.
"Eh? Kagak Fa, bukan apa-apa" Ucap Vion gugup.
"Yakiiiinnn?" Tanya Daffa semakin curiga.
"Yakin banget, ya udah cus kita berangkat" Ucap Vion cepat berusaha mengalihkan topik.
"Hmmm..... Ok" Final Daffa masih memperhatikan Vion lamat.
"Ok siiip. Yok minggat Vi, gua gak sabar pen kencan ama neng Yuna" Semangat Daffa langsung keluar dari pagar utama.
"Huft! Selamat" Gumam Vion bersyukur Daffa tak mencurigainya lagi. Ia memilih untuk mengikuti Daffa, sedikit menjarak mungkin lebih baik.
Di tengah langkah lebar mereka,
Lo pasti lagi ngomongin gua, awas aja lu Vion! Gua bakal kasih lu pelajaran lebih!
Inner Daffa geram, ia melirik Vion yang berjalan lunglai di belakangnya.
Ck! Teman macam apa si yang rela ceritain temennya sendiri?
Inner Daffa melirik Vion tajam, ia tersenyum licik memandang Vion yang tak menyadari Daffa yang kini tengah merencanakan suatu hal yang pastinya akan membuat Vion dalam masalah besar.
.......
.......
.......
.......
...TBC...