All For Dreams

All For Dreams
Sahabatku yang punya hati



Genap sebulan, tangan Feron akhirnya sembuh dan bisa mengeroyok orang kembali, berterima kasihlah kepada Luna yang selalu rajin berkunjung kerumahnya.


"Luna udah lama gak jumpa ya" Ujar Neti meletakkan teh hangat didepan Luna yang sedang melakukan kegiatan wajibnya membuka perban ditangan Feron .


"Makasih Bun" Jawab Luna memberikan senyuman termanisnya.


Neti mengambil duduk di sofa single "Aduuuhh~ ayu sekali Luna ini, bunda jadi iri deh"


Mereka berdua saling bercengkrama tanpa henti membuat Feron yang duduk disebelah Luna jadi panas telinga.


Sudahlah, lebih baik gua ninggalin dua wanita yang asyik sendiri ini


Inner Feron jengkel.


Sampai dikamar, Feron merebahkan dirinya nyaman dikasur, menghirup aroma kesukaan sang ibu seraya meraih smartphone di nakas.


Ting


"Baru juga mau chat nanda, taunya si sahabat duluan yang chat gua, hihihi..." Tawa Feron mengetik balasan.


...Halaman chat...


Ting


Nanda: Fer~


^^^Paan?^^^


Nanda: Lu dimana?


^^^Dirumah lah, masak di-diskotik^^^


*Nanda send you sticker (Fuc*ker*)


"Pfft" GUMAM Feron menahan tawa.


Stiker yang dikirim Nanda benar-benar membuat Feron menahan rasa geli di perutnya.


^^^Nan^^^


Tidak ada jawaban.


^^^Nan^^^


5 menit belum ada jawaban


^^^Nanda tukik, jawab woy!!!^^^


Nanda: Apasih?


^^^Ngape lu ngab?^^^


Nanda: Open Bo


^^^JANGAN NA-^^^


Nanda: Hahahahahahha, Kagak lah, gua habis nyuci daleman tadi


^^^Gua belum selesai ngomong udah lu sela^^^


Nanda: *Eh, sorry. Silahkan dilanjut


^^^Udah basi nyink, tapi gapapa. Bakal gua tambah. Maksudnya JANGAN NANGGUNG-NANGGUNG NAN, TRROBOS TEROS*^^^


Nanda: Memang sahabat laknat lu. Eh, btw lu gak risih apa gua ngetik gitu?


^^^Cita rasa pria^^^


Nanda: Memang dasar anak ba*bi anda


"HAHAHAHAHAHAHAHA!!"


Tawa Feron kencang, bahkan suara tawa itu berhasil di dengar hingga kelantai satu, tempat dua wanita yang sedang berbincang di ruang keluarga.


"Feron sepertinya sangat senang" Ujar Luna menyeruput tehnya pelan.


Neti tersenyum mendengar penuturan Luna.


"Semenejak Feron masuk SMK, auranya jadi lebih hidup. Setidaknya itulah yang bunda rasakan" Balas Neti.


"Itu lebih baik" Balas Luna kembali.


Mereka berdua saling bertatapan seraya tersenyum melihat keadaan Feron yang tidak seperti dulu lagi, ya setidaknya.


.......


.......


.......


Di Pagi hari nan cerah.


Feron sengaja masuk sekolah lebih pagi, entah jin macam apa yang menyadarkan Feron, yang jelas Nanda bingung.


"Ajaib juga lo datang pagi ke kelas" Seru Nanda dari bangkunya.


Feron melirik Nanda "Lo aja bingung, apalagi gua" Ucap Feron menatap Nanda dalam kebingungan, Nanda yang bingung dengan kata-kata Feron, dan Feron sendiri yang juga bingung dengan dirinya bersatu dalam raut wajah berkerut.


Nanda yang bosan langsung beralih menatap smartphonenya.


"Pffft" Gumam Nanda menahan tawa.


Feron melirik "Lo kenapa? Keselek tulang?" Tanya Feron yang sudah duduk dikursinya.


"Kagak" Jawab Nanda.


Feron yang bingung dengan Nanda akhirnya memilih menatap keluar daripada Nanda disebelahnya yang tengah tertawa aneh melihat smartphone.


Memandang malas kearah luar, Feron tidak sengaja memandang Anwar sang pujaan hati Nanda menuju kekelas dengan outfitsnya yang selalu kelihatan mewah.


Kalau si Feron menatap biasa saja, berbeda jauh dengan Nanda yang tak sengaja mengarahkan atensinya keluar kelas dan tanpa disadari langsung menlihat Anwar datang, ia benar-benar menatap penuh cinta.


“HISHH... Anwar selalu ganteng dah, buat gua baper trus” Ucap Nanda menyatukan kedua tangannya.


Feron melirik Nanda "Banci lo dambakan, memang mereng otaklo" Cibir Feron merotasikan matanya jengah.


Plak!


Nanda berhasil memberikan pukulan ganas pada punggung Feron yang saat ini tengah mengaduh kesakitan.


.......


.......


.......


Jam pelajaran dimulai, Nanda sesekali melirik kearah meja Anwar yang sedang fokus menulis, Nanda yang melihatnya tersenyum dan kembali melanjutkan menulis. Setelah cukup lama, Nanda kembali melirik kebelakang tapi kali ini pandangan mereka saling bertemu, menciptakan rona merah yang begitu kental dipipi Nanda.


Sementara Anwar hanya tersenyum ramah.


Astaga jantung gua astaga,


Batin Nanda berkhayal lompat-lompat bahagia di padang rumput nan luas.


Apa ini tandanya gua ada kesempatan?


Lanjut hati Nanda bertanya.


...***...


Saat jam istirahat berlangsung, memang paling cocok untuk duduk dikantin, sama halnya dengan Feron dan Nanda yang tengah duduk santai di kantin bude Jena.


Bukan hanya untuk mencari gorengan namun juga nyambi mencari info atau gosip terkini seputar warga sekolah walau kebanyakan isinya berita Feron, namun untuk satu info ini malah membuat Nanda syok ditempat.


"Hah!!?" Teriak Nanda.


Muka Feron langsung cengo mendengar penjelasan bude Jena.


"Beneran bu!!?" Ucap Nanda.


Nanda langsung berdiri menggebrak meja, memotong ucapan Feron yang langsung kembali duduk membisu.


"Ya, begitulah" Ucap bude Jena.


"Anwar... Dia..."


Nanda kembali mengingat masa-masa saling menatap dalam kecanggungan mereka, dan Anwar yang-


"Tabah aja Nan" Ucap Feron mengusap punggung Nanda.


Feron bukannya tidak tau tentang rasa suka Nanda pada Anwar yang sudah tumbuh dan berkembang sedari kelas satu itu.


Sebagai sahabat, Feron akan selalu memberikan support agar Nanda selalu tetap maju mengejar cintanya, tapi


"Dia menerima Denada sebagai pacarnya" Kata bude Jena membuat hati Nanda serasa di remas kuat.


"Jadi pandangan cinta dia ama gua cuma khayalan aja?"Monolog Nanda getir.


"Hmm.. Kata temennya dia yang awalnya sedang mempertahankan seseorang dihatinya itu malah tergoda sama adek kelas" Bude Jena benar-benar menceritakan segalanya.


"Dan jug-" Ucapan bude Jena terhenti, ia melirik Feron yang memberikan kode agar bude Jena berhenti berbicara.


"Gua rasa pak Satya udah masuk ni, yok Nan kita balik" Ucap Feron menarik tangan Nanda yang pasrah, sementara Nanda sendiri malah berpikir yang tidak-tidak mengenai hatinya yang terluka.


Saat mereka sedang berjalan dilorong kelas, Feron tak sengaja menatap Anwar dan Denada tengah bermesraan tidak memperdulikan tempat, tanpa disadari olehnya, genggaman pada tangan Nanda mengerat membuat Nanda dibelakangnya mengaduh pelan.


"Woy... Woy... Woy.... yang jomblo baper ni!" Cerca Feron menghentakkan langkahnya menabrak kedua pasangan Anwar dan Denada yang menatap Feron penuh tanya.


Sementara Nanda hanya bisa menunduk lesu mengikuti Feron .


Sampai diambang pintu kelas, Feron memperhatikan keadaan kelas yang benar-benar seperti kantin.


Grup Hawa tengah asyik merumpi berempat, Arman dan Johanes malah sibuk mengerjai teman-teman yang lain, Fadli dan Alfian sedang mebahas peredaran suhu bumi, intinya semua teman malah berkumpul sendiri dan membicarakan kesenangan mereka bersama teman yang sejalan dengan pemikiran mereka.


Pegangan tangan Feron pada Nanda terlepas, Nanda berjalan lesu kearah mejanya dan langsung berpura-pura tidur seakan dunia nyata sudah tidak berguna lagi.


Feron yang melihat itu langsung berinisiatif untuk duduk dikursinya yang tepat, di sebelah Nanda.


Cukup lama saling terdiam, jam pelajaran seharusnya sudah mulai dari setengah jam yang lalu, namun masih tidak ada tanda-tanda kedatangan pak Satya. Feron mulai jengah, dari tadi hanya sibuk memperhatikan papan tulis putih dengan bosan.


"Hiks.."


Isakan tangis? Feron melirik Nanda, dia dapat melihat tubuh itu sedikit bergetar.


"Nan?" Bisik Feron menyentuh punggung bergetar itu.


"Lo kenapa?" Lanjut Feron bertanya.


Masih tidak ada jawaban, Nanda memilih bungkam tapi Feron yang sumbu kesabarannya memang tipis langsung mencengkram salah satu tangan Nanda yang digunakan sebagai bantal itu, membuat sang empunya langsung tertarik paksa.


"Apa si!!" Bentak Nanda marah.


Namun Feron tidak perduli, ia malah asyik memperhatikan mata sembab Nanda, mata yang memerah dan hidung yang mengeluarkan sedikit ingus itu bergetar sedih.


"Nan," Feron meraih pipi chubby Nanda , melihat liquid bening yang mulai berjatuhan dalam kesenduan.


"Tangisan kayak gini tu, gak cocok sama Nanda Triasla si-preman SMK" Lanjut Feron menyeka air mata Nanda dengan ibu jarinya.


“Lo yang preman gua Cuma anggota Passus biasa hiks..” Jawab Nanda serak.


"Iyakah~ kalau gitu masak lo nangis didepan gua yang notabenenya musuh lo sendiri si? Bukannya itu bakal menghilangkan citra lo sebagai polisi sekolah? Gua bisa jadiin muka ini sebagai senjata lo, nangis aja terus biar gua foto dan perbanyak, biar anggota lain tau kalau Nanda Sang anggota Passus galak nangis cuma karna cowok" Ledek Feron dengan terang-terangan malah mengambil smarphonenya yang berada di saku celana dan seketika Nanda langsung memukul tangan tersebut hingga smartphone Feron kembali terletak di atas meja.


"Gua rasa otaklo rada belok, kita kan sahabat go*blok" Geram Nanda langsung berwajah marah.


"Hehhh~! Apa iya? Bukannya senin lalu yang nyerahin gua sama pak Puad itu lo! Bahkan lo tega ikat tangan ama kaki trus karungin gua, untung gua gak punya sifat dengki jadi lo termaafkan" Cibir Feron bangga melipat tangan didada.


Nanda ditempat duduknya malah jijik mengingat kejadian dimana Feron yang ia gotong dipundak berteriak bombay layaknya banci tanah abang yang mau diperkaos.


"Itu mah beda be*go, lu-nya aja yang cari masalah. Orang pada upacara lo malah makan gorengan di kantin, santai lagi!! Gimana gua gak nangkep lo coba!?" Terang Nanda yang menjalankan tugasnya sebagai anggota Passus.


"Kan gua udah bagi gorengnya ngab, lo aja yang sok gak mau terima dan memilih nyerahin gua supaya dapat dipuji pak Puad kan! Hooo~ udah ketebak ni, Nanda cari muka" Tuduh Feron menunjuk Nanda menghakimi.


"Gua bukanlah Alfi yang mudah lo suap dengan sepotong gorengan be*go" Setelah mengucapkan kalimat yang cukup menohok bagi orang Alfi, Nanda kembali ke aktifitasnya merenungkan nasib cinta yang patah sebelum bertindak itu.


"Nan" Feron mencolek pundak Nanda pelan.


"Apa?" Nanda masih betah dengan kegiatan mengkhayalnya, tidak ingin menatap Feron alih-alih melirik.


"Mau jalan-jalan gak?" Tanya Feron.


"Bosan, gua udah keseringan ngitari sekolah" Jawab Nanda lesu.


"Yang ini beda, gua jamin mood lo pasti naik" Ucap Feron meyakinkan.


Nanda melirik feron yang tersenyum tampan kearahnya. Sementara Adam yang baru sampai dikelas langsung mengumumkan bahwa pak Satya tidak bisa datang dan menggantikan jam masuk dengan tugas yang akan di tulis adam dipapan tulis.


"Dam!" Feron memanggil Adam yang tengah asyik menuliskan soal di papan.


"Apakah itu~?" tanya adam menatap Feron .


"Si Nanda, penyakit sawannya kambuh nih, udah gua suruh minum obat tapi penyakitnya masih ngeyel gak mau pindah" Balas Feron.


Nanda yang mendengar penuturan Feron sebenarnya sangat ingin men-sleding kepala itu supaya lebih pintar, namun apa daya, sepertinya tindakan itu bisa dipending sampai sakit hati yang akan datang, sekarang ia hanya bisa berakting semaksimal mungkin agar Adam percaya.


Adam menaikkan sebelah alisnya "Trus?"


Adam kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda namun tetap mendengarkan curhatan Feron.


"Gua pen antar kerumahnya, siapa tau dia rindu emaknya karna ngekos sebulan suntuk tanpa nyicip makanan rumah"Ucap Feron dengan kedua tangan yang Bersatu memohon izin dari Adam yang berstagus sebagai ketua kelas. Adam memperhatikan Feron dan beralih melihat muka Nanda yang sudah pias seperti ingin pingsan.


"Yaudah, lo bilang aja sama me....." Ucap Adam terpotong.


Ia langsung melirik kebangku Feron dan Nanda , namun yang dilihatnya hanyalah meja kosong.


"Meja piket~.... Hmmm.... Kebiasaan jadi setannya rupanya belum hilang" Sambungnya geleng-geleng menatap lelah meja Feron dan Nanda yang sudah kosong.


.


.


.


Saat sampai dimeja piket, dengan keahlian berbicara ditambah dukungan muka pucat Nanda akhirnya Feron berhasil mendapatkan golden tiket menuju syurga kebebasan.


Tapi, bukannya menuju keparkiran, Feron malah mengajak nanda lompat pagar di belakang WC yang sudah tidak terpakai, tempat biasanya Feron dan ganknya bersembunyi untuk merokok berjamaah.


"Woy titisan Asmodeus , ngapain lo manjat pagar kalau lu dah dapat ijin keluar, ha!?" Tanya Nanda tak habis fikir.


Feron yang bersiap manjat pagar melirik Nanda "Biar berasa aja jalan-jalannya" Tutur Feron polos.


"Apa hubungannya coba!?" Maki Nanda.


Feron yang sudah sampai diatas kini dapat melihat pemandangan hamparan rumput liar yang indah dan menenangkan, inilah alasan mengapa ia menyukai lompat pagar.


"Naik bro bacot mulu lo" Ucap Feron.


Nanda gemetar, memanjat pagar 3 meter itu, apa Feron gila? Namun Nanda tetap mencoba, saat pijakan pertama masih bisa, lanjut kedua lumayan, sampai pijakan ketiga kaki Nanda terpeleset, namun Feron dengan sigap langsung menangkap tangan Nanda hingga dia dapat kembali mengambil pijakan dan sampai keatas.


"Daaahh~ sampai" Ucap Feron.


Nanda menatap Feron yang tersenyum hangat padanya.


Tampan


Batin Nanda terpaku menatap Feron.


"Udah gua bilang kan hati-hati" Ujar Feron kesal.


"Lo gak bilang apa-apa pa*ok!!!" Teriak Nanda kembali pada kenyataan.


"Lah? Apa iya?" Be*go Feron berucap.


...TBC...