
"Setelah melewati rintangan banci" Ucap Feron bangga akan prestasinya dan menatap bangunan tua yang sudah hampir roboh dengan penuh minat.
"Tunggu apa lagi, cus masuk" Ujar Theo.
"Sabar The, kita sedang mendalami adegan bersyukur" Balas Lulba merentangkan tangan dengan Ragas yang melingkarkan tangannya di perut Lulba layaknya adegan tersohor titanic, sementara Regas menjadi tukang kipas dadakan mereka.
"DAN****!!" Teriak Theo syok berat.
.
.
.
"Gua tau, tapi ini terlalu beresiko pak" Terang Reyo memberikan penjelasan di balik ekspresi datarnya.
^^^[Kenapa kita harus perduli akan hal itu, asal rencana berjalan lancar apapun akan kita lakukan]^^^
Balas suara itu dari seberang telfon.
"Tapi tolonglah pak, ini menyangkut nyawa. Saya tidak ingin kejadian lalu kembali terulang, apalagi ini mengenai Alfi" Balas Reyo menggebu, seakan mengisyaratkan betapa cemasnya ia dengan efek samping dari obat yang telah di berikan.
^^^[Ck! Jangan terlalu banyak berdrama, jalankan tugasmu dan selesaikan semuanya. Aku ingin anak itu 'dikutuk`]^^^
"T-tetapi-"
Tiiitt... Tiiitt..
Panggilan terputus sebelum Reyo sempat berkomentar.
"Ck! Bangs*at! Seharusnya gua tetap tenang aja di kelas tanpa menuruti perintah absrud orang ini, namun gua malah terkena umpan dan terpaksa menerima penawaran yang ia berikan namun berisi jebakan" Geram Reyo menatap smartphonenya kesal.
Setelah menumpahkan rasa amarah yang begitu membuncah, Reyo langsung kembali dan menatap wajah Alfi yang tertidur pulas.
Pandangan Reyo begitu lamat, hingga ia tidak menyadari kehadiran seseorang di belakangnya.
Tuk!
"Gua udah duga ini semua ulah lu"
Reyo langsung tegap, melirik kearah kiri dimana Feron kini tengah memegang sebuah balok kayu yang ter-arah tepat di tengkuk Reyo yang terbuka.
"Feron" Ucap Reyo menatap sinis.
"Gua baru tau kalau lu juga punya dendam ama Alfi, apakah gerangan yang menyebabkan hal ini?" Tanya Feron masih menatap tajam Reyo yang langsung menampilkan senyum miring andalannya.
"Tidak juga, gua cuma pengen main-main ama ni anak" Jawab Reyo mengalihkan pandangan pada dua jarum suntik bekas yang sudah tergeletak di lantai penuh debu.
Feron dengan pandangan menyelidik juga ikut menatap kearah pandangan Reyo.
"Jarum suntik!?"
Zrassssshhhh!!!
Reyo langsung memanfaatkan kuda-kuda Feron yang longgar, namun...
Slab
Bungh!!!
Brakkkk!!!
"Uhuk!! Uhukk!! ****!" Reyo mencoba bangkit dari rasa sakit yang begitu hebat dari tengkuknya yang kini mengalirkan darah segar.
Percobaan Reyo untuk menyerang Feron rupanya kalah 0,1 detik, dan itu semua langsung membuat Reyo terlempar cukup jauh dari posisi awalnya. Namun berusaha buta akan rasa sakit, Reyo kembali menyeimbangkan kakinya yang seketika bergetar akibat efek samping dari pukulan refleks Feron.
Sreettt!!
"!"
Refleks cepat, Feron langsung berlari kencang kearah Reyo yang tak sempat melakukan apa-apa.
Bruk!!
"Apa yang lo lakuin bajingan?" Tanya Feron penuh penekanan pada setiap katanya dan langsung memojokkan Reyo ke dinding pabrik hingga menyebabkan sang empunya langsung terbatuk darah.
"Uhuk! Uhuk! Ck! Hmmmm.... Mana gua tau" Jawab Reyo tersenyum mengejek pada Feron yang semakin emosi.
Bugh!!!
Bugh!!!
Reyo menerima setiap pukulan yang di berikan Feron tanpa ada niatan untuk menghindar sedikitpun. Rasanya hanya akan membuang tenaga bagi Reyo yang kini malah seperti kehilangan nyawanya.
"Lo kenapa?" Tanya Feron langsung membekap pipi Reyo kuat dan mengarahkannya pada pandangan tajam Feron yang begitu menyelidik.
"CUIH!!" Reyo langsung meludahi wajah bengis Feron.
"Ck!" Feron menyeka ludah bercampur darah itu dan langsung mengepalkan tangannya hendak meninju wajah yang berani meludahinya sebelum sebuah suara mengintrupsi aksi mereka,
"Waduh! Kalian sudah memulai pesta tanpa kami ya, sangat tidak ramah sekali" Nyaring suara Lulba hampir terdengar di seluruh penjuru pabrik.
"Dan juga" Lulba mengedarkan pandangannya.
Disudut ruangan, Lulba menatap Alfi yang sudah pingsan tak berdaya "Ini dia putri tidur kita, tenang tuan putri kang mas datang menjemputmu dengan tamparan cinta" Ucap Lulba berlari ke arah Alfi yang tak sadarkan diri.
Plak!!!
Plak!!!
Plak!
Kedua pipi Alfi sontak membengkak, namun seperti acuh Lulba kembali menampar muka tampan tersebut hingga kecap segar (darah) berhasil mengalir dari hidung pesek Alfi.
"Sepertinya tamparan gua terlalu penuh cinta, Regas bagaimana?" Tanya Lulba menatap Regas yang menampilkan wajah horor seperti melihat hantu.
"BANG*SAT! Bukannya buat anak orang bangun lu malah menambah parah! MEMANG OTAK LU CUMA SEBESAR BIJI POLONG!!" Teriak Regas emosi dan langsung menendang muka Lulba hingga ia terjatuh ke lantai penuh debu.
"Biarkan bang Regas yang mengambil alih" Ucap Regas melepaskan ikatan tali yang menghalangi pergerakan Alfi hingga tanpa disadari Regas badan Alfi jatuh mengikuti gravitasi bumi.
"Sorry buat yang itu Fi, namun setidaknya gua lebih punya otak ketimbang Lulba" Gumam Regas tersenyum canggung.
.
.
.
.
Sementara Feron dan Reyo.
KREK!!!
"Apa yang lu suntikkan?" Tanya Feron semakin mencengkram kerah baju Reyo hingga ia tercekik.
"Se.. Ng.. Su... A... Tu... Yang menarik! Obat uji.... Ngh... Coba mi... sal.... nya" Jawab Reyo tersenggal-senggal.
Leher Reyo patah,
Bruk!
Feron dengan ringannya langsung melepaskan cengkraman pada leher Reyo yang sudah tak sadarkan diri dan membiarkan ia jatuh mengikuti gravitasi.
Sedikit, ujung celana kiri Feron tersingkap. Feron menatap, menatap bekas sakit yang pernah di torehan Reyo padanya.
"Memang sejak awal membiarkan lo berkeliaran di sekitar gua tidaklah aman" Gumam Feron menatap tajam Reyo yang sudah pingsan.
BUGH!!!
Bugh!!!
Bugh!!!!
Tiga tendangan berhasil di berikan Feron pada perut Reyo yang langsung terbatuk darah dalam ketidak sadarannya.
"Lu akan gua bal-"
"Cukup Fer, udah. Sekarang kita harus nyelamatin Alfi dulu, baru kita urus Reyo. Biarkan Ragas dan Theo yang menangani Reyo" Ucap Lulba menghentikan tindakan brutal Feron yang hampir saja membunuh Reyo.
"Kita juga butuh informasi mengapa dia kembali datang Fer" Bisik Lulba yang berhasil membuat akal sehat Feron kembali.
"Ck! Hampir aja gua kelepasan" Sesal Feron langsung menutup muka dengan kedua tangannya yang sudah berlumuran darah.
...***...
Rumah sakit.
"Ngh..." Gumaman Alfi di tengah kesadarannya yang masih sedikit.
"Apakah ini surga?" Tanya Alfi mengucek kedua matanya.
"Sayang banget Fi, amal lu masih kurang buat nginjak surga" Saut suara itu mencemooh.
"Ck! Padahal gua udah senang gak makan telor ceplok gosong buatan ibu setiap bawa bekal" Celoteh Alfi geram.
"Apaaaaa!!!!!!? ALFI COBA DI ULANG SEKALI LAGIIIII!!!!!!"
"Suara geraman ini?" Refleks Alfi langsung merotasikan pandangannya ke samping.
"IBU!!!!!!" Teriak Alfi yang langsung menyesali celotehan gabutnya mengenai masakan sang ibu.
"HOHOHOHO!!!! JADI SELAMA INI KAMU TIDAK MENSYUKURI GORENGAN IBUMU INI YA, RASAKAN PUKULAN MAUT IBU!!!!!" Marah sang ibu langsung memukul badan sang putra yang masih terbaring lemah dengan selang infus melekat di tangannya.
"AMPUN BUUUUUUU!!!!!!!!"
"Rasakan!" Geram sang ibu.
"Hahahahahah ahahahaha, makanya Fi. Kalau mau curhat liat keadaan dong" Tegur Regas tertawa puas melihat keadaan Alfi yang sudah mengenaskan di pukul sayang oleh sang ibu.
"Memang Bang*SAT lu Regas, awas aj-"
Plak!
"Ngapain kamu ngomong kotor ha!? Sejak kapan ibu ajarin? Minta maaf gak kamu, minta maaf" Sang ibu kembali marah dan berhasil menepuk mulut sang anak yang kelewatan sopan dalam bertutur kata.
"Iya iya, maafin gua Gas" Ucap Alfi ogah menatap Regas penuh dendam.
"Sungkem dulu dong" Ucap Regas menunjuk kakinya seraya menampilkan wajah pongah.
"Dalam mimpimu!" Geram Alfi.
.
.
.
Ruang LAB
"Bagaimana hasilnya Lun?" Tanya Feron menatap Luna serius.
Luna yang ditanya sontak mengalihkan atensinya dari kertas hasil uji Lab ke Feron yang menanti hasil dengan harap-harap cemas.
Luna menatap sebentar "Sebenarnya obat ini tu bisa di sebut anestesi doang, gak terlalu merusak tubuh dan juga...."
"Dan juga?" Ulang Feron.
"Dan juga efek sampingnya mungkin kelelahan untuk beberapa minggu. Itu doang sih sejauh ini, tapi aku akan memeriksanya sekali lagi, mana tau ada yang terlupakan" Lanjut Luna kembali bekerja dengan peralatan Labnya.
"Gua berharap gak ada efek samping yang mencurigakan" Ucap Feron memohon.
"Semoga saja" Balas Luna.
.
.
.
"Ngh.." Dilain tempat Reyo tersadar dalam ruang sempit dengan hanya satu penerangan di atas kepalanya. Luka-lukanya sudah di obati, bahkan lehernya sudah di beri penyangga.
Tap!!
Tap!!!
"Reyo...."
Reyo langsung menatap ke depan, tepat ke arah langkah tersebut datang.
"Aaaaa....."
Seketika mata Reyo membulat lebar tatkala menatap sosok tersebut.
"Kita perlu bicara" Ucapnya tersenyum.
.
.
.
"Ck! Kenapa bisa Reyo di culik ha?! " Tanya Feron penuh emosi menatap Regas dan Theo yang baru saja sadar dari pingsannya.
Saat selesai mengantar Alfi kerumah sakit, tanpa fikir panjang Feron langsung kembali lagi ke pabrik. Berniat ingin langsung meng-eksekusi Reyo, tapi yang ia dapat malah Ragas dan Theo yang sudah pingsan di tempat ia meninggalkan mereka berdua bersama Reyo yang pingsan.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Feron lagi pada Ragas yang berusaha untuk duduk.
"Yang gua ingat cuma pas kita berdua lagi menjaga Reyo yang pingsan, tiba-tiba orang-orang berbaju hitam datang dan langsung memukul kami brutal, gua ama Theo udah mencoba melawan, namun kemampuan kami kalah jauh dengan mereka yang sepertinya sudah bukan lawan kami lagi" Terang Ragas mengingat kejadian seraya mengusap kepalanya.
"Ck!!! Ini semakin mencurigakan" Geram Feron menatap bekas tempat Reyo yang pingsan.
...TBC...