All For Dreams

All For Dreams
Sahabat yang cuek



"Here we go" Sambung Alfi memberikan senyum bangganya dalam muka yang berbalut perban sana sini.


.


.


.


Dalam senyum bangganya, Alfi memperhatikan ekspresi keterdiaman semua orang.


"ALFI!!!!!!" Teriak Dina langsung memeluk Alfi dari belakang.


"Ups" sontak Alfi terkejut dengan kedatangan beban tiba-tiba.


"Dina, nape lu?" Tanya Alfi langsung melirik Dina yang memeluknya erat dari belakang.


"Gak apa-apa cuma senang aja hiks!" Lirih Dina mengusap wajahnya pada baju Alfi. Menghirup dalam aroma Alfi yang sangat Dina sukai.


"Wish! Bakal ada yang cemburu ni" Ledek Feron memotret setiap momen Alfi dan Dina.


"Cem-Apa?!" Sontak Nanda langsung menatap Feron yang terus memotret.


Kembali ke Alfi.


"Udah-udah Din, lu buat baju gua basah sama ingus dan air mata menjijikkan lo" Ucap Alfi melepaskan tangan Dina yang melingkar kuat di perutnya, namun setiap Alfi ingin melepaskan pasti tangan itu akan kembali dan semakin erat memeluk Alfi.


Di tengah pelukannya Dina sedikit mengeluarkan wajahnya dan melirik ke arah teman satu kelas mereka. Semua teman kelas terkhusus para gadis semua geram pada tingkah Dina yang berani-beraninya memeluk Alfi di depan umum.


Kesal, pasti mereka rasakan. Bahkan saat ini mereka rela berlari dan menendang Dina hingga ia lepas dari Alfi, namun itu hanya khayalan yang sulit untuk di buat nyata bagi mereka yang harus tunduk dengan kelicikan Dina.


"Lepas ah Din, lu buat gua susah gerak" Ucap Alfi berjalan pelan, memberikan akses bagi para juri untuk menilai mahakaryanya, namun bukannya mengikuti keinginan Alfi, Dina malah semakin gencar menempel hingga Alfi merasa gerah dan Dina yang senang menempel padanya seperti koala.


Sementara itu, Dina dalam posisinya malah semakin asyik mengeluarkan lidahnya mengejek para kerumunan gadis penggemar Alfi yang tak dapat berbuat banyak sepertinya.


Untuk Radit, ia hanya dapat tersenyum simpul melihat tingkah Dina yang semakin hari semakin meresahkan ini. Namun apa yang dapat Radit kata jika Dina malah melabuhkan hati pada Alfi yang tak peka dan melupakan ia yang penuh perjuangan namun tak dianggap ada?


Sementara para juri kini tengah asyik memperhatikan potret gambar itu.


Menampilkan...


"Fi, ada yang pen ngomong ni, " Ucap Feron tiba-tiba datang dengan tangan yang menjulurkan smartphonenya kepada Alfi yang langsung menampilkan muka heran dengan tangan yang menurut meraih smartphone itu.


"Ngomong aja" Lanjut Feron tersenyum lebar.


"Ha? O-ok, hal-" Belum sempat Alfi menyelesaikan kalimatnya.


^^^[ALFI KAMU TEGA YA, MANA JANJI KAMU SAMA AKU YANG BAKAL DEKATIN DIRI LEBIH KE AGAMA HA!!!? MALAH ASYIK PELUK-PELUKAN! MESRA LAGI, LEPAS GAK TU TANGAN GANJENNYA!]^^^


Teriak Andin dari seberang telfon, sontak Alfi langsung memandang layar smartphone dan benar saja.


Balik ke cerita,


^^^[Iya kenapa? Gak terima kalau kamu ketahuan selingkuh?]^^^


Ketus Andin berucap dari seberang telfon.


"N-nggak kok Ndin" Balas Alfi gelagapan langsung menendang Dina hingga terlepas darinya.


"Aduuuuhhhh~ siapa si tu?" Tanya Dina mengusap pantatnya yang sakit terjatuh ke paving block.


"Lo gak apa-apa Ndin?" Tanya Radit yang hendak menolong, namun langsung di tepis kasar oleh Dina yang sudah emosi berat melihat Alfi yang begitu perhatian pada gadis di seberang telfon.


"Siapa sih tu orang sampai Alfi tunduk ama dia?!" Tanya Dina kesal.


Sementara Feron malah tersenyum miring melihat adegan drama berlapis lomba sedang terjadi.


Untuk Ryou sendiri,


"Dimana pak Ryou?" Tanya Nanda yang sudah celingak-celingukan sana sini, namun tak kunjung melihat batang hidung sang walas terkasih pemberi uang saku rahasia itu.


"Aneh, perasaan tadi si bapak masih betah duduk di tempatnya" Fikir Nanda seraya meletakkan telunjuknya di dagu, membuat ekspresi berfikir.


"ALFI!"


^^^[ALFI!!!]^^^


Ujar dua suara bersahutan memanggil nama satu orang yang kini bingung antara mau menatap Smartphone atau Dina yang sudah panas di tempat.


"Sekarang bukan saatnya untuk jawab Video call, sekarang kita lomba Fi. Fokus dikit napa? Hargai semua orang yang ada disini dong" Omel Dina bersedekap dada memandang Alfi mengintimidasi berlapis modus agar sang empunya langsung mematikan panggilan dari orang ketiga itu.


"Hmmm... Gimana ya? Di satu sisi lu bener juga Din" Ucap Alfi meng-iyakan ucapan Dina dan kembali menatap layar smartphone Feron.


"Sorry ya Ndin, entar aku telfon lagi. Ok beb? " Ucap Alfi memberikan senyum dua jari pada Andin yang sebenarnya masih ingin berbicara dengan Alfi.


"Iya... Iya, aku matiin deh. Semangat sekolahnya ya Fi" Ujar Andin rela tak rela.


"Ok siip bunda ratu, byyy~ assalamualaikum" Tutur Alfi mematikan sambungan video call.


"Ok Din, sekarang kita fokus" Kata Alfi mengantungi smartphone Feron hingga sang pemilik hanya dapat terbelalak kaget.


"Oi Alfi, balikin smartphone gua" Feron dengan cepat berlari ke arah Alfi yang kembali mendekati gambar lomba.


"Entar gua balikin setelah lo kasih tau ke gua kenapa lo telfon Andin" Ujar Alfi tersenyum dan kembali fokus pada komentar juri, enggan menyahuti protesan Feron yang kekeuh ingin smartphonenya cepat di kembalikan.


"Dasar Sahabat pelit! Gua kan pengen beramal dengan nyebarin kegiatan lu buat Andin" Rutuk Feron hanya dapat menatap Alfi kesal.


...TBC ...