
"Gimana rasanya Nan? " Tanya Feron pongah.
"Aaaaa~ ahahahahahaha" Tawa Nanda menghayal jauh.
"Kenapa lo Nan? Kesurupan ya?" Tanya Alfi menepuk kasar punggung Nanda hingga sang empunya hampir terjatuh dari kursi kantin.
"Ah! Ganggu aja lo celengan karat. Ini cuma adegan yang gak ada elunya" Sewot Nanda membalas pukulan Alfi hingga ia berhasil terjatuh dengan tidak elitnya.
"Hehehehhehe.... Lumayan seru si Fi, tadi waktu lo lagi ada kelas bengkel kita lagi pemanasan dan walla! Terjadilah adegan romansa antara Anwar dan mbak Nanda kita tercinta ini" Terang Feron menyikut Nanda.
"Jujur gua gak paham" Ungkap Alfi menggaruk kepalanya.
"Makanya pas tuhan lagi bentuk elu, lu minta tambahin pikiran jenius jangan minta tambah ketampanan, kan kasian jadinya tu muka disandingkan sama otaklu yang cuma setengah" Omel Nanda kesal.
"Wisshh! Makasih Nanda. Secara gak langsung lu udah muji ketampanan gua, tapi yang harus lo tau tu kata-kata lebih afdhol kalau lu kasih ke orang tua gua. Kalau lu kasih ke gua ya mana gua tau prosesnya" Narsis Alfi seraya mengibas manja rambutnya yang semakin jabrik.
BRUKKK!!!
Alfi terkapar tak berdaya di lantai kantin, hingga semua aktifitas sempat terhenti dan menatap ke arah mereka bertiga. Namun tatapan itu tak lama hingga Nanda kembali menatap mereka semua dengan aura kental ingin membunuhnya.
"Sekali lagi lo ngomong kek gitu, gua tanam lo di bawah pohon" Omel Nanda membuat Feron yang sedang asyik meminum teh poci langsung tersedak dan menatap Alfi panik dan membantunya kembali duduk di kursi.
"Selain itu, gua cuma pengen ngasih tau ama lu berdua kalau ini!!!" Nanda langsung menjambak kedua rambut sahabatnya.
"Sangat dilarang! Lu pasti udah pada tau kalau sekolah kita melarang siswa laki-laki untuk memiliki rambut panjang, batas panjang rambut hanya 1 inchi dan kalian berdua sudah melewati batas, oleh karna itu gua dengan sukarela bakal memotong mahkota ini sekarang juga" Ancam Nanda langsung mengambil gunting dari saku roknya membuat semua kaum adam langsung hilang dari kantin, karna mereka menyadari bahwa rambut mereka juga melampaui peraturan sekolah.
Nanda menatap sekitar yang sudah sepi, hanya tinggal para siswi saja. Ia bersmirk, tidak akan ia lepaskan mangsa-mangsa itu kabur. Tapi sebelum menghabisi mereka, alangkah lebih baik untuk mencukur rambut kedua sahabat sok narsis ini dulu.
"Berterima kasihlah karna gua sudah belajar menyalon" Lanjut Nanda berbangga diri tanpa sadar melepaskan cengkaramannya, saat sadar dua makhluk yang menjadi sahabatnya sudah tidak ada lagi.
"...."
"KEMBALI KALIAN BERDUUUUAAAAAAA!!!!!!" Teriak Nanda hingga menjangkau pendengaran Regas yang sedang bertugas bersama seorang gadis.
"Kenapa Gas?" Tanya gadis tersebut.
"Tidak apa-apa?" Ucap Regas mengalihkan perhatiannya keluar bengkel.
"Apa?" Ulang gadis itu.
Sadar dengan perkataannya, regas langsung mengalihkan atensinya pada gadis itu.
"Tidak apa-apa keysya, gua cuma keinget sesuatu" Kata Regas asal, kembali fokus pada motor rakitan mereka.
"Belakangan ini lo sering gak fokus gas, padahal kembaran lo udah sembuh tapi urat di kening lo makin banyak yang keliatan, ada apa?" Tanya gadis itu Keysya menyentuh kening Regas yang tertutup headband.
Regas langsung menepis tangan Keysya "Gimana lo tau kalau urat di kening gua nimbul? Dan terlebih lagi ni ya Keysya, gak bakal ada yang tau hal itu karna gua selalu pakai headband" Balas Regas melihat Keysya yang makin menempel padanya.
"Mundur lo, gua mau bersihin ni mesin motor" Lanjut Regas mengangkat mesin motor keluar dari bengkel.
****
Sementara itu, Alfi dan Feron berhasil kabur dari gunting jahanam Nanda. Kini mereka berdua tengah bersembunyi di gudang kelas TAV yang juga langsung terhubung dengan WC dan pintu workshop jurusan tersebut, tempat persembunyian paling cocok dan paling hoky seantero SMK 1.
Alfi menjulurkan kepalanya, mengamati keadaan diluar. Radarnya yang tajam belum merasakan kehadiran Nanda.
"Sejauh ini bagus" Gumam Alfi kembali bersembunyi.
"Lu dah kelar gak ron? Gua juga pen nabung ni, semenjak diteror ama tu gunting kramat ni perut gak berenti demo pen hibernasi ke ******" Keluh Alfi seraya mengetok pintu WC.
"Sabaran bentar Fi, hisapan terakhir ni" Balas Feron di balik pintu.
"Cepatan napa lo ah!" Sewot Alfi semakin bermuka keruh menahan hasrat buang air besar.
Cklek
"Ah~ legahnya. Cepetan gih, entar ketahuan anggota passus lain bahaya" Peringat Feron yang sudah bermuka puas.
"Bodo amat, gua juga gak paham maksud lo" Final Alfi masuk kedalam WC.
****
Sudah 3 menit Feron menunggu Alfi menabung, namun tidak ada tanda-tanda bahwa pemuda itu akan membuka pintu WC. Alhasil Feron keluar dari persembunyian dan memilih duduk di Gazebo terdekat mencoba memandang kesegala arah berharap menemukan kejadian seru untuk ia tonton disini.
Feron menatap bengkel TKJ, berharap Theo menerima sinyal kebosanannya tapi semakin lamat ia menatap pintu itu....
Yang keluar malah tidak sesuai ekspetasinya, membuat Feron langsung menghembuskan nafas gusar melihat malah pak Sutejo yang keluar.
"Kenapa kamu natap saya begitu Feron? Gemas?" Tanya pak Sutejo berusaha bergaya menggemaskan.
"Yang ada saya langsung lemas bukan gemas liat bapak yang muncul dari balik pintu dengan ekspresi jelek begitu" Jawab Feron mengalihkan atensinya dari ekspresi pak Sutejo yang berlagak ingin menggemaskan seperti boneka ampang, tetapi muka keriputnya melunturkan segala upaya.
"Dan terleb-"
Zwinnnnngggggg!!
Pluk!!!
"Salim dulu sini" Perintah pak Sutejo memilih mengelus janggutnya untuk menghilangkan rasa marah yang membara. Jangan sampai Feron ia ikat di pohon Palm depan workshop TKJ ini, jangan sampai.
Alhasil Feron langsung memberi salam pada sang guru, walau dia berandal tetapi sikap menghormati lumayan masih tersisa.
Setelah menyalami pak sutejo Alfipun keluar dari tempat persemediannya, membuat Feron langsung dua kali lipat lemas.
"Lu berak apa bertelor lama amat!?" Keluh Feron berjalan ke arah bengkel DPIB setelah berpamitan dengan pak Sutejo yang juga ingin pergi.
"Hehehehe sorry~" Jawab Alfi menggaruk tengkuknya mengikuti Feron berjalan.
Hari ini bukanlah jadwal kelas Feron yang masuk kebengkel, namun sekedar bersandar ditiangnya tidak masalah bukan?
Feron bersandar di tembok dekat pintu masuk bengkel seraya menyilangkan tangan didada, sementara Alfi memilih untuk berjongkok disebelah Feron.
"Btw ni Fer, kita ngapain ya dimari?" Tanya Alfi keheranan.
"Lu mendingan balik ke kekelas aja fi, bel masuk dah berbunyi tu" Ucap Feron menatap Alfi yang berjongkok.
"Lu yakin gua tinggal sendiri dimari? Siapa tau entar nanda datang? Gimana coba? Entar lu gak ada teman buat lari gimana?" Tanya Alfi beruntun seraya bangkit dari posisi jongkok.
"Lu buat Nanda kayak poci aja, gua aman kalau dah berdua ama tu cewek. Udah lo cabut gih" Usir Feron mendorong punggung Alfi dengan kedua tangannya.
"I-iya, gua pergi. Kalau liat Nanda langsung kabur aja. Gak usah di rayu, gak bakal mempan" Petuah Alfi sebelum berlalu meninggalkan Feron seorang diri di depan bengkel jurusannya.
"Petuah Alfi pasaran, semua orang juga bilang kek gitu ama gua" Celoteh Feron kembali ke posisi awalnya bersandar di dinding dengan tangan yang di silang di dada.
****
Cukup lama Feron menatap kedepan, menatap kelas-kelas memanjang yang terbagi menjadi 4 ruangan.
Sempat terbesit difikiran mengenai bentuk setiap ruangan sekolahnya ini yang tidak bertingkat dan cukup errrr.... Tak beraturan.
Jawaban konyol juga sempat diperdebatkan Feron dan Alfi kala itu. Memperdebatkan mengenai tempat sekolah mereka yang berada di puncak daerah ini dan juga mengenai keadaan alam yang tak memungkinkan untuk membangun bangunan tinggi.
Apalagi penempatan yang tak beraturan ini, terkadang Feron ingin berkata kasar mengenai pemikiran sang pemborong yang tidak memikirkan pranata pembangunan setiap ruang hingga menciptakan ruang-ruang sebegini tidak rapihnya.
"Eh?" Feron langsung mengalihkan atensinya.
Disana Denada tengah berdiri terpaku menatap Feron.
"Yang sopan sama kakel, jangan ah eh ah eh!" Ucap Feron ketus menatap Denada yang langsung tersadar dan bukannya memberi salam malah langsung kembali masuk kebengkel.
"Dasar bocah" Jengkel Feron menatap pintu yang tertutup dengan kencang.
"Akhirnya gua berhasil nemuin elu Feroooonnn"
Dengan gerakan patah-patah, Feron melirik kebelakang. Segala macam mantra ia rapalka untuk menghilangkan rasa takut namun sepertinya ia harus kembali mencoba do'a yang lain.
"Aaaaaaa-" Teriak Feron memenuhi seluruh tempat.
***
Denada kini bernafas lega karna berhasil menghindari Feron.
"Gua selamat..." Ucap Denada bersyukur.
"Bersyukur dari apa Da?" Tiba-tiba suara Imel berhasil membuat jantung Denada hampir hibernasi dari tempatnya.
"Jangan tiba-tiba muncul oiiiiii!!!" Teriak Denada kesal menjambak jilbab Imel sang sahabat.
"Ya elunya juga yang salah, udah gua tepuk malah gak nyadar-nyadar" Keluh Imel berusaha melepaskan jambakan sang sahabat.
Setelah keadaan mereda, Denada kini ditenangkan dan mencoba duduk dengan rileks bersama sang sahabat.
"Ok sahabatku yang aneh, lu kenapa macam orang ketakutan tadi?" Tanya Imel yang duduk didepan Denada.
"Tadi....." Ucap Denada.
"Iya?" Balas Imel.
"Gua jumpa kak Feron didepan bengkel" Jawab Denada malu-malu seraya mencoba menatap sang sahabat.
Seketika ekspresi Imel berubah, pipinya langsung merah dan rasa terkejutnya seketika membuat Denada syok.
"APA!!!!!?????" Teriak Imel membuat seluruh penghuni kelas mengalihkan atensi mereka.
"Bukan apa-apa, bukan apa-apa" Ucap Imel kepada seluruh teman-teman.
"Lu ketemu kak Feron?" Ucap Imel kembali dengan berbisik dan diangguki oleh Denada.
Oh My God, kenapa gak gua aja si yang jumpa ama kak Feron. Kenapa harus Denada si? Jadi nyesel gak nerima tawaran Denada buat keluar bengkel
Rutuk hati Imel jengkel.
...TBC...